
Segala sesuatu yang terjadi didunia ini tidakalah terjadi karena sebuah kebetulan,sebab Alloh sudah merencanakan sebelum kita tercipta.
Aldo masih keheranan dengan sikap Azham yang dingin padanya.Terlebih saat Azham mulai melangkah mendekati Aldo yang masih berdiri disamping Alisya.Tanpa peringatan,tiba-tiba Azham melancarkan aksi baku hantamnya tepat pada tulang rahang Aldo.Sontak saja perbuatan Azham itu membuat terkejut Alisya dan mamanya.Alisya menjerit saat mendapati Aldo yang sudah tersungkur diatas lantai dengan ujung bibir yang mulai mengeluarkan darah.
"Alloh...mas Azham..!!apa yang kamu lakukan..??"
Alisya menunduk berniat membantu Aldo untuk segera berdiri.
"Dia pantas mendapatkan itu dek..!!kamu ga perlu menolongnya..!!"
"Memangnya apa salah kak Aldo mas..?"
Suara Alisya bergetar,setetes air mata mendarat mulus pada permukaan pipinya.
"Dia itu brengsekk..egois..dan kurang ajar..!!"
"Cukup Azham...apa yang kamu lakukan?mama mengizinkanmu menjadi pasukan militer tapi bukan berarti kamu bisa meluapkan emosi sesuka hatimu.."
Bu retno mulai tersulut,tangannya menahan lengan Azham yang akan menghantam wajah Aldo untuk kedua kalinya.
Azham terhenti dan hanya menyaksikan Aldo kembali berdiri dengan bantuan Alisya.
***
Disudut kamar yang cukup besar tampak Alisya mengobati luka yang terdapat pada ujung bibir Aldo.Dengan sangat hati-hati Alisya mengompres luka itu lalu mengolesi dengan salep pereda nyeri.
"Apa masih sangat sakit kak..?"
Aldo tak menjawab,ia hanya menggelengkan kepalanya walau pun rasa sakit masih membungkus luka itu.Alisya mengerti dengan kebisuan suaminya itu,ia tau mungkin saat ini Aldo masih merasa terkejut atau bahkan sedih dengan tindakan Azham padanya.
Alisya mencoba menenangkan pikiran Aldo dengan menggenggam erat tangan suaminya itu.
Semua akan baik-baik saja...
Kebisuan itu terjadi tak begitu lama karena tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang dilakukan bu Retno.
"Alisya..Aldo..ayo turun kebawah,papa sudah menunggu kita.."
__ADS_1
"Iya maa..."
Setelah itu tak terdengar lagi suara bu terno dari balik pintu,mungkin ia sudah bergabung dengan suami dan anaknya Azham.
"Kak..kita turun yuk..?"
"Iya sayang.."
Aldo mengeratkan genggaman tangannya pada Alisya.Ia mulai berdiri mensejajari istrinya itu untuk segera keluar dari kamarnyan.Sebelum mereka benar-benar keluar dari kamar Alisya waktu masih gadis,Aldo masih sempat mengusap halus perut besar Alisya dan menciuminya.
Doakan papa ya nak,sumua akan baik-baik saja..
***
"Mas..ada masalah apa sebenarnya.?kita bisa ngomong baik-baik kan..?"
Alisya memulai perbincangan itu dengan tangan yang masih perpegangan erat dengan tangan Aldo.
Azham yang emosinya belum stabil sepenuhnya menjawab dengan nada sedikit tinggi.
"Si brengsek ini sudah mengingkari janjinya dek..!"
Bu Retno dan pak Yusuf sementara ini hanya sebagai pendengar saja,sebelum nantinya mereka menjadi hakim dikasus yang melibatkan putra dan putrinya.
"Maafkan saya mas..?"
Aldo menyela dengan tatapan penuh penyesalan yang dilemparkan pada Azham sebelum ia melanjutkan kata-katanya.
"Sya..maa..paa..dalam hal ini saya memang yang bersalah.Saya pernah berjanji pada mas Azham sewaktu akad nikah akan dilaksanakan bahwa saya akan menjaga Alisya dengan..."
"Tapi nyatanya apa hah..?Kamu malah mengingkari membuat Alisya hamil dan menghentikan langkahnya untuk meraih cita-citanya.."
Semua terheran-heran dengan ucapan Azham yang penuh emosi.Kesepakatan apa yang mereka buat hingga membuat mereka terlibat pertengakaran seperti ini.
"Apa maksudmu mas..?"
Alisya tak mau hanya mendengarkan,sebab ini seolah menyangkut dirinya juga.
