
Merlisa terus menangis, kakinya bergetar tidak sanggup menopang tubuhny.
" Tidak, itu bukan pesawat Arga. Semoga dugaanku salah." Gumam Merlisa dengan linangan air mata.
Merlisa masih terus berusaha menghubungi Arga, namun hasilnya tetap sama ponsel Arga masih tetap tidak aktif. Merlisa tertunduk dengan linangan air mata yang membasahi wajah Merlisa.
"Ada apa nona, kenapa nona menangis?" Tanya Salwa yang menghampiri Merlisa.
" Lihat itu Salwa." Ucap Merlisa dengan suara bergetar menunjuk dengan jarinya ke arah televisi.
" Iya nona itu pesawat jatuh di laut, memang ada apa?" tanya Salwa bingung.
" Arga pergi ke kota XXX penerbangannya melalui laut itu, dan kata Rafi Arga tadi malam sudah menuju pulang dan ke celakaan itu terjadi tadi malam." Jelas Merlisa dengan tangisnya.
" Belum tentu itu pesawat tuan muda nona, nona harus optimis." Ucap Salwa menghibur Merlisa.
Merlisa tidak menghiraukan Ucapan Salwa, ia terus menangis.
" Hallo tuan muda Rafi, apa tuan muda sudah mendapat kabar dari tuan muda Arga?" Ucap Salwa di sambungan telphone dengan Rafi.
Salwa terdiam mendengarkan ucapan Rafi di sebrang telphone tanpa berkata apapun.
" Baik tuan muda, saya akan menyampaikan pada nona Merlisa." Sahut Salwa di sebrang telphone dan sambungan telphone pun terputus.
" Apa yang di katakan Rafi?" tanya Merlisa dengan suara sendu.
" Eemmm nona harus kuat ya, tadi tuan muda Rafi bilang...." Ucap Salwa menggantung.
" Apa Salwa! Rafi bilang apa?" teriak Merlisa karena perasaannya sudah tidak karuan.
" Tadi malam tuan muda Arga naik pesawat dan pesawat jatuh itu ...." Ucap Salwa terputus.
" Enggak itu semua bohongkan Salwa, ini semua tidak nyatakan ini pasti mimpi, yaaahh ini pasti mimpi hiks hiks." Ucap Merlisa menangis histeris.
" Tenanglah nona, nona jangan seperti ini." Sahut Salwa merangkul bahu Merlisa.
" Bagaimana aku bisa tenang! suamiku ada dimana Salwa hiks hiks!" ucap Merlisa masih di dalam dekapan Salwa.
" Nona jangan seperti ini." Ucap Salwa.
"Nyonya muda tenang, ini di minum dulu." Ucap bik Tati membawakan secangkir teh hangat agar Merlisa agak sedikit lebih tenang. Dan Merlisa meminum pemberian teh hangat dari bik Tati.
Setelah merasa lebih tenang, Merlisa kembali menghubungi Rafi untuk memastikan dugaannya salah.
" Hallo Raf bagai mana kabar dari kakakmu?" tanya Merlisa di sebrang telphone dangan bibir bergetar.
" Eemmm belum ada kabar kak, tapi kabar terakhir yang aku tau kak Arga semalam sudah menuju pulang kak. Para penumpang pesawat masih dalam pencarian kak." Ucap Rafi.
Merlisa sudah tidak merespon ucapan Rafi, ia sudah menjatuhkan hanphonenya dengan tatapan kosong, Merlisa naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Bik Tati dan Salwa mengikuti langkah Merlisa menuju kamarnya, karena takut terjadi sesuatu dengan Merlisa.
" Tinggalkan aku sendiri, aku ingin sendiri." Ucap Merlisa dengan bibir yang bergetar menahan tangisnya.
" Tapi nona..." Ucap Salwa menggantung karena sudah mendapatkan tatapan tajam Merlisa.
" Jika nona muda membutuhkan sesuatu panggil kami nyonya muda." Ucap bik Tati. Dan Merlisa tidak menghiraukan ucapan bik Tati, ia terus menatap keluar jendela.
" Hiks hiks kenapa kamu senang sekali membuatku kesal tuan Arga sebastian, dasar pria bunglon gilaaa!" maki Merlisa dengan tangisnya, sambil memeluk bingkai fhoto Arga dengan wajah coolnya.
" Kau sudah berjanji akan selalu membahagiakanku, menjaga dan mencintaiku tapi kamu bohong tuan Arga Sebastian hiks hiks."
"Aku baru saja merasakan sedikit kebahagiaan bersamamu, tapi kenapa kamu begitu tega denganku tuan Sebastian hiks hiks." Maki Merlisa pada fhoto Arga.
