Kakak Iparku Mantan Kekasihku

Kakak Iparku Mantan Kekasihku
Bab 56


__ADS_3

"Sayang bagaimana kamu bisa tau aku sedang bersama dengan wanita itu?" tanya Arga.


"Entah kenapa perasaanku mendadak tidak enak saat mendengar percakapan wanita yang sedang menelphon di toilet kampus, aku memutuskan untuk mencari tau wanita yang baru saja menelphon, dan wanita itu ternyata si mak Lampir. Entah Kenapa aku semakin merasa ada sesuatu yang sedang si mak Lampir rencanakan, dan aku mengikutinya bersama Salwa." Jelas Merlisa.


"Lalu?" tanya Arga semakin penasaran.


"Lalu aku mengikuti si mak Lampir itu, memperhatikannya dari jauh, sebelum ia berpura - pura menabrakmu, ia sudah memberikan sebotol kecil obat yang di masukan ke dalam kopi kamu sayang." Ucap Merlisa.


"Mungkin saat itu aku bisa saja menghampiri si mak Lampir itu, dan mematahkan tangannya karena sudah berani - beraninya menggoda suamiku, namun tidak aku lakukan. Dia bermain cantik untuk menjebakmu, aku juga akan bermain cantik juga sayang." Ucap Merlisa lagi tersenyum jahat.


"Memang apa yang kamu lakukan pada wanita itu sayang?" tanya Arga.


"Aku mengelabui pelayan yang membawakan minuman untuk kalian, dengan cara mengalihkan perhatiannya, dan di saat pelayan itu sedang fokus berbicara denganku, Salwa mencampurkan obat pencahar ke dalam orange juice milik si mak Lampir itu." Jelas Merlisa lagi.


"Hahahaha kau sungguh luar biasa sayang, aku semakin cinta padamu." Ucap Arga menciumi wajah Merlisa.


"Pasti sekarang si mak Lampir itu sedang lemas akibat harus bolak balik ke kamar mandi." Ucap Merlisa. "Tapi aku juga sempat khawatir sayang." Ucap Merlisa lagi sendu.


"khawatir kenapa?" tanya Arga sambil mengelus - elus rambut Merlisa.


"Aku khawatir aku terlambat datang untuk membawamu, aku takut kamu akan melakukannya dengan si mak Lampir itu." Ucap Merlisa sendu.


"Aku juga berusaha untuk melawan reaksi obat itu sayang, aku juga tidak mau melakukannya bersama wanita itu. Lalu bagaimana kamu bisa masuk ke dalam kamar itu?" tanya Arga.


"Awalnya aku menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada resepionis namun ia tidak percaya, cukup lama aku meyakinkannya hinga manager hotel menghampiriku dan berat hati aku membawa nama keluarga Sebastian untuk bisa dapat membuka kamar tersebut." Ucap Merlisa.


"Lalu mereka percaya begitu saja?" tanya Arga.


"Tidak, aku melakukan video call dengan Rafi agar mereka melihat siapa yang sedang aku hubungi."Ucap Merlisa.


"Berarti Rafi tau apa yang sedang terjadi?" tanya Arga.


"Ya habis mau gimana lagi, aku tidak ada pilihan lain." Sahut Merlisa.


"Ya sudah tidak apa - apa, terima kasih ya sayang." Ucap Arga mencium pucuk kepala Merlisa.


"Iya Sayang, aku hanya berusaha menjaga keutuhan rumah tangga kita sayang, dari orang - orang yang berusaha mengganggu rumah tangga kita." Ucap Merlisa.


"Akupun sama sepertimu, lain kali aku akan lebih berhati - hati lagi, terutama pada wanita itu." Ucap Arga.


Dan keduanya saling berpelukan di atas tempat tidur, mereka hanya di tutupi dengan selimut.


Arga mengerejapkan matanya, ia dan Merlisa tertidur di kamar hotel setelah lelah melakukan olahraganya bersama Merlisa.


"Sudah sore rupanya." Gumam Arga, lalu ia tersenyum melihat Merlisa yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Pasti kamu sangat lelah ya mengimbangiku tadi sayang." Gumam Arga lagi merapihkan anak rambut Merlisa yang menutupi wajahnya.


