
" Mba di panggil oleh pak Arga untuk segera ke ruangannya." Ucap Angga.
Merlisa hanya mengerutkan dahinya, sedangkan Anggi dan Natan saling menatap pada Merlisa dengan tatapan penuh selidik.
" Baik pak saya ke sana." Ucap Merlisa pada Angga.
" Ca ada apa elo di panggil sama CEO tampan itu?" tanya Anggi, saat seketaris Arga telah pergi.
"Gak tau." Ucap Merlisa sambil menaikan bahunya. " Kalian duluan aja ke kantin, nanti gue nyusul." Ucap Merlisa lagi.
" Ok, kita duluan ya Ca." Sahut Anggi yang di angguki Natan.
Merlisa mengetuk pintuk ruang kerja Arga saat sudah berada di depan pintunya.
" Masuk." Sahut Arga dari dalam.
" Ada apa ya pak panggil saya?" Ucap Merlisa saat sudah berada di dalam ruangan Arga. Saat sedang di kantor Merlisa memanggil Arga dengan sebutan formal layaknya atasan dan bawahan.
" Apakah kamu sudah makan siang istriku?" tanya Arga masih fokus pada laptopnya.
" Belum, tadinya mau ke kantin tapi tadi pak Angga bilang kalau bapak panggil saya." Sahut Merlisa.
" Jangan panggil saya bapak saat kita sedang berdua." Ucap Arga menghampiri Merlisa yang berdiri di depan meja kerja Arga.
Arga menarik tangan Merlisa menuju sofa.
" Sini du2k istriku." Ucap Arga menepuk - nepuk pahanya, agar Merlisa duduk di pangkuannya.
" Ta tapi ini kantor." Ucap Merlisa.
" Disini cuma hanya ada kita berdua istriku, kenapa harus takut, tidak ada yang berani masuk ke dalam ruanganku tanpa seizinku.
Merlisa terdiam masih berdiri di hadapan Arga, Arga langsung menarik tangan Merlisa hingga terjatuh di atas pangkuannya.
Wajah Merlisa seketika berubah merah merona, ia menundukan kepalanya menyambunyikan ke gugupan pada dirinya.
" Kenapa wajahmu sangat Merah sekali sayang, apakah kamu sakit." Goda Arga membisikan di telinga Merlisa sambil memegang dagunya, agar menatapnya.
Deg jantung Merlisa berdebar cepat saat mendengar kata sayang yang di ucapkan Arga. Sebutan istri saja masih belum terbiasa untuk Merlisa.
" A aku tidak apa - apa." Ucap Merlisa gugup.
Arga menyelusupkan kepalanya di tengkuk leher Merlisa, ia tidak tau sejak kapan ia begitu menyukai aroma parfum Merlisa.
"Kamu memanggilku hanya untuk ini saja?" kesal Merlisa karena ia harus menunda makan siangnya.
" Tidak, aku ingin makan siang denganmu, Angga akan membawakan untuk kita." Ucap Arga menatap Merlisa.
__ADS_1
Arga dan Merlisa saling tatap satu sama lainnya, bibir Arga mulai mendekati bibir Merlisa, sambil memeluk erat pinggang Merlisa.
" Kak ada..." Ucap Rafi tiba - tiba masuk ke dalam ruangan Arga. " maaf anggap saja aku tidak melihat." Ucap Rafi merasa tidak enak karena tidak mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Kau menggagu saja Raf, lain kali ketuk pintu dulu!" dengus Arga.
"Maaf kak aku tidak tau ada kakak ipar di sini, lagian di arpatemen kalian belum puas untuk bermesraan sehingga di kantorpun kalian melakukannya." Sahut Rafi.
" Sudah jangan di dengar kakakmu ini Raf, tadi aku sudah bilang ini kantor tapi ia tetap memaksa." Kesal Merlisa, sekaligus malu pada Rafi. Merlisa ingin bangun dari pangkuan Arga namun di tahan oleh Arga agar tetap dengan posisinya.
" Ada apa kau ke sini?" tanya Arga dengan tangan yang mengelus - elus pipi Merlisa.
" Ini ada yang perlu di tanda tangani dengan kak Arga." Ucap Rafi, ia ingin segera keluar dari ruangan Arga karena begitu sesak melihat dua sejoli yang bermesraan di hadapannya.
"Ini sudah, lain kali ketuk pintu dulu. Sekarang kakak mu sudah menikah. Jadi jangan sembarangan masuk." Ketus Arga karena aktivitasnya bersama Merlisa sudah terganggu.
" Iya iya, tapi jangan bermesraan juga di depanku, jiwa jombloku meronta - meronta tau." Sahut Rafi.
" Sudah sana!." Usir Arga.
