KAKAK IPARKU, SUAMIKU

KAKAK IPARKU, SUAMIKU
#Kecemasan


__ADS_3

Segulung benang kusut memiliki kedua ujung yang berbeda,serumit apa pun jalinan itu mengikat,dengan kejelian kedua ujung pasti bertemu jua didalam lubang jarum.


Aldo memutuskan akan bermalam dikamar Tasya tapi tidak diatas tempat tidurnya,ia justru berbaring diatas lantai yang dingin dan hanya dilapisi oleh sebuah selimut saja.Otak liciknya masih bekerja,siapa tau saat Alisya mengetahui Aldo tidur dilantai itu akan membuat hatinya melunak dan memaafkan Aldo.Walau harus mengorbankan kebekuan pada tulang-tulangnya.


Pukul 03.00 WIB seperti biasa Aldo terbangun dan ingin menunaikan shalat tahajjud.Ia sadar pengorbanannya ternyata sia-sia.Alisya yang dinantikan untuk menjemput dan mengajaknya tidur dikamarnya sendiri tak membuahkan hasil karena ia tak mendapati sosok itu dihadapannya.


Mungkin kesalahan Aldo kali ini benar-benar menyakitkan bagi Alisya,hingga ia tak mudah memaafkan suaminya itu. Bagaimana tidak,Aldo mencoba menghentikan langkahnya saat ia hampir meraih cita-citanya yang ia rajut sedari kecil.Mungkin siapa pun akan bertindak seperti Alisya,karena siapa yang mampu memaafkan tindakan suaminya yang sudah terlewat batas.


Aldo melaksanakan shalat tahajjudnya dikamar Tasya tentu setelah ia membersihkan dirinya dalam kamar mandi Tasya.Bocah itu tidak menyadari jika sejak tadi malam ayahnya berada satu kamar dengannya.Aldo seakan sengaja tidak ingin anaknya mengetahiu keberadaannya didalam kamar itu.


Usai melaksanakan shalat Tahajjud ia beranjak pergi kekamarnya sendiri untuk mengetahui keadaan Alisya,siapa tau kamar itu sudah tidak dikunci lagi oleh Alisya.Tanpa mengetuk terlebih dahulu Aldo mencoba menekan knop pintu dengan pelan dan langkah tenang.


Benar saja,pintu itu sudah tak terkunci lagi.Perasaannya mulai lega,ketegangan dalam raut wajahnya perlahan memudar.Mungkin Alisya sudah mulai tenang dan tak semarah tadi hingga pintunya sudah tak dikunci lagi.


Perlahan ia mulai memasuki kamarnya,suasa lampu yang temaram membuatnya sedikit kesulitan mencari sosok Alisya dalam kamar itu.Terlihat pintu kamar mandi juga sedikit terbuka membuatnya memastikan bahwa Alisya pasti tidak dalam kamar mandi.


Ia terus melanjutkan langkahnya mendekti tempat tidur yang masih rapi dan hanya ujung selimut saja yang tampak sedikit terbuka.Jelas sudah Alisya juga tidak ada dibalik selimut itu karena selimut itu tanpak tertata rata.


Pikirannya sudah mulai kacau,otaknya bekerja dengan keras.Kemana kira-kira Alisya pergi?Apakah semarah itu hingga ia nekad meninggalkan rumah sedang ia tau betul bagaimana hukum bagi seorang istri yang keluar rumah tanpa seizin suami..Alisya bukanlah wanita yang mudah marah,hatinya selalu lembut bagai kapas,prinsip agamanya selalu dipegang teguh dalam ingatannya.Tapi kenyataannya kali ini ia pergi meninggalkan Aldo tanpa sepegetahuannya.


Kekawatiran sudah memenuhi dadanya dan itu membuatnya tak bisa hanya berdiam diri saja meski waktu subuh belum datang.Tapi tunggu..samar-samar Aldo mendengar suara rintihan dari bawah tempat tidur.Langkahnya terhenti dan memastikan suara itu memang berada dalam kamarnya.Ia mulai berjalan kesudut tempat tidur yang berada disebelah kiri.Benar saja,Alisya ternyata terduduk dilantai ujung tempat tidur.Wajahnya tebenam dalam lutut,satu tangan sebagai tumpuhan wajahnya dan tangan lainnya melingkar pada perutnya.


Aldo tau ini bukan keadaan yang baik,tapi ia juga tidak bisa menahan perasaan leganya dengan keberadaan Alisya disitu.Ia berjalan cepat kearah Alisya dan ingin memeluk tubuh itu.Tapi pelukannya tak diwujudkan saat menyadari Alisya seperti merintih kesakitan.


