
Alisya duduk termenung ditempat pemberhentian bus pengantar,padahal hari sudah mulai petang.Selesai shalat magrib tadi Alisya baru izin untuk undur diri dari nyai Halimah dan dengan berat hari nyai Halimah mengizinkan Alisya pulang.
Sepanjang pertemuannya dengan nyai Halimah,Alisya selalu ingin membuang ingatannya tentang pertemuannya tadi dengan Ghisel dan Aldo diminimarket tadi.Tapi mengapa seolah ingatan itu terus menari - nari dikepalanya dan enggan meninggalkannya barang sejenak pun.
Bu nyai Halimah seolah bisa melihat dengan jelas kegundahan yang dialami Alisya tapi beliau enggan menanyakan.Ia tidak mungkin menanyakam langsung apa yang menyebabkan Alisya terlihat sedikit kacau,hanya saja bu nyai Halimah mengingatkan Alisya untuk selalu membaca Istighfar karena bu nyai Halima tidak mau dianggap terlalu mencampuri urusan Alisya toh bu nyai juga sudah menganggap bahwa Alisya adalah gadis yang sudah dewasa dan selalu bisa menyelesaikan masalah yang menghampirinya.
Alisya juga berpisah dengan sita tepat didepan pesantren sebab tujuan mereka memang berbeda arah.Sita sudah pergi dengan menggunakan bus umum,sedangkan Alisya menggunakan angkutan Online.
Harusnya sih Alisya sudah mulai memesan angkutan itu,tapi ia merasa sedikit ragu untuk pulang saat itu.Ia merasa belum siap jika harus bertemu dengan Aldo,takut rasa sakit yang ia alami tadi siang bisa menyeruak ke permukaan dan mengakibatkan hubungannya dengan Aldo akan semakin buruk.
Alisya menatap layar pada Hp nya dan mulai menimang - nimang Aplikasinya. Hampir 5 menit ia baru memutuskan untuk memesan kendaraan Online melalui aplikasi Hpnya.
Dengan segenap kegundahan hatinya ia mununggu kendaraan yang ia pesan tadi.5 menit...10 menit..15 belas menit belum ada tanda - tanda kendaraan itu datang sedangkam gerimis mulai mengguyur permukaan bumi.Alisya menatap syukur apa yang dianugrahkan oleh Alloh SWT padanya.
Telapak tanganya mulai menjulur dibalik atap pelindung halte dan mulai merasai kesegaran dari gerimis tadi.
Beberapa titik gerimis mulai membasahi telapak tangannya yang disertai dengan menetesnya air mata Alisya yang jatuh dari mata indahnya.Sungguh...seolah gerimis pun merasakan kegundahan hati seorang Alisya dan mulai mengejeknya disana.
Alisya sudah tak kuasa lagi untuk menahannya, air mata mulai deras mengalir tanpa mengeluarkan isak suara tangis.Ia mendekap tanganya sendiri dan menundukkan wajahnya.Seolah dekapan itu bisa sedikit meringankan sakit yang ada didadanya.Sampai ia tak menyadari ada sebuah mobil mewah berhenti tepat didepannya.Sang pengemudi mulai keluar dan mengulurkan payung diatas kepala Alisya.
"Aku harap kamu mengetahui tugasmu Sya.
?" Sontak Alisya mendongakkan kepalanya dan melihat sosok yang ada didepannya.
__ADS_1
"Kak..."
"Tasya merengek - rengek mencarimu,membuat semua merasa kerepotan."
"Maaf kak..tadi nyai Halima masih menahanku." Alisya mulai menyekah air mata yang tadi membasahi pipinya. Sedang Aldo seolah tak pernah melihat itu dan mengacuhkan.
"Bukankah kamu tadi hanya meminta izin hanya sampai jam 15.00 "
" Ma..maaf kak.." Hanya kata itu yang bisa diucapkannya karena memang dalam hal ini Alisya lah yang salah.
Tanpa banyak bicara lagi Aldo langsung berjalan menuju pintu mobilnya. Alisya yang menyadari itu langsung mengikuti langkah Aldo dan mulai memasuki mobil itu.