Arga bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, yang sebelumnya mengecup bibir Merlisa lembut, setelah beberapa saat Arga keluar dari kamar mandi menggunakan kimono untuk menutupi tubuhnya.


"Belum bangun juga kamu sayang." Gumam Arga tersenyum pada Merlisa yang masih memejamkan matanya.


Arga menatap keluar jendela kamar hotel, sambil menggu Angga membawakan pakaian untuknya dan Merlisa.


"Sayang kenapa tidak membangunkanku." Ucap Merlisa memeluk tubuh kekar Arga dari belakang, hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Aku tidak mau mengganggu tidurmu sayang, pasti kamu sangat lelah melayani ke buasanku." Goda Arga sambil mencolek dagu Merlisa saat sudah membalikkan badannya menghadap Merlisa.


"Iya kau begitu buas suamiku." Ucap Merlisa.


"Tapi kamu sukakan." Sahut Arga mengedipkan sebelah matanya. Merlisa hanya tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Sayang sepertinya Angga sudah datang, kamu masuk ke kamar mandi, aku mau buka pintunya." Ucap Arga saat terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Iya sayang." Sahut Merlisa berlari menuju kamar mandi.


"Ini pak bos pesanan anda." Ucap Angga saat pintu kamar hotel sudah terbuka.Ia menyerahkan 2 paperbag kepada Arga.


"Terima kasih Ga, bagaimana kamu sudah mengatur ulang jadwalku besok?" tanya Arga, karena ulah Vanesa Arga harus meminta angga untuk mengatur ulang jadwalnya.


"Sudah pak, dan ada beberapa meeting penting yang sudah di wakilkan oleh pak Rafi." Ucap Angga.


"Ya sudah kalau begitu, kamu bisa pulang." Sahut Arga.


"Saya permisi pak." Ucap Angga.


Setelah membersihkan diri, Merlisa dan Arga memakai pakaian yang Angga bawakan. Dan Arga dan Merlisa pergi meninggalkan hotel.


"Sayang aku mau itu, tolong berhenti." Ucap Merlisa menunjuk pedagang rujak di pinggir jalan.


"Iya sayang." Sahut Arga. Dan Arga menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Kamu tunggu sini ya, biar aku yang belikan." Ucap Arga lagi yang di angguki Merlisa.


"Bang mau rujaknya 2 ya, jangan pedas - pedas" Ucap Arga saat sudah berada di penjual rujak.


"Rujak untuk ibu hamil atau bukan den?" tanya penjual rujak.


"Emang beda - beda ya bang?" tanya balik Arga.


"Sama aja si den, cuma kalau untuk ibu hamil biasanya tidak pakai nanas." Sahut penjual rujak.


Apa mungkin istriku sedang hamil, tapi jika aku menanyakannya nanti ia akan merasa tertekan karena aku membahas tentang ke hamilan. Batin Arga.


"Yang satu untuk ibu hamil, yang satu di komplitin aja bang." Sahut Arga dan penjual rujak menyiapkan pesanan Arga.


"Ini bang, terima kasih." Sahut Arga yang memberikan satu lembar uang seratus ribu pada penjual rujak.


"Ini den kembaliannya!" teriak penjual rujak yang melihat Arga sudah melangkahkan kakinya beberapa langkah.


"Ambil aja bang, itu rejeki abang. Doakan saja istri saya agar benar - benar hamil." Sahut Arga.


"Terima kasih den, semoga cepat - cepat di beri momongan." Ucap pedagang rujak.


"Amiinnn."


Dan Arga masuk ke dalam mobil dan memberikan rujak pada Merlisa.


"Sayang jangan di makan dulu rujaknya, kita makan dulu ya." Ucap Arga." Mau makan apa sayang?" tanya Arga.


"Aku pingin makan di warung tenda, tempat biasa aku sering kunjungi, aku sudah lama tidak ke sana." Ucap Merlisa.


"Warung tenda, kamu yakin sayang?" tanya Arga memastikan, karena Arga tidak terbiasa makan di tempat seperti itu.


"Ho'oh, nanti kamu tidak menyesal makan di sana, makanannya enak dan yang paling penting murah." Ucap Merlisa, Arga hanya menggelengkan kepalanya.


Merlisa dan Arga sudah sampai ke warung tenda yang ia tuju.


"Eehh neng Merlisa baru ke lihatan, kemana aja neng?" Sapa penjual warung tenda.


"Iya mang lagi sibuk, jadi tidak sempat ke sini." Sahut Merlisa.


"Mau pesan apa neng?" tanya penjual warung tenda.

__ADS_1


"Sayang mau pesan apa?" tanya Merlisa pada Arga.


"Samain aja denganmu sayang." Sahut Arga.


"Yang biasa aja mang, di tambah ayam goreng, cumi saus asam manis, dan ikan bakarnya mang." Ucap Merlisa.


"Siap neng Merlisa."


"Sayang sepertinya kamu sudah kenal sekali dengan penjualnya?" tanya Arga.


"Iya cukup kenal si, aku sering ke sini sejak masih sekolah SMA, dari sekolah SMA aku kerja part time di restoran mamanya teman aku, dan aku sering lewat sini untuk makan setelah pulang bekerja." Ucap Merlisa.


"Kenapa Andri membiarkanmu kerja part time seperti itu, huh!" kesal Arga, karena merasa iba dengan Merlisa, membayangkan Merlisa harus kerja keras sejak SMA.


"Kak Andri dan kak Indri kan kuliah di luar negri waktu aku sekolah SMA, jadi mereka tidak tau. Meskipun tau aku pasti akan tetap bekerja." Sahut Merlisa.


Kau sungguh gadis luar biasa sayang, kau gadis yang tangguh. Aku berjanji akan membahagiakan mu dengan segenap jiwaku. Batin Arga sambil mengelus - elus pucuk kepala Merlisa.


"Sayang ayo di makan, mau sampaikan kamu terus menatapku." Ucap Merlisa,sontak membuyarkan lamunan Arga.


"Iya sayang, aku sudah merasa kenyang saat melihat wajahmu." Goda Arga.


"Cukup tuan Sebastian jangan mulai menggombal, kita makan dulu, aku sudah begitu lapar." Ucap Merlisa.


"Hahaha iya istri kesayanganku." Sahut Arga.


Keduanya menikmati makanan yang tadi Merlisa pesan.


"Bagaimana enak?" tanya Merlisa pada Arga.


"Iya enak, tidak kalah enak di restorant favoritku." Ucap Arga.


"Yang terpenting di sini murah meriah sayang." Sahut Merlisa, Arga hanya manggut - manggut sambil mengunyah makanan.


"Pakai tangan lebih nikmat lagi sayang." Ucap Merlisa yang sudah makan pakai tangan langsung.


"Tidak, nanti tanganku kotor." Tolak Arga.


"Aaaa sayang." Ucap Merlisa menyuapi makanan dengan tangannya langsung, Arga dengan senang hati menyambutnya.


"Iya enak juga langsung makan seperti ini, apalagi disuapi dengan tanganmu sayang." Ucap Arga.


"Aahh kau ini."


"Berapa mang semuanya?" tanya Arga pada penjual tenda, saat mereka sudah menyelesaikan makan malamnya.


"95 ribu a." Sahut pedagang penjual warung tenda.


"Yang benar mang, gak salah hitung?" tanya Arga lagi, karena menurut Arga makanan sebanyak itu hanya di hargai sangat murah.


"Tidak a, memang segitu harganya, ini sudah sesuai dengan yang tadi neng Merlisa pesan." Ucap pedagang warung tenda, ia berpikir jika makanannya terlalu mahal.


"Ini mang." Ucap Arga menyerahkan 2 lembar seratus ribuan.


"A ini kebanyakan." Ucap pedagang warung tenda itu saat melihat uang yang diberikan oleh Arga.


"Ambil saja mang, ini rejeki untuk mamang, karena masakan mamang sangat enak." Ucap Arga.


(sebutan mang/mamang itu sering di gunakan oleh orang sunda untuk orang yang lebih tua,yang di artikan seperti om atau paman).


"Terima kasih banyak a." Sahut pedagang warung tenda.

__ADS_1


Merlisa hanya tersenyum melihat Arga yang sedang berbicara pada mamang penjual warung tenda.


Bersambung....


__ADS_2