Kakak Iparku Mantan Kekasihku

Kakak Iparku Mantan Kekasihku
Bab 23


__ADS_3

Setelah kepergian Arga, Merlisa melanjutkan memasaknya yang sempat tertunda sambil mengerutuki prilaku Arga kepadanya.


"apakah sudah selesai, aku sangat lapar." Ucap Arga saat berada di meja makan.


"Eemmm." Sahut Merlisa singkat.


Arga tidak memperdulikan raut wajah Merlisa yang kesal kepadanya.


"Ambilkan aku makanan." Ucap Arga saat berada di meja makan.


"Memangnya kau tidak punya tangan, ambil saja sendiri kan makanannya berada di hadapan mu." Jawab Merlisa ketus.


" Kau itu istri ku, sudah seharusnya kau melayani ku, atau mau aku beri hukuman lagi, hah!" Ujar Arga.


"Iya iya, aku akan melayani mu tuan Arga. Dan perlu aku ingatkan kepada mu tuan, bukahkah pernikahan ini hanya sandiwara jadi aku hanya istri sandiwara mu, berarti kau tidak usah meminta ku untuk melayani mu." Ucap Merlisa penuh dengan penekanan, sambil mengambilkan makanan untuk Arga, karena tidak mau mendapatkan hukuman lagi dari Arga, membayangkannya saja membuat Merlisa sudah bergidik ngeri.


" Ya memang pernikahan kita hanya sandiwara, tapi kau juga harus ingat, di sini kau tidak gratis tinggal di sini. Jadi selain kau mengurus arpatemen ini, mulai besok kau juga harus menyiapkan ke perluan ku, dari menyiapkan mandi dan pakaian ku." Ujar Arga.


"Apa, kau sungguh gila. Memangnya pekerjaan ku hanya di arpatemen ini saja, huh!" kesal Merlisa.


" Jangan membantah, atau kau akan aku hukum." Ancam Arga, sambil memulai menyantap makanannya.


"Baik lah." Ucap Merlisa malas.


Aahh sungguh menyebalkan sekali si pria bunglon gila ini, suka seenaknya saja. Kalau bukan suamiku sudah ku patahkan kaki dan tangannya. Batin Merlisa mengumpat.


Selesai menyantap makanannya, Arga menuju sofa ruang tamu, sambil melihat email yang masuk dalam laptapnya.


Merlisa sedang berada di dapur untuk membersihkan sisa makanan yang mereka makan.


Tok... Tok... Tok... Suara pintu di ketuk.


"Mama, papa." Ucap Arga saat pintu sudah terbuka.


"Apa kabar sayang, mama sama papa ganggu pengantin baru gak nih." Goda Wina.


" Ahh mama, Apaan si. Udah yuk duduk ma, pa." Sahut Arga.


"Kamu lagi apa Ga?" tanya papa Fandi saat melihat laptop berada di atas meja.


" Cuma lagi liat email masuk aja pa."


"Istri mu mana Ga?" tanya Wina celingukan.

__ADS_1


"Ada lagi di dapur ma, lagi bersihin meja sisa tadi kita makan." Jawab Arga.


" Mama mau ke dapur dulu deh kalau gitu." Ucap Wina yang melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Wah wah menantu mama rajin banget si." Ucap Wina saat sudah berada di dapur.


"Mama, kapan datang." Sahut Merlisa sambil mencium punggung tangan Wina.


"Baru saja mama datang sama papa."


"Papa juga ke sini, mama sama papa udah makan, nanti aku akan buatkan." Ucap Merlisa.


"Tidak usah nak, mama sama papa sudah makan tadi." Sahut Wina.


"Ya sudah kalau gitu mama tunggu saja, aku buat kan minum dulu ma."


"Makasih ya sayang, mama ke sana dulu ya." Ucap Wina yang di angguki Merlisa.


Merlisa menuju ruang tamu membawa 2 cangkir kopi dan 2 gelas jus alpukat, serta beberapa cemilan.


"Lah kok duduk di situ si sayang, Biasanyakan pengantin baru maunya selalu ingin deket terus loh." Goda Wina pada Merlisa yang duduk berbeda sofa dengan Arga.


" Biasa lah ma, istriku ini suka malu kalau ada orang." Sahut Arga yang langsung berpindah duduknya mendekat pada Merlisa.


