
Dengan kemampuan yang ditunjukkan Asrul, Imam tersebut tidak heran jika Asrul berniat mengikuti ujian lantai empat.
"Benar Imam, Niatku memang mengikuti ujian di lantai keempat."
Imam tersebut mengangguk pelan kemudian meminta Asrul menunggu sejenak, ujian di lantai empat sedikit istimewa sehingga membutuhkan persiapan.
Sekitar setengah jam kemudian Imam tersebut kembali dan mengajak Asrul untuk ke lantai empat. Di sana, Asrul menemukan seseorang yang tidak asing sedang menunggu di tengah ruangan lantai keempat pagoda bertingkat.
"Asrul, tidak kusangka kau akan mengikuti ujian ini pada saat giliranku menjaga lantai ini. Meskipun kita saling mengenal dan hubunganku dengan gurumu cukup dekat, aku tidak akan mempermudah ujian ini." Kata pria paruh baya tersebut.
"Tentu saja junior mengerti, Imam Airish." Asrul memberikan hormatnya pada pria tersebut.
Pria yang berada di hadapan Asrul tidak lain adalah Imam Airish, salah satu dari dua puluh Imam terbaik yang ada di padepokan Kun Billah. Imam Airish juga merupakan salah satu pendekar yang mengikuti Taimiyah ke Mallorca.
Setiap Imam merupakan pendekar bergelar, meskipun kemampuan mereka berbeda-beda. Imam Airish menduduki urutan ke-tujuh di antara dua puluh Imam terbaik. Di sisi lain Gus Mukhlas sebelumnya menduduki posisi ke-tiga namun setelah luka dalamnya pulih sepenuhnya, Gus Mukhlas menduduki posisi ke-dua di antara dua puluh Imam terbaik.
Imam yang menjadi pengawas menjelaskan ujian di lantai empat Pagoda Bertingkat adalah mendapatkan pengakuan dari seorang Imam terbaik. Jika seorang Imam terbaik menilai peserta pantas menduduki posisi Imam maka mereka dinyatakan lulus ujian tersebut.
Asrul mengangguk pelan, sekarang dia memahami alasan tidak semua pendekar ahli padepokan Kun Billah mampu menjadi Imam karena ujian yang mereka hadapi di lantai empat adalah melawan pendekar bergelar.
"Tarik pedangmu, selama kau bisa menunjukan ilmu pedang yang memuaskan hatiku maka aku akan mengizinkanmu menjadi Imam termuda dalam sejarah Padepokan Kun-Billah, mungkin juga dalam sejarah dunia persilatan." Imam Airish tertawa lantang.
Imam Airish sadar Asrul bukanlah pemuda biasa, selain Gus Mukhlas sebagai gurunya, Taimiyah juga menaruh perhatian khusus padanya. Imam Airish bahkan mendengar desas desus, Taimiyah berencana menjadikan Asrul sebagai salah satu kandidat utama penerus jabatan Imam Padepokan Kun-Billah.
__ADS_1
Asrul mengangguk pelan lalu menarik pedangnya, "Imam Airish, aku tidak akan sungkan."
Tanpa basa basi lebih jauh, Asrul maju dan memainkan pedangnya. Setiap serangannya lincah dan tajam, membuat Imam Airish menjadi siaga.
"Pencapaianmu dalam ilmu pedang burung walet sudah sejauh ini? Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya, Guru yang hebat tidak akan memiliki murid yang buruk." Imam Airish tersenyum lebar sambil menghindari setiap serangan yang dilakukan Asrul.
Imam Airish memang tidak terlalu terkenal sebagai Imam terbaik namun Asrul tidak akan meremehkannya. Asrul menyadari setiap orang yang mampu menjadi Imam terbaik memiliki kemampuan yang tinggi termasuk Imam Airish yang seringkali merendah ini.
"Baik, aku akan meningkatkan kecepatan serangan ku." Asrul merasa kemampuan yang ditunjukkan tidak cukup memuaskan bagi Imam Airish.
Ketika Imam Airish menyadari serangan Asrul semakin cepat, dia tidak mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya saja untuk menghindar melainkan mengangkat pedangnya untuk menangkis serangan tersebut.
