Kakak Iparku Mantan Kekasihku

Kakak Iparku Mantan Kekasihku
Bab 64


__ADS_3

Arga mencari Merlisa di sekeliling resort, di bantu oleh Rafi dan Anggi.


"Bro ada apa? keliatannya elo khawatir gitu, malah kaya tarzan gitu gak pakai baju." Ucap Andri yang melihat wajah Arga yang cemas.


"Istri gue gak ada bro, udah gue cari di setiap ruangan resort tapi gak ada." Sahut Arga mulai frustasi, ia takut ke jadian penembakan beberapa waktu lalu terulang kembali.


"Ya sudah kita cari sama - sama ya bro, elo sana pakai baju dulu." Ucap Andri, dan Arga segera berlari menuju kamarnya dan memakai kaos hitam lengan pendek.


Semuanya ikut mencari Merlisa, cukup lama mereka mencari, berkeliling resort dan pantai hingga mataharipun mulai terbenam.


"Kamu di mana si sayang." Gumam Arga frustasi.


Tidak lama telphon Andri berdering, ada panggilan telphone dari Indri.


"Hallo dek, ada apa?" Tanya Andri di sebrang telphone.


"Ica sudah ada di resort kak." Jawab Indri dari sebrang telphone.


"Syukur kalau gitu dek, kakak pulang ke sana." Ucap Andri dan menutup sambungan telpohone.


"Bro ayo kita kembali ke resort, Merlisa sudah pulang!" teriak Andri pada Arga, karena jarak mereka cukup jauh.


"Yang benar elo bro?" tanya Arga meyakinkan.


"Iya, tadi Indri telphone gue." Sahut Andri.


"Syukur kalau gitu, ayo kita pulang." Ajak Arga.


Arga berlari masuk ke dalam resort sambil mengedarkan pandangannya, mencari sosok Merlisa yang membuat ia begitu cemas.


"Mana Merlisa?" tanya Arga pada Indri. Indri hanya menunjuk dengan jarinya ke arah meja makan.


Tidak menunggu lama Arga segera berlari menuju meja makan yang di susul oleh Andri.


"Sayaaanngg!" Ucap Arga memeluk tubuh Merlisa dengan erat.


"Kau kemana saja? aku sangat mengkhawatirkan mu sayang." Sahut Arga tak henti - hentinya mencium seluruh wajah Merlisa.


"Maafkan aku, tadi aku begitu menginginkan ini." Jawab.Merlisa menunjukan mangga muda pada Arga.


"Dari mana kamu mendapatkan buah ini sayang?" tanya Arga sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Tadi di saat bangun tidur, aku berdiri di balkon, dari ke jauhan liat buah mangga lebat banget, rasanya air liurku sudah menetes ingin buah mangga yang menggantung di atas pohon." Ucap Merlisa.


"Kenapa kamu tidak membangunkanku si sayang, aku tadi hampir gila mencarimu." Ucap Arga.


"Maafkan aku sayang, tadinya aku tidak ingin menggangumu tidur." Sahut Merlisa dengan penuh penyesalan.


"Kamu tau gak dek, si Arga tadi udah seperti orang kebakaran jenggot nyari kamu dek." Ucap Andri menimpali.


"Lagian emang gak asem apa Ca, makan muda begini. iiiihh liatnya aja bikin nyengir Ca." Ucap Anggi.


"Nggak kok Gi, enak." Sahut Merlisa.


"Ya udah lanjutin lagi makan mangganya sayang." Ucap Arga sambil memangku Merlisa di atas pahanya.


"Haduuhh mulai pengantin lawas mengumbar kemesraan lagi. Semuanya bubar - bubar." Sindir Andri pada Arga dan Merlisa.


"Dasar jomblo." Sahut Arga.


Aku senang melihatmu bahagia Ca. Batin Dimas melihat ke arah Merlisa, dan seulas senyum tipis terukir dari bibirnya.


Dan semuanya kembali ke kamar masing - masing.