__ADS_1
"Iya dek,sebelum dia melaksakan akad nikah denganmu mas memintanya agar dia menjagamu dan tidak membuatmu hamil terlebih dahulu.Mas ingin kamu menyelesaikan semua yang menjadi cita-citamu menjadi seorang dokter.Dan dia pun menyanggupi itu dengan berjanji dihadapan mas.."
"Tapi mas..aku bisa jelasin semuanya.."
Aldo sedikit menyela pembicaraan Azham sebelum ia melanjutkan lagi.
"Aku memang mengingkari janjiku,aku akui memang aku yang paling bersalah tapi itu aku lakukan semata-mata aku sangat mencintai Alisya dan tak mau kehilangannya..!"
Azham terdiam,dia mencoba menahan diri untuk mendengarkan penjelasan Aldo.
"Memang aku sangat egois mas,tapi aku benar-benar tidak mau kehilangan Alisya.Terserah mas mau menganggap aku apa,aku akan terima.Tapi satu hal yang mas harus mengerti,aku sangat mencintai Alisya dan calon anak kami ini.."
Aldo mengucapkan dengan terus mengelus perut buncit istrinya.Alisya yang mendengarkan itu tak kuasa untuk menahan air matanya agar tidak menetes.Kini ia sadar apa yang menjadi masalah antara suami dan kakaknya itu.Memang benar,Azham adalah orang pertama yang sangat mendukung Alisya untuk wenjadi dokter.Oleh sebab itu ia merasa harus membuat perjanjian dengan Aldo sewaktu akad nikah akan dimulai waktu itu.
Tapi takdir berkata lain,Aldo dengan sikap sejuta possesifnya sengaja membuat Alisya hamil agar ia memiliki Alisya seutuhnya dan mendapat pengakuan dari dunia jika mereka adalah sepasang suami istri yang sejati.Mengingat terlalu banyak godaan diluar sana yang menginginkan Alisya maupun Aldo.Hingga Aldo pun mengambil langkah yang banyak mengandung resiko.
"Sejujurnya mas,aku juga belum siap jika harus melepaskan semua cita-citaku..tapi aku sadar kalau aku juga wanita yang sudah bersuami.Aku juga memiliki tanggung jawab besar atas rumah tanggaku.Tak mungkin aku mengutamakan keinginanku diatas segalanya.Aku dan kak Aldo ingin menjalani rumah tangga kami sesuai syari'at agama kami yang pernah kami pelajari.Agar selalu berada dijalanNYA,maka aku pun memutuskan agar dunia juga mengakui atas penikahan kami.Jadi dalam hal ini yang terlibat bukan hanya kak Aldo,tapi aku juga mas.."
Semuanya terdiam mendengar penjelasan Alisya,Aldo dengan wajah yang lebam akibat serangan dari Azham semakin dibuat kagum atas sikap istrinya yang dengan berlapang dada meninggalkam segala apa yang diinginkannya untuk memenuhi keinginan suaminya itu.
Bu Retno pun demikian,tanpa ia sadari ternyata keputusannya menikahkan Alisya membuat putrinya itu sedikit tertekan.Tapi ia juga menyadari jika kini Aldo dan Alisya sedang menjalani masa-masa terindah mereka dalam pernikahan mereka.Tanpak jelas disana,tanpa malu Aldo mencium kening Alisya penuh kasih sayang.Alisya hanya membalas dengan senyuman manisnya untuk menyambut ciuman Aldo.
Azham sudah tak bersuara lagi,ia juga menyadari jika keadaan Alisya seperti ini bukan hanya kesalahan Aldo,tapi adik tersayangnya itu ikut juga mendukung keputusan suaminya.
"Mas..maaf karena aku tidak bisa menepati janjiku.."
Aldo mengulurkan tangannya kearah Azham untuk bersalaman.
Sedang Azham yang sudah melunak membalas dengan menjabat tangan Aldo dan mulai memeluknya.
"Maafkan aku juga Al..karena terlalu terbawa emosi.."
"Ga papa mas,aku juga pasti akan bersikap seperti mas Azham jika saudaraku diperlakukan seperti itu.."
Suasana menjadi haru saat dua anak adam itu saling berjabat tangan dan berpelukan.Tak ingin berlarut-larut dalam keharuan,Alisya berinisiatif untuk memecahkan suasana itu.
"Dan lagi mas..,ponakanmu yang satu itu terus saja menagih padaku agar cepat mendapat adik lucu.."
__ADS_1
"Tasya..."
Semua tertawa saat mengingat malaikat kecil itu yang saat ini sedang tertidur dikamar bu Retno.