
Kegiatan koas ini benar-benar menguras pikiran dan tenaga Alisya hingga ia sering meninggalkan keluarga demi menunaikan tugas dari kampusnya.Tak jarang ia pulang dari rumah sakit hingga menjelang magrib.
Jika ia sedang mendapat jadwal piket malam maka Aldo akan tidur tanpa memeluk tubuh wangi Alisya,dan itu membuat Aldo sedikit frustasi.Kalau sudah begitu yang bisa dilakukannya adalah memulai panggilan dengan Vidio Call dengan Alisya yang sedang istirahat dari kegiatannya.
Tasya menjadi sangat kesepian jika Alisya harus berlarut dirumah sakit dan menunggunya setiap malam.Itu membuat Aldo menjadi kerepotan karena tingkah Tasya yang selalu merengek menginginkan kehadiran Alisya.Tak jarang jika Alisya sedang bertugas malam maka Tasya akan menginap dirumah bu Yuni atau bu Retno untuk sekedar meredakan kesepian Tasya.
Terkadang ia sering berfikir kalau ia menginkan Alisya menghentikan kegiatannya itu dan menjadi ibu rumah tangga biasa saja,agar waktu Alisya untuk keluarga kecilnya tidak terbagi dengan yang lain.Tapi Aldo menyadari bahwa menjadi seorang Dokter adalah cita-cita Alisya sedari kecil.Sungguh ia sangat egois jika harus tega menghancurkan keinginan Alisya yang sudah lama itu.
Seperti saat ini,saat Alisya pulang dari rumah sakit sesaat setelah shalat magrib dilaksanakan.Dengan setia Aldo menunggu Alisya keluar dari rumah sakit dari dalam mobil sambil mengecek pekerjaannya yang masih ada dalam ponselnya.
Ting..
Tampak nama My sweety tertera dalam layar ponsel Aldo.
"Kak..aku ada urusan sebentar.Apa kakak sudah menjemputku..?"
Aldo terlihat sangat kecewa saat membaca pesan dari Alisya,tapi ia juga tak bisa menyampaikan rasa kekecewaannya itu.Ia tau Alisya memang sangat sibuk,tapi naluri lelakinya itu terkadang sangat egois hingga ia benar-benar tak ingin berbagi perhatian Alisya untuk siapa pun.Aldo tak membalas pesan dari Alisya,ia ingin tau langsung urusan apa yang membuat Alisya menunda kepulangannya.Dengan penuh selidik Aldo pergi memasuki rumah sakit itu dan segera menjemput Alisya.
***
"Khoirul...aku ingin mengatakan sesuatu padamu..?"
Alisya yang duduk berseberangan diruang tunggu pasien dengan Khoirul berniat ingin mengatakan sesuatu yang penting padanya.Ia merasa perhatian Khoirul terhadapnya sudah agak berlebihan,Alisya sering dibuat tidak nyaman dengan itu.Oleh karenanya Alisya ingin mengatakan kejujuran pada temannya itu bahwa ia sudah menikah dan memiliki seorang anak.Ini dilakukan semata-mata agar Khoirul berhenti memperlakukan Alisya layaknya wanita yang ia cintai.
"Sebenarnya aku juga ingin mengatakan sesuatu juga padamu Sya..?"
"Kalau begitu katakanlah Khoirul..!"
"Ga Sya...sebaiknya kamu dulu saja.Karena kamu yang tadi mengajakku bertemu kan..?"
Sejenak Alisya mulai mengatur nafasnya,karena kejujuran ini sebenarnya berat bagi Alisya.Ia belum menginginkan jika statusnya akan menjadikan penghalang bagi karirnya kedepan.
"Hmzz..Khoirul,sebenarnya aku...aku sudah menikah dan sudah memiliki anak.."
__ADS_1
Jegeerrr...
Khoirul sangat terkejut dengan ucapan Alisya.Ia juga tak muda percaya dengan apa yang baru ia dengar.
"Kamu bercanda kan Sya..?"
Khoirul mempertegas dengan senyuman terpaksanya.
"Enggak Khoirul..aku serius.."
Khoirul melebarkan matanya dan menfocuskan pendengarannya sebelum Alisya melanjutkan ucapannya.