Alisya menyandarkan punggunnya dan mulai merogoh Hp yang ada dalam tasnya untuk menginformasikan pembatalan pemesanan kendaraan Onlinenya.Tidak ada pembicaraan apapun disana hingga mereka sampai dirumah.seolah mereka sudah saling bertanya dan menjawab melalui bahasa diam mereka masing - masing.
"Pak Rahmad kenapa gelap semua..?"
" Maaf tuan..tadi siang sudah ada pengumuman bahwa malam ini ada pemadaman bergilir dari pusat,tapi saya lupa tidak memberi tahu bapak atau ibuk.."
" Oh..ya sudah.Tapi lilinnya sudah siap kan pak ?"
"Sudah tuan...tadi non Tasya merengek nangis dan bi marni tidak bisa menenangkan.Jadi tadi kami bujuk non Tasya dengan mengajak pergi kerumah nyonya Yuni.Saya tadi sudah kirim pesan ke anda ko tuan..?"
Aldo lansung mengambil Hp nya yang ada di dalam kantong celananya.Benar..pak Rahmad memang mengirim pesan padanya.Ia pun membalikkan badannya dan memasuki rumahnya.
__ADS_1
Alisya yang tidak mau menunggu Aldo yang mengobrol dengan pak Rahmad memutuskan masuk rumah terlebih dahulu dan ingin segera mengatahui keadaan Tasya.Ia merasa heran karena kamar Tasya kosong,hanya ada 1 batang lilin sebagai menerangan dikamar itu.Kemana kira - kira gadis kecilnya pergi..? Ia ingin mencari Aldo dan bertanya padanya dimana putrinya itu.Tapi Aldo sudah terlebih dahulu berada dibelakang Alisya dan tanpa ditanya ia sudah tau isi kepala Alisya.
"Tasya menginap dirumah mama karena tadi bi Marni kewalahan menenangkannya"
Alisya merasa begitu bersalah dengan apa yang dialami Tasya.
"Maafkan aku kak..insha Alloh lain kali aku ga akan mengulanginya.."
"Ga usah minta maaf Sya...Tasya memang menjadi putrimu sekarang.Tapi dia bukan tanggung jawabmu sepenuhnya bukan ?"
Degg...benar memang.Terkait dengan Tasya pun ia tak mau berbagi penuh dengan Alisya.Tentu saja itu membuat Alisya sangat sedih dan kecewa.
Maaf Sya...aku tidak ingin membebanimu lebih banyak lagi.Kamu sudah banyak mengorbankan kebebasanmu dengan menikahi seorang duda yang memiliki anak sepertiku.Aku harap bebanmu sedikit berkurang..
Dengan hati yang remuk redam Alisya mengambil sebatang lilin yang sudah menyala yang berada di meja bunga depan pintu kamar dan segera masuk kedalam kamarnya.Diluar kendalinya,api pada lilinnya mulai digoyangkan oleh angin.Alisya mulai kewalan menenangkan api itu,satu tangan memegang piring lilin dan satu tangannya lagi membuat benteng disamping api lilin.Tapi seolah tak berpengaruh,api itu semakin berontak dan semakin kencang goyangannya.
Aldo yang melihat kejadian itu dengan otomatis langsung berlari kearah Alisya yang mulai menjauhinya dan membuat benteng disamping api itu dari kedua telapak tangannya.
Alisya menghentikan langkahnya, ada rasa canggung disana.Alisya yang tingginya hanya seukuran bahu Aldo mendongakkan wajahnya dan tak sengaja menatap sorot mata Aldo.Dengan pencahayaan remang - remah Alisya bisa memastikan kalau mata tajam Aldo sangatlah indah.Bibirnya yang tak begitu tebal di sempurnakan dengan hidung yang mancung serta dibingkai oleh rahang yang tegas.Sejenak Alisya sangat takjub dengan ciptaan Alloh yang ada dihadapanya sekarang.
Kedua pasang mata itu seolah tak mau melepaskan kontak matanya.Aldo pun mulai menamati keindahan yang ada dihadapnya.Alisya yang menggunakan busana warna mustard dan dipadukan kerudung coklat mudah yang menurut Aldo itu membuat Alisya tampak seperti dewi malam yang ditugaskan para dewa untuk menyempurnakan kehidupan Aldo.
Sungguh Aldo dibuat mabuk olehnya.
__ADS_1