
Merlisa dan Arga memakan bubur jamur bersama sampai tidak tersisa.
" Aku mau kau lebih mengurus semua keperluanku saja, masalah yang lainnya biar art yang mengurusnya." Ujar Arga setelah selesai menyantap sarapannya.
" Maksud mu?" tanya Merlisa menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti.
" Kau hanya melayani semua keperluanku saja, masalah pekerjaan di rumah ini biar art yang akan mengurusnya, nanti siang salah satu art datang dari rumah utama Sebastian." Ucap Arga.
" Baiklah." Sahut Merlisa, ia tidak keberatan dengan permintaan Arga karena memang sudah seharusnya ia melayani suaminya dengan baik.
" Dan mulai sekarang kau akan satu kamar denganku." Ucap Arga lagi.
" Kenapa? meski kita pisah kamar aku akan tetap melayani semua ke butuhanmu kok." Tolak Merlisa.
" karena kau adalah istriku." Sahut Arga.
" Cih, sejak kapan kau menganggapku sebagai istrimu." Ucap Merlisa.
" Sejak saat ini, bersikaplah layaknya suami istri pada umumnya." Ucap Arga menatap mata Merlisa dalam.
Merlisa menempelkan sebelah punggung tangannya pada kening Arga.
" Tidak panas." Gumam Merlisa.
" Kau sedang apa?" tanya Arga.
" Memeriksa suhu tubuhmu." Sahut Merlisa polos.
" Untuk apa?" tanya Arga lagi, karena tidak mengerti maksud dari Merlisa.
" Pagi ini kau sangat berbeda, aku takut kau demam lagi seperti semalan." Ucap Merlisa.
Arga menghela nafas secara kasar.
" Mulai saat ini, izinkan aku belajar untuk mencintaimu." Ucap Arga menatap wajah Merlisa secara intens.
Deg, jantung Merlisa berpacu dengan kencang saat mendenger ucapan Arga.
" Ma maksud kamu apa berbicara seperti itu? bukannya kau sangat mencintai mak lampir ehh maksudku wanitamu itu." Ucap Merlisa gugup.
Arga membungkam bibir Merlisa dengan bibirnya, me**at habis bibir merah Merlisa, Merlisa hanya membelalakan matanya tanpa membalas ci**an Arga.
" Jangan sebut lagi wanita itu, sekarang yang ada hanya aku dan kamu." Ucap Arga datar, saat ciuman mereka terlepas.
" Tapi kenapa? bukannya kau begitu me...." Ucap Merlisa terpotong, karena Arga sudah menempelkan satu jarinya ke bibir Merlisa, pertanda Merlisa jangan berbicara lagi.
" Aku tidak mau kau membahas wanita itu lagi, atau aku akan menghukum mu lagi." Ucap Arga, Merlisa langsung mengangguk cepat.
" Aku mau istirahat lagi, setelah beberapa hari ini aku terus bekerja keras sekarang aku ingin mengistirahatkan tubuhku." Ucap Arga menarik tangan Merlisa.
__ADS_1
" Ya sudah kalau kau ingin beristirahat, kenapa kau juga menarik tanganku." Ucap Merlisa.
" Kau juga harus istirahat, aku tahu kau semalam sudah merawatku dan terjaga sepanjang malam." Sahut Arga mengajak Merlisa merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sama dengan Arga.
Merlisa ragu untuk naik ke tempat tidur yang sama dengan Arga.
" Aku tidak akan berbuat macam - macam denganmu, aku akan menunggu sampai kau siap istriku." Ucap Arga tersenyum.
Deg, jantung Merlisa kembali berdebar saat Arga memanggilnya dengan sebutan istriku.
Kenapa dia begitu manis sekali dengan senyumannya itu, kemana perginya seorang Arga Sebastian yang angkuh itu, kalau seperti ini bisa - bisa aku akan sulit menolak pesona pada dirinya. Batin Merlisa.
" Ayo naik, kenapa bengong di situ." Ucap Arga membuyarkan lamunan Merlisa.
" I iya." Sahut Merlisa singkat.
Arga dan Merlisa merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur, karena ini weekand jadi hari ini mereka tidak masuk bekerja.
" Bolehkah aku tidur dengan memelukmu?" tanya Arga yang di angguki Merlisa pelan.
Arga tersenyum dan segera membawa Merlisa pada dekapannya.
" Terima kasih." Ucap Arga lagi.
" Untuk apa?" tanya Merlisa.
" Untuk semalam, kau sudah merawatku." Sahut Arga.
" Hheemm." Sahut Arga singkat dengan memejamkan matanya.
