JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Berhasil Menyebrang Sungai


__ADS_3

"Guru! Kami datang membantu!" seru Asrul dengan lantang.


Mata Gus Mukhlas melebar ketika melihat beberapa kapal mendekat ke arahnya. Kapal yang paling depan dalam rombongan tersebut adalah Roro Andalas.


Asrul mengambil tombak lainnya kemudian melemparkannya sekuat tenaga pada Siluman buaya tersebut, kali ini tombak itu menancap lebih dalam.


Kakek pemilik kapal bersama awak kapalnya menelan ludah sambil terpana menatap Asrul. Mereka tidak percaya tubuhnya yang kecil itu mampu melepaskan kekuatan yang begitu besar. Tombak yang dilempar oleh pemuda tersebut mampu melesat lebih cepat daripada anak panah yang dilepaskan dari busur.


"Kita jangan sampai kalah dengan Pendekar muda ini!" Kakek pemilik kapal menjadi bersemangat dan mengambil busurnya.


"Bos, kita masih terlalu jauh dari siluman itu. Panah yang kita lepaskan tidak akan sampai..." jawab salah satu awak kapal.


Angin sedang berhembus kencang, menggunakan busur kualitas rendah yang mereka miliki, setidaknya mereka harus berjarak kurang dari seratus meter dari siluman tersebut jika ingin memanahnya.


Kakek itu terbatuk pelan, dia sampai lupa jarak mereka masih cukup jauh karena Asrul mampu melemparkan tombak mengenai sasaran.


Gus Mukhlas sama kagetnya karena dia mengetahui Asrul belum memiliki tenaga dalam sedikitpun. Sebenarnya Gus Mukhlas sudah mengukur kemampuan fisik Asrul dari cara Asrul mampu mengimbangi kecepatan gerak Gus Mukhlas selama perjalanan hanya mengandalkan Langkah Angin.


Langkah Angin adalah ilmu meringankan tubuh paling dasar yang tidak membutuhkan tenaga dalam untuk melakukannya. Langkah Angin bisa dibilang teknik bergerak yang membuat tubuh terasa lebih ringan.


Gus Mukhlas berpikir Asrul tidak menyadari bahwa untuk Gus Mukhlas mampu mengimbangi kecepatan gerak muridnya itu dia harus menggunakan tenaga dalam.


Jika keduanya sama-sama mengandalkan kemampuan fisik saja, Gus Mukhlas ragu bisa mengimbangi kecepatan Asrul.


Sekarang Gus Mukhlas menyaksikan sendiri, Asrul mampu melemparkan tombak dari jarak sejauh itu dan mengenai sasarannya. Pesilat kelas satu pun sulit meniru yang Asrul lakukan.

__ADS_1


"Aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini..." Terlepas dari semua itu, Gus Mukhlas menyadari ini adalah kesempatannya untuk melakukan serangan balik akibat perhatian Siluman buaya sekarang terpecah.


Siluman yang diserang dari kedua sisi menyadari posisinya tidak diuntungkan, dia memilih menyelam ke dalam sungai. Biarpun demikian siluman itu sudah menerima luka yang serius, air sungai disekitar makhluk itu berenang pun telah menjadi merah darah.


Gus Mukhlas menggunakan ilmu meringankan tubuhnya bergerak menuju kapal Roro Andalas. Tanpa kesulitan Gus Mukhlas naik ke atas kapal.


"Asrul, Tindakanmu membahayakan banyak orang..." Gus Mukhlas menggeleng kepala pelan, dia bersyukur karena Asrul datang membantunya namun tetap kurang setuju sikapnya.


"Guru boleh menghukum murid setelah kita menghabisi siluman ini." Asrul tersenyum lebar.


"Kau menyelamatkan Guru, Apa yang perlu dihukum?" Gus Mukhlas tertawa kecil.


Semua kapal kemudian membentuk formasi untuk melindungi diri satu sama lain, situasi ini cukup berbahaya karena mereka bisa mendapat serangan dari dasar sungai.


"Perhatikan air di bawah kapal, siluman itu terluka parah, tempat dia akan muncul pasti memerah." Gus Mukhlas mengingatkan Kakek pemilik kapal. Pesan itu segera disampaikan pada kapal-kapal yang lain.