"Sayang apakah sebegitu enaknya mangga muda di matamu, sampai kau begitu lahapnya." Ucap Arga, sambil menciumi leher Merlisa, menyibak rambut Merlisa yang terurai ke sebelah kanan agar dapat memudahkan Arga menciumi inci demi inci leher putih Merlisa.


"Iya sayang, mangga muda ini begitu nikmat." Sahut Merlisa.


"Lalu kamu memanjat pohon mangga lagi?" tanya Arga.


"Tidak sayang, tadi kebetulan ada pemiliknya, dan aku meminta di ambilkan." Jawab Merlisa.


"Kirain kamu panjat - panjat pohon lagi." Ucap Arga masih sibuk dengan aktivitasnya.


"Sayang sudah aku geli, pasti leherku sudah merah karena perbuatanmu." Ucap Merlisa.


"Hahaha iya, sedikit stempel kepemilikan sayang." Sahut Arga.


"Eemm sayang aku boleh tanya sesuatu?" tanya Arga ragu.


"Mau tanya apa, katakan saja." Jawab Merlisa.


"Tapi kamu jangan salah sangka denganku ya." Ucap Arga lagi.


"Iya sayang, katakan saja, kenapa kamu terlihat ragu sekali heemm." Jawab Merlisa.


"Apa kamu tidak merasakan ada hal berbeda pada dirimu?" tanya Arga.


Merlisa menghentikan memakan mangga mudanya, dan kemudian ia menggeleng lemah.


"Aku tidak bermaksud membuatmu sedih sayang, memang aku menginginkan anak dari mu, dan masih sangat banyak waktu untuk melakukan usaha itu, namun aku merasa akhir - akhir ini kamu sangat berbeda, kau begitu menyukai buah asam dan rujak. Dan kata orang itu tanda - tanda...." Ucap Arga terhenti.


"Tanda - tanda hamil." Sahut Merlisa meneruskan ucapan Arga.


"Iya."


"Kalau itu memang benar, aku sangat bahagia sayang tapi aku takut membuatmu kecewa, aku takut kalau aku belum hamil." Ucap Merlisa sendu.


"Apa salahnya kita cek terlebih dahulu sayang, jika hasilnya sudah kita tau, paling tidak kita sudah mencoba dan tetap terus berusaha." Ucap Arga menyemangati.


"Tapi aku takut membuatmu kecewa." Sahut Merlisa.


"Sssttt kau tidak pernah membuatku kecewa sayang, memiliki mu adalah anugrah untukku. Lagi pula umur pernikahan kita baru dua bulan lebih, masih begitu banyak kesempatan untuk kita memiliki anak." Ucap Arga menyemangati.


"Hiks hiks makasih sayang." Ucap Merlisa memeluk Arga dengan posisi Merlisa masih di atas pangkuan Arga.


"Kenapa kau menangis, maafkan aku jika ada kata - kataku menyinggung perasaanmu sayang." Ucap Arga mengeratkan pelukannya.


"Tidak sayang, aku menangis karena bahagia. Aku bahagia mempunyai suami yang sempurna sepertimu. Terima kasih sudah hadir di dalam hidupku." Ucap Merlisa lirih.


"Yang ada aku yang berterima kasih memiliki mu sayang. Aku sangat mencintaimu Merlisa." Ucap Arga.


"Aku malah lebih sangat mencintaimu tuan Arga." Ucap Merlusa tidak mau kalah.


"Cintaku lebih besar, aku yang sangat sangat mencintaimu lebih dari apapun." Sahut Arga.


"Hheeii kau tidak mau mengalah sekali tuan Sebastian." Ucap Merlisa.


Dan keduanya saling menatap, lalu tertawa bersama.


"Sudah ya sayang, tidak boleh ada air mata di sini." Ucap Arga mengusap air mata Merlisa dengan ibu jarinya.


Cup satu kecupan di kening Merlisa, cup cup dua kecupan di kedua mata Merlisa, cup cup 2 kecupan di kedua pipi Merlisa, cup satu kecupan di hidung Merlisa dan cup satu kecupan lama di bibir Merlisa.


