
Sekuat apapun badai menerjang,jika cinta sudah terukir indah di lauh mahfud maka tak ada yang lebih nikmat dibandingkan semua pengorbanannya.
Hari-hari Alisya kini sudah berubah,ia tak lagi sibuk dengan koasnya atau sekedar melaksanakan tugas praktek ilmiyah yang diberikan oleh dosennya.Ia bertekad menghentikan segala kegiatannya dan mengundurkan diri dari dunia kedokteran yang dulu ia idamkan.Alisya kini hanya focus pada keluarga kecilnya kususnya pada kehamilannya saja.
Menginjak usia kandungannya yang ke dua bulan kondisi Alisya tak jauh beda dari bulan pertama.Semua terasa tak enak dalam lidahnya,asupan makanan tak ada yang menjamah isi perutnya.Hari-harinya hanya dilalui diatas tempat tidur,tenaganya benar-benar musnah bahkan hanya untuk sekedar kekamar mandi ia perlu bantuan.Badannya semakin kurus,kantung mata tampak menghitam dan wajahnya selalu nampak pucat.Hanya susu untuk wanita hamil saja yang mungkin ia mampu teguk,selain itu mustahil Alisya bisa menelan makanan lainnya.
Kondisi itu membuat Aldo sangat prihatin,hatinya selalu diliputi rasa gelisa jika ia harus pergi bekerja dan meninggalkan Alisya dirumah.Walau pun terkadang bu Retno menginap dirumahnya untuk menjaga Alisya,tetap saja Aldo merasa tak tenang.
Jarum infus seolah menjadi teman sejati Alisya dikala kondisinya benar-benar menurun,tak ayal itu membuat Tasya juga ikut menderita melihat kondisi mama sambungnya itu.Tasya pun menjadi enggan jika tak berada disamping Alisya,gadis kecil itu menjadi sangat perhatian pada ibunya walaupun terkadang sifat manjanya muncul disaat tak terduka.
Seperti tadi malam,ia bersikukuh ingin tidur bersama Alisya walaupun dengan sejuta rayuan maut Aldo agar Tasya tak mengganggu mereka tetap saja Tasya tak mengindahkan keinginan ayahnya.Alisya yang tak berdaya melihat perdebatan ayah dan anak itu menjadi tersenyum geli karena tontonan dihadapannya.
"Sayang...kamu tidurnya sama eyang Retno aja ya..?kan kasian eyang Retno ada disini tapi tidurnya sendirian ga punya teman.."
Alisya memasang wajah memelas agar kali ini Tasya mendengarkan perkataannya.
"Hmzz...tapi maa,aku pengennya tidur sama mama.."
"Boleh aja..tapi kan kasian eyang Retno..?nanti kalau eyang Retno kesepian terus
minta pulang gimana ayoo..?"
Sejenak Tasya berpikir sebelum akhirnya ia menuruti perkataan Alisya untuk tidur bersama neneknya.Aldo yang merasa kemenangan berpihak padanya langsung memboyong tubuh Tasya dan segera membawa kekamar bu Retno,sedang yang dihendong tertawa riang karena mendapat prilaku seperti itu dari ayahnya.
***
Pagi ini seperti biasa diawali dengan acara muntah Alisya yang terdengar jelas dari luar kamar mandi.Sudah sejak subuh tadi Alisya keluar masuk kamar mandi untuk menuntaskan mengeluarkan semua isi perutnya.Aldo yang dengan setia menemani istrinya menjadi sangat pilu melihat kondisi Alisya.Benar saja Rosululloh bersabda.."Derajat seorang ibu 3 tingkat lebih tinggi dari ayah" karena melihat perjuangan seorang wanita yang sedang hamil sangatlah berat,belum kalau mereka sedang melahirkan yang menjadi taruhannya adalah nyawa.Ditambah lagi merawat dan membesarkan,sungguh sangat mulia tugas itu terasa.Tapi kadang kala ada saja dari kaum manusia yang masih menganggap remeh tugas itu dan pada akhirnya mereka lebih memilih mengeluarkan uang lebih untuk pengasuh bayi mereka.Tapi tidak pada istri Aldo Syahputra ini,ia sudah bertekad kelak ia akan mengasuh anaknya dengan tangannya sendiri.Memberikan madrasah pertama bagi anaknya dengan seutuhnya tanpa diwakilkan orang lain.
"Hari ini aku ga kerja aja ya Sya..?"
Aldo mulai merapikan selimut untuk membungkus tubuh Alisya yang baru keluar dari kamar mandi.Sedang Aldo sendiri nampak sudah siap untuk berangkat bekerja pagi ini walau penampilannya sedikit berantakan.Sungguh ini menyiksa Aldo...Bagaimana tidak,segala keperluan kerja Aldo selalu dipersiapkan oleh Alisya setiap paginya.Tapi kini dengan kondisi Alisya yang seperti itu membuatnya terpaksa melakukan segala keperluannya sendiri.
