Kakak Iparku Mantan Kekasihku

Kakak Iparku Mantan Kekasihku
Bab 58


__ADS_3

Setelah berziarah ke makam mama Diana, Arga dan Merlisa pulang ke arpatemen sudah hampir jam 10 malam.


"Sayang kita mandi bareng yuk." Ajak Arga sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Tapi janji ya hanya mandi saja." Sahut Merlisa.


"Iya mandi sayang tapi sedikit bermain - main juga." Ucap Arga tersenyum menyeringai.


"Saayaannng!" rengek Merlisa.


"Hahhaha iya kita hanya mandi, tapi aku tidak janji denganmu, biasanya tanganku ini suka sekali berpetualang di tubuhmu sayang." Goda Arga, Merlisa hanya menajamkan tatapannya.


"Aaiihh takutnya aku." Goda Arga lagi, sambil pura - pura ketakutan.


Keduanya mandi bersama, ya tentunya bukan hanya sekedar mandi, melainkan berpetualang menyelusuri gunung dan lembah yang menghasilkan kenikmatan untuk keduanya. Arga melakukan petualanggan naik - naik ke puncak gunung, dan Merlisa hanya bisa pasrah.


****


Di tengah malam Merlisa terbangun dari tidurnya, entah kenapa ia begitu ingin makan rujak serut.


"Sayang bangun, temani aku bikin rujak serut yuk." Ucap Merlisa sambil menguncang - guncang tubuh Arga.


"Heeemm."


"Aku ingin sekali makan rujak serut." ucap Merlisa lagi.


"Ini sudah larut malam sayang, besok saja buat rujak serutnyanya sekarang tidur lagi." Ucap Arga dengan mata yang enggan terbuka.


"Ya sudah kalau gak mau temenin aku, aku mau buat sendiri." Ketus Merlisa lalu pergi menuju dapur.


Dengan berat hati Arga membuka matanya, ia segera keluar kamar untuk menyusul Merlisa.


"Sayang kamu sedang apa?" tanya Arga pada Merlisa yang sedang