"Syaa...maafkan aku...?"


Tak ada sautan dari Alisya.Aldo melanjutkan ucapannya.


"Kamu boleh hukum aku apa saja asal kamu tidak marah lagi.."

__ADS_1


Alisya mulai mendongakkan wajahnya kearah suaminya.Wajahnya nampak pucat,bibirnya bergetar,keringat dingin membanjiri seluruh kening indahnya.Seketika Aldo sangat terheran dengan keadaan Alisya dan meraih jari kanan Alisya.


"Kak.."


"Kamu kenapa Sya..?kamu sakit..?mana yang sakit..?"


Dengan sikap yang siap membopong tubuh Alisya,Aldo menjadi sangat kawatir.


"Aku gak sakit kak..aku hanya sadang datang bulan.."


Sebenarnya ada sedikit rasa kecewa pada kenyataan itu,tapi melihat Alisya kesakitan seperti itu membuat Aldo mengabaikan kekecewaannya.


"Lalu..kamu mau aku antar kedokter atau bagaimana..?"


"Ga perlu kak..tadi aku sudah minum air hangat untuk meredakan rasa nyerinya.."


"Apa setiap datang bulan kamu kesakitan seperti ini..?"


Aldo menuntun Alisya untuk menaiki tempat tidurnya.Tubuh Alisya mulai direbahkan diatasnya tempat tidur itu dan menaikkan selimut untuk menutupi tubuhnya.Aldo juga sempat melihat sebuah kalender berada dibawah tempat tidur.Diraihnya benda itu dan mengembalikan ketempat asalnya.


Dengan lembut ia mulai memijit pelipis Alisya,mungkin bisa sedikit merileksasi ketegangan dalam perutnya.


"Gimana Sya..masih sakit..?"


"Sudah mendingan kak.Aku mau kekamar mandi dulu..?"


Aldo dengan sigap membantu Alisya bangun tempat tidurnya.Sikapnya sudah siap memboyong Alisya,tapi buru-buru Alisya menolaknya.


"Sudah ga papa kak,aku bisa sendiri kok.kakak disini saja.."

__ADS_1


"Kamu yakin..?"


Alisya mengangguk dan mulai merapikan rambutnya dengan ikatan yang dibawahnya.


Aldo hanya bisa memandang Alisya dari belakang setelah kepergiannya.Ada perasaan kawatir saat Alisya kekamar mandi tanpa bantuannya sedang kondisinya dalam keadaan tidak baik.Tanpa sengaja pandangannya melihat seberkas noda darah dalam sprei tempat tidurnya.


Aldo bukanlah anak muda yang baru melihat darah haid perempuan,sebelumnya ia jg sering melihat darah haid istri pertamanya.Dirasa ada perbedaan antara darah haid pada umumnya dan darah yang baru saja ditinggalkan Alisya pada sprei tempat tidurnya.Darah itu berwarna merah terang sedikit merah muda.Lebih meneliti darah itu untuk membuat sebuah kesimpulan.


Aldo tidak sabar menunggu Alisya keluar dari kamar mandi,ia berdiri cemas didepan pintu kamar mandi.


Baru saja Alisya menampakkan setengah tubuhnya dari balik pintu Aldo sudah menyambutnya dengan pertanyaan.


"Apa masih sangat sakit Sya..?"


Alisya mengagguk atas pertanyaan Aldo tanpa bersuara.Tapi raut wajahnya sudah menunjukkan bahwa ia sedang menahan rasa sakit yang begitu dahsyat.


Tak menunggu lama Aldo langsung membopong tubuhnya untuk segera turun kebawah.Alisya yang tidak tau niat Aldo menjadi terkejut.


"Kakak mau apa..?"


"Kita harus kerumah sakit sekarang.."


Jawaban Aldo sontak membuat Alisya terkejut,alih-alih ingin menolaknya Alisya malah mengikuti kemauan suaminya karena dirasa ia memang membutuhkan.


Aldo tak ingin kejadian yang menimpa istri pertamanya terulang,maka ia tak mau ambil resiko untuk kehilangan sesuatu yang berharga.Alisya harus segera ditangani oleh ahlinya,dokter adalah pakar satu-satunya.


Alisya yang masih merasakan kesakitan hanya mengikuti apa yang dilakukan Aldo.


Karena fajar belum sepenuhnya muncul,itu sangat menguntungkan bagi Aldo yang mengendarai mobil dengan jalanan yang begitu sepi dan lengah agar cepat sampai tujuannya.Sementara Aldo serius mengemudi dengan jalanan sepi Alisya lebih memilih menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit yang ia derita.

__ADS_1


Bertahanlah..semoga ini tidak salah


__ADS_2