JURU SELAMAT

JURU SELAMAT
Pil Bulan Emas


__ADS_3

Pandangan Anita kemudian jatuh pada buku yang kembali disimpan oleh Asrul dalam jubahnya. Anita melihat sekilas, buku yang dibawa Asrul cukup tebal. Jika semua halamannya berisi informasi berharga, artinya Asrul masih memiliki banyak informasi yang berguna bagi mereka.


"Pikiran Nona Anita benar, buku ini berisi informasi yang akan ku jual pada asosiasi kalian di masa depan." Asrul bisa membaca pikiran Anita, membuat gadis itu merasa sedikit malu, "Kuharap Nona tidak berpikir sesuatu yang buruk terkait buku ini."


"Tuan Muda, aku tidak akan berani." Anita akui godaan tersebut tentu ada, tetapi dia tidak bodoh.


Jika memang Asrul sungguh berusia muda, maka tidak mungkin dia bisa mengumpulkan begitu banyak informasi seorang diri. Anita semakin yakin ada kelompok kuat yang mendukung Asrul.


Akibat dari transaksi sebelumnya, Anita tidak keberatan menyerahkan langsung Pil Bulan Emas sebagai bayaran informasi yang diserahkan Asrul.


Asrul menjadi sangat antusias, dia menyimpan hati-hati pil tersebut, "Tidak kuduga aku bisa menyembuhkan Guru secepat ini."


Merasa urusannya sudah selesai, Asrul berpamitan. Anita memberikannya sebuah kantong kulit berkualitas bagus untuk menyimpan kotak-kotak pil menjadi bayaran atas informasi yang dia berikan sebelumnya. Asrul memang memiliki rencana terhadap pil-pil tersebut.


Asrul mengatakan dirinya akan kembali dalam waktu dekat lalu meninggalkan Asosiasi kitab suci. Hari sudah semakin gelap, Asrul bergegas kembali ke Mallorca karena khawatir Gus Mukhlas akan mencarinya.


Taimiyah menunggu di halaman yang berada di depan kamar Asrul. Dia khawatir Gus Mukhlas akan datang dan menanyakan tentang muridnya padahal Asrul sedang tidak berada di Mallorca, Taimiyah menunggu di tempat tersebut demi memberikan alasan kepada Gus Mukhlas.


"Asrul, kau kembali lebih cepat daripada kupikirkan."


Asrul tersenyum tipis, dia tidak menyangka Taimiyah akan membantunya sejauh ini. Asrul memberi hormat padanya sebelum mengajak Taimiyah bicara di ruangannya.


Pandangan mata Taimiyah jatuh pada kantong kulit yang dibawa oleh Asrul, "Aku menebak bantuan yang kau maksud ada di dalam kantong ini?"


"Ketua benar, tetapi ini hanya sebagian saja." Asrul mengeluarkan isi kantong tersebut dan membiarkan Taimiyah memeriksanya.

__ADS_1


"Ini! Bagaimana kau mendapatkan semua ini?!" Taimiyah tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika mengetahui kotak kecil yang dikeluarkan Asrul berisi pil-pil berharga, "Kau bekerja sama dengan Rumah Tungku obat? Tidak, mereka sekalipun tidak akan mengeluarkan begitu banyak pil, lagipula aku belum pernah melihat pil-pil ini sebelumnya."


Asrul mulai mengenalkan satu per satu pil tersebut sekaligus khasiatnya. Taimiyah berdecak kagum ketika mengetahui manfaat dari pil-pil ini.


"Bagaimana pil-pil ini bisa membantu Mbah Jena?" ketika Taimiyah mendapatkan kembali ketenangannya, dia menanyakan rencana Asrul lebih rinci.


"Ketua, pil-pil ini dapat digunakan oleh Mbah Jena untuk membuat Padepokan -padepokan yang sebelumnya menolak ikut campur menjadi mendukungnya."


Asrul memahami benar bahwa dalam dunia persilatan kota Mallorca, sumber daya selalu menjadi masalah. Meskipun seseorang memiliki banyak uang sekalipun belum tentu bisa mendapatkan sumber daya yang mereka butuhkan karena hanya padepokan-padepokan saja yang mengumpulkan sumber daya seperti ini.


Sebuah padepokan bahkan sulit memenuhi kebutuhan mereka sendiri apalagi menjualnya, sebelum keberadaan Asosiasi kitab suci menjadi umum, selain Padepokan Tapak Suci yang bisa membantu sedikit hampir tidak ada yang menjual sumber daya yang bermanfaat untuk pesilat.


Keluarga Mallorca sekalipun meskipun telah berusaha mendapatkan banyak sumber daya sekalipun tetapi tidak berhasil mengumpulkan cukup banyak. Mereka punya uang tetapi tidak menemukan penjual yang bersedia menyediakan barang yang mereka inginkan.


