Kakak Iparku Mantan Kekasihku

Kakak Iparku Mantan Kekasihku
Bab 66


__ADS_3

"Sayang kita besok kita pulang saja, kondisi kamu tidak memungkin untuk melanjutkan liburan kita disini." Ucap Arga khawatir.


"Tidak sayang aku tidak mau, aku hanya hamil bukannya sakit parah." Protes Merlisa.


"Tapi kamu terlihat pucat, dan lemas tidak bertenaga seperti itu." Ucap Arga sambil mengelus-elus pipi Merlisa.


"Mungkin aku hanya butuh istirahat, aku hanya merasa lelah karena keasyikan bermain air." Ucap Merlisa.


"Ya sudah istirahat ya sayang, aku mau mandi dulu, badanku juga terasa lengket." Ucap Arga, Merlisa hanya mengangguk mengiyakan.


Cup cup cup Arga menciumi seluruh wajah Merlisa, sebelum pergi menuju kamar mandi.


Tidak beberapa lama Arga keluar dari kamar mandi, melihat Merlisa yang sudah tertidur lelap di atas tempat tidur.


Tanpa berlama - lama, Argapun naik ke tempat tidur untuk menyusul Merlisa.


"Terima kasih sayang, terima kasih telah memberikan ke bahagiaan sempurna untukku, aku sangat mencintaimu Merlisaku." Gumam Arga tersenyum menatap wajah Merlisa.


Mencium kening dan perut Merlisa, sebelum ia menyusul Merlisa untuk memejamkan matanya dan memeluk tubuh Merlisa erat.


******


Malam hari meraka mengadakan acara barbeque di pinggir pantai, serta menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka.


Merlisapun ikut acara tersebut, setelah beristirahat tubuhnya merasa segar kembali.


"Sayang kau mau apa?" tanya Arga saat sedang memanggang beef dan sosis.


"Aku mau udang sayang." Sahut Merlisa.


"Baik laksanakan tuan putri." Ucap Arga.


Semua tengah sibuk menyiapkan makan malam mereka, Arga , Andri , dan Rafi sibuk memanggang. Indri, Salwa dan Anggi sedang membuat saus barbeque. Sedangkan Dimas dan Natan sedang membuat api unggun.


Merlisa hanya duduk memperhatikan mereka yang sedang sibuk, bosan ya Merlisa sangat merasa bosan, ia tidak boleh melakukan pekerjaan apapun semenjak mengetahui ia sedang mengandung.


"Sayang ini udangnya, spesial untuk istri kesayanganku pakai cinta loh." Ucap Arga menyerahkan satu piring berisi udang.


Uuhhuukk uuhhuukk Andri dan Rafi terbatuk. Sedangkan Natan hanya tertawa melihatnya.


"Hadeehh lebay loe bro." Ucap Andri.


"Iri aja loe." Dengus Arga, Andri hanya menjulurkan lidahnya membalas perkataan Arga.


Semua menyantap makanan dengan lahapnya, hanya beralaskan tikar besar untuk mereka duduk, dan di terangi cahaya rembulan dan api unggun yang mereka buat.


"Eehhemmm perhatian semuanya, aku dan Anggi sudah memikirkan hukuman untuk kalian yang kalah dalam pertandingan jetsky tadi siang." Ucap Rafi, setelah menyelesaikan acara makan malam mereka.


"Awas loe ya Raf kalau sampai yang aneh - aneh." Ancam Andri.


"Hehehe tidak kok kak tenang saja." Sahut Rafi.


"Memang apa hukumannya?" tanya Natan.


"Hukumannya yang di panggil namanya harus ke depan, dan menjawab dengan jujur pertanyaan yang di ajukan olehnya." Ujar Rafi.


"Kalau itu si gampang, ayo siapa takut." Ucap Arga.


"Untuk yang pertama Natan maju." Ucap Rafi.

__ADS_1


"Jangan nanya yang aneh - aneh ya." Ancam Natan.


Anggi yang akan bertanya pada Natan." Nat apa bener gosip yang bilang elo pernah kencan dengan banci?" tanya Anggi begitu penasaran, karena gosip yang beredar di kampus seperti itu, tapi di setiap Anggi atau Merlisa tanya, pasti Natan akan menolak untuk bercerita.


"Waahh parah banget si elo Gi, kenapa elo nanya itu." Protes Natan.


"Aaiihh elo suka pisang makan pisang Nat." Ucap Rafi dan sedikit menjauhi Natan.


"Enak aja, saya normal kok. Iya itu emang bener tapi saya di jebak dengan temen. Katanya mau kenalin cewek cantik sama saya, ehh tau - taunya banci." Ucap Natan merasa kesal sekaligus malu.


Hahahaha semua orang tertawa selain Natan.


"Dan sekarang elo Ca." Ucap Natan.


"Oke siapa takut." Sahut Merlisa.


"Siapa orang yang paling kamu sayangi?" tanya Indri pada Merlisa.


"Mama Diana." Jawab Merlisa cepat.


"Hahaha si Arga tidak di sayang sama si adek gue." Ejek Andri dengan tawanya, di ikuti tawa dari Rafi, Natan dan Dimas.


Arga hanya memasang wajah yang di tekuk.


"Siapa bilang aku tidak sayang dengan suamiku kak, aku sangat menyayanginya, meski mama Diana nomer 1." Sahut Merlisa.


"Tuh elo denger kan bro, istri gue sayang juga sama gue." Ucap Arga.


"Dan sekarang kamu sayang." Ucap Merlisa pada Arga.


"Ok sayang siapa takut." Ucap Arga.


"Gue mau tanya ke elo bro, siapa wanita yang mendapatkan ciuman pertamamu?" tanya Andri pada Arga.