"Jangan kak..hari ini kan ada jadwal sidang penting.Kakak uda ngerjainnya sebulan yang lalu,apa gak sayang kalau harus ditunda lagi.."
__ADS_1
Alisya mencoba memberikan pengertian pada suaminya yang menghadap dekat dengan wajahnya.
"Ada Mike yang bisa menggantikanku.."
"Tapi kak..mereka mengeluarkan uang untuk membayar kakak,bukan membayar Mike.Inget,mengerjakan perbuatan baik jangan setengah-setengah..."
Alisya tau jika suaminya kini memang merasa sangat malas meninggalkan dirinya.Tak ingin semakin membebani suaminya,Alisya mengeluarkan berbagai macam alasan agar suaminya tak merasa berat.
"Lagian kak..disini kan ada mama.Jadi kakak ga usah kuatir.."
Tidak ada alasan lagi bagi Aldo untuk tetap disisi Alisya,ia memang harus menyelesaikan apa yang sudah menjadi tugasnya.
Alisya memberi semangat pada suaminya dengan merepikan rambut tebal Aldo dengan jari-jarinya,lalu beralih dengan mencubit ringan pipi kiri Aldo.
"Baiklah..tapi tentunya sebelum aku berangkat kamu harus makan roti itu terlebih dahulu.."
Aldo mengabil selembar roti tawar berselai coklat yang sudah disiapkan bi Marni tadi.Alisya menjadi jengkel jika harus berhubungan dengan makanan.Entah mengapa dimata Alisya semua jenis makanan tidak ada yang menarik baginya.
Dengan terpaksa ia menerima pemberian suaminya itu,sedikit mengunyah dan mendorongnya dengan beberapa tegukan susu hangat.
"Ok honey..aku berangkat dulu ya..?"
Aldo mendaratkan sebuah ciuman manis pada kening Alisya dan dilanjutkan dengan ******* lembut bibir istrinya sebelum ia beranjak dari sisi Alisya.
"Iya kak,hati-hati ya..?"
Aldo mulai berlalu dari samping Alisya dengan menenteng sebuah tas kerja yang berada diatas.Tapi tunggu,bentuk lipatan dasi pada leher Aldo ternyata tak luput dari pandangan Alisya.Sungguh mengenaskan,siapa saja yang melihat keberadaan dasi itu pasti beranggapan kalau Aldo adalah laki-laki yang tak beristri dan mengalami frustas,sebab dasi itu nampak sangat berantakan.Entah sejak kapan ia sangat bergantung pada Alisya,bahkan untuk sekedar memasang dasi saja ia sudah tak sanggup.
"Kak...tunggu..?
Alisya menahan langkah suaminya yang seketika membuatnya menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Alisya.
"Ada apa sayang..?"
__ADS_1
"Kemarilah sebentar..sini aku rapikan.."
Pandangan Alisya tertuju pada dasi yang menggantung pada lehernya,itu membuat Aldo mengerti dengan segala isarat dari istrinya.Ia pun menghampiri istrinya kembali walau Alisya tak beranjak dari tempat tidur itu dengan posisi duduk dan menyandarkan punggungnya.
Aldo mulai duduk disamping Alisya kembali dan jari-jari Alisya dengan luwes mulai merapikan dasi itu.Dipandangi wajah istrinya itu yang memang jarak mereka sangat dekat.Menelusuri setiap lekuk wajah indah Alisya yang kini nampak lebih kurus.
Cup...
"Jaga kondisi kamu ya sayang.."
Cup...
"Banyak makan biar cepat sehat.."
Cup...
"Katakan apa saja yang kamu inginkan.."
Cup...
Cup...
Cup...
Alisya menjadi kewalahan sendiri dengan ulah suaminya itu yang tak henti-hentinya mencium bibir manis Alisya.
"Kaaakkk...sudah ah.."
Alisya sedikit mendorong dada bidang Aldo agar segera berangkat untuk bekerja.Aldo hanya terkekeh melihat pipi Alisya yang mulai merona sebab tindakannya.
"Ok...aku berangkat ya sayang..Assalamuaikum.."
Cup...
__ADS_1
Belum sempat Alisya menjawab salamnya Aldo sudah berhasil mencuri 1 ciuman lagi dari bibir Alisya sambil berlalu dari hadapan Alisya.Tentu saja Alisya menjadi sedikit jengkel dengan ulah suami itu,tapi kejengkelan itu menciptakan sebuah senyuman manis dibibir Alisya.
"Kakkk..."