" Aiihh selalu saja mengeluarkan jurus andalannya." Kesal Merlisa dengan jawaban singkat dari Arga.
Tidak membutuhkan waktu lama Merlisa sudah tertidur pulas di atas dada bidang Arga, dekapan Arga membuat Merlisa begitu nyaman.
Arga mengelus rambut Merlisa, dan sesekali mencium pucuk kepala Merlisa. Dan tanpa terasa ia juga menyusul Merlisa ke dalam mimpi indahnya.
******
Tiga hari Merlisa tidak masuk bekerja, karena Arga melarangnya. Dengan alasan Merlisa harus merawatnya yang sedang sakit, padahal Merlisa tau betul Arga sudah baik - baik saja. Tapi apalah daya, ia harus menuruti perintah dari suami sekaligus bosnya itu.
"Aku berangkat duluan ya." Pamit Merlisa pada Arga saat sarapannya telah selesai.
" Tidak bisa." Ucap Arga, Merlisa membalikan tubuhnya menghadap Arga.
" Jangan bilang kalau kau masih sakit, aku sudah beberapa hari ini tidak masuk bekerja." Protes Merlisa.
" Siapa yang bilang aku sakit, kau berangkat bersamaku, jangan naik ojek online lagi." Ucap Arga.
" Nanti semua kariawan kantor akan heboh kalau kita berangkat bersama." Tolak Merlisa.
__ADS_1
" Aku tidak perduli." Sahut Arga santai.
Merlisa memutar bola matanya malas, sudah enggan berdebat dengan Arga lebih baik ia yang mengalah.
Sampainya di parkiran gedung Sebastian group, Merlisa hendak turun dari mobil Arga.
" Tunggu sebentar." Ucap Arga menghentikan Merlisa ingin turun dari mobil.
" Ada apa lagi, nanti ada orang yang melihat kita." Sahut Merlisa.
" Kau melupakan sesuatu." Ucap Arga.
Merlisa mengingat - ingat apa yang ia lupakan, dengan cepat meraih tangan Arga dan mencium punggung tangannya, Arga membalas Merlisa dengan mencium kening Merlisa lama, seketika darah Merlisa berdesir merasakan ke hangatan yang di berikan oleh Arga padanya.
" Jangan terlalu cape kerjanya ya." Ucap Arga tersenyum sambil mengelus sebelah pipi Merlisa, Merlisa hanya mengangguk dan tersenyum sebelum pergi meninggalkan Arga yang masih berada di dalam mobil miliknya.
" Woyy pagi - pagi udah senyum - senyum sendiri, kesambet loe." Ucap Natan tiba - tiba, saat Merlisa berjalan menuju lift.
"Sialan loe Nat, ngagetin gue aja loe." Kesal Merlisa mengusap dadanya.
" Lagian pagi - pagi udah ngelamun loe, pake senyum - senyum segala lagi." Ucap Natan.
" Yyee syirik aja loe Nat." Ucap Merlisa.
"Selama tiga hari loe kemana Ca gak masuk kerja, handphon loe juga gak aktif." Kesal Natan.
" Hehehe maaf gue ada urusan, terus gue juga kurang enak badan Nat." Bohong Merlisa.
" Oo seperti itu, maaf juga ya Ca, gue dengan Anggi gak jenguk loe." Ucap Natan.
" Gak apa - apa Nat, gue duluan ya Nat." Ucap Merlisa keluar dari lift, memang ruang kerja Merlisa berbeda satu lantai dengan Natan.
Merlisa mulai sibuk dengan pekerjaannya, yang sebelumnya sudah di berondong dengan sejuta pertanyaan dari mulut Anggi, tentang ia tidak masuk bekerja dan tidak mengaktifkan handphonnya.
Jam makan siangpun tiba, Merlisa, Anggi, dan Natan ingin menuju kantin untuk mengisi perut mereka.
" Mba Merlisa!" teriak Angga seketaris Arga.
Dan ke tiga sekawan itu menoleh ke sumber suara.
" Bapak memanggil saya?" tanya Merlisa saat Angga sudah berada di depannya.
" Iya mba, tadi saya mencari mba di ruangan mba Merli tapi sudah tidak ada orang." Ucap Angga.
" Memangnya ada apa ya pak, pak Angga mencari saya?" tanya Merlisa lagi.
" Mba di panggil oleh pak Arga untuk segera ke ruangannya." Ucap Angga.
Merlisa hanya mengerutkan dahinya, sedangkan Anggi dan Natan saling menatap pada Merlisa dengan tatapan penuh selidik.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejaknya 👍😁🙏💪