
Bulan tak pernah meninggalkan sinarnya..
Tapi mengapa pencarian ini seolah tak terbatas..
Alisya dan teman-temannya tampak seru dengan obrolan mereka,sesekali mereka juga melemparkan gelak tawa dari bibir masing-masing.Syarif yang juga termasuk mahasiswa dibawah bimbingan dr.Reymond ikut bergabung dengan Alisya dan kawan-kawan.
"Oh iya Syarif..pacar kamu masih Metha kan..?"Khoirul bertanya pada Syarif seolah mengejeknya.
"Ya Alloh Khoirul..aku bukan playboy yang suka gonta ganti cewek..Pacarku ya masih Metha lah..!"
"Siapa tau kamu sudah ganti pacar,secara kamu kan berbeda fakultas dengan Metha.Mungkin saja kamu tertarik dengan gadis lain yang satu fakultas denganmu..?"
"Ngaco kamu...emangnya kamu yang suka pilih-pilih cewek hingga kamu sulit sendiri menemukan yang sesuai dengan keinginanmu..?"
"Bukan pilih-pilih Syarif...aku hanya masih menunggu waktu yang tepat saja.."
Alisya dan Sita hanya menjadi pendengar setia Khoirul dan Syarif yang masih dengan argumentnya masing-masing.
"Menunggu sampai kapan..?Gercep dong..keburu diembat orang lain..?" Syarif sudah mengetahui siapa perempuan yang dimaksud membuatnya melirik kearah Alisya.Sedangkan Alisya mulai tidak nyaman dengan arah pembicaraan mereka mulai menikmati makanan yang baru saja tersedia.
"Aku agak ragu Rif..takut ditolak.Sepertinya dia masih sibuk..!" Khoirul ikut melirik kearah Alisya.
"Sya..kamu sibuk ga..?" Syarif dengan tegas bertanya pada Alisya yang baru menikmati jus alpukatnya.Alisya yang mendapat pertanyaan itu spontan langsung tersedak dengan minumannya.
Sita yang mengetahui keadaan sahabatnya langsung meraih tissu yang tersedia dimeja itu dan memberikan pada Alisya.
Khoirul merasa agak panik dengan keadaan Alisya tapi Syarif malah merasa geli dan menahan tawanya.
"Sya..kamu ga papa kan..?" Khoirul merasa cemas.
"Ga papa ko.."
"Itu dibawah bibirmu masih kotor.."
Tanpa dikomando tangan Khoirul langsung mengusap bawah bibir Alisya dengan tissu padahal Alisya sendiri sudah membawa tissu dari Sita.
Alisya jadi tidak enak sendiri,ia berusaha menolak bantuan dari Khoirul dengan menunjukkan tissu yang ada ditangannya.Tapi Khoirul seolah tak melihat penolakan itu,ia terus saja mengusap bagian bawah bibir Alisya hingga bersih.
Mereka tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang mengintai sedari tadi.Aldo berdiri tegak di samping pintu masuk kantin.Matanya tertuju tajam kearah Alisya.Alisya yang mengetahui keberadaan Aldo tangsung berdiri tanpa menghiraukan deheman Syarif yang meledek perlakuan Khoirul pada Alisya.
Kaget bukan kepalang yanh dirasakan Alisya saat itu.Mamatnya sedikit melebar,dan bibirnya mengatup menyebut nama Aldo dengan pelan.
__ADS_1
"Kak Aldo...!"
Aldo seolah kehilangan kesabaran,ia langsung berjalan menuju arah Alisya dan menghiraukan keberadaan yang lainnya.Tangan Aldo langsung menarik tangan Alisya dan menggenggam jari-jari Alisya.Semua menjadi terkaget-kaget dengan kehadiran Aldo yang membawa paksa Alisya pergi dari tempat itu.Lebih-lebih Khoirul yang sangat terkejut karena Alisya juga tak menolak saat tangan Aldo menarik tangan Alisya.
Tak ada kesempatan untuk Khoirul menghentikan kelakuan Aldo,pun Alisya juga terlihat nurut saja dengan arahan Aldo.Khoirul hanya bisa memandang bagian belakang tubuh Aldo dan Alisya dan merelakan kepergian Alisya.
