
" Heh dasar wanita ja*l*g!" teriak seorang wanita yang masuk dalam ruangan Arga.
Merlisa dan Arga menoleh pada sumber suara yang tidak asing lagi, Merlisa bangun dari pangkuan Arga.
" Maafkan saya pak, tadi saya sudah melarang untuk tidak masuk tapi nona ini memaksa." Ucap Angga menyusul masuk dalam ruangan Arga.
" Ya sudah tinggalkan kami." Sahut Arga datar.
" Sepertinya aku juga harus pergi." Ucap Merlisa saat Angga sudah pergi dari ruangan Arga.
" Baguslah kau cukup tau diri ja* l*ng sepertimu." Ucap Vanesa sinis.
" Hei ! jaga bicaramu!" bentak Arga.
Vanesa memeluk Arga, menyenggol Merlisa saat melewatinya.
" Sayang maafkan aku, aku di jebak pada malam itu." Ucap Vanesa masih memeluk tubuh Arga.
Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka, apa ada hubungannya dengan perubahan sikap si pria bunglon ini. Batin Merlisa.
"Saya permisi dulu." Ucap Merlisa tanpa mendengarkan persetujuan terlebih dahulu dari Arga, ia bergegas pergi dari ruangan Arga, entah kenapa dadanya begitu sesek melihat Arga dan Vanesa berpelukan.
Merlisa tersenyum saat melewati meja Angga.
" Cie abis ketemu sama CEO tampan." Goda Anggi saat Merlisa sudah duduk di meja kerjanya.
" Apaan si Gi, nanti kalau ada yang dengar bagaimana. Bisa - bisa aku di keroyok dengan wanita satu kantor ini." Sahut Merlisa mendelik pada Anggi.
" Hehehe maaf Ca, tadi elo ngpain di sana? kok lama?" tanya Anggi begitu penasaran.
" Gak ada." Jawab Merlisa singkat, mulai fokus pada komputernya.
" Oo sekarang elo udah gak mau terbuka lagi sama gue Ca." Ucap Anggi pura - pura merajuk.
" Emang gak ada apa - apa Gi, tadi gue cuma di suruh ngerjain beberapa laporan yang harus di revisi ulang." Ucap Merlisa beralasan.
" Tapi kenapa harus elo yang sering di panggil ke ruangan CEO tampan itu Ca, kan elo cuma kariawan magang. Apa jangan - jangan dia suka sama elo Ca." Ucap Anggi dengan ke kepoan tingkat tinggi.
" Huuss kalau ngomong gak di saring lagi elo Gi, kalau para pegawai wanita penggila pak Arga dengar bagaimana, huh! jangan tanya gue, tanya sana dengan pak Arga kenapa gue yang di suruh keruangannya." Sahut Merlisa.
" Elo kira gue santan, pake acara di saring. Hehehe kalau yang satu itu mana gue berani Ca." Ucap Anggi cengengesan.
" Makanya jangan kepo, sana kemeja elo Gi, kerja - kerja." Ucap Merlisa.
Di dalam ruangan Arga, Vanesa masih memeluk erat tubuh kekar Arga.
__ADS_1
" Sayang maafkan aku, aku di jebak sayang hiks hiks." Ucap Vanesa menangis.
" Pergi dari sini, aku tidak mau melihat wajahmu lagi." Ucap Arga memasang wajah datar.
" Aku tidak mau pergi dari sini, sebelum kamu memaafkan ku hiks hiks." Sahut Vanesa.
" Aku bilang pergi dari sini! sejak malam itu hubungan kita sudah berakhir Vanesa!" ucap Arga sambil melepaskan pelukan Vanesa.
"Tolong maafkan aku sayang, beri satu kesempatan untukku." Ucap Vanesa memohon.
" Pergi!" bentak Arga sambil menunjuk arah pintu keluar.
Vanesa menghentakan kakinya sebelum keluar dari ruangan Arga.
Aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun, air mataku tidak bisa meluluhkan mu tapi masih banyak cara lain, pokoknya kau hanya milikku Arga Sebastian. Batin Vanesa sambil berjalan keluar dari gedung Sebastian group.
Arga mendudukkan tubuhnya di atas sofa, ia menunduk sambil mengacak - acak rambutnya frustasi.
Flashback on
Pada malam hari Arga sampai ke tanah air, setelah beberapa hari ia pergi keluar negri untuk memantau proyek yang mulai di kerjakan.
Arga memutuskan terlebih dahulu pergi ke arpatemen kekasihnya untuk berniat memberi kejutan padanya, pekerjaan yang seharusnya 7 hari, tapi sudah terselesaikan hanya dalam 5 hari saja.
Karena Arga sudah tau password arpatemen kekasihnya, ia langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Bbrraakkkk suara pintu di tendang kuat oleh Arga, Amarahnya sudah memuncak sampai ke ubun - ubun, melihat kekasihnya memadu kasih dengan pria lain.
Buuukk buukkk, Arga memukul pria yang bersama kekasihnya sampai babak belur.
"Sayang sudah hiks hiks" Ucap Vanesa histeris sekaligus takut, sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
" Ini balasan yang kau berikan kepadaku, hah! aku jijik melihatmu!" bentak Arga.
"Sayang maafkan aku." Ucap Vanesa mencoba mendekati Arga.
"Jangan mendekat! mulai sekarang kita tidak pernah ada hubungan apa - apa lagi." Teriak Arga sambil pergi keluar dari arpatemen Vanesa dengan wajah yang memerah menahan amarah.
Arga memutuskan untuk pergi ke club malam untuk menghilangkan amarahnya.
Sebenarnya Arga tudak pernah menginjakkan kakinya di club malam tapi entah kenapa ia ingin ke sana.
Flashback off
Sepulang bekerja Merlisa sudah berkutat di dapur untuk memasak makan malam yang di bantu oleh art yang bernama bi tati, karena Arga hanya ingin makan masakan Merlisa, menurut Merlisa masakkannya biasa - biasa saja, tapi entah kenapa Arga begitu menyukai masakkannya.
__ADS_1
"Sayang kenapa tidak membalas chatku? terus kenapa pulang terlebih dulu tidak menungguku." Ucap Arga memeluk tubuh Merlisa dari belakang, mencium tengkuk leher belakang Merlisa yang terpang - pang jelas karena rambut Merlisa di gulung ke atas.
Bi tati segera pergi meninggalkan dapur, merasa tidak enak hati melihat kemesraan tuan dan nona mudanya.
"Tadi aku pusing, jadi aku langsung pulang saja." Ucap Merlisa masih mengaduk - aduk masakkan di dalam wajan.
" Kenapa kamu sakit istriku? ayo kita ke rumah sakit." Ucap Arga membalik tubuh Merlisa menghadap pada dirinya, sambil memegang kening Merlisa.
" Tidak perlu." Sahut Merlisa singkat sambil menepis tangan Arga.
"Hei, kenapa wajahmu cemberut seperti itu?" tanya Arga memegang dagu Merlisa agar menatapnya.
" Tidak, aku biasa saja. Ya sudah sana mandi, aku akan siapkan air hangat untukmu." Ucap Merlisa, sambil melangkahkan kakinya meninggalkan dapur, yang sebelumnya mematikan kompor terlebih dahulu.
"Sudah siap air hangatnya." Ucap Merlisa setelah keluar dari kamar mandi.
" Sini sayang, duduk di sini dulu." Ucap Arga menepuk sofa di sampingnya.
" Sudah sana mandi, nanti ke buru dingin airnya." Tolak Merlisa.
Merlisa baru beberapa langkah ingin menuju ruang ganti, namun sudah di gendong oleh Arga seperti membopong sekarung beras.
" Apa yang kau lakukan, turunkan aku!" teriak Merlisa memberontak dalam gendongan Arga.
Arga menjatuhkan tubuh Merlisa ke atas kasur, dan mengkungkung dalam tubuh kekarnya. Pandangan mereka bertemu, dengan tatapan yang saling mengunci.
" Kenapa kau bersikap dingin denganku?" tanya Arga.
" Tidak." Sahut Merlisa singkat, sambil memalingkan wajahnya.
" Bohong! matamu tidak bisa berbohong sayang, aku tau kamu tidak baik - baik saja." Ucap Arga memegang dagu Merlisa, mulai mencium seluruh wajah Merlisa.
" Cukup tuan Sebastian! cukup kau permainkan aku!" Ucap Merlisa.
" Maksudmu ?" tanya Arga.
" Jika kamu mencintai kekasihmu itu, jangan bersikap manis seperti ini denganku, karena aku tau pernikahan kita hanya sampai satu tahun saja kan." Ucap Merlisa.
Arga membuang nafas secara kasar.
" Apa kamu sedang cemburu denganku sayang?" tanya Arga.
" Bukan itu yang aku ingin dengar darimu, huh!" kesal Merlisa.
Arga tersenyum, entah kenapa ia begitu gemas melihat kekesalan Merlisa. Cup cup dua kecupan dipipi Merlisa.
__ADS_1
Bersambung....