KAKAK IPARKU, SUAMIKU

KAKAK IPARKU, SUAMIKU
#Kesalahan besar


__ADS_3

Hidup bukan tentang mendapatkan apa yang kita inginkan,namun menghargai apa yang kita miliki dan sabar atas apa yang kita inginkan**.


Alisya terlihat berkutat didapur untuk sekedar membuat minuman penghangat untuknya.Sejak pulang dari makan malamnya ia belum mengistirahatkan tubuhnya.Mungkin dengan meminum segelas coklat hangat sedikit menghilangkan stresnya karena terlalu memikirkan insiden tentang obat penunda kehamilannya.Tapi sejujurnya acara makan malam keluarga kecilnya tadi berhasil mengalihkan pikirannya tentang obat itu.Tawa Tasya dan senyum Aldo disela-sela acara makannya membuat hati Alisya merasakan kedamaian yang begitu dahsyat.Walaupun acara seperti itu hanya sebuah kegiatan sederhana yang biasa dilakukan oleh orang lain,tapi kesempatan menemani suami dan anaknya makan malam begitu istimewa bagi Alisya.


Alisya berniat menani Aldo yang sendang mengerjakan tugas kantornya diruang kerjanya dengan menawari coklat hangat yang baru saja ia buat.


"Kak..mau dibikinkan kopi..?"


Sebelum Alisya memasuki ruangan itu ia sudah menawarkan kopi pada suaminya.


"Ga perlu Sya..sebentar lagi sudah selesai kok.."


Alisya pun memutuskan untuk duduk disofa tepat didepan meja kerja Aldo untuk sekedar menemani suaminya,Ia meletakkan cangkir minumannya diatas meja yang tersedia disamping sofa dan berniat membaca buku-buku yang tertata rapi diatas nakas.Terlihat Aldo sangat serius dengan pekerjaannya karena mungkin ia ingin segera menyelasikannya dan beristirahat bersama Alisya.Alisya hanya bisa memandang suaminya itu dari atas sofa,tidak diragukan lagi Aldo memanglah laki-laki pekerja keras.Terlihat saat ia sedang bekerja tak pernah dilakukan dengan sembarangan meskipun terkadang ada saja penghalang yang mencoba menggodanya.Seperti saat itu,Alisya yang memang sudah tak menggunakan hijabnya menggerai rambut hitamnya yang sangat mempesona bagi Aldo.Kulitnya yang begitu halus dan putih seperti kulit bayi tampak sangat kontras dengan rambut hitamnya.Sesekali lesung pipinya muncul saat tatapan mata mereka saling beradu.Tentu saja itu membuat Aldo ingin segera menyudahi pekerjaannya dan menunaikan tugas malamnya bersama istri tercintanya.


Sebelum pekerjaan Aldo selesai,Alisya juga ingin segera menghabiskan minuman hangatnya.Tapi Alangkah terkejutnya dia saat mendapati cangkir minumannya sudah kosong.Aldo yang melihat ekspresi kaget dari istrinya tak bisa menahan tawanya saja.Sudah bisa dipastikan,pelakunya pasti Aldo.


Tapi entah mengapa tindakan Aldo justru membuat Alisya tersenyum geli dan ingin membalas godaanya.


"Kaak...kenapa tadi ga mau dibuatkan sendiri..?"


"Aku cuma ingin minum dibekas gelas istriku saja,memangnya kamu keberatan..?"


"Bukannya begitu kak,kalau dibuatkan sendiri kan lebih puas.."

__ADS_1


"Sya..Rosululloh SAW pernah minum dibekas gelas Siti Aisyah RA.Bukan karena beliau rakus,beliau hanya ingin membuat istrinya merasa sangat dihargai walau hanya sebekas minuman digelasnya.Dan aku pun ingin mengikuti jejak Rosululloh SAW,aku juga ingin menghargai istriku yang sholeha ini.."


Alisya menjadi tersipu dengan ucapan suaminya itu,meletakkan cangkirnya yang kosong dan mulai berjalan menuju Aldo.


"Maka suamiku ini wajib membuatkan minuman untuk istrinya yang sedang kehausan.."


Aldo beranjak dari meja kerjanya dan tertawa dengan ekspresi Alisya yang mencoba mendekatinya.


"Baiklah..aku buatkan.Tunggu sebentar ya honey..?"


Kecupan singkat pada bibir Alisya yang dilakukan Aldo sontak membuatnya terkejut.Sedikit memukul lengan Aldo yang dibarengi dengan senyuman menawannya.