Contohnya padepokan Kun Billah yang mendukung Mbah Jena, setiap pesilat ternama mendapatkan satu pil yang kualitasnya jauh lebih rendah dari yang ditunjukkan Asrul sekarang setiap bulannya ditambah beberapa ratus keping emas.


"Selama Mbah Jena bersedia mengeluarkan uang, aku bisa mendapatkan sumber daya lebih banyak. Berapa pun uang yang diberikan padaku, aku bisa mengubah semuanya menjadi sumber daya seperti ini." Jawab Asrul.


Taimiyah melebarkan matanya tidak percaya, setahunya di seluruh kota Mallorca belum ada kelompok yang mampu melakukan seperti yang Asrul katakan, "Asrul, kau bersungguh-sungguh atas perkataanmu?"


Asrul memastikan selama Mbah Jena memberikannya cukup uang, dia bisa mendapatkan sumber daya apapun yang diminta oleh Padepokan-padepokan tersebut, "Ketua bisa membawa pil-pil ini sebagai barang hadiah pada Mbah Jena tetapi aku ingin keterlibatan ku dirahasiakan."


"Tentu saja, Jika ada orang lain yang mengetahui kau memiliki kemampuan untuk melakukan ini maka kubu musuh akan berusaha melenyapkan engkau." Taimiyah mengerti alasan Asrul, "Aku akan bicara dengan Mbah Jena, kabar ini akan menghiburnya."


"Ketua, aku juga membutuhkan bantuanmu sekali lagi." Asrul mengeluarkan sebuah kotak kecil lainnya dari jubahnya, "Kuharap ketua bisa memberikan pil ini pada guru."

__ADS_1


Taimiyah membuka kotak kecil itu dan menemukan pil berwarna keemasan, setelah menghirup aroma obat yang dikeluarkan pil tersebut, dirinya langsung mengetahui kualitas pil ini jauh di atas pil-pil lainnya.


"Pil ini bisa membantu luka dalam guru, tetapi jika dia mendapatkannya dariku pastinya dia akan menanyakan banyak hal." Asrul menggaruk kepalanya.


"pemuda jenius, kau benar-benar penuh keajaiban. Pil seperti inipun berhasil kau dapatkan." Asrul tersenyum canggung, biarpun Asrul tidak memberitahu nama atau khasiat pil ini tetapi dia bisa menebak khasiatnya pasti luar biasa. "Apa kau tidak memiliki pil lainnya seperti ini?"


"Ketua, pil satu ini sedikit istimewa, jika di masa depan aku bisa mendapatkan lainnya akan ku hadiahkan padamu." Asrul tertawa kecil.


Taimiyah cukup puas mendengar jawaban tersebut, dia berjanji akan mencari cara memberikan pil ini pada Gus Mukhlas. Taimiyah meninggalkan kamar Asrul bersama semua pil yang didapatkan dari Asosiasi kitab suci.


"Berapa banyak ini bisa membantu semua kuserahkan pada Mbah Jena sendiri." Asrul menghela nafas panjang setelah Taimiyah meninggalkan ruangan.


Asrul merasa lega karena Pil Bulan Emas akan sampai ke tangan Gus Mukhlas tanpa masalah, setelah mengatur pikirannya, Asrul memilih berlatih kembali.


"Tidak ada perubahan yang terjadi pada fisikku setelah aku mempelajari Aura tasawuf, apakah aku tidak memiliki cukup aura tasawuf untuk terlihat perubahan?" Malam itu Asrul berlatih Aura tasawuf, berniat mengubah semua aura pembunuh yang dimiliki menjadi aura Tasawuf.


Asrul terus berlatih sampai pagi hari tiba, dirinya berhasil mengumpulkan lebih banyak aura tasawuf. Latihan Asrul terhenti karena seseorang mengetuk pintunya.


"Asrul... Apa kau berada di dalam?" Suara lembut seorang gadis menyusul ketukan tersebut.


Asrul segera bangkit dan membukakan pintu, dia mengetahui hanya ada satu orang gadis yang memanggilnya demikian, Siti Adawiyah.


"Tuan Putri..." Asrul memberikan hormatnya pada Siti Adawiyah , "Apa yang bisa ku bantu?"


Siti Adawiyah datang bersama beberapa dayang, wajahnya masih terlihat murung. Ketika mendengar Asrul bersikap formal padanya, Siti Adawiyah memasang wajah cemberut.

__ADS_1


"Asrul, kita lama tidak berjumpa dan sekarang kau menjadi dingin padaku." Siti Adawiyah mendengus kesal.


__ADS_2