"Hahaha udah jawab aja kak, lagian kakak ipar tidak akan marah, iyakan kak." Ucap Rafi menimpali, Merlisa hanya tersenyum tipis.


"Tania, pacar waktu kuliah, udah puas kan." Ucap Arga.


Hahahaha semua tertawa selain Arga dan Merlisa yang sudah memanyunkan bibirnya.


"Panaasss, bentar lagi ada yang ke bakar." Goda Andri.


"Sayang Aku cinta kamu, cintaku hanya untukmu.Itu hanya masa laluku." Ucap Arga yang sudah memangku Merlisa di atas pahanya.


Cup cup cup, Arga menciumi seluruh wajah Merlisa.


Yang lain hanya tertawa melihat ke panikkan Arga yang takut Merlisa marah padanya.


"Sudah aku geli, aku tidak marah." Ucap Merlisa pada Arga.


"Sungguh?" tanya Arga.


"Heemmm." Jawab Merlisa malas.


"Sekarang kau Dimas." Ucap Arga.


"Baiklah." Sahut Dimas.


"Seberapa besar cintamu pada Indri?" tanya Andri.

__ADS_1


"Eemm aku dan Indri saling mencintai, dan kami masih saling mengenal satu sama lainnya ." Sahut Dimas.


"Dan sekarang kamu kak Andri." Ucap Rafi.


"Hheemm baiklah."


"Kak jika kamu benar - benar mencintai Salwa, kakak sanggup tidak melamar Salwa saat ini juga." Ucap Merlisa.


"Oke, tunggu sebentar." Ucap Andri seperti mrncari sesuatu.


"Eehheemm - eehheemm." Andri berdehem untuk menetralkan rasa gugupnya. "Salwa saat ini juga, di saksikan oleh banyak orang, angin yang berhembus, hamparan air laut, dan sinar rembulan ikut menjadi saksi pada malam ini Salwa, aku bersungguh - sungguh ingin meminang mu, menjadikanmu kekasih halalku, menjadi ibu untuk anak - anakku kelak. Apakah kamu mau meneriku menjadi imammu, dan mau menerima segala kekuranganku ini." Ucap Andri bersimpuh di hadapan Salwa sambil mengulurkan cincin yang di buat dari rumput, karena tidak ada persiapan sebelumnya.


"Terima - terima!" Ucap semuanya berharap Salwa menerima pinangan Andri.


Salwa masih terdiam dengan menggigit bibir bawahnya. Ia bingung harus menerima atau menolaknya.


"Harus sampai kapan aku terus berlutut seperti ini, aku sudah pegal." Ucap Andri.


"I-iya tuan." Ucap Salwa pelan.


"Are you serious? ( kau serius?)" tanya Andri.


Salwa mengangguk, dan reflek Andri ingin memeluk Salwa namun tertahan karena menyadari belum muhrim.


"Hehehe maaf hampir kelepasan." Ucap Andri cengengesan.


Semua yang menyaksikan pinangan ala kadarnya Andri pada Salwa ikut merasakan ke bahagiaan sepasang kekasih itu.


Dan Andri memakaikan cuncin yang terbuat dari rumput itu ke jari manis Salwa.


"Maaf ya Wa untuk semtara pakai cincin rumput dulu, setelah kita pulang dari sini, aku akan membelikan cincin yang paling bagus untukmu, dan segera menemui kedua orang tuamu." Ucap Andri.


"Iya tak apa, mulai saat ini kita mari sama - sama saling mengenal satu sama lain tuan." Sahut Salwa.


"Ya itu pasti, bukankan pacaran setelah menikah itu lebih indah." Ucap Andri, Salwa hanya tersenyum simpul.


"Suit suit masih ada orang di sini! jangan asyik ngobrol berdua aja." Goda Rafi.


"Nih anak gak bisa liat gue seneng dikit apa ya, bisanya ganggu terus." Gerutu Andri pada Rafi.


"Aku kan masih polos kak, jangan nodai mata ku dengan adegan kemesraan kalian, selama ini cukup kakak ipar dan kak Arga membuatku menjadi jomblo ngenes, sekarang kak Andri juga. Aahh sedihnya aku." Ucap Rafi pura - pura bersedih.


"Elo tuh bukan polos, tapi bilang aja gak laku." Sahut Andri. Dan di ikuti tawa dari mereka semua yang melihat perdebatan antara Andri dan Rafi.


******


Empat hari mereka menghabiskan waktu liburan mereka, membawa ke bahagiaan kehamilan Merlisa dan pinangan antara Andri dan Salwa. Memulai kembali pada rutinitas mereka masing - masing.


Setelah pulang berlibur di kepulauan seribu, Arga dan Merlisa hendak memeriksa usia kandungan Merlisa ke rumah sakit, Arga dengan semangatnya menemani Merlisa, bahkan ia memundurkan semua jadwalnya demi untuk menemani Merlisa.


"Tuan dan nyonya, ini janin di dalam perut istri anda masih sangat kecil, usia kandungan nyonya sekitar 4 minggu." Ucap dokter Dewi yang sedang menggerak - gerakan alat USG pada perut Merlisa.


"Sayang itu anak kita." Ucap Arga menciumi punggung tangan Merlisa, Merlisa hanya tersenyum sambil menitikan air mata bahagia.


"Anak tuan dan nyonya sehat, dan untuk di usia kandungan pada trisemester awal, di harapkan tuan agak mengurangi intensitas berhubungan suami istri dulu ya, karena masih sangat rentan untuk ke guguran." Ujar dokter Dewi.


"Baik dokter." Sahut Arga lemah.


"Bukannya tidak boleh berhubungan sama sekali tuan, hanya di kurangi saja." Ucap dokter Dewi menimpali sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya dokter." Sahut Arga sambil tersenyum malu.


Bersambung....


__ADS_2