
Disudut ruangan nyaman dirumah bu Yuni terlihat Aldo duduk disana dan menikmati kopi hitamnya.Ia juga sedang ditemani pak Yusuf ayahnya mengobrol sedikit tentang pekerjaan Aldo.
Tak lama dari itu tampak Alisya,bu Yuni dan Tasya sudah keluar dari kamar utama rumah itu.Tasya sudah nampak rapi dengan baju seragam sekolahnya dan masih berada dalam gendongan Alisya.Mereka pun ikut mengobrol dengan 2 lelaki itu sebentar sebelum berpamitan berangkat mengantar Tasya ke sekolah.
"Oh iya Sya..koas mu masih lama..?"
Tanya pak Yusuf pada Alisya.
"Masih sekitar 1 bulan lagi pa,ada apa ya pa?"
"Ga ada apa-apa sih,cuma jangan terlalu sibuk Sya.Memangnya kalian ga ada program ingin punya anak lagi..?"
Alisya terdiam mendengar pertanyaan pak Yusuf.
Aldo yang melihat Alisya dengan raut wajah yang sedikit tegang memutuskan mengambil alih untuk menjawab.
"Insha Alloh ada paa,tapi gak sekarang.Alisya masih harus menyelesaikan tugasnya dulu.."
"Alangkah baiknya kalau mencari ridho Alloh jangan ditunda-tunda nak.Apalagi yang ingin kalian raih,Tasya juga terlihat ingin segera punya saudara.Ada beberapa golongan bagi umat islam yang diwajibkan segera memiliki keturunan.Diantaranya ya seperti kalian ini.Papa dan mama juga sudah tua,kami juga ga mau melihat Tasya bernasib seperti kamu al yang tak memiliki saudara..!"
Pak Yusuf memang menujukan ucapannya pada Aldo,tapi entah mengapa justru Alisya lah yang merasa terpojok dengan ucapannya hingga wajah Alisya terlihat pucat.
Aldo yang menyadari keadaan istrinya meraih jari-jari Alisya dan menggenggamkan pada sela tubuh mereka hingga tak ada yang mengetahui genggaman jari itu.Alisya menangkap signal dari Aldo hanya bisa merasakan kehangatan genggaman tangan Aldo yang membuat hatinya menjadi tenang.
Usai obrolan mereka yang menunjukkan keseriusan,Alisya dan Aldo berpamitan untuk segera mengantar Tasya sekolah.Tak biasanya Alisya menjadi merasa tidak enak dengan apa yang diobrolkan keluarganya tadi.
Sampai diperjalanan pun Alisya masih terbawa dengan perasaan yang kurang enak.Aldo tak henti-hentinya mencoba menghibur Alisya yang sedang gunda,sebenarnya Alisya tak ingin menunjukkan perasaannya itu didepan suaminya,tapi entah mengapa seolah senyum Alisya terasa berat untuk tercipta.
"Kak....?"
"Iya.."
"Apa kakak menginginkan anak dari aku sekarang..?"
"Sya..kamu ga usah ambil hati tentang perkataan papa tadi.."
Harusnya pernyataan Aldo bisa mengurangi kegundahan hati Alisya,tapi Alisya seolah terlanjur terbawa dalam kemelut problemanya kali ini.
__ADS_1
"Tapii..."
"Kalau kamu tanya bagaimana keinginanku,jelas aku ingin segera punya anak darimu.Melihat Tasya juga harusnya memiliki teman dirumahnya.Tapi aku juga ga boleh egois harus memaksakan kehendakku sendiri tanpa meminkirkan keinginanmu..!"
"Aku anggap kakak mendukung keinginanku.Kakak tau sendirikan kalau aku sangat ingin menjadi dokter sejak kecil..?"
Aldo tak menjawab pertanyaan Alisya kali ini,ia tetap focus dengan acara kemudinya.Entah apa yang dirasakan Aldo saat ini semua menjadi serba abu-abu.Ada rasa sedih karena harus mengubur dalam keinginannya yang ingin segera memiliki keturunan saat ini juga.Tapi ia juga harus membuang keegoisannya karena ia juga sangat menyayangi Alisya lebih dari dirinya sendiri.
Sampai ucapanTasya menyadarkan obrolan mereka dan menjadi kejutan dengan keinginan putrinya itu.
"Mama jadi punya dedek kan paa..?Tasya pengen segera punya adek ma..!"