"Kembalilah pria bunglonku, aku lebih baik kau menyuruhku ini dan itu, menindasku sesuka hatimu dari pada harus seperti ini, aku tidak bisa suamiku, he said you want to have children from me, live together and grow old with me ( katanya kamu mau punya anak dariku,hidup bersama dan menua bersamaku)." Lirih Merlisa.
__ADS_1
Seharian Merlisa tidak keluar dari kamar, ia terus menatap keluar jendela namun pandangannya kosong, entah kemana pikirannya saat ini, Merlisa hanya terus memeluk fhoto Arga.
*****
" Nona makan ya, nanti jika tuan muda datang melihat nona seperti ini, pasti tuan muda akan sedih." Bujuk Salwa agar mau makan. Karena Merlisa sejak dari pagi ia belum makan sedikit pun hingga malam.
" Nyonya muda handphone anda terus berdering." Ucap bik Tati masuk ke dalam kamar membawakan handphone Merlisa yang tertinggal di lantai bawah.
Merlisa segera meraih handphone nya di tangan bik Tati, dan segera menggeser warna hijau di layar handphone nya.
" Ya hallo Raf, bagaimana ada kabar?" ucap Merlisa to the poin.
" Kakak ipar segera ke rumah utama Sebastian, ada kabar dari kak Arga." Sahut Rafi dan segera memutuskan telphone nya tanpa menunggu Merlisa menjawab.
" Salwa ayo kita ke rumah utama Sebastian, tadi kata Rafi ada kabar dari arga." Ajak Merlisa semeringah.
" Nona paling tidak harus makan meski sedikit, dan nona liat penampilan nona berantakan sekali. Apa nona tidak malu bertemu tuan muda dengan berpenampilan seperti itu." Sahut Salwa.
" Kau benar juga Salwa." Ucap Merlisa melihat penampilannya sendiri yang sangat kacau.
"Sini berikan piringnya, aku bisa makan sendiri." Ucap Merlisa lagi sambil mengambil piring yang sudah berisi nasi dan lauknya.
Merlisa makan dengan lahapnya, dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Kini waktu sudah menunjukan jam 11: 30 malam, Merlisa dan Salwa masih dalam perjalanan menuju kediaman Sebastian, Salwa yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan Merlisa tidak berbicara sedikitpun, pandangannya terus menatap keluar jendela.
" Salwa kenapa terlihat sepi sekali." Ucap Merlisa saat sudah tiba di kediaman Sebastian pada pukul jam 12 malam.
" Mungkin penghuninya sudah pada tidur atau sedang menunggu di dalam nona." Sahut Salwa.
Merlisa dan Salwa turun dari mobil.
" Kok gelap." Ucap Merlisa saat membuka pintu.
Merlisa hanya tertegun tidak bereraksi apapun. Ia melihat ada kedua mertuanya papa Fandi, mama Wina, kedua kakak kembarnya Andri dan Indri, Rafi, Dimas, ke dua sahabatnya Anggi dan Natan, dan orang yang paling ia cemaskan sedang berdiri di hadapannya dengan tersenyum manis.
" Apa maksud semua ini." Ucap Merlisa.
" Selamat ulang tahun sayang." Ucap mama Wina menghampiri Merlisa memeluknya dan mencium kening Merlisa.
" Jadi kalian semua sudah sekongkol mempempermainkanku, terus mama malah ikut - ikutan, ini gila namanya." Kesal Merlisa.
" Maafin mama Sayang, ini semua ide suamimu, mama hanya ikutin aja." Ucap mama Wina.
" Iya dek ini semua ide suami kamu." Sahut Andri.
" Aku hanya mengikuti perintah kakak ipar." Ucap Rafi mengangkat kedua tangannya.
Merlisa menoleh pada Salwa.
" Maaf nona, aku hanya mengikuti perintah." Ucap Salwa menunjukan dua jarinya membentuk huruf V.
" Kenapa semua menyalahkanku, kalian jugakan setuju dengan rencanaku." Ucap Arga.
Dengan tatapan tajam Merlisa menghampiri Arga.
" Sayang maafkan aku ya, aku hanya ingin membuat pesta kejutan untukmu." Ucap Arga salah tingkah karena sudah mendapatkan tatapan tajam dari Merlisa.
Merlisa semakin mendekat pada Arga, Arga hanya menyengir kuda.
" Syukurin elo bro, habis loe di terkam dengan si macan betina." Ejek Andri yang mendapat tatapan tajam Arga.
" Sayang selamat ulang tahun ya istriku, yuk kita tiup lilin dulu." Ucap Arga memegang sebelah bahu Merlisa, dan Merlisa menepis tangan Arga.
__ADS_1
Merlisa langsung memeluk tubuh Arga erat, dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Arga.
