Kakak Iparku Mantan Kekasihku

Kakak Iparku Mantan Kekasihku
Bab 41


__ADS_3

" Sayang apakah kau tidak apa - apa masuk kerja hari ini?" tanya Arga pada Merlisa masih berada di dalam mobil Arga.


" Sedikit perih, tapi tidak apa - apa suamiku." Sahut Merlisa.


" Yakin?" tanya Arga lagi khawatir, karena ia sadar bagaimana ia memakan Merlisa semalam dan pagi juga.


" Lagian kau seperti singa yang menerkam mangsanya, sampai aku tidak berdaya huh!" ketus Merlisa.


" Hahaha maafkan aku sayang, aku tidak bisa menahan diriku lagi, aku ingin selalu memakanmu saja." Ucap Arga mengelus rambut Merlisa.


" Ya kau begitu buas tuan Sebastian," Ketus Merlisa mengerucutkan bibirnya.


"Hahaha tapi kau suka kan, nanti malam ayo kita lanjutkan lagi permainannya." Ucap Arga mengedipkan sebelah matanya, untuk menggoda Merlisa.


" Cukup suamiku, kau tidak lihat seluruh tubuhku seperti macan tutul begini karena ulahmu, sekarang kau sudah membahas itu lagi, aku tidak bisa bayangkan bagaimana rupa dan bentuknya kepunyaanku." Kesal Merlisa, karena leher Merlisa harus ia tutupi dengan foundation karena begitu banyak stempel ke milikan Arga pada leher dan seluruh tubuh Merlisa.


"Hahaha biar semua orang tau sayang, kau adalah milikku, milik Arga Sebastian." Ucap Arga menepuk - menepuk dada bidangnya sendiri.


" Tapi tidak membuatku seperti macan tutul juga kali." Ketus Merlisa. "Ya sudah aku pergi duluan ya suamiku, nanti ada orang yang akan melihat kita." Ucap Merlisa lagi ingin menarik sebelah tangan Arga untuk mencium pungung tangan suaminya.


" Sayang tunggu!" ucap Arga menghentikan langkah Merlisa.


"Ada apa?"


Cup cup dua kecupan di kedua pipi Merlisa, cup cup dua kecupan di kedua mata Merlisa, cup satu kecupan di kening Merlisa, dan cup satu kecupan menempel lama di bibir Merlisa.


" Aahh suamiku apa yang kamu lakukan nanti ada yang lihat bagaimana huh!" kesal sekaligus terkejut dengan serangan Arga, ia memukul pelan bahu Arga.


" Aku tidak peduli." Ucap Arga santai.


" Aahhh kau ini, selalu saja seenaknya, daahh suamiku." Ucap Merlisa sambil pergi meninggalkan Arga yang masih berdiri di depan mobil miliknya.


Sedangkan tanpa di sadari Arga dan Merlisa, ada seseorang yang memperhatikannya dan beberapa kali mengambil gambar Merlisa dan Arga.


****


" Ca kok gue perhatikan hari ini ada yang berbeda dari elo Ca, apa elo sakit?" tanya Anggi saat bertemu di depan lift.


" Emang gue kenapa Gi?" tanya balik Merlisa pada Anggi.


" Elo terlihat pucat Ca, seperti ke capean gitu." Ucap Anggi.

__ADS_1


" Masa si Gi, emang gue agak sedikit flu." Bohong Merlisa, Merlisa memang merasa lelah karena pergumulannya dengan Arga, Arga tidak memberikan istirahat untuknya hingga melakukan beberapa kali dalam semalam dan pagi juga.


" Oo elo flu Ca, jaga kondisi dong Ca." Ucap Anggi.


" Iya iya, udah ahh gue mau ke toilet sebentar." Ucap Merlisa saat sudah keluar dari lift.


Apa mungkin hanya flu bisa merubah jalan seseorang. Hari ini si Ica berjalan seperti bebek hihihi. Batin Anggi yang memperhatikan jalan Merlisa yang berbeda.


Setelah cukup lama Merlisa di sibukkan dengan pekerjaannya. Merlisa, Anggi, dan Natan berjalan beriringan menuju kantin untuk mengisi perut mereka karena sudah waktunya jam makan siang.


" Ca siang ini ada yang berbeda deh, kenapa semua kariawan yang kita lewati menatap kita tidak biasa, apalagi kariawan wanita." Ucap Anggi melihat ke janggalan.


" Masa si, perasaan elo doang kali Gi." Sangkal Merlisa.


" Iya Ca sepertinya ada yang berbeda dari tatapan mereka." Ucap Natan membenarkan perkataan Anggi.


" Udah deh jangan perduliin orang lain, udah yuk cepet ke kantin gue laper." Ucap Merlisa, menarik tangan kedua temannya.


Mereka makan sambil berbincang - bincang dan sesekali canda tawa terdengar di antara mereka. Rafipun ikut nimbrung bersama Merlisa, Natan, dan Anggi, meski banyak tatapan mata kariawan lain. Sebenarnya Merlisa juga menyadarinya namun ia tidak mau ambil pusing dengan tatapan para kariawan yang tidak besahabat itu.


