
"Si silakan pak." Ucap Natan gugup yang di angguki Anggi.
" Santai aja, jangan tegang separti itu." Ucap Rafi yang melihat ke tiga orang yang berada di meja yang sama dengannya hanya terdiam.
" I iya pak." Ucap Natan lagi.
Sedangkan Merlisa terus menatap tajam ke arah Rafi, tatapan mata Merlisa yang mengartikan mau apa kau ada di sini. Namun Rafi tidak memperdulikan tatapan sang kakak iparnya yang menyuruhnya pergi dari sorot tatapan matanya.
"Hahaha kalian kenapa tegang seperti itu si, santai saja jangan kaku seperti itu, aku hanya ingin berteman dengan kalian." Ucap Rafi.
"I iya pak, kami hanya merasa tidak pantas berteman dengan seorang direktur." Ucap Anggi.
" Aku sama saja dengan kalian, tidak ada perbedaan. mari kita mulai berkenalan terlebih dahulu, nama saya Rafi, Rafi Sebastian." Ucap Rafi memperkenalkan dirinya.
" Natan."
"Anggi."
Keduanya berkenalan dengan Rafi, Merlisa masih terdiam.
"Kalau yang ini siapa namanya?" tanya Rafi pura - pura tidak mengenal Merlisa.
Merlisa masih tetap asyik menyantap makanannya.
" Ca elo kok diem aja si." Bisik Anggi sambil menyenggol - nyenggol lengan Merlisa dengan sikutnya.
"Merlisa." Ucap Merlisa malas.
Adik sama kakak maunya apa si, gak bisa apa gue hidup tenang tanpa di ganggu dengan ke dua kakak beradik ini. Batin Merlisa.
Anggi dan Natan tidak membutuhkan waktu lama untuk dapat akrab dengan Rafi, karena sifat Rafi yang mudah bergaul dan ramah kepada siapa saja, sedangkan Merlisa hanya sesekali tersenyum kepada ke tiga orang yang berada satu meja dengannya.
Rafi pergi terlebih dahulu dari kantin, sedangkan ke tiga sekawan itu masih asyik mengobrol ke sana sini.
" Duuhh gila semalam gue mimpi apa, bisa duduk satu meja dengan Rafi Sebastian, di lihat dari dekat makin terlihat banget ke tampanannya." Ucap Anggi senyum - senyum sendiri.
" Semalam elo mimpi ketemu Wiro sableng berkelahi sama Batman Gi." Sahut Natan asal.
" Lah kok Batman sama Wiro Sableng si Nat?" Tanya Merlisa.
" Lah iya Ca, dia bisa ketemu karena sedang rapat superhero sedunia." Usap Natan asal.
" Hahahaha bisa aja elo Nat." Ucap Merlisa dengan gelak tawanya.
" Ahh kalian berdua tidak asyik." Ucap Anggi merajuk.
__ADS_1
"Gaya loe Gi segala acara ngambek lagi, gue bercanda." Ucap Natan sambil mengedipkan matanya pada Anggi.
" Kedipan mata loe gak mempan sama gue Nat, tapi bener loh yang tadi gue bilang, Rafi tu tampan banget, tapi masih jauh lebih tampan Arga sebastian si, walau ia terlihat angkuh dan cuek tapi karismanya itu, melumerkan hati ini." Ucap Anggi yang senyam senyum sendiri sambil memegang dadanya.
" Kalau ngehayal tuh jangan tinggi Gi." Ucap Natan mentoyor kepala Anggi.
Sedangkan Merlisa langsung tersedak saat minum jus mangga saa mendengar ucapan Anggi.
" Uuhhuuukk uuhhuukkk."
Kenapa si pria bunglon nyebelin itu banyak sekali fansnya si, termasuk temen gue yang satu ini. Batin Merlisa.
" Nataaann jangan gituin kepala gue juga kali." Kesal Anggi.
" Lah itu si Ica aja sampai tersedak, gara - gara ucapan loe." Sahut Natan.
" Sudah - sudah, yuk kembali bekerja sebentar lagi jam makan siang sudah selesai." Ucap Merlisa menengahi kedua temannya.
Ketiganya pergi meninggalkan kantor untuk kembali bekerja.
******
Sepulangnya dari bekerja, Merlisa sudah di berkutat di dapur untuk memasak makan malam untuknya dan Arga.