"Pola serangannya begitu beragam dan kreatif, dia menyerang bagian-bagian yang sulit dilindungi serta melakukannya dengan sangat baik." Imam Airish berdecak kagum, dia sadar permainan pedang Asrul biasanya hanya bisa dilakukan mereka yang memiliki pengalaman bertarung puluhan tahun ataupun melewati ratusan pertarungan hidup dan mati.
Imam Airish dan Asrul bertukar serangan selama sepuluh menit, Imam yang mengawasi ujian Asrul hanya bisa terpana melihat aksi keduanya.
Imam Airish sejauh ini memilih posisi bertahan, tidak berusaha menyerang balik. Asrul bisa membaca taktik Imam Airish yang berharap Asrul kelelahan terlebih dahulu. Pemikiran Imam Airish tidak terlalu rumit, meskipun Imam Airish tidak meremehkan kemampuan Asrul namun dia tetap menganggapnya sebagai pemuda biasa. Imam Airish yakin tubuh Asrul tidak memiliki stamina yang cukup untuk bertarung dalam waktu panjang dengannya.
Asrul tersenyum saat memikirkannya, Imam Airish jelas tidak mengetahui setelah beberapa tahun mengkonsumsi Ginseng, Asrul memiliki stamina yang diluar nalar manusia. Asrul bisa melakukan pertarungan seperti ini seharian tanpa merasa lelah.
Jika Imam Airish mengajak Asrul beradu stamina maka dia telah melakukan kesalahan karena Asrul meyakini dirinya yang akan bertahan sampai akhir.
Waktu terus berlalu, tempo nafas Imam Airish mulai berubah sementara nafas Asrul masih teratur, disinilah Imam Airish merasa ada yang salah. "Aih, anak ini menjebak ku." Imam Airish tersenyum canggung sebelum menganti posisinya ke arah menyerang, hanya saja Imam Airish menunda terlalu lama.
__ADS_1
Asrul dan Imam Airish telah bertukar ratusan jurus, ketika Imam Airish tidak terlalu memikirkannya, Asrul disisi lain menganalisa pola gerakan lawannya. Pertukaran tersebut membuat Asrul mengenal dengan baik pola serangan Imam Airish.
Imam Airish melotot ketika merasakan dirinya tetap tidak unggul meskipun sudah mulai melakukan serangan.
Setelah bertarung selama sepuluh menit lagi, Imam Airish melompat mundur lalu menyarungkan pedangnya. Asrul juga berhenti menyerangnya.
Imam Airish melihat Asrul untuk waktu yang lama sebelum menghela nafas panjang, "Saudara kecil, kau sungguh membuatku dalam masalah..."
Imam Airish tersenyum canggung pada Asrul sebelum akhirnya mengumumkan bahwa Asrul berhasil menyelesaikan ujian lantai keempat.
"Selamat bergabung dengan golongan Imam. Kuharap kau tidak melupakan diriku saat berada dipuncak nanti." Imam Airish tertawa lepas, dia menyadari dengan potensi yang dimiliki Asrul, hanya tinggal menunggu waktu bocah dihadapannya melampaui kemampuan bela dirinya.
"Jangankan diriku, sepertinya sepuluh tahun lagi Gus Mukhlas pun bukan tandingannya." Imam Airish menggelengkan kepala pelan, dia melihat Asrul bersikap biasa saja meskipun telah menjadi Imam seolah pencapaiannya bukan sesuatu yang diluar dugaannya.
Kabar tentang Asrul berhasil menyelesaikan ujian lantai keempat Pagoda Bertingkat menyebar ke seluruh Padepokan dalam waktu cepat. Banyak yang tidak percaya, sebagian sangat terkejut. Tidak ada orang di padepokan Kun Billah yang tidak mengenal nama Asrul sekarang.
Taimiyah sudah menduga keberhasilan Asrul sehingga merasa biasa saja namun Khairul tidak bisa menerimanya.
"Saudara Airish, apa kau sengaja meloloskan pemuda tersebut untuk membuat sensasi?" Khairul mendatangi Imam Airish untuk memastikan kebenaran kabar tersebut.
"Wakil Ketua Khairul, Apa anda berpikir aku orang yang seperti itu?" Imam Airish menaikkan alisnya.
Imam Airish memang ramah tetapi dia juga memiliki batas toleransi, dia pun sadar meloloskan Asrul akan memicu keraguan banyak pihak tetapi dia sudah mempertimbangkannya dengan baik.
__ADS_1