Kakak Iparku Mantan Kekasihku

Kakak Iparku Mantan Kekasihku
Bab 60


__ADS_3

Dengan sabar Andri menyuapi Salwa dan membersihkan sisa makanan yang menempel di bibir Salwa menggunakan tisu.


"Terima kasih tuan, saya sudah kenyang." Ucap Salwa pada Andri.


"Baiklah kalau seperti itu." Sahut Andri meletakan mangkuk berisi bubur ayam.


"Istirahatlah, aku akan menjagamu." Ucap Andri.


"Tuan sebaiknya pulang saja, aku tidak apa - apa, di sini ada dokter dan suster yang akan menjagaku." Ucap Salwa.


"Sudah jangan terus mengusirku pergi dari sini, karena aku tidak akan pergi dari sini Salwa." Sahut Andri.


"Tapi tuan...." Ucap Salwa terhenti saat jari telunjuk Andri sudah menempelkan pada bibir Salwa.


"Tidak ada kata tapi Salwa, pokoknya aku akan terus menjagamu di sini." Sahut Andri.


"Terima kasih tuan, terima kasih telah mendonorkan darah anda untuk saya." Ucap Salwa.


"Sudahlah Salwa aku sudah bosan mendengar kamu berterima kasih terus, itu tidak seberapa untukku bahkan kalau perlu nyawaku juga akan aku tukar demi ke selamatanmu." Ucap Andri.


"Tuan kenapa kau seperti ini pada saya, jangan buat saya berhutang budi pada anda." Sahut Salwa.


"Kau tidak perlu merasa berhutang budi padaku Salwa, sudah kamu istirahat agar kamu cepat sehat kembali." Ucap Andri yang di angguki oleh Salwa.


Salwa menyelimuti seluruh tubuhnya hingga menutupi wajahnya, sedangkan Andri mendudukan tubuhnya di atas sofa yang berada di kamar rawat Salwa sambil memainkan benda pipih miliknya.


****


Pagi hari Merlisa dan Arga sudah sampai ke rumah sakit untuk bertemu dengan Salwa.


"Salwa bagaimana ke adaanmu?" tanya Merlisa saat sudah masuk ke dalam ruang inap Salwa, Salwa sedang duduk di atas tempat tidur sambil bersandar.


"Sudah lebih baik nona, bagaimana dengan ke adaan nona, nona baik - baik saja kan?" tanya Salwa.


"Aku tidak apa - apa Salwa, terima kasih kamu telah melindungiku." Ucap Merlisa sambil menggenggam sebelah tangan Salwa.


"Tidak nona, ini kewajibanku sebagai bodyguard anda, malah saya minta maaf nona saya tidak bisa menjaga anda sampai akhir, bagaimana saat saya sudah di tembak, nona di bawa pergi oleh para lelaki itu. Saya tidak akan bisa melindungi nona lagi." Ucap Salwa dengan penuh rasa bersalah.


"Tidak Salwa aku sangat berterima kasih padamu, meski kamu sudah terkena tembakan tapi kamu masih kuat melawan pria yang berusaha membawaku pergi." Ucap Merlisa.


"Itu sudah tugas saya nona."


"Salwa." Ucap Arga.


"Tuan maafkan saya membuat nona Merlisa dalam bahaya." Ucap Salwa dengan menundukkan kepala.


"Sudahlah Salwa, kau bekerja dengan baik. Aku tidak menyalahkan mu dalam kejadian kemarin, bahkan kamu sudah mengorbankan kan nyawamu sendiri demi melindungi istriku." Sahut Arga.


"Sekarang kamu ceritakan bagaimana kejadiannya?" tanya Arga.


Salwa menceritakan kejadian yang ia alami dengan Merlisa kemarin, tidak ada satupun yang terlewatkan oleh Salwa.


"Apa kamu mengenal dari 8 orang pria itu?" tanya Arga.

__ADS_1


"Setelah melihat 8 orang pria itu, saya curiga mereka hanya orang bayaran tuan, saat saya baku hantam dengan mereka saya melihat tato kepala tengkorak di belakang telinga sebelah kiri mereka tuan, dan saya tau geng apa itu." Ucap Salwa, karena selain mempunyai bela diri Salwa juga mempunyai pengliatan dan pendengaran yang tajam.


"Menurutmu geng apa itu?" tanya Arga.


"Itu geng tengkorak tuan, geng tersebut pembunuh berdarah dingin tuan, mereka siap membunuh siapa saja, dan bayaran untuk mereka tidaklah murah, hanya orang yang mempunyai banyak uang saja seperti kalangan tuan Arga." Jelas Salwa.


"Terima kasih Salwa, saya akan menyelidiki siapa orang yang telah menyuruh geng tengkorak itu." Sahut Arga.


"Sayang mulai sekarang kau tidak boleh jauh dariku, aku tidak mau ada kejadian seperti kemarin lagi." Ucap Arga pada Merlisa sambil merangkul bahu Merlisa.


"Hei kalian sudah datang?" Ucap Andri yang baru masuk ke dalam ruang rawat Salwa setelah membeli makanan dan pakaian untuknya dan Salwa.


"Sudah, kakak habis dari mana?" tanya Merlisa.


"Kakak habis beli ini." Sahut Andri mengangkat satu kantung plastik makanan dan paper bag berisi pakaian.


"Kalian sudah sarapan?" tanya Andri dan Merlisa.


"Sudah kak." Jawab Merlisa.


"Oo ya sudah, emang kakak juga beli untuk kakak dan Salwa.Salwa ini aku juga beli makanan untukmu,takut kamu tidak suka dengan makanan rumah sakit." Ucap Andri.


"Terima kasih tuan." Sahut Salwa.


"Kalau gitu ngapain tadi kakak tanya, huh!" kesal Merlisa.


"Hahaha gitu aja kamu ngambek dek." Ucap Andri.


Sedangkan Andri dan Arga duduk di sofa sambil berbincang - bincang.


"Salwa aku suapi ya." Ucap Merlisa hendak ingin menyuapi Salwa.


"Tidak usah nona saya bisa sendiri, saya sudah lebih baik." Tolak Salwa.


"Ya sudah kalau gitu, nih aku ambilkan." Sahut Merlisa.


"Terima kasih nona."


Di saat Arga sedang berbincang dengan Andri, ponsel Arga berdering ada panggilan telphon masuk.


"Sayang aku keluar sebentar ya." Ucap Arga pada Merlisa untuk menerima panggilan dari seseorang.


"Ya hallo apa ada kabar?" Ucap Arga saat berbicara di sambungan telphone dengan orang suruhannya.


".......... ......"


"Kau yakin dengan kabar yang kau sampaikan?" tanya Arga lagi.


".........."


"Baiklah, terus awasi dan segera kabari secepatnya." Ucap Arga dan sambungan telphone terputus.


Siapa dia sebenarnya, aku tidak begitu mengenalnya tapi kenapa dia ingin melukai Merlisa. Ada - ada saja masalah, padahal satu minggu lagi kami ingin mengadakan resepsi. Batin Arga sambil duduk di atas kursi di koridor rumah sakit.

__ADS_1


"Sayang ada apa?" tanya Merlisa yang melihat Arga menundukan kepalanya sambil menyengkram rambutnya dengan kedua tangannya.


"Tidak ada apa - apa sayang, hanya ada sedikit masalah di perusahaan." Sahut Arga sambil tersenyum manis.


Aku tau kamu sayang, aku tau kau sedang tidak baik - baik saja. Batin Merlisa.


"Ya sudah kalau gitu. Apa aku bisa membantumu?" tanya Merlisa.


"Tidak perlu, cukup ada di sampingku dan selalu tersenyum untukku, itu sudah cukup sayang." Sahut Arga mencolek dagu Merlisa.


"Kalau itu si pasti sayang." Sahut Merlisa sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Arga.


"Kenapa kamu menyusul ke sini?" tanya Arga.


"Abis kamu lama tidak kembali dan aku khawatir denganmu." Sahut Merlisa.


"Ya sudah yuk kita kembali ke ruangan Salwa." Ajak Arga.


Maafkan aku sayang, aku belum bisa mengatakan semua kepadamu, aku tidak mau membuatmu khawatir, aku masih menyelidikinya. Batin Arga sambil menggandeng Merlisa menuju ruang rawat Salwa.


"Dri bisa kita bicara." Bisik Arga pada Andri saat sudah berada di dalam Kamar rawat Salwa. Andri mengangguk meng iyakan.


"Sayang aku dan Andri mau ke kantin dulu ya, mau membeli kopi, kamu mau aku belikan apa?" tanya Arga pada Merlisa.


"Eemmm aku ingin rujak sayang." Ucap Merlisa.


"Sayang rujak lagi!"


"Ho'oh." Ucap Merlisa sambil mengangguk.


"Ya nanti aku carikan." Sahut Arga, sebelum keluar ruangan Arga mencium kening Merlisa.


"uuuhhhuukk uuuhhuukk." Andri terbatuk.


"Iri aja loe bro."


"Abis kalian tuh gak tau tempat." Dengus Andri.


"Hahaha lupa bro." Sahut Arga.


"Dri apakah elo kenal dengan Krisna Wijaya, atau keluarga dari Wijaya?" tanya Arga pada Andri saat mereka berdua sudah berada di kantin rumah sakit.


"Krisna Wijaya? sepertinya aku pernah mendengarnya tapi entah lah gue juga tidak terlalu tau dengan keluarga Wijaya. Memangnya ada apa bro?" Sahut Andri.


"Krisna Wijaya adalah dalang dari penghadangan Merlisa dan Salwa kemarin, yang masih gue selidiki kenapa Krisna Wijaya ingin melukai Merlisa, apa kaitannya dengan Merlisa." Ucap Arga.


"Elo bener juga bro, apa motif dari Krisna Wijaya ini." Sahut Andri.


"Entahlah, gue masih menyelidikinya." Sahut Arga.


"Elo harus berhati - hati bro, sepertinya keluarga Wijaya bukan keluarga sembarangan." Sahut Andri, yang di angguki Arga.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2