JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Jurus Pedang Milik Padepokan


__ADS_3

Tidak perlu waktu lama untuk Asrul memenuhi tubuh lawannya dengan luka.


"Bantu aku!" pembunuh itu menjadi panik, tidak menduga seorang pemuda mampu mendesaknya seperti ini.


Dua pembunuh lain juga kebingungan, tubuh Asrul lebih kecil dibandingkan rekan mereka ditambah tubuh rekan mereka terluka. Andaikan mereka menyerang dengan senjata rahasia, bisa jadi justru memperburuk keadaan sementara keduanya ragu untuk mendekat karena teknik aneh yang digunakan Asrul untuk memperlambat gerakan mereka.


Asrul menyadari setelah bertarung cukup lama dengan pembunuh Silver Hawk bahwa para pembunuh ini terbiasa melakukan pembunuhan diam-diam, meskipun mereka memiliki kemampuan pendekar ahli namun pembunuh topeng ungu tidak terbiasa bertarung jarak dekat dalam waktu lama.


Menyadari rekan mereka semakin terdesak, dua pembunuh topeng ungu nekat menyerang Asrul dari belakang. Keduanya sebenarnya merasa kagum karena meskipun sedang bertarung sengit dengan seorang pembunuh setingkat mereka, Asrul tidak menunjukan celah untuk menyerang.


"Tarian Pedang Zulfikar!"


Tarian Pedang Zulfikar menitik beratkan pada keindahan seni berpedang, bertujuan untuk mengalihkan perhatian lawan, setiap gerakannya memiliki pola yang rumit untuk dibaca serta memudahkan penggunanya berpindah tempat dalam pertarungan juga digunakan untuk berhadapan satu lawan satu dan menekan lawan melalui hujan serangan pedang.


Dengan menggunakan banyak gerakan berputar yang dirancang untuk menghadapi kepungan musuh, dengan teknik ini Asrul tanpa kesulitan menghadang serta menyerang balik dua pembunuh yang berniat menyerangnya dari belakang.


Ketiga pembunuh topeng ungu awalnya meremehkan Asrul, meskipun dirinya telah menunjukan kemampuannya mengimbangi para pembunuh tersebut namun tetap saja ketiganya tidak menganggapnya serius. Mereka berpikir Asrul mampu bertahan karena trik khusus yang dimilikinya.


Berbeda dengan ketiga pembunuh tersebut, Asrul tidak pernah meremehkan mereka sesaat pun dan selalu bertarung menggunakan segenap kemampuannya.


Andaikan sejak awal ketiga pembunuh topeng ungu menyerang Asrul dengan serius maka dirinya pun tidak akan sanggup menghadapi mereka menggunakan aura tasawuf serta Ilmu Pedang Zulfikar sekalipun.


"Akhirnya mereka mulai serius, saatnya meninggalkan tempat ini..." Walaupun Asrul berhasil menangkis serta menyerang balik dua pembunuh lainnya tetapi mengalahkan keduanya adalah hal yang berbeda. Setelah berhasil mendorong mundur dua pembunuh tersebut cukup jauh, Asrul mengarahkan pedangnya pada pembunuh yang sudah terluka.


"Tarian Pedang Zulfikar!"

__ADS_1


Bagian terakhir dari Ilmu Pedang Zulfikar adalah Tarian Pedang Zulfikar yang berpusat pada serangan mematikan, jika ingin menggunakan teknik pedang ini dengan sempurna dibutuhkan tenaga dalam yang tinggi sehingga Asrul belum mampu menggunakan teknik ini dengan baik namun cukup untuk menghabisi pembunuh yang sudah terluka.


Pedang Asrul menembus leher lawannya, tidak dalam nafas terakhirnya sekalipun pembunuh topeng ungu tersebut percaya nyawanya akan dihabisi oleh seorang pemuda.


Kedua pembunuh lain terpana melihat kematian rekan mereka, apalagi Asrul sama sekali tidak berkedip ketika melakukannya. Asrul bergegas meninggalkan lokasi tersebut ketika kedua pembunuh topeng ungu masih teralihkan, membuatnya berhasil lolos dengan mudah.


"Jangan biarkan dia lolos!" kedua pembunuh tersebut baru tersadar setelah Asrul dua detik meninggalkan lokasi tersebut, keduanya melakukan pengejaran padanya tetapi secara kecepatan mereka sedikit dibawah Asrul.


"Bagaimana pemuda tersebut bisa bergerak secepat itu padahal tidak memiliki tenaga dalam?!"