Mama Wina dan papa Fandi hanya tersenyum lebar, meihat kedua anak dan menantunya itu.


"Mama sama papa mau memberikan ini." Ucap Fandi memberikan 2 lembar kertas.


Merlisa dan Arga saling padang sambil mengerutkan dahinya.


" Apa ini pa?" tanya Arga mengambil 2 lembar kertas.


"Tiket keliling Eropa untuk bulan madu kalian sayang, mama dan papa ingin cepat - cepat punya cucu." Ucap Wina.


"Uuhhuukk uuuhhhuukkk." Merlisa tersedak saat minum jus alpukat ketika mendengar kata cucu dari Wina.


Bagaimana bisa ma, aku memberikan mu cucu. Aku saja hanya main rumah - rumahan dengan anak mu. Batin Merlisa.


"Pelan - pelan sayang, apa kamu sudah tidak sabar untuk kita berbulan madu?" ucap Arga sambil menepuk - nepuk punggung Merlisa.


Merlisa yang di perlakukan seperti itu hanya tersenyum canggung dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Tapi pa, ma aku banyak pekerjaan di kantor. Aku tidak memikirkan untuk berbulan madu untuk saat ini." Ucap Arga.

__ADS_1


" Masalah pekerjaan kau tenang saja Ga, ada papa dan Rafi yang mengurusnya. kamu fokus saja dengan bulan madu mu." Sahut papa Fandi.


Merlisa dan Arga hanya saling tatap.


"Sudah kalian besok tinggal berangkat saja, mama sudah siapkan semuanya bahkan pakain untuk keperluan kalian pun sudah mama siapkan semua." Ujar mama Wina.


" Ma untuk berbulan madu keliling Eropa, sepertinya tidak bisa, karena minggu depan aku harus magang di perusahaan. Bagai mana bulan madunya di dalam negeri saja, ke Bali misalnya." Ucap Merisa.


" Iya ma, pa, aku juga kan ada proyek yang sebentar lagi di laksanakan, jadi aku tidak bisa berlama - lama melepas tanggung jawabku." Timpal Arga.


"Baik lah, mama terserah kamu saja, asalkan mama segera mendapat kabar baik dari kalian." Ujar Wina.


Merlisa dan Arga hanya tersenyum kecil.


Di dalam kamar Arga dan Merlisa, harus berada di dalam ruangan bersama, karena malam ini mama Wina dan papa Fandi menginap di arpatemen mereka.


"Aku tidak mau ya tidur di sofa, terakhir aku tidur di sofa di kamar mu, semua badanku pegal semua karena tidak cukup untuk tubuhku yang tinggi." Ucap Arga datar.


" Siapa yang suruh kau di sofa, baiklah aku yang akan tidur di sofa." Sahut Merlisa melangkahkan kakinya menuju sofa.


" Tidurlah di sampingku, aku tidak akan berbuat macam - macam dengan mu, lagi pula aku tidak berselera dengan mu." Ucap Arga saat melihat Merlisa tidak nyaman dengan posisi tidurnya.


"Eemm baik lah, awas kalau kau berbuat macem - macem." Ujar Merlisa.


" Tidak akan." Ketus Arga.


Merlisa merebahkan tubuhnya, yang sebelumnya sudah memberi pemisah bantal yang berada di tengah.


Pagi pun tiba, Merlisa, Arga , mama Wina, dan papa Fandi sudah berada di bandara untuk menunggu pesawat pribadi keluarga Sebastian di persiapkan untuk penerbangan menuju Bali.


"Ma, pa, kami berangkat dulu ya." Ucap Arga saat pesawat pribadi keluarga Sebastian sudah siap.


"Kalian hati - hati ya, begitu sampai kabari mama.


Dan satu lagi, segera beri kabar baik untuk mama dan papa." Ucap Wina.


"Aahh mama apaan si, emang bisa secepat itu." Ujar Arga. Merlisa hanya tertunduk.


"Sudah ma, jangan goda terus anak menantu kita." Ucap Fandi.


Merlisa dan Arga berjalan menuju pesawat sambil bergandengan tangan seperti sepasang kekasih yang saling mencintai.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya 🙏💪😁


__ADS_2