Langkah Aldo seolah dikejar maling saking emosinya.Alisya yang masih dalam genggaman tangannya merasa kesulitan saat harus mengimbangi langkah Aldo yang lebar.Aldo membawa Alisya menuju parkiran dan membukakan pintu mobil untuk Alisya.Alisya yang paham dengan kondisi itu hanya bisa menuruti apa yang diinginkan Aldo walaupun tanpa sepatah kata pun.
Aldo mulai melajukan mobilnya,ketegangan sangat terasa
Alisya jadi merasa serba salah dengan apa yang dirasakan,ingin memulai pembicaraan tapi takut Aldo semakin marah.
"Kak.."
Aldo tak menyauti,ia focus dengan acara kemudinya.
"Kak..itu bukan seperti yang kakak lihat.."
"Sudahlah Sya.."
"Tapi kakak harus dengar dulu..aku dan Khoirul tak pernah ada hubungan apa pun.!"
"Lalu.."
Aldo mengurangi kecepatan laju mobilnya,Alisya merasa sedikit lega.
"Kakak maafin aku kan..?" Alisya merajuk.
"Memangnya apa alasan aku harus marah sama kamu..?aku tahu semuanya Sya.."
"Alhamdulillah kalau kakak ga salah faham.."
"Tapi Sya..cepat atau lambat temanmu juga harus mengetahui statusmu sekarang.Mereka tidak boleh terus-terusan menganggapmu masih bukan milik siapa-siapa.."
Alisya hanya terdiam,Aldo mulai menepikan mobilnya sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Sya aku tahu ini sangat berat bagimu..tapi kamu juga harus memikirkan perasaan mereka.Mereka tidak boleh terus berharap padamu..!" Aldo memperdalam tatapannya pada Alisya.
"Maaf ya kak..?"
Aldo tak memberi jawaban,ia hanya menarik lembut dagu Alisya dan mulai mencium bibir Alisya.Ciuman itu semakin dalam saat Alisya juga mulai membalas ciuman Aldo.
__ADS_1
Aldo yang mengetahui Alisya mulai kehabisan nafasnya dan melepaskan tautan lidahnya.
"Kakak mau kemana..?"
"Sebentar.."
Aldo keluar dari mobil dan berjalan menuju minimarket yang ada didepannya.
Hanya sekitar 10 menit Aldo sudah keluar dari minimarket itu,ia tampak membawa kantong plastik yang cukup besar.
"Kakak sedang beli apa..?" Alisya langsung bertanya saat Aldo baru memasuki mobilnya.
"Maaf Sya tadi aku lihat kamu belum sempat makan siang..?" Aldo menyodorkan kantong plastiknya pada Alisya yang berisi beberapa roti bermerk dan sebotol air mineral.
Ya Alloh suamiku sangat baik,disaat ia sedang emosipun ia masih sempat memikirkan keadaanku..
***
Disudut sebuah caffe nampak Aldo dan Ghisel sedang duduk saling berhadapan.Mereka seolah sedang membicaraan sesuatu yang serius.Dengan sesekali terlihat Ghisel mengusap pipinya yang basah karena air mata.
"Aldo..maafkan aku.Aku benar-benar khilaf.." Aldo tak langsung menjawab.
"Tentu aku akan memaafkanmu Ghisel kalau kamu meminta maaf terlebih dahulu pada Alisya istriku..!"
"Aku sudah meminta maaf padanya Al..dan dia juga sudah memaafkanku..!"
"Sukurlah..Alisya memang wanita berhati emas..."
Ghisel merasa tersindir dengan ucapan Aldo.
"Lalu Al..apakah kita masih bisa bersahabat lagi..?"
"Tidak..aku tidak mau menjadi sahabatmu.."
"Kenapa Al.."
"Seorang sahabat tentu akan lebih intens mendampingimu disaat susah maupun bahagia.Dan aku tidak mau menyakiti perasaan istriku Ghisel.."
Aldo langsung beranjak meninggalkan tempat itu,walaupun Ghisel sempat menarik-narik lengan Aldo.Tapi ia tak memperdulikannya lagi.
Ia sudah bertekad akan menghilangkan jejak buruknya dimasa lalu dan memulai masa indah bersama Alisya dan Tasya.
__ADS_1
Selamat jalan Ghisel..pergilah dari kehidupanku sejauh mungkin dan jangan pernah ganggu keluargaku lagi..