Air sungai di bawah salah satu kapal tiba-tiba menjadi merah, mereka yang berada di atas kapal itu menjadi panik dan melompat dari atas kapal, sementara awak dari kapal-kapal lain segera mengarahkan busur mereka pada kapal tersebut.


Benar saja beberapa saat kemudian Siluman buaya itu membalikkan kapal tersebut sambil meloncat ke udara.


"Tembak!"


Siluman buaya itu tidak menduga saat dia muncul akan disambut oleh ratusan anak panah yang mendarat di seluruh tubuhnya.


Asrul dengan cepat melempar beberapa tombak sekuat tenaga. Tombak-tombak itu menancap lebih dalam daripada sebelumnya karena jarak lemparnya yang begitu dekat.

__ADS_1


Ketika Siluman itu hampir masuk lagi ke air, Gus Mukhlas melompat dari satu kapal ke kapal lain mendekati makhluk tersebut. Tepat sebelum siluman itu menyentuh air, Gus Mukhlas memberikan sebuah tebasan pedang yang dipenuhi tenaga dalam.


"Pedang Petir Biru! Tebasan Petir!" Satu tebasan itu berhasil menciptakan luka pedang yang begitu lebar yang menyemburkan banyak darah.


Saat Siluman buaya putih itu menghantam sungai, timbul ombak yang membuat kapal-kapal di sekitarnya kehilangan keseimbangan. Beberapa kapal yang berukuran sedang terbalik karena gelombang tersebut.


Gus Mukhlas kembali ke kapal Roro Andalas setelah menebas siluman tersebut, dia menghabiskan banyak tenaga dalam ketika melakukan serangan terakhir itu.


Tidak lama setelah menyelam ke sungai, Siluman buaya itu kembali terlihat dipermukaan namun kali ini tubuhnya mengambang di atas sungai tanpa bergerak sedikitpun. Serangan yang diberikan Gus Mukhlas sebelumnya telah berhasil menghabisi nyawa makhluk itu.


"Hidup Imam Gus Mukhlas! Hidup Imam Gus Mukhlas!" Semua bersorak gembira, memuji Gus Mukhlas karena telah berhasil membunuh Siluman berusia seratus tahun yang meneror sungai ini selama seminggu terakhir.


Memang sebuah kapal hancur dan beberapa kapal terbalik namun tidak ada korban jiwa yang jatuh saat menghadapi siluman ini adalah sebuah keajaiban.


"Tuan pesilat, malam ini kita akan makan daging buaya ini. Kudengar daging siluman sangat baik untuk kesehatan." Kata Kakek pemilik kapal sambil tertawa lepas.


"Terima kasih, namun aku dan muridku sedang buru-buru. Jika tidak keberatan, bisa seberangkan kami sekarang?" Gus Mukhlas berpikir ini tidak hanya akan jadi makan malam sederhana, para pedagang yang melihat kemampuannya akan berusaha mendekatinya dan meminta bantuannya, Gus Mukhlas tidak menginginkan hal tersebut.


"Ah... Sayang sekali, tetapi bisa tunggu sebentar? Akan butuh waktu untuk menemukan Permata Siluman. Sebagai orang yang berhasil menghabisinya, Tuan pesilat pantas memilikinya." Kakek itu sedikit kecewa karena Gus Mukhlas menolak tinggal lebih lama.


Gus Mukhlas menggelengkan kepala pelan, "Kudengar sebelumnya ada banyak kapal yang tenggelam karena makhluk ini bukan? Bahkan ada korban jiwa juga. Paman bisa menjual Permata Siluman ini pada seorang pedagang lalu menggunakan uang tersebut untuk mereka yang kehilangan kapal serta keluarganya, termasuk orang yang kapalnya hancur kali ini."


Asrul batuk pelan, sebenarnya dia berharap Gus Mukhlas dapat menggunakan Permata Siluman itu untuk dirinya sendiri. Andai tidak digunakan untuk meningkatkan tenaga dalam setidaknya bisa dibuat menjadi pusaka atau dijual dengan harga tinggi.


Kakek itu tentu menolak ide tersebut, dia kagum dengan kebaikan hati Gus Mukhlas tetapi menurutnya ini berlebihan.

__ADS_1


"Aku sudah memutuskannya, tidak ada yang bisa mengubah keputusan tersebut. Jadi bisakah paman menyeberangkan kami sebelum kembali ke pelabuhan?" tanya Gus Mukhlas.


__ADS_2