
Mereka merasa Gus Mukhlas terlalu meremehkan para perampok karena kemampuannya yang tinggi.
"Kalian bertiga tangkap anak itu sementara lainnya ikuti aku." Pemimpin para anggota kelompok Aliran Keras mengatakan rencananya pada anggotanya dengan suara pelan, khawatir Gus Mukhlas akan mendengarnya.
Para anggota kelompok Aliran Keras maju bersamaan saat Asrul baru selesai memungut pisau-pisau kecilnya. Asrul bisa melihat para anggota kelompok Aliran Keras tersebut mengarahkan serangan pada Gus Mukhlas sementara hanya tiga orang perampok yang berlari ke arahnya.
Gus Mukhlas menghela nafas sebelum menarik pedangnya, dia ingin membiarkan Asrul menghadapi para perampok tetapi sepertinya dia yang menjadi sasaran utama.
"Jangan biarkan pemuda ini lolos!" Ketiga anggota kelompok Aliran Keras sudah berada cukup dekat dengan Asrul, mereka berpikir Asrul tetap berdiri di tempatnya karena tidak bisa bergerak akibat ketakutan.
Asrul mengangkat tangannya dan beberapa pisau terbang dengan kecepatan tinggi mengenai ketiga anggota kelompok Aliran Keras di hadapannya.
"Mau kemana kalian? Aku yang akan menjadi lawan kalian hari ini." Asrul memandang dingin rombongan kelompok Aliran Keras yang sedang menyerang ke arah Gus Mukhlas, lebih banyak pisau terbang dilemparkan oleh Asrul.
Gus Mukhlas menggelengkan kepalanya ketika melihat Asrul membunuh tanpa keraguan sedikitpun.
Lebih dari seratus anggota kelompok Aliran Keras yang menyerang ke arah Gus Mukhlas kini diam membeku ketika melihat rekan-rekan mereka berjatuhan di tanah, meronta tanpa suara.
Pisau yang dilemparkan oleh Asrul terlalu cepat dan kuat untuk dihentikan oleh pesilat kelas tiga dan dua. pesilat kelas satu sekalipun tidak akan bisa menghentikannya, mereka hanya memiliki kemungkinan menghindarinya jika jarak mereka dengan Asrul cukup jauh.
Lebih dari seratus pasang mata kini menatap Asrul penuh kebingungan, namun mereka semua menyadari bahwa yang sejak tadi menghilangkan nyawa rekan-rekan mereka bukanlah Gus Mukhlas melainkan pemuda yang ada di hadapan mereka sekarang.
"Bagaimana bisa..."
"Tidak mungkin..."
Para anggota kelompok Aliran Keras memang pernah mendengar bahwa ada pemuda yang masih berumur 20 tahun yang memiliki kemampuan bela diri tinggi di beberapa padepokan besar, pemuda seperti ini dipandang sebagai ahli dan akan menjadi tokoh penting dunia persilatan ketika mereka dewasa.
__ADS_1
Hanya saja melihat langsung sosok seperti ini dihadapan mereka begitu mengejutkan apalagi Asrul membunuh begitu banyak orang tanpa berkedip.
Semua anggota kelompok Aliran Keras yang berhadapan dengan Asrul pernah membunuh orang, tetapi mereka yakin tidak ada satupun dari mereka yang pernah membunuh lebih banyak orang daripada Asrul.
"Aura pembunuhnya..."
"pemuda ini berbahaya!"
Asrul membunuh lebih dari dua puluh kelompok Aliran Keras di hadapan mereka, membuat aura pembunuh yang menyelimuti tubuhnya menjadi semakin pekat.
"Tidak perlu terlalu banyak bicara..." Asrul memanfaatkan kekagetan para anggota kelompok Aliran Keras tersebut dengan terus melemparkan seluruh pisau kecil yang tersisa pada dirinya.
Korban dari pihak kelompok Aliran Keras dengan cepat bertambah, pemimpin kelompok tersebut langsung memerintahkan semua anggota yang tersisa untuk menyerang Asrul.
Biarpun memiliki kekuatan yang luar biasa bagi pemuda seusianya, Asrul tidak lalu menjadi besar kepala. Asrul menyadari batas kemampuannya, jika dia dikepung oleh sekitar puluhan anggota kelompok Aliran Keras dan diserang secara bersamaan, dirinya pun tidak akan selamat.
Asrul memilih bergerak mundur sambil melempar beberapa pisau terakhir yang dia miliki waktu para anggota kelompok Aliran Keras itu mulai mendekatinya. Gerakan Asrul yang menggunakan Langkah Angin memiliki kecepatan yang tidak mampu diimbangi oleh para anggota kelompok Aliran Keras di hadapannya.
