
Aku sangat merindukanmu bagaikan kemarau yang mengharapkan hujan..
Aku sangat merindukanmu bagaikan kincir yang mengharapkan angin..
Aku sangat merindukanmu bagaikan pagi yang mengharapkan gerimis..
Aldo mulai menjaga jarak dengan Ghisel,ia menolak mentah - pentah pelukan yang akan diberikan Ghisel padanya.
"Apa bukti yang sudah kamu dapatkan Ghisel..?"Aldo mengalihkan pembicaraan seolah Aldo tau kalau ada niat lain dengan kedatangan Ghisel dikantornya.
"Hmmz...sebenarnya aku belum mendapatkan bukti apapun Al.."Suara Ghisel terdengar ragu.
"Lalu kenapa malam - malam begini kamu menyuruhku datang kekantor..?"Aldo merasa heran dengan tingkah Ghisel.
"Sejujurnya Al..aku baru tau kalau Alisya bukanlah ibu kandung Tasya.Tadi siang Amanda sahabatku putri dari pak Lukman bercerita padaku kalau istri pertamamu sudah meninggal dunia 5 tahun yang lalu.Kemudian kamu dijodohkan lagi dengan Alisya yang tak lain mantan adik iparmu kan..?".Ghisel seolah sudah menemukan kartu As dalam permainannya.
"Lalu apa urusanmu Ghisel..?"
"Sudah lah Al..jangan mangkir seperti itu.Aku tau kamu masih mencintai aku kan..?"
"Apa kamu sudah gila..sejak awal kita bertemu lagi aku tidak pernah menyembunyikan pernikahanku dengan Alisya.Karena hakikatnya pernikahan bukan sebuah permainan.Belum jelaskah dari tindakanku itu Ghisel kalau aku tidak ingin memberimu harapan palsu.."
Ghisel mendengarkan semua penjelasan Aldo,tapi hati Ghisel seolah sudah tertutup oleh rindu gilanya itu dan tidak mau mengerti penjelasan Aldo.
"Ok..aku percaya dengan prinsip yang kamu yakini.Tapi aku yakin kamu tidak mencintai Alisya kan..?" Ghisel semakin berani,ia mulai mendekati Aldo dan mencoba duduk dipangkuannya.Melingkarkan kedua tangannya keleher Aldo dan kemudian mendaratkan ciumannya dibibir Aldo.
"Cukup Ghisel..kepergianmu ke luar negri ternyata sudah merubah otakmu yang semakin gila..!"Bentak Aldo yang menolak untuk dicium dan mulai berdiri menjauh dari Ghisel.
__ADS_1
"Al..mengertilah..Aku masih sangat mencintaimu.."
"Jangan mencoba mengatas namakan cinta lalu kamu bisa berbuat serendah ini Ghisel..?" Aldo yang kesabarannya mulai terkikis berbicara dengan kasar.
Ghisel yang mendapat perlakuan seperti itu seolah menyadarkan kedudukannya.Dia mulai meraih sofa yang ada dihadapannya lalu menduduki benda itu.
"Maafkan aku Al..mungkin berita dari Amanda tadi membuatku terlalu bersemangat mengenaimu..kamu memaafkan aku kan..?"
Aldo melunak, dengan ragu dan kesal ia juga mulai duduk diatas sofa yang berbeda dengan Ghisel.Diraihnya cangkir berisi kopi yang sudah tersedia diatas meja sebelum kedatangannya tadi dan mulai meminumnya.
***
Setelah kepergian Aldo kekantor tadi membuat Alisya menjadi tidak tenang.Pasalnya Aldo pergi untuk menemui Ghisel walaupun itu dilatari oleh pekerjaan.Tetap saja sebagai wanita yang normal Alisya merasa khawatir.Ini tidak berlebihan mengingat Aldo belum pernah mengungkapkan perasaannya pada Alisya walaupun sikap Aldo sudah jelas menunjukkan bahwa Alisya sudah mulai menjadi wanita yang berarti dalam hidupnya.
Alisya terus berusaha memejamkan kedua matanya,tapi itu sia-sia.Bayangan Aldo dan Ghisel saat dipesta membuat dadanya menjadi berdetak tidak karuan,cemas,juga kecewa.
Tak ingin terus menduga - duga akhirnya Alisya memutuskan untuk pergi menyusul Aldo kekantornya.Ia beranjak dari tidurnya dan mulai berganti pakaian yang rapi.Tak lupa ia juga membawa tas kecil sebagai tempat dompet dan ponselnya.
Sebelumnya Alisya pergi ke kamar Tasya untuk memastikan kalau anaknya itu masih tertidur pulas,lalu ia melanjutkan pergi ke kamar bi Marni yang sepertinya bi Marni belum tidur karena TV dalam kamarnya masih aktif.
"Maaf bi malam- malam ganggu,saya titip Tasya dulu ya..?"