" Akhirnya sudah selesai semuanya." Ucap Merlisa menghidangkan makanan yang ia masak di atas meja, tidak lupa ia sedikit mempercantik hidangannya karena Arga selalu mengkomplain tampilan dari masakannya.
" Kak Andri !" ucap Merlisa begitu terkejut saat membuka pintu melihat sosok orang yang tidak asing baginya. Andri, indri dan Dimas berkunjung ke arpatrmen Merlisa
Tanpa berkata apa - apa Andri langsung menarik tangan Merlisa, membawanya dalam pelukannya.
" Kamu anggap kakak sebagai apa, hah! kenapa kau menikah tidak memberi tahu kakak, apa kakak tidak berarti sama sekali di hidupmu?" tanya Andri meluapkan kekesalannya.
" Maafkan aku kak." Ucap Merlisa tertunduk.
" Yang ada juga kakak yang minta maaf sama kamu dek, kakak sudah gagal menjagamu, kakak sudah mengingkari janji kakak sama mama, untuk menjaga kamu dek." Ucap Andri yang masih mendekap erat tubuh Merlisa, tak terasa keristal bening lolos dari ujung matanya.
" Kakak tidak salah, selama ini kakak selalu menjagaku dengan baik." Sahut Merlisa mengusap air mata Andri.
" Kakak tau dek, kau menikah karena papa yang memintanya kan? seandainya kakak waktu itu ada di sini, kakak akan menghalangi pernikahan mu, kau harus bahagia dengan pria yang kau cintai dek, bukan menikah karena paksaan dari orang lain." Ucap Andri mengelus pucuk kepala Merlisa.
" Aku tidak apa - apa kak, aku bahagia dengan pernikahanku. Ini sudah jalan takdirku, kakak jangan menyalahkan diri kakak lagi." Sahut Merlisa tersenyum.
"Apakah kau benar - benar bahagia dek?" tanya Andri lagi.
" Ya tentu saja kak, suamiku sangat tampan loh, hehehe." Ucap Merlisa cengengesan.
__ADS_1
" Kau ini dek, tapi masih tampanan kakak dong." Ucap Andri begitu percaya diri.
"Idiiihh kakak percaya diri sekali, ke tampanan suamiku jauh di atas rata - rata." Ucap Merlisa menyeringai.
Duuhh mudah - mudahan si pria bunglon ini tidak mendengar perkataanku, kalau sampai mendengar bisa - bisa ia besar kepala sudah aku puji. Batin Merlisa.
Keduanya masih berpelukan, sesekali Andri mencium pucuk kepala Merlisa, menyalurkan kerinduannya pada sang adik.
Indri dan Dimas hanya terdiam menyaksikan drama adik kakak itu.
"Eehhmmm." Arga berdehem tiba - tiba, yang memgejutkan orang yang berada di ruang tamu tersebut.
" Kau!" teriak Arga dan Andri serempak.
" Kalian saling kenal?" tanya Merlisa.
" Iya kita saling kenal, apa kabar bro?" ucap Andri sambil mengulurkan tangannya pada Arga
" Gue sangat baik, seperti yang elo liat bro." Ucap Arga langsung merangkul Andri.
" Tadi elo ngapain segala acara peluk - peluk istri gue." Kesal Arga pada Andri.
" Jadi dia suami elo dek?" tanya Andri pada Merlisa.
" I iya kak, ini suami aku." Ucap Merlisa.
" Waahh gak nyangka gue bro, sahabat lama gue sekarang jadi adik ipar." Ujar Andri.
"Maksud loe Dri, istri gue adik loe?" tanya Arga.
" Iya dia adik gue." Ucap Andri merangkul bahu Merlisa.
" Kenapa waktu kita nikah elo gak ada, kakak macam apa loe." Ucap Arga.
" Gue di luar negeri, dan gak ada yang kasih kabar gue." Kesal Andri.
"Ahh kakak masih di bahas aja." Ucap Merlisa bergelayut manja pada Andri.
" Sayang sekarang aku suamimu, bermanjanya cukup denganku saja." Ucap Arga menarik lengan Merlisa untuk mendekat dengannya.
" Cih, dasar suami posesif, gue jugakan kakaknya." Dengus Andri, Merlisa hanya tersenyum kecil.
Indri hanya tersenyum melihat tontonan yang berada di depanyan, sedangkan Dimas terus menatap tidak suka dengan Arga.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya, agar author selalu bersemangat 💪👍🙏😁