Andai Asrul bukanlah musuh mereka para anggota kelompok Aliran Keras ini akan terkagum-kagum pada kemampuan Asrul, masalahnya sekarang mereka hanya bisa memandang pemuda tersebut sebagai mimpi buruk.
Ketika kehabisan senjata rahasia, Asrul menarik Pedang Elang Putih dari sarungnya dan bersiap menghadapi mereka yang mendekat.
Kecepatan gerakan tiap anggota kelompok Aliran Keras berbeda, tergantung dari kemampuan ilmu meringankan tubuh dan kekuatan fisik mereka sehingga meskipun awalnya mereka bergerak dalam formasi yang cukup rapat sekarang terbentuk jarak antara satu orang dengan lainnya.
Asrul tersenyum ketika melihat situasi tersebut, dia kemudian berhenti menghindar dan justru berlari ke arah para anggota kelompok Aliran Keras yang mengejarnya.
Sebelum para anggota kelompok Aliran Keras sempat bereaksi, Asrul telah melewati para anggota kelompok Aliran Keras yang memiliki kemampuan pendekar kelas satu. Asrul sadar dengan kemampuannya sekarang tidak mudah untuk menghabisi pesilat kelas satu dalam waktu cepat.
__ADS_1
Asrul mengincar para anggota kelompok Aliran Keras yang memiliki kemampuan pesilat kelas dua dan tiga, terutama mereka yang setara pesilat kelas tiga tidak ada yang mampu bertahan dari satu serangan Asrul.
Asrul susah dihadapi, belum lagi pola serangannya yang sulit dibaca.
Gus Mukhlas menaikkan alisnya ketika melihat cara bertarung Asrul, ini pertama kali Gus Mukhlas melihatnya secara langsung.
"Bagaimana Asrul mampu berpikir melakukan gerakan-gerakan seperti itu?" Gus Mukhlas merasa begitu kebingungan.
Pola serangan dan gerakan Asrul begitu sulit dibaca oleh Gus Mukhlas sekalipun. Sejauh yang Gus Mukhlas ketahui seorang pesilat yang mampu melakukan variasi serangan yang dilakukan oleh Asrul seharusnya seorang pesilat yang telah melewati banyak pertarungan.
Pada kehidupan sebelumnya Asrul dipaksa menjadi musafir, dia telah melewati sangat banyak pertarungan hidup dan mati bahkan suatu waktu harus hidup diantara para siluman berbahaya.
"Pedang Elang Putih ini sungguh bagus, aku tidak perlu khawatir pedang ini menjadi tumpul setelah membunuh beberapa orang..." Asrul tersenyum puas melihat ketajaman pedang yang didapatkannya dari Kawamatsu.
Pedang Elang Putih begitu tajam jika dibandingkan pedang biasa, dengan mudah pedang tersebut menembus baju pelindung para anggota kelompok Aliran Keras saat Asrul mengarahkan pedang tersebut pada jantung lawannya.
"Hentikan pemuda itu!" Pemimpin rombongan kelompok Aliran Keras menjadi panik ketika satu persatu anggotanya terbunuh oleh pedang Asrul.
Semua bisa mendengar perintah tersebut dengan jelas namun melihat keganasan Asrul, tidak satupun dari mereka yang memiliki keberanian untuk mendekatinya. Aura pembunuh Asrul cukup untuk membuat mereka berkeringat dingin, belum lagi dia melompat-lompat secara acak yang membuat Asrul sulit didekati.
"Kemampuan tubuhku ternyata lebih baik daripada yang kuduga..." Asrul merasa kagum karena dirinya masih dapat bernafas dengan stabil setelah melakukan gerakan serumit ini hanya mengandalkan kekuatan fisiknya.
Asrul yakin selama dirinya tidak dikepung serta diserang dari segala arah sekaligus, dia bisa menghabisi semua musuh yang berjumlah puluhan orang ini.
Para anggota kelompok Aliran Keras memilih menjauh dari Asrul, beberapa bahkan memilih berlari meninggalkan tempat tersebut. Mereka semua berpikir andaikan pemuda seperti Asrul begitu menyeramkan kemampuannya apalagi pria bersorban yang sedang memandang kejadian ini dari jauh.
Asrul tidak berhenti memberikan tebasan pada leher atau menusuk jantung para musuh, bukan hanya dia tidak memiliki keraguan tetapi dirinya tersenyum saat melakukannya.
__ADS_1
"Asrul, cukup." Gus Mukhlas mendadak berada di samping Asrul dan menangkap pergelangan tangannya.
Gus Mukhlas tidak sanggup melihat lebih jauh pembunuhan yang dilakukan oleh Asrul jadi dia turun tangan untuk menghentikan muridnya tersebut melakukan lebih jauh.