Setelah menyelesaikan Makan siangnya, Merlisa pergi menuju ke toilet.


" Hei kalian tau gak, ternyata di perusahaan ini ada wanita ja*l*ng yang sedang merayu CEO kita." Ucap salah satu kariawan wanita A.


" Secarakan CEO kita udah punya kekasih, pasti dia jual diri deh supaya CEO kita terpikat dengan wanita ja*l*ng itu." Ucap kariawan wanita C.


"Siapa si yang gak pengen di samping CEO tampan kita, meski dengan jalan kotor." Sahut kariawan wanita D.


Mereka terus berbicara dan menyindir Merlisa, sedangkan Merlisa tidak ingin terpengaruh dengan semua ucapan para kariawan wanita itu. Ia segera pergi dari toilet yang mulai terasa panas.


****


Setelah pulang dari kantor, Merlisa pergi menuju pemukiman kumuh yang berada di pinggir ibu kota. Ia sudah lama tidak mengunjungi ibu Fatimah dan anak - anak di sana. Yang sebelumnya sudah meminta izin kepada Arga untuk pergi ke suatu tempat.


" Kak Icaaaa!" teriak anak - anak yang melihat ke datangan Merlisa.


"Hore hore kak Ica datang!" ucap anak yang lain.


"Apakah kalian sehat?" tanya Merlisa.


" Iya kak kami sehat, kenapa kakak baru datang ke sini?" tanya salah satu anak.

__ADS_1


" Iya maaf ya kak Ica sibuk banget, ini aja kakak sempetin dateng ke sini, karena sudah begitu rindu dengan kalian." Ucap Merlisa.


" Benarkah itu kak? kami kira kakak lupa dengan kami." Ucap anak - anak.


" Mana mungkin kakak lupa dengan kalian, kalian kan anak - anak yang baik dan pekerja keras." Ucap Merlisa mengelus pucuk kepala salah satu anak.


" Nih kakak bawakan makanan untuk kalian, tolong bagi - bagi ya tapi janji jangan berebutan, kakak mau ke ibu Fatimah dulu," Ucap Merlisa lagi, pergi menuju rumah berbahan kardus dan triplek.


"Assalamualaikum ibu." Ucap Merlisa.


" Waalaikum salam." Sahut ibu Fatimah dari dalam rumah.


" Ahh nak Ica, kapan datang nak? ibu sampai kangen." Ucap ibu Fatimah.


" Baru saja bu, iya aku juga kangen dengan ibu, makanya aku meluangkan waktu untuk ke sini." Ucap Merlisa mencium punggung tangan ibu Fatimah.


Keduanya mengobrol di dalam rumah ibu Fatimah, menceritakan ke sibukan ke duanya.


Setelah bercengkrama dengan bu Fatimah, Merlisa selalu mengecek rumah kreatif yang di dirikan olehnya, rumah kreatif sengaja Merlisa buat untuk menciptakan hasil karya dari warga sekitar pemukiman kumuh yang dapat di maanfaatkan kembali, sehingga mempunyai daya jual tinggi. Merlisa juga mengadakan bank sampah, untuk warga sekitar agar dapat menjaga ligkungan. Dari sampah yang di setorkan warga akan di daur ulang kembali. Warga sekitar sangat berterima kasih, dengan adanya rumah kreatif, mereka tidak menganggur lagi, karena ke banyakkan dari mereka berprofesi sebagai pemulung, pengamen, dan pengemis.


Merlisa tidak mengambil ke untungan dari rumah kreatif yang ia dirikan, melihat warga sudah mempunyai penghasilan, Merlisa sudah sangat senang, karena bisa membantu memperbaiki ke hidupan di pemukiman kumuh itu.


" Bagaimana pak, apa semuanya lancar?" tanya Merlisa pada pak Karyo, pak Karyo adalah salah satu kepercayaan Merlisa untuk mengelola rumah kreatif, beliau suami dari ibu Fatimah.


" Alhamdulilah lancar nak, tapi ada satu kendala saja." Ucap pak Karyo.


"Apa itu pak?" tanya Merlisa.


"Kita kekurangan mesin untuk mendaur ulang nak." Ucap Karyo.


" Eemm kalau seperti itu, nanti secepatnya saya akan menambahkan mesin pendaur ulangnya pak." Ucap Merlisa.


Merlisa sedang mengajari ibu - ibu untuk membuat ke rajinan menggunakan bahan botol plastik.


"Nak Ica ada apa ya kok terdengar ke gaduhan dari luar?" tanya bu Fatimah, karena mendengar ke bisingan dari luar.


" Gak tau bu, mari kita lihat." Ajak Merlisa.


Saat berada di luar rumah kreatif, Merlisa membulatkan matanya, tanpa ia sadari mulutnya menganga membentuk huruf O sempurna, saat melihat sosok yang tengah berdiri di hadapannya tersenyum manis kepadanya.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, mari olahraga jempolnya 💪🙏😘


__ADS_2