"Aku memang sudah menikah..."
"Tapi kamu..."
"Iya Khoirul..aku menikah dengan mantan kakak iparku.Dan Tasya dulu menjadi keponakaku sekarang menjadi anakku.."
"Sejak kapan Sya..?"
"Sekitar 2 bulan yang lalu.Maaf Khoirul aku baru bisa bicara jujur.."
Khoirul seperti kehabisan tenaganya,ia menyandarkan punggungnya yang tadi terasa sangat tegang.
"Sejak dulu aku memendam perasaan ini tidak ingin mengganggu kesibukanmu agar tidak ada kekecewaan disana Sya.."
Alisya memandang wajah khoirul dengan sayu.
"Tapi sepertinya aku harus mengubur dalam-dalam keinginannku.."
"Maaf.." Hanya kata itu yang bisa Alisya ucapkan.
"Tidak perlu minta maaf Sya.Ini bukan kesalahan yang butuh pemaafan.Menikah itu sebuah ibadah,lalu kenapa aku menghalangi seseorang untuk melakukan ibadah..?"
__ADS_1
Alis memberikan sebuah senyuman indah atas perkataan Khoirul.Ia merasa sangat lega seolah bebannya sudah mulai berkurang.
Tampak dari lorong rumah sakit sebelah kanan Aldo berjalan dengan mengedarkan penglihatannya untuk mencari keberadaan Alisya.
Tatapan Aldo menemukan sosok Alisya yang sedang duduk berhadapan dengan Khoirul.Entah keinginan apa yang mendorong langkah Aldo untuk mempercepatnya berjalan menuju Alisya.
Tanpa menunggu aba-aba,Aldo langsung duduk disamping Alisya sambil meraih tangan Alisya untuk menyatu dengan tangannya.Ia juga langsung mengikuti pembicaraan dua insan itu tanpa menunggu lawannya memberi kesempatan.
"Ada apa Sya..apa dia mengganggumu..?"
Alisya terkejut dengan kedatangan Aldo yang tiba-tiba.
"Kak...sejak kapan datang..?" Pandangan Alisya sedikit terbelalak melihat Aldo.
"Sejak tadi..! jadi apa dia sedang mengganggumu..?"
Aldo semakin sinis menatap Khoirul saat menyadari bahwa laki-laki lawan bicara Alisya ini adalah laki-laki yang diduga menaruh hati pada Alisya.
"Ga kak..aku sudah mengatakan pada temanku ini kalau aku sudah menikah dan mempunyai seorang putri.."
Aldo menatap Khoirul dengan tatapan penuh kemenangan,seolah hanya dia yang berhak mencintai Alisya.
"Iya..aku baru saja mendengarnya.Jadi jangan khawatir mulai sekarang aku akan mundur dari keinginanku untuk memiliki Alisya..".Nada suara Khoirul seolah sangat berduka.Ia memang merasa seperti hatinya tercabik-cabik saat mengetahui kenyataan bahwa Alisya sudah berumah tangga.Alisya menatap Khoirul sangat iba,tapi ia juga sadar bagaimana pun juga saat inilah yang terbaik untuk hubungan mereka.
Tak ingin berlama-lama melihat Khoirul meratapi nasibnya,Aldo menarik tangan Alisya agar segera bergegas dari tempat itu lalu pulang kerumah.Alsiya yang mengetahui maksud Aldo hanya mengikuti tangan Aldo dan mulai berpamitan pada Khirul.
"Maaf Khoirul..aku pulang dulu.Jangan lupa besok datang lebih pagi dari hari biasa.Assalamualaikum.."
Khoirul yang nampak masih sangat bersedih tak menyauiti ucapan salam dari Alisya.Jangankan membalas salam,menengok pun rasanya Khoirul tak sanggup,hingga ia hanya mampu memandang lantai putih rumah sakit itu.
Ya Alloh..kenyataan apa ini..
Apakah aku terlalu bertele-tele hingga Alisya pun lebih cepat dinikahi laki-laki lain dari pada aku yang menunggunya sejak lama..
__ADS_1
Kawan jangan lupa Like dan komen yaa..😘