" Kau sungguh jahat denganku, kau sudah membuatku gila! Aku rasa ingin mati saja saat mendengar kecelakan pesawat tadi. Kau benar - benar jahat tuan Arga Sebastian hiks hiks." Ucap Merlisa dengan tangisnya, ia terus menangis sambil memukul dada Arga. Kini hatinya menghangat ketika berada di dalam dekapan Arga.
" Kau sengguh tega denganku hiks hiks." Ucap Merlisa dengan bibir bergetar.
" Sayang maafkan aku, sudah jangan menangis ya. Aku tidak apa - apa. Aku hanya mengikuti permainanmu sayang." Sahut Arga.
" Permainan apa? justru kamu yang sudah mempermainkanku, huh!" ucap Merlisa.
"Lain kali kalau mau khawatir dan cemas jangan parno dulu sayang, pastikan dulu kebenarannya." Ucap Arga.
"Maksudnya?" tanya Merlisa dengan suara serak karena terus menerus menangis.
" Tadi waktu di televisi pesawat apa yang jatuh ke laut?" tanya Arga pada Merlisa.
" Pesawat komersial." Jawab Merlisa.
" Dan aku tidak menggunakan pesawat itu sayang, aku menggunakan pesawat jet pribadi keluarga Sebastian. Apa kamu lupa dengan hal itu hem!" Ucap Arga menangkupkan kedua tangannya pada pipi Merlisa.
" Tapi kenapa kamu dari kemarin tidak memberi kabar sama sekali denganku." Kesal Merlisa.
" Karena aku sudah begitu merindukanmu sayang, aku terus menerus bekerja supaya aku bisa secepatnya menyelesaikan urusanku dan bisa pulang untuk menemuimu, dan Andri juga menghubungiku kalau kamu akan berulang tahun, kami berencana ingin membuat surprise untukmu. Saat aku ingin mengabarimu aku lupa tidak mengecek handphone ku yang sudah habis dayanya. Dan memang ada sedikit kendala saat tadi malam aku ingin pulang ke sini ternyata tidak bisa karena cuaca buruk, meski aku memaksa untuk melakukan penerbangan malam itu juga. Mau tidak mau akhirnya aku menginap di bandara, baru jam 4 pagi aku bisa pulang sayang." Jelas Arga.
" Lalu mengapa kamu tidak mengabariku saat sudah sampai?" tanya Merlisa.
" Karena sebelumnya Rafi sudah menghubungi kalau kau menanyakan aku pada Rafi, dan kata Rafi Salwa memberi tau kan kalau kamu kaget saat melihat berita tentang jatuhnya pesawat dan mengira aku salah satu korban dari pesawat jatuh itu. Dan aku mengubah rencana surprise untukmu sayang." Jelas Arga lagi.
" Ya memang kau telah sukses membuatku gila tuan." Ketus Merlisa.
" Maafkan aku ya sayang, maaf telah membuatmu menangis." Ucap Arga memeluk Merlisa.
" Eeehhhmmm udah ya pelukannya, nanti di lanjut lagi kangen - kangenannya, ayo kita tiup lilin dulu." Ajak mama Wina. Indri membawa kue ulang tahun dengan lilin yang sudah menyala.
Mereka bernyanyi selamat ulang tahun untuk Merlisa, tak henti - hentinya Merlisa tersenyum sesekali mengusap air matanya yang akan terjatuh.
" Selamat ulang tahun adek ku sayang." Ucap Andri memeluk Merlisa.
" Wooy udah dong peluk - peluknya, istri gue itu bro." Protes Arga.
" Pelit loe!" Sahut Andri.
" Selamat ya sayang." Ucap papa Fandi memeluk Merlisa.
"Iya pa, terima kasih." Sahut Merlisa.
" Selamat ulang tahun dek." Ucap Indri, Dimas pun ikut menyalami Merlisa.
" Hei Ca, selamat ulang tahun ya sob." Ucap Anggi memeluk Merlisa, sedangkan Natan hanya menyalami Merlisa tidak berani memeluk Merlisa karena takut Arga Marah.
" Kakak ipar selamat ulang tahun ya." Ucap Rafi memeluk Merlisa.
" Eeehhmmm." Arga berdehem.
" Ye elah cuma dikit doang kak, pelit banget." Ucap Rafi yang mendapat tatapan tajam dari Arga.
" Kamu tu nyebelin banget ya Raf, udah ikut - ikutan ngerjain aku. Gak aku restuin pacaran dengan Anggi tau rasa kamu." Ancam Merlisa.
" Aahh apaan si elo Ca." Sahut Anggi tersipu malu.
Dan acara mereka di lanjutkan dengan barbeque dihalaman belakang.
Suasana kekeluargaan yang hangat terdengar canda tawa di antara mereka.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa berikan vote, like, dan komennya ya 💪😘🙏