JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Bantuan Dari Asosiasi


__ADS_3

"Hentikan bocah tersebut, dia yang memimpin rombongan itu!"


Para pembunuh Silver Hawk mengarahkan nafsu membunuh mereka pada Asrul, tidak sedikit yang menyaksikan Asrul melemparkan senjata rahasia pada para pembunuh sementara para pendekar yang mengikutinya memastikan dia berada pada posisi yang aman.


Melihat rekan-rekan mereka tewas karena senjata rahasia organisasi mereka sendiri membuat para pembunuh ini merasa frustasi. Mereka merasa ingin mencabik-cabik Asrul dan memotongnya menjadi potongan kecil.


Nyatanya Asrul tidak terganggu dengan nafsu membunuh yang begitu besar terarah padanya, anak biasa seusianya pasti sudah kehilangan kesadaran saat merasakan tekanan seperti itu.


Beberapa pembunuh topeng emas berhasil menyelinap dari belakang Asrul tetapi mereka semua dihabisi dengan mudah olehnya.


Waktu terus berjalan, posisi Silver Hawk semakin tidak menguntungkan setelah para pendekar ahli mulai berkumpul disekitar Asrul, membuat para pembunuh Silver Hawk sulit menghadapi mereka.


Semangat para pendekar yang tinggal di kediaman Mbah Jena membara bahkan merasa melihat kemenangan di depan mereka, Asrul sebaliknya semakin buru-buru menghabisi pembunuh dari Silver Hawk.


Sesekali Asrul akan melihat ke arah pertarungan Taimiyah, menurut perkiraannya Taimiyah tidak akan bisa bertahan terlalu lama menghadapi dua lawannya.


Saat Asrul sedang memandangi pertarungan Taimiyah, mendadak dia merasa nyawanya terancam. Ketika dia berusaha mencari sumbernya, ternyata dua orang pembunuh topeng darah sedang melesat cepat ke arahnya.


"Celaka!" nafas Asrul tertahan, sekali lihat dia bisa mengetahui dua pembunuh topeng darah tersebut memiliki kemampuan pendekar bergelar.


Diantara semua pendekar yang ikut dengannya, tidak satupun dari mereka yang merupakan pendekar bergelar. Selain itu para pendekar ini juga kelelahan karena terus bertarung, tidak ada yang menyadari Asrul dalam bahaya.


"Pemuda ini telah mengacaukan rencana kita! Habisi dia!" Salah satu pembunuh topeng darah mengeluarkan pisau berwarna kehijauan, bersiap menghujamkan nya pada Asrul.


"Hentikan!"

__ADS_1


"Gawat!!!"


Ketika ada pendekar yang menyadari Asrul dalam bahaya, semua sudah terlambat. Jarak antara Asrul dan seorang pembunuh topeng darah hanya tersisa beberapa meter saja.


Asrul mengangkat pedangnya, berusaha menahan serangan tersebut walaupun disadarinya mustahil menghentikan pisau tersebut dengan kemampuannya saat ini.


"Apa aku akan terbunuh disini?" perasaan Asrul bergejolak, tidak ada rasa takut dihatinya, namun ada penyesalan yang mendalam, "Setidaknya aku berhasil menyembuhkan Guru..."


Pembunuh topeng darah yang berada di hadapannya merasa terkejut saat menyadari Asrul tersenyum.


"Anak ini masih bisa tersenyum di depan kematian..." Jantung pembunuh topeng darah berdetak kencang.


Pembunuh topeng darah ini telah membunuh orang yang tidak bisa dia hitung lagi jumlahnya, dari pengalamannya tersebut dia mengetahui hanya satu atau dua orang yang bisa tersenyum di hadapan kematian. Mereka adalah orang-orang yang telah melewati pasang surutnya kehidupan, tetapi Asrul hanya pemuda biasa baginya, melihat pemuda sepertinya bisa tersenyum seperti itu di depan pisaunya, membuat pembunuh ini menjadi bimbang.


Asrul yang kaget melompat mundur ketika melihat sosok yang memakai gaun putih muncul di hadapannya. Sosok tersebut menghabisi pembunuh topeng darah tersebut hanya dengan satu gerakan.


Para pendekar maupun pembunuh Silver Hawk berhenti di tempat, semuanya memandangi sosok berjubah putih tersebut. Sosok itu menggunakan sebuah topeng putih dengan ukiran bulan sabit di bagian kening, topeng tersebut menutupi seluruh wajahnya namun dari model rambut serta bentuk tubuhnya, mereka bisa menebak sosok tersebut adalah perempuan.