"Setelah kita pulang dari sini, aku mau kita memeriksa ke rumah sakit, apa aku sudah hamil atau belum." Ucap Merlisa memeluk Arga lagi.


"Iya sayang, apapun hasilnya, aku tetap mencintaimu." Ucap Arga.


******


Malam hari mereka semua telah berkumpul di restoran yang terletak di pinggir pantai, untuk menikmati makan malam mereka, duduk dalam satu meja besar bersama, di temani alunan musik yang di nyanyikan seseorang di atas panggung. Angin laut yang berhembus menerpa wajah dan tubuh mereka.


"Sayang pakai ini, udaranya sangat dingin." Ucap Arga memakaikan jaket yang ia kenakan pada tubuh Merlisa.


"Terima kasih sayang."Sahut Merlisa.

__ADS_1


Dimaspun ikut memberikan jaketnya pada Indri, dan memakaikannya.


"Salwa apa kamu dingin, pakai jaket aku." Ucap Andri.


"Tidak tuan terima kasih, saya sudah memakai jaket." Tolak Salwa.


"Oohh iya ya." Sahut Andri menyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hahahah kak Andri lucu." Ucap Rafi menertawakan Andri karena Rafi duduk di sebrang tempat duduk Andri jadi ia terus memperhatikannya.


"Diam kamu!" Sewot Andri sambil mendelikkan matanya.


Sedangkan Anggi dan Natan hanya menahan tawanya, karena tidak berani dengan Andri.


Semua makan dengan lahap, sesekali di iringi obrolan dan canda tawa di antara mereka.


"Sanyang tunggu di sini, aku ke sana sebentar." Ucap Arga pada Merlisa. Merlisa hanya menganguk mengiyakan.


Tidak beberapa lama ada suara di atas panggung, dan lampu di sebelah panggung mati.


"Aku di sini akan mempersembahkan lagu untuk istri tersayangku, orang paling berarti dalam hidupku." Ucap seseorang yang berada di atas panggung.


Dan semua orang yang berada di sana, menghentikan aktivitas mereka, menyaksikan pertunjukan yang akan mereka liat di atas panggung.


Her eyes, her eyes


(Matanya, matanya)


Make the stars look like they’re not shinin’


(Membuat bintang seolah tak bersinar)


Her hair, her hair


(Rambutnya, rambutnya)


Falls perfectly without her trying


(Jatuh sempurna dengan sendirinya)


She’s so beautiful


(Dia begitu cantik)


And I tell her everyday


(Dan aku bilang padanya setiap hari)


I know, I know


(Aku tahu, Aku tahu)


When I compliment her she won’t believe me


(Saat aku memujinya, dia takkan percaya padaku)


And it’s so, it’s so


(Dan begitu, begitu)


Sad to think that she don’t see what I see


(Sedih mengingat dia tak lihat yang kulihat)


But every time she asks me, “Do I look okay?”


(Tapi setiap dia bertanya, “Aku menarik?”)


I say


When I see your face


(Saat kulihat wajahmu)


There’s not a thing that I would change


(Tak satupun yang aku ubah)


‘Cause you’re amazing


(Karena kau luar biasa)


Just the way you are


(Apa adanya dirimu)


And when you smile


(Dan saat kau tersenyum)


The whole world stops and stares for a while


(Dunia berhenti dan melihat sejenak)


‘Cause, girl, you’re amazing


(Karena kau luar biasa)


Just the way you are


(Apa adanya dirimu)


Her lips, her lips


(Bibirnya, bibirnya)


I could kiss them all day if she’d let me


(Aku bisa menciumnya sepanjang hari jika boleh)


Her laugh, her laugh


(Tawanya, tawanya)


She hates but I think it’s so sexy


(Dia benci tapi kupikir itu seksi)


She’s so beautiful


(Dia begitu cantik)


And I tell her everyday


(Dan aku bilang padanya setiap hari)


Oh you know, you know, you know


(Kau tahu, kau tahu, kau tahu)


I’d never ask you to change


(Aku tak pernah memintamu untuk berubah)


If perfect’s what you’re searching for

__ADS_1


(Jika kesempurnaan yang kau cari)