"Oh..iya mbak.Memangnya mb Alisya mau kemana ?"
"Saya ada urusan sebentar ke kantor kak Aldo" Bi marni yang diberi penjelasan oleh Alisya hanya manggut -manggut saja.
Tanpa menunggu lama Alisya langsung keluar mencari kendaraan Online yang dipesannya tadi.Seolah memang sudah panggilan,pak Rahmad yang mengetahui keberadaan Alisya mulai menawarkan jasanya untuk mengantar Alisya menggunakan mobil Aldo yang satunya.Dengan berbagai resiko yang bisa saja menimpa Alisya,Akhirnya Alisya mau menerima tawaran pak Rahmad dan membatalkan pesanannya tadi.
__ADS_1
Jarak tempuh antara rumah menuju kantor Aldo terasa sangatlah jauh,karena Alisya menempuhnya dengan kegelisahan yang menguasainya.Sebentar ia mengecek ponsel nya dengan harapan ada pesan Aldo yang masuk.Tapi selama itu tidak ada satu pesan pun yang masuk dari Aldo,itu membuatnya semakin frustasi.
Sampailah Alisya didepan pintu masuk kantor Aldo,disana tampak dijaga oleh 2 scurity.Alisya langsung menghampirinya dan bertanya padanya.Scurity itu tampak menjelaskan keberadaan Aldo yang memang datang sekitar 1 jam lalu.Dengan segala kerendahan hati scurity itu bersedia mengantar Alisya ke ruangan kerja Aldo.
Langkahnya tampak seolah mengejar sesuatu yang akan hilang,gurat kekhatiran tanpak jelas diwajah Alisya.Sampai - sampi scurity yang menemaninya ikut terbawa suasana itu.
Saat Alisya membuka pintu ruang kerja Aldo tanpa mengetuk,betapa terkejutnya ia melihat pemandangan yang ada didepannya.Ghisel dengan pakaian yang bagian atasnya sudah terbuka tampak begitu terkejut dengan kedatangan Alisya. Tanpa basa- basi Alisya langsung memasuki ruangan itu.Tatapannya meneliti tentang keberadaan Aldo tanpa memerhatikan keberadaan Ghisel sedikitpun.Alisya dibuat lebih terkejut lagi saat melihat Aldo diatas sofa yang berada dibawah kungkungan tubuh Ghisel dalam keadaan setengah sadar.Kancing bajunya sudah terbuka dan tak tersisa,matanya terbuka sejenak lalu tertutup lagi,bibirnya terus menyebut nama "Alisya" membuat Alisya sangat prihatin dengan keadaan suaminya itu.Didorongnya langsung tubuh Ghisel agar menjauh dari Aldo.Dorongan itu membuat Ghisel sedikit terpental.
Ghisel mulai merapikan busananya lalu tanpa permisi ia berlari keluar dari kantor Aldo. Sungguh wanita yang tak punya malu jika ia masih betah diruangan itu.Alisya yang terus berusaha mengembalikan kesadaran Aldo mulai penasaran dengan penyebab Aldo seperti itu.Pandangannya mulai menyeruak keseluruh sudut ruangan itu,tak butuh waktu lama Alisya menemukan cangkir kopi yang sudah kosong salah satunya.Ia beranjak dari samping Aldo lalu meraih cangkir kosong itu dan mulai meneliti isi cangkir itu.
Kemudian ia menghampiri Aldo lagi dan terus berusaha mengembalikan kesadaran Aldo.
"Kak...bangun kak.."
Samar - samar Aldo mendengar suara lembut Alisya sambil menepuk pelan pipinya.
"Ayo kita pulang kak.."
Mata Aldo mulai terbuka..Sial,kanapa darahnya seolah sudah berada diatas ubun - ubun dan mendidih.Uforia otakknya sudah tak terkendali.Alisya yang tampak sangat cantik dengan gaunnya pink nya itu langsung ditarik oleh Aldo.Melingkarkan tangan kirinya dipinggang Alisya dan tangan kanannya meremas kasar dagu Alisya.Terjadi begitu cepat,bibir Aldo ******* bibir Alisya yang masih tertutup.Lumatan itu menjadi kasar saat Alisya tak kunjung membuka bibirnya..Alisya menjadi ketakukatan dengan kelakuan Aldo.Alih -alih prihatin akan keadaannya,Alisya malah mendorong kuat tubuh Aldo.Aldo terjatuh diatas sofa..
"Menjauhlah Sya..!"Ucap Aldo lirih.
"Kak.."
"Saat ini aku sangat berbahaya bagimu.Pergilah dari hadapanku..!!!"Seolah Aldo menahan sesuatu hingga tak sadar ucapannya itu terdengar sangat kasar.
Benar dugaan Alisya..Aldo sudah meminum obat perangsang berdosis tinggi
__ADS_1