" Dasar bucin." Ucap Rafi segera pergi, sebelum ke marahan kakaknya muncul.
Arga menatap tajam pada Rafi, Merlisa hanya geleng - geleng kepala melihat ke dua kakak beradik itu.
"Istriku panggil aku dengan sebutan suami, atau sayang agar terdengar romantis" Ucap Arga.
" Baiklah aku akan memanggilmu dengan sebutan itu." Sahut Merlisa.
" Suamiku." Ucap Merlisa, Arga memejamkan matanya meresapi ucapan Merlisa.
" Jangan pernah perlihatkan leher putih mulusmu pada orang lain, perlihatkan hanya padaku saja." Ucap Arga menarik ikat rambut Merlisa, masih menatap Merlisa dalam.
" Kenapa?" tanya Merlisa.
" Karena aku tidak mau membagi milikku pada orang lain." Sahut Arga.
"Cih" desis Merlisa. "Kenapa kau begitu manis kepada ku?" tanya Merlisa membalas tatapan Arga.
" Karena kau istriku, memangnya salah aku bersikap manis pada istriku sendiri." Ucap Arga mengeratkan pelukan pada pinggang Merlisa, membenamkan wajahnya pada leher Merlisa.
" Hahaha apakah kau sudah terkena karma." Ucap Merlisa.
" Karma apa?" tanya Arga.
" Dulu kau begitu membenciku dan tidak akan tertarik denganku tapi sekarang kau sebaliknya." Ucap Merlisa masih dengan tawanya.
Arga mencium bibir Merlisa lembut, memainkan lidahnya menari - nari pada rongga mulut Merlisa. Merlisa mulai membalas ciuman Arga. Keduanya saling bertautan, terbuai dalam ciuman mereka.
__ADS_1
" Ya sepertinya kau benar istriku, aku sudah terkena karma." Ucap Arga saat ciuman mereka terlepas, sambil mengelus lembut bibir Merlisa.
Suara ketukan pintu di ketukan dari luar ruangan Arga. " Masuk." Ucap Arga.
" Suamiku sudah ya aku turun dari pangkuanmu, tidak enak kalau ada yang lihat kita seperti ini lagi." Ucap Merlisa.
" Tidak sayang, itu pasti Angga mengantarkan makanan untuk kita." Ucap Arga.
Angga membuka pintu ruangan Arga, sesaat ia terkejut dengan apa yang ia lihat pada saat ini, namun dengan segera ia kembali menormalkan sikapnya.
" Ini pak pesanan yang bapak minta." Ucap Angga menyerahkan paperbag pada Arga.
" Terima kasih, jangan kau berpikiran yang tidak - tidak Ga dia adalah istriku, kami sudah menikah satu bulan yang lalu." Ucap Arga sambil membelai rambut Merlisa.
"Iya pak, tapi saya cukup terkejut dengan berita bahagia ini. Kalau semua kariawan wanita tau bahwa pak Arga sudah menikah pasti akan ada patah hati masal pak." Ucap Angga.
" Kau bisa saja Ga."
" Ya sudah saya permisi pak." Ucap Angga.
" Pak Angga tolong rahasiakan ini pada semua orang." Ucap Merlisa.
" Baik nona, tolong jangan sebut saya dengan sebutan pak, aku tidak pantas." Ucap Angga.
"Jangan seperti itu, kitakan sedang di kantor, kalau aku memanggil dengan sebutan nama pasti yang lain akan curiga." Ucap Merlisa.
" Baiklah nona, saya permisi."
Merlisa menyiapkan Makanan untuknya dan Arga, Merlisa sudah mulai terbiasa makan dalam satu piring bersama Arga jika sedang berdua dan bersama anggota keluarga inti saja.
" Suamiku, Aku pergi ke ruanganku ya, nanti akan ada yang curiga, aku sudah lama di dalam ruanganmu." Pamit Merlisa, saat sudah menyelesaikan makan siang mereka.
" Baiklah tapi ada syaratnya." Ucap Arga membawa Merlisa kembali duduk di atas pangkuannya.
" Apa syaratnya?" tanya Merlisa polos.
" Cium suamimu ini." Ucap Arga menujuk pipinya.
" Aahh kau tidak pernah puas rupanya." Sahut Merlisa.
" Aku tidak pernah puas denganmu sayang, aku sudah candu sepertinya denganmu." Ucap Arga menyelusuri tengkuk leher Merlisa.
" Suamiku sudah aku geli." Ucap Merlisa mencoba menjauhkan wajah Arga pada lehernya.
Bbrrraaakkkk tiba - tiba pintu terbuka.
" Heh dasar wanita ja*l*g!" teriak seorang wanita yang masuk dalam ruangan Arga.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan bosan selalu berikan vote, like dan komennya, agar author selalu bersemangat 💪🙏😁