Alisya terdiam dan menoleh kebelakang untuk memastikan pertanyaan putrinya itu yang memang duduk dikursi belakang.Tapi ia juga tak sanggup untuk menjawab pertanyaan Tasya yang menurutnya sangat berat.
"Hmm..emangnya Tasya pengen punya adek sekarang..?"
Aldo mengambil alih pertanyaan Tasya dan ia mulai menjawab.
"Iya dong pa..Tasya selalu berdoa pada Alloh semoga Tasya segera diberi adek yang lucu..Tasya pengen kayak temen-temen yang uda punya dedek semua paa.Malahan Reihan punya dedek 2 loh paa!"
Alisya dan Aldo saling berpandang,kedua kepala itu sama-sama dipenuhi perasaan yang tak karuan.
Aldo menjawab dengan tatapannya yang terus menatap mata Alisya.Tasya spontan langsung berteriak kegirangan karena memang selama ini gadis kecil itu bermimpi ingin cepat punya teman untuk bermain dirumah.
Alisya sudah tak sanggup menahan kelenjar air matanya bekerja,tetesan air jernih itu sudah mendarat halus pada pipi Alisya.Pandangannya mulai beralih kearah depan,menghindar agar Tasya tidak mengetahu bahwa ia telah menangis karena ucapannya.Aldo meraih jemari Alisya dan menggenggamnya denga lembut dan sesekali menciumi jari-jarinya.
***
Seharian ini kepala Alisya masih berfikir terus tentang keinginan anaknya yang menginginkan seorang adik,dadanya mulai terasa sesak jika harus membayangkan kalau semua cita-cita harus terkubur kalau harus mengikuti keinginan putrinya.Tapi dia juga seorang ibu yang tidak boleh egois untuk mendapatkan keinginannya seorang tanpa mempertimbangkan perasaan keluarganya.
"Sya..kenapa melamun..?kamu lagi ada masalah..?"
Pertanyaan dokter Reymond menyadarkan Alisya dari lamunannya.
"Eh..maaf pak.."
"Kenapa ga kekantin dengan yang lain?Ini untuk kamu.."
__ADS_1
Dokter Reymond menyodorkan sebotol minuman penambah energi.Entah apa yang membuat dokter itu perhatian terhadap Alisya hingga ia mengetahui bahwa Alisya sedang merasa kelelahan.
"Masha Alloh..terima kasih dokter kenapa repot-repot..?"
Tanpa menunggu izin dokter Reymond duduk disamping Alisya berjarak 1 kursi diruang tunggu pasien.
Hari memang sudah siang,tapi Alisya seolah tak merasa lapar karena kenyang dengan problema yang ia hadapi.
"Ga repot ko Sya..cuma kebetulan saya melihat kamu saja.."
Mencoba menenangkan dirinya dari kejolak didadanya Alisya mulai membuka minuman itu dan menikmatinya.
"Oh ya pak,setelah ini tidak ada pasien lagi kan yang perlu ditangani,atau mungkin ada dokumen yang harus dichek..?"
"Ga ada ko Sya..kamu bisa santai.."
Alisya terlihat tenang mendengar penjelasan dokter Reymond sebelum ia melanjutkan perkataannya.
"Sya..sebenarnya saya ingin bicara serius sama kamu.Mungkin akan terdengar sedikit mengejutkan.Tapi apa salahnya jika saya mengatakannya lebih awal.."
Dokter Reymond mulai serius dengan ucapannya.Alisya pun menjadi sedikit tegang dengan ucapan dokter Reymond dan memandang serius kearah dosen pembimbingnya itu.
"Maaf dok..tentang apa ya..?"
"Tentang saya..?"
"Oh.."
"Sya...sebenarnya saya sudah lama ingin mengatakan ini.Saya...saya...menyukaimu Sya...?"
Dengan suara tertahan dokter itu mulai mengungkapkan perasaannya pada Alisya.Seolah ada petir disiang bolong,Alisya sangat terkejut dengan ungkapan perasaan dokter Reymond.
"Maaf pak...bapak ga salah bicara kan..?"
"Ga Sya..kamu ga salah dengar.Saya memang menyukaimu dan ingin meminangmu.."
Bagai ada petir disiang bolong,dokter Reymond tanpa ragu melamar Alisya diruangan yang hanya ada beberapa perawat yang sedang bertugas.
__ADS_1
Masha Alloh..ujian apalagi ini