Aldo pun berlalu dari ruangan itu meniggalkan Alisya dengan sejuta kasih sayang yang sedang menyelimuti hatinya.Kepergian Aldo untuk membuatkannya minuman pengganti membuatnya mulai melihat-lihat layar dalam laptop suaminya sekedar untuk mematikan daya saja.Tanpa sengaja mata indah Alisya melihat keberadaan benda yang selama ini ia cari diantara susunan buku dan tepat pena diatas meja Aldo.Ia meraih benda itu dan memastikan bahwa itu adalah obat yang ia cari selama ini.Sudah dipastikan keberadaan obat itu disana adalah perbuatan Aldo karena hanya Aldolah yang menempati ruangan ini.Ia sama sekali tidak menyangka kalau suaminya itu tega berbuat seperti itu.Sungguh kenyataan itu sangat mengejutkan Alisya,Aldo mengingkari janji-janjinya,kenapa ia menjadi sepicik ini untuk mewujudkan keinginannya.Pikirannya menjadi kalut,marah,kecewa terhadap suaminya.Jari-jarinya mulai meremas obat-obatan itu,tak terasa setetes air mata mendarat halus pada pipinya.Bersamaan itu datanglah Aldo dengan membawa secangkir minuman untuk Alisya.


"Sayang...ini untuk kam.."


Alisya bergeming serta tatapan mata Alisya meruncing dan tajam saat mengetahui suaminya sudah datang.Seolah ingin menghujani Aldo dengan batu saja jika saat itu ada.Aldo pun mulai sadar bahwa istrinya itu bersikap sangat aneh dan meletakkan cangkir ditangannya keatas nakas.


"Syaa..kamu kenapa..?"


Aldo mendekati Alisya dan ingin segara meraihnya.Tapi Alisya malah dengan kasar membuang obat-obatan tadi tepat dibawah Aldo.


Aldo yang mengetahui itu pun tak kalah terkejutnya karena kedoknya sudah terbongkar oleh Alisya.

__ADS_1


"Syaa..aku bisa jelasin.."


Dua langkah Aldo mulai mendekati Alisya.


"Penjelasan apalagi kak...semua sudah jelas..!kakak benar-benar egois.Aku benci.."


Alisya berlari meninggalkan ruangan itu,Aldo tak ingin menyerah begitu saja.Alisya harus mendengarkan pembelaannya terlebih dahulu.Katakanlah ia memang egois,tapi setidaknya Alisya harus mendengarkannya terlebih dahulu.Ia mengejar Alisya yang berlari menuju kamarnya,tapi Alisya tak mau memberi kesempatan pada Aldo untuk menjelaskan semuanya.


Alisya menutup pintu dengan kasar lalu menguncinya dari dalam.Aldo yang tak sempat masuk kedalam kamarnya hanya bisa mengetuk-ngetuk pintu itu dengan pelan.Mungkin agar penghuni rumah yang lain tak mendengarkan kekacauan diantara mereka.


Didalam kamar Alisya menumpahkan segala emosinya dengan linangan air mata yang begitu deras.Pikirannya benar-benar tak dapat dikendalikan lagi,ulah Aldo saat ini sungguh sangat keterlaluan baginya.Bagaimana bisa suaminya itu tega ingin berusaha menghentikan cita-citanya yang ia coba raih sedari kecil.Apakah tidak bisa dibicakan terlebih dahulu,hingga ia bisa mengambil keputusan itu sendiri.Lalu bagaimana pula Alisya tak menyadari tindakan licik suaminya itu.


Tega sekali kamu kak..aku benar-benar benci sama kamu..


Ya Alloh..beri kesabaran hati hambaMU ini yang sedang diuji...


***


Aldo mulai putus asa,berulang kali ia mengetuk pintu kamarnya tapi penghuni kamar itu tidak bereaksi.Cukup lama ia hanya berdiri didepan pintu dan memanggil-manggil nama Alisya dengan lembut.Hatinya resah tapi tak sedikitpun terbesit penyesalan atas apa yang ia perbuat pada istrinya.Tekadnya memang sudah bulat,keegoisannya sudah menguasai seluruh otaknya hingga ia tak pernah berhenti memohon pada yang maha ESA agar rencananya segera terkabul.


Langkahnya gontai meninggalkan pintu kamar yang dihuni Alisya,ia berjalan menuju kamar Tasya yang tak jauh dari kamar Alisya.Ia mendapati putrinya itu sudah tidur dengan sangat pulas,sukurlah setidaknya Tasya tidak mendengaarkan keributan yang baru saja tecipta


Ia mencium kening anak perempuannya sedikit membelai halus rambut panjangnya.

__ADS_1


merapikan selimutnya yang sudah mulai berantakan.Sejenak ia duduk disamping Tasya lalu memandang puas wajah lucu Tasya saat terbuai oleh mimpi-mimpi indahnya.


Sayang..doakan papa agar rencana papa segera terwujud..biar kamu ga kesepian lagi disini...


__ADS_2