Then just stay the same


(Tetaplah seperti itu)


So don’t even bother asking if you look okay


(Jadi jangan tanya apa kau tampak menarik)


You know I’ll say


(Kau tahu aku kan katakan itu)


When I see your face


(Saat kulihat wajahmu)


There’s not a thing that I would change


(Tak satupun yang aku ubah)


‘Cause you’re amazing


(Karena kau luar biasa)


Just the way you are


(Apa adanya dirimu)


And when you smile


(Dan saat kau tersenyum)


The whole world stops and stares for a while


(Dunia berhenti dan melihat sejenak)


‘Cause, girl, you’re amazing


(Karena kau luar biasa)


Just the way you are


(Apa adanya dirimu)


The way you are


(Apa adanya dirimu)


The way you are


(Apa adanya dirimu)


Girl, you’re amazing


(Gadis, kau luar biasa)


Just the way you are


(Apa adanya dirimu)


When I see your face


(Saat kulihat wajahmu)


There’s not a thing that I would change


(Tak satupun yang aku ubah)


‘Cause you’re amazing


(Karena kau luar biasa)


Just the way you are


(Apa adanya dirimu)


And when you smile


(Dan saat kau tersenyum)


The whole world stops and stares for a while


(Dunia berhenti dan melihat sejenak)


‘Cause, girl, you’re amazing


(Karena kau luar biasa)


Just the way you are


(Apa adanya dirimu)


Arga menyanyikan lagu dari Bruno mars Just the way you are ( apa adanya dirimu).


Merlisa tertegun sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangannya saat melihat seseorang yang berada di atas panggung, dengan senyuman manis ke padanya.


"Cie yang di nyanyiin, sampai berkaca - kaca gitu." Goda Anggi.


"Waahh si Arga ternyata bagus juga suaranya." Ucap Andri.


Merlisa masih terdiam tidak merespon sama sekali, entah kenapa suaranya begitu sulit untuk di keluarkan, tenggorokannya begitu tercekat oleh sesuatu.


"Baby you are the most beautiful gift in my life, i really love you baby ( sayang kau adalah hadiah terindah dalam hidupku, aku sangat mencintaimu sayang)" Ucap Arga lagi sebelum turun dari panggung sambil membawa sebuket bunga tulip kesukaan Merlisa.


Merlisa memeluk tubuh Arga, saat Arga mendekat pada Merlisa.


"Sayang ini untukmu." Ucap Arga memberikan sebuket bunga yang ia pegang.


"Dan tutup matamu." Pinta Arga lagi.


Tanpa bertanya lagi Merlisa pun memejamkan matanya.


Arga mengeluarkan sekotak kecil berisi kalung berlian berliontin kecil berwarna pink. sebuah kalung simple namun terlihat sangat mewah dan elegan.


Arga memakaikan kalung berlian tersebut di leher Merlisa.


"Sayang kenapa kau akhir - akhir ini cengeng sekali, mana Merlisaku wanita bar - barku heemm." Ucap Arga melihat Merlisa sudah menangis.


"Ini semua gara - gara kamu tuan Sebastia! kau sering membuatku menangis." Ucap Merlisa sambil memukul dada Arga pelan.


"Sudah ya sayang jangan menangis." Ucap Arga kembali memeluk tubuh Merlisa dan menciumi pucuk kepala Merlisa berkali - kali.


Semua yang berada di sana ikut merasakan ke bahagiaan di antara kedua insan tersebut.


Sekarang aku merasa lega dek, melihatmu sudah bahagia. Ma tugas Andri sudah selesai untuk menjaga Merlisa. Batin Andri.


"Uuhhuukk uuhhuukk." Andri dan Rafi pura - pura batuk.


"Hadeehh jiwa jombloku meronta - meronta." Ucap Rafi memasang wajah pura - pura sedih.


"Iya pak Rafi, lama - lama aku bisa diabetes melihat mereka seperti itu, terlalu manis untuk di lihat." Ucap Anggi menimpali sambil memegang kedua pipinya.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya 🙏😘💪


__ADS_2