Keduanya sudah menyadari saat pengejaran pertama bahwa Asrul tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh yang membutuhkan tenaga dalam, dia hanya menggunakan kekuatan fisiknya untuk berlari lebih cepat dari para pembunuh yang menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi.


Tidak butuh waktu lama untuk Asrul menemukan keramaian, kediaman Mbah Jena kini menjadi medan pertempuran dan bisa ditemukan pendekar yang sedang bertarung dengan pembunuh Silver Hawk hampir disetiap sisinya.


"Senior, tolong aku!" Asrul berhasil bertemu dengan dua pendekar ahli yang sedang tidak bertarung dengan siapapun.


"Nak, cari tempat yang aman. Serahkan mereka berdua pada kami..."


Situasi kediaman Mbah Jena begitu kacau sampai mereka tidak menyadari bahwa Asrul mampu berlari cukup cepat meninggalkan dua pembunuh tersebut.


"Terima kasih Senior!" Asrul memberikan hormatnya lalu membiarkan kedua pendekar ahli tersebut berhadapan dengan dua pembunuh topeng ungu.


Dua pembunuh tersebut hanya bisa mengumpat dalam hati ketika melihat Asrul menghilang di kejauhan, mereka tidak bisa mengejarnya lebih jauh karena dihadang oleh dua pendekar lain.


Asrul memang mampu menghadapi pembunuh topeng ungu jika satu lawan satu namun dia tidak berniat melakukannya, Asrul memiliki rencana lain.

__ADS_1


Yang pertama Asrul lakukan adalah kembali ke kamarnya, mengambil senjata rahasia yang dikumpulkan dari pembunuh Silver Hawk sebelumnya.


Asrul kemudian mencari pembunuh topeng emas dan ungu yang sedang berhadapan dengan para pendekar yang tinggal di kediaman Mbah Jena.


"Argh!"


"Ugh!"


Satu per satu pembunuh Silver Hawk jatuh ke tanah saat pisau kecil menghujam leher, kepala atau jantung mereka. Asrul memang berencana membantu para pendekar untuk menghadapi para pembunuh Silver Hawk dari jarak jauh.


Asrul memunggut senjata rahasia milik para pembunuh yang tewas untuk mengisi ulang senjatanya.


Angin pertempuran mulai berubah, sebelumnya Silver Hawk unggul secara jumlah dan koordinasi mereka namun bergabungnya Asrul mulai membuat posisi para pembunuh tidak menguntungkan. Asrul bergerak sangat gesit, tidak ada pembunuh yang lolos dari incarannya.


Para pendekarpun menyadari kehadiran Asrul, namun hampir mereka semua tidak bisa percaya dengan yang terjadi. Asrul cukup terkenal karena kedekatannya dengan Siti Adawiyah, para pendekar tidak pernah menduga pemuda yang terlihat begitu alim itu mampu membunuh tanpa mengedipkan mata.


Dengan cepat aura pembunuh mulai berkumpul ditubuh Asrul, dia tidak menyembunyikan aura tersebut. Gabungan aura tasawuf dan aura pembunuh membuat Asrul terlihat berbeda. Pendekar ahli sekalipun merinding ketika melihat kehadirannya.


Asrul melihat ke udara saat mendengar suara keras menggema ke seluruh penjuru. Asrul menyipitkan matanya dan menemukan Taimiyah sedang berhadapan dengan Albert dan Seruni.


Meskipun tidak mampu melihat semua dengan jelas tetapi Asrul bisa merasakan Taimiyah dalam posisi tidak diuntungkan.


"Setidaknya membutuhkan lima orang sekuat guru Gus Mukhlas untuk menahan pendekar setingkat lawan Ketua Taimiyah..." Asrul menganalisa situasi sejenak sebelum menggelengkan kepalanya, saat ini tidak ada tindakan yang bisa dia lakukan untuk membantu Taimiyah.


Asrul melanjutkan perburuannya pada para pembunuh Silver Hawk, tanpa dia sadari para pendekar yang ditolongnya mulai mengikutinya dari belakang dan bersamanya menghadapi penyerang kediaman Mbah Jena.

__ADS_1


Para pembunuh Silver Hawk juga kaget ketika menyadari Asrul bergerak bersama puluhan pendekar ahli di belakangnya, membuat mereka yang ingin menghabisi Asrul atau menjadikannya sandera tidak akan bisa mencapainya.


Bersama para pendekar, Asrul menyapu bersih para pembunuh Silver Hawk yang bisa mereka temui.


__ADS_2