"Aku sudah mendengar tentangmu, tetapi kau lebih dari yang kubayangkan." Sosok itu membalikkan badan dan menatap Asrul, akibat topeng diwajahnya tidak ada yang mengetahui ekspresi yang ditunjukan namun suara yang keluar dari topeng tersebut jelas suara seorang gadis, "Tuan Muda Asrul, namaku Sindy. Aku datang untuk melindungi kamu."


"Senior, Apakah anda dari asosiasi?" Asrul tidak menduga Asosiasi kitab suci sudah memiliki pendekar setingkat ini sekarang, dia bisa melihat kemampuan Sindy berada pada tingkat pendekar raja dan kemampuannya tidak jauh dibawah Taimiyah.


Sindy mengangguk pelan, "Sebenarnya aku sedang mengawal seseorang kemari, tidak disangka dirimu meminta bantuan."


Sindy menjelaskan dirinya baru tiba di Mallorca hari ini, diapun tidak mengira akan bertemu dengan Asrul tepat setelah mendengar kisah tentangnya.

__ADS_1


Harus Sindy akui, Asrul lebih mengerikan daripada yang Anita ceritakan padanya. Sindy bisa melihat Asrul masih begitu belia namun memiliki aura pembunuh yang pekat serta aura lain yang misterius.


"Senior, selain anda siapa lagi yang datang kemari dari asosiasi?"


"Butuh waktu untuk mengumpulkan pendekar di malam buta seperti ini, aku memilih datang sendiri terlebih dahulu tetapi nanti akan ada lebih banyak orang asosiasi yang datang namun dengan kemampuan asosiasi sekarang, mereka tidak akan banyak membantu." Sindy menggelengkan kepalanya.


Sindy menjelaskan saat mencari keberadaan Asrul, dia telah berkeliling istana. Sesuai dugaan Asrul, selain kediaman Mbah Jena, seluruh sisi istana yang lain juga mendapatkan serangan namun lebih dari separuh kekuatan penyerang berada di kediaman ini.


Jika Asosiasi kitab suci mengirim beberapa puluh pendekar ahli kemari juga tidak akan terlalu membantu situasinya, terlebih lagi mereka mungkin akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk berhasil menerobos kemari mengingat begitu banyak musuh yang berkeliaran di seluruh istana.


Sindy tersenyum dibalik topengnya, diam merasa keberuntungan Asrul begitu tinggi karena andai dirinya tidak sedang berkunjung ke Mallorca dan turun tangan menolongnya, Asrul sudah terbunuh malam ini.


Melihat Asrul baik-baik saja dan berbincang dengan sosok bertopeng putih misterius tersebut tanpa masalah, para pendekar kediaman Mbah Jena kembali melakukan serangan pada pembunuh Silver Hawk.


Satu pembunuh topeng darah yang tersisa mematung di tempat setelah melihat rekannya yang memiliki kemampuan lebih tinggi darinya terbunuh semudah itu. Dia ingin lari meninggalkan tempat itu sejauh mungkin sekarang namun dia khawatir sosok berjubah putih itu akan membunuhnya ketika dia mencoba kabur.


"Senior, bisakah anda membantu Ketua Taimiyah?"


Asrul menunjuk ke satu arah, terlihat Taimiyah sedang kewalahan berhadapan dengan Albert dan Seruni. Jaraknya cukup jauh, bahkan Sindy harus menyipitkan mata untuk melihat pertarungan tersebut.


"Kau punya mata yang bagus..." Sindy berkata pelan sebelum menggelengkan kepala, "Tidak bisa, aku hanya datang untuk memastikan keselamatanmu. Masalah lain bukan urusanku."


Asrul menjadi cemas, dia bisa menjaga dirinya cukup baik selama berkonsentrasi penuh tetapi dia khawatir akan keselamatan Taimiyah. Saat ini Kun Billah masih belum bisa kehilangan Taimiyah, akan banyak musuh yang menyerang sekte dari berbagai arah setelah mengetahui Taimiyah tiada.


"Kau tidak perlu khawatir, tidak jauh di belakangku ada tiga pendekar lain yang memiliki kemampuan tinggi sedang menuju ke Istana tetapi sepertinya mereka memastikan keamanan gubernur sebelum datang kemari." Sindy menambahkan.

__ADS_1


__ADS_2