Kakak Iparku Mantan Kekasihku

Kakak Iparku Mantan Kekasihku
Bab 50


__ADS_3

Merlisa dan Dimas saling diam, canggung di antara keduanya hingga Dimas membuka suaranya.


" Hai Ca apa kabar." Sapa Dimas.


" Baik kak, kakak sendiri gimana kabarnya." Sahut Merlisa.


" Seperti yang kamu lihat Ca, tapi tidak dengan hatiku." Ucap Dimas sendu.


" Maksud kakak?" tanya Merlisa tidak mengerti.


"Aku masih menata hatiku Ca, aku masih sakit melihatmu bersama laki - laki lain." Ucap Dimas menggenggam tangan Merlisa.


" Kak bahagialah bersama kak Indri, bukankah cinta yang tulus akan mengikhlas kan cintanya untuk bahagia meski itu bukan bersamanya." Ucap Merlisa menatap Dimas.


" Sepertinya kamu sudah benar - benar sudah melupakanku Ca, apakah kau benar - benar bahagia dengan suamimu?" tanya Dimas dengan sendu.


" Hubungan kita hanyalah masa lalu kak, tidak usah di ingat lagi, jadikan kenangan itu sebagai suatu pembelajaran untuk aku dan kakak. Dan ya aku sangat bahagia dengan pernikahanku. Karena aku berusaha membuka hatiku untuk suamiku kak, kakak juga harus membuka hati kakak dengan kak Indri, pasti kakak bisa mencintai kak Indri dengan tulus." Ujar Merlisa tersenyum sambil menepuk - nepuk punggung tangan Dimas agar memberikan keyakinan padanya.


" Kau tidak usah khawatir aku bisa membuat Merlisa bahagia bersamaku." Ucap Arga tiba - tiba dan merangkul bahu Merlisa.


Sontak membuat Merlisa dan Dimas terkejut.


" Sayang sejak kapan kamu ada di situ?" tanya Merlisa.


" Cukup lama mendengar pembicaraan antara kedua mantan kekasih yang bertemu." Ucap Arga memasang wajah datarnya.


" Sayang tidak seperti itu, tadi kami hanya ...." Ucap Merlisa menggantung karena sudah di potong oleh Arga.


" Kau tidak usah mengkhawatirkan Merlisa, karena dengan segenap jiwa ragaku, aku akan membuatnya bahagia. Jadi jangan pernah kau berharap lagi dengannya." Ucap Arga menatap tajam Dimas.


" Bagus kalau seperti itu, tapi kalau aku dengar kamu menyakiti Merlisa, aku tidak segan - segan mengambilnya darimu." Sahut Dimas membalas tatapan Arga.


" Ada apa ini? sepertinya kalian tegang banget." Ucap Indri tiba - tiba.


" Tidak ada apa - apa kak, kita hanya mengobrol biasa." Sahut Merlisa.


Mereka makan bersama dengan ke canggungan, sesekali Merlisa berbincang - bincang dengan Indri.


Setelah menyelesaikan makan siang mereka Arga dan Merlisa memutuskan untuk pulang ke arpatemen mereka.


" Sayang apakah kamu marah denganku?" tanya Merlisa karena Arga terdiam tidak membuka pembicaraan seperti biasa. Ia hanya fokus mengemudi tanpa melirik Merlisa yang berada di sampingnya.


" Tidak." Sahut Arga singkat.


" Tapi kenapa kamu cuekin aku, aku lebih suka kamu menyuruhku ini dan itu dari pada aku di cuekin seperti ini." Ucap Merlisa.


Arga membuang nafas secara kasar, dan menepikan mobilnya di pinggir jalan.


" Kenapa kamu tidak memberi tahuku kalau kakak iparmu itu mantan kekasihmu, hah!" Kesal Arga.


" Untuk apa aku memberi taumu, untukku itu sudah masa lalu dan tidak untuk di ungkit kembali." Sahut Merlisa.


" Dari awal aku sudah curiga di saat kakakmu itu menikah, aku melihat Dimas memelukmu." Kesal Arga.


" Lalu kalau kamu apa hah! kamu sudah menikah denganku tapi masih berhubungan dengan wanita lain." Ucap Merlisa sudah menaikkan suaranya. Merlisa memalingkan wajahnya ke luar jendela.


" Maafkan aku sayang, aku kesal melihatmu seperti tadi." Ucap Arga dengan suara yang merendah.


" Aku sudah tidak punya perasaan lagi padanya, dia adalah masa laluku, masa depanku adalah kau suamiku Arga Sebastian." Ucap Merlisa dengan penuh penekanan.


" Ya aku tau, maafkan aku sayang." Sahut Arga, ia menempelkan keningnya pada kening Merlisa hingga hidung mereka beradu satu sama lainnya.


" Aku yang seharusnya meminta maaf padamu karena tidak memberi tau mu dari awal." Sahut Merlisa.


" Ya mulai sekarang jangan ada rahasia lagi di antara kita sayang. Because i love you so much, i can't afford to be away from you my halal love ( karena aku sangat mencintaimu, aku tidak sanggup untuk jauh dari mu kekasih halalku)" ucap Arga mencium kening Merlisa.

__ADS_1


" Thank you for loving me dear ( terima kasih sudah mencintaiku sayang)" sahut Merlisa.


"Ya tentu istriku." Sahut Arga, dan keduanya tertawa bersama.


****


Pagi hari Merlisa dan Arga menuju basement arpatemennya, Merlisa mengerutkan keningnya saat melihat wanita berkerudung berdiri di depan pintu mobil yang di belikan oleh Arga kemarin.


" Sayang siapa wanita itu?" tanya Merlisa pada Arga.


" Ayo aku kenalkan, sepertinya ia sudah mulai bekerja hari ini." Ucap Arga.


" Selamat pagi tuan muda dan nyonya muda." Ucap wanita berkerudung yang berdiri tegak.


" Pagi, perkenalkan ini Istri saya. Dan apakah kamu sudah tau tugas untukmu?" tanya Arga.


" Sudah tuan."


" Bagus kalau begitu."


" Sayang aku berangkat dulu ya, selama aku tidak ada kamu hati - hati." Ucap Arga, karena ia harus pergi keluar kota untuk beberapa hari.


" Iya sayang, kau hati - hati juga. Berapa lama kau di sana?" tanya Merlisa.


" Mungkin 3 sampai 4 hari, begitu pekerjaannya telah selesai aku pasti langsung pulang." Sahut Arga.


" Heeemm aku pasti akan merindukanmu." Ucap Merlisa.


" Akupun sama sayang." Ucap Arga menciumi seluruh wajah Merlisa.


" Ahh kau ini, malu tu." Bisik Merlisa pada Arga.


" Aku tidak perduli." Sahut Arga santai yang mendapatkan tatapan tajam Merlisa.


Setelah kepergian Arga Merlisa menghampiri ke arah mobil yang di berikan Arga padanya.


" Nama saya Salwa nona." Sahut Salwa menyambut uluran tangan Merlisa.


" Mari nona mau berangkat sekarang." Ajak Salwa sambil membukakan pintu mobil untuk Merlisa.


Di dalam mobil Merlisa terus mengajak berbicara dengan Salwa, namun Salwa hanya menanggapi dengan tersenyum dan sesekali menjawab pertanyaan dari Merlisa.


Cih aku pikir bodyguard yang akan menemaniku akan menjadi teman yang mengasyikan, tidak sesuai ekpetasinya huh! sama saja kakunya dengan suami bunglonku. Apa jangan - jangan mereka bersaudara ya." Batin Merlisa.


" Hai nona muda, selamat pagi." Sapa Anggi saat bertemu di lobi.


" Apan si loe Gi." Protes Merlisa.


" Hai kawan selamat pagi." Ucap Natan.


" Pagi juga Nat." Sahut Merlisa dan Anggi.


" Ca siapa tu cewe, dari tadi ikutin elo terus?" tanya Natan.


" Dia tu bodyguard gue." Sahut Merlisa.


" Wow bener - bener elo ya Ca,udah jadi nona muda sekarang." Ucap Anggi.


"Anggi! sekali lagi elo panggil nona muda, gue tarik bibir elo sampai panjang." Dengus Merlisa.


" Widih sadis amat si elo Ca." Sahut Anggi, dan perdebatan mereka masih berlanjut. Sedangkan Natan mendekati Salwa yang terus memperhatikan Merlisa dari jarak 5 meter karena sesuai permintaan Merlisa pada Arga.


" Hai kenalin gue Natan, sahabatnya Merlisa." Ucap Natan mengulurkan sebelah tangannya. Namun Salwa tidak merespon ucapan dari Natan.


Wooww ini cewek datar amat ya, si Ica dapat dari mana bodyguard sekaku ini. Batin Natan sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.

__ADS_1


" Wwooyy Nat lagi ngapain elo di situ! pasti mau modusin ya." Teriak Anggi, Natan hanya menyengir kuda dan kembali menghampiri dua sahabatnya.


" Ca elo dapat dari mana bodyguard seperti itu?" tanya Natan pada Merlisa.


" Gak tau, suami gue yang cari bodyguardnya. Kenapa Nat pasti elo di cuekin ya dengan Salwa." Ucap Merlisa dengan nada mengejek.


" Hehehe iya Ca, tuh cewek kaku banget ya, dia gak respon gue sama sekali." Keluh Natan.


" Hahahaha emang enak elo Nat di cuekin." Ucap Anggi dengan tawanya.


" Hahahaha jangankan elo Nat, dengan gue aja dia seperti itu. gue udah cape ajak ngobrol tapi di jawab seperlunya aja dengan dia." Sahut Merlisa.


" Sialan elo Ca, kenapa gak bilang dari tadi, malu kan gue di cuekin." Ketus Natan.


" Yyeee jangan salahin gue, elonya aja main deketin aja." Sahut Merlisa


" Makanya jadi cowo jangan suka modus, akhirnya malu sendiri kan elo hahaha." Ucap Anggi dengan tawanya.


" Puas kalian tawain gue." Ucap Natan merajuk.


" Udah yuk ahh mulai kerja, udah Nat tabahkan hatimu." Goda Merlisa. Natan hanya mendelikan matanya.


*****


3 hari Arga pergi keluar kota untuk mengurus proyek yang sedang berjalan disana.


Di kamar Merlisa terus menatap layar handphonenya, menunggu Arga memberi kabar padanya karena sejak tadi siang Arga tidak memberi kabar sama sekali dengannya.


" Suami kenapa kamu membuatku cemas seperti ini, semoga kau di sana baik - baik saja." Ucap Merlisa berbicara sendiri sambil menatap layar handphonenya


Hingga tengah malam Merlisa belum bisa memejamkan matanya, ia terus gelisah karena Arga belum memberi kabar dan Merlisa mencoba menghubunginya namun handphone Arga tidak aktif.


Dan memutuskan untuk keluar dalam kamar dan pergi menuju dapur untuk membuat coklat panas, berharap bisa merileks kan pikirannya.


" Nona kamu belum tidur?" tanya Salwa menghampiri Merlisa. Salwa memang tinggal di arpatemen Arga untuk bisa menjaga Merlisa.


" Belum, aku tidak bisa tidur. Kamu sendiri kenapa belum tidur?" tanya Merlisa.


" Sudah nona, aku haus makanya aku mengambil air minum." Sahut Salwa.


" Eemmm Salwa apakah suamiku hari ini menghubungimu?" tanya Merlisa.


" Tidak nona, kenapa tuan harus menghubungi saya." Ucap Salwa mengerutkan keningnya.


" Sudah lah lupakan." Ucap Merlisa sambil menyeruput coklat panasnya. Namun fikirannya masih tetap mengkhawatirkan Arga yang menghilang begitu saja.


Pagi hari Merlisa terlihat lesu, seperti tidak bersemangat memulai aktivitasnya, ia semalam hanya tertidur 2 jam saja. Pikirannya sudah semakin mengkhawatirkan keberadaan Arga yang tidak kunjung mengabarinya hingga sampai saat ini handphonenya pun belum aktif juga.


Merlisa mencoba menghubungi Rafi untuk menanyakan ke beradaan Arga.


" Hallo kakak ipar ada apa menghubungiku pagi - pagi." Ucap Rafi di sebrang telphon.


" Hallo juga Raf aku mau tanya, apakah kakakmu memberi kabar padamu?" tanya Merlisa di sebrang telphon.


" Waktu kemarin siang kak Arga sempat menelphone ku, menanyakan perusahaan." Sahut Rafi.


Tapi kenapa denganku ia tidak menelphone, apakah ia marah denganku, aahh tapi tidak mungkin terakhir kita telphone kita biasa saja malah saling kangen - kangenan. Batin Merlisa.


" Hallo kakak ipar kamu masih ada di situ?" tanya Rafi karena tidak mendengar Merlisa bicara, sontak membuat Merlisa terkejut membuyarkan lamunannya.


" Hheemm ya Raf apa kakakmu bilang kapan ia akan pulang?" tanya Merlisa lagi.


" Ya dia bilang kalau tadi malam ia akan pulang kak, memang kak Arga belum sampai?" tanya Rafi, dan saat Merlisa menelphon Rafi, dengan tidak sengaja Merlisa melihat layar televisi yang menyiarkan bahwa ada pesawat yang terjatuh tadi malam di laut akibat cuaca buruk. Sontak membuat Merlisa terkejut dan tanpa sadar menjatuhkan handphonenya yang ia pegang dan terduduk lemas di atas sofa. Air matanya sudah membasahi pipinya, perasaannya sudah berkecamuk tidak karuan.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya 😘🙏💪


__ADS_2