
Hidup bukan tentang mendapatkan apa yang kita inginkan,namun menghargai apa yang kita miliki dan sabar atas apa yang kita impikan.
Tepat pukul 01.00 dini hari,Alisya sudah tak bisa memejamkan matanya lagi.Usia kandung yang memasuki bulan ke 9 membuatnya menjadi sulit tidur.Bukan karena tak nyaman,hanya saja akhir-akhir ini suami mendapat banyak pekerjaan.Dan itu membuatnya terpaksa sering meninggalkan rumah.Rasa khawatir sering meliputi pikiran Alisya jika ia harus melahirkan tanpa Aldo disampingnya.Memang Alisya lah yang selalu memaksa Aldo agar terus bersemangat dalam pekerjaannya,tapi ia juga tak bisa memungkiri jika rasa khawatir sering menyelimuti pikirannya.
Tidak jauh berbeda dengan Aldo,ia juga sering khawatir jika harus berlama-lama meninggalkan Alisya dirumah.Mengingat 2 minggu kedepan Alisya diprediksi akan melahirkan.Ia tak ingin mengulang kejadian yang pernah menimpah Alm.Annisa istri pertamanya,saat Annisa melahirkan Tasya Aldo justru berada diluar kota dan tidak ada disamping Annisa.Jika mengingat itu membuat Aldo mengeluarkan keringat dingin dan takut kejadian itu terulang.Karena itu,untuk saat ini Aldo tidak mengambil pekerjaan yang mengaharuskan ia pergi keluar kota.Tapi tetap saja profesinya sebagai pengacara membuatnya sangat sibuk dengan berbagai kasus yang sedang ia tangani.Ia anggap ini adalah resikonya sebagai pengacara,bukankah setiap pekerjaan pasti mengandung sebuah resiko..?
Waktu menujukkan pukul 02.00 tapi itu seolah tidak berpengaruh pada penglihatan Alisya,ia tak bisa tidur lagi.Ia pun melanjutkan kegiatannya dengan bermuroja'ah surah Ar-rahman setelah selesai menunaikan shalat tahajjudnya sambil duduk bersandar diatas tempat tidurnya.Satu tangannya terus mengelus perut besarnya dan satu tangannya lagi mengusap-usap lembut rambut Aldo yang masih tertidur disampingnya.
Sesekali Aldo menggeliat karena usapan halus tangan Alisya pada rambutnya,matanya sedikit terbuka hanya memandang wajah cantik Alisya yang masih lengkap dengan muknanya.
"Apakah aku mengganggu kak..?"
"Enggak sayang..lanjutkan.Aku senang mendengarkan suara merdumu..!"
Alisya pun melanjutkan muroja'ahnya.
Kini tangan Aldo yang satu juga mulai terulur pada perut besar Alisya dan mengusapnya dengan lembut.Sesekali tendangan kaki sang Baby terasa oleh Aldo walau ia masih dalam perut.Memang benar kata orang,bayi laki-laki memiliki tendangan yang lebih keras di banding perempuan ketika berada dalam kandungan.Setidaknya itu yang dirasakan Aldo saat dokter menyatakan bahwa calon bayi mereka berjenis kelamin laki-laki.
Terlepas dari jenis kelamin,sejujurnya Aldo dan Alisya tidak terlalu mempermasalahkan.Apa saja yang dikaruniakan oleh Allah dirasa sangat syukur atas segala nikmat yang mereka terima.
"Apa kamu senang mendengar suara indah ibumu mengaji..tentu kamu akan lebih senang saat kamu bisa memandang wajahnnya yang cantik saat kamu lahir didunia nanti baby..."
Aldo bebicara pada sang jabang bayi yang ada dalam kandungan Alisya.Alisya menjadi tersenyum sendiri saat melihat suaminya yang mencoba berkomunikasi dengan calon anaknya.Perasaan damai serta bahagia seketika menyeruak dalam hatinya.Suaminya selalu berhasil membuatnya bahagia walau hanya melakukan hal-hal sepele dimata orang lain.
__ADS_1
Aldo kembali memejamkan matanya saat terdengar suara merdu Alisya berkumandang lagi.Belum saatnya ia melaksanakan shalat tahajjud hingga ia pun memutuskan untuk kembali beristirahat setelah seharian penuh ia disibukkan dengan pekerjaannya.
Tapi tanpa disengaja,tangan Aldo merabai kasur disekitar bokong Alisya.Ia terkejut karena diarea itu sudah basah semua,seperti bekas ompol bayi.Aldo yang panik seketika bangun dari posisi tidurnya dan beralih kewajah Alisya.
Wajah Alisya tanpak sedikit pucat,keringat dingin mulai membasahi keningnya.
"Sayang...apa yang kamu rasakan..???"
"Kak..perutku rasanya mulas sekali.."
Tanpa pikir panjang Aldo langsung turun dari tempat tidurnya.Ia berlari menuju kamar pak Rahmad dan bi Marni.Sesampainya ia langsung mengetuk pintu kamar dan langsung berkata walau pintu itu belum terbuka.
"Pak Rahmad cepat antar saya kerumah sakit sekarang..tolong jangan lama-lama pak..!!"
Setelah kalimatnya diucapkan,Aldo berlari kembali kekamarnya.Alisya yang masih duduk bersandar semakin terlihat pucat.Alqu'an yang sempat ia pegang tadi kini sudah jatuh diatas bantal tidurnya.Aldo buru-buru membuka mukna Alisya dan diganti dengan krudung bergo ala rumahan milik Alisya.
Alisya sudah tak sanggup untuk menjawab,ia hanya pasra atas apa saja yang dilakukan suaminya itu,pun saat Aldo menggendong tubuh Alisya untuk dibawah kemobil.
Dalam perjalanan Aldo tanpak panik dan terus menghubungi satu persatu anggota keluarganya.Tak ada jawaban dari bu Yuni,tapi bu Retno mengangkat telphon dari Aldo dan ia juga akan segera berangkat kerumah sakit untuk menyusul Aldo dan Alisya.
Sesampainya dirumah sakit Alisya langsung dibawah ke ruang bersalin.Tampak beberapa perawat sedang mempersiapkan perlatan melahirkan.Sedang Aldo masih setia memegang jemari Alisya tanpa beranjak walau sedikitpun.
"Kakk.."
__ADS_1
Alisya tak mengeluh..ia hanya sedikit ingin menenangkan perasaannya.
"Sayang...kamu pasti kuat.."
Aldo kembali mencium kening istrinya yang sudah basah oleh keringat.
Sedang Alisya hanya tersenyum dan berusaha memejamkan matanya mungkin itu bisa mengurangi rasa sakitnya.
Tak berapa lama tampak 3 dokter berdatangan yang akan menangani proses melahirkan.Aldo diizinkan tetap berada disamping Alisya.Saat ini Aldo memang sangat dibutuhkan oleh Alisya walau hanya sekedar berada disampingnya.Tentu keberadaan Aldo akan membuat Alisya merasa termotivasi,dan itu bisa mempermudah proses melahirkannya.
"Kamu tenang sayang..semua akan baik-baik saja.Aku selalu disampingmu.."
Alisya semakin mengeratkan genggamannya pada lengan Aldo.Tanpa ia sadari genggaman tangannya sudah membuat lecet lengan Aldo akibat goresan kuku-kukunya.
Melihat keadaan Alisya yang seperti itu ingin rasanya Aldo menggantikan posisinya,tak tega dengan Alisya yang merasakan kesakitan.Ia merasa ini juga akibat perbuatannya.
Bagaimana mungkin ada seorang laki-laki yang tega menganiaya perempuan.Sedang ia dengan jelas mempertaruhkan nyawanya demi laki-laki yang ia cintai.Laki-laki memang lebih kuat,tapi perempuan lebih hebat...
Tampak kening Alisya sudah banjir oleh keringat,bibirnya sesekali mengeluarkan nafas beraturan disela-sela kalimat Thoyyiba yang ia lantunkan.
Sedang Aldo yang masih berusaha menenangkan Alisya dengan setia mengusap keningnya yang basah lalu menciumi rambut Alisya yang masih tertutup oleh kerudung bergonya.
Sungguh perjuangan ini terasa panjang bagi Aldo.
__ADS_1
Allohumma shalli 'alaa Muhammad..
Jangan lupa dukung author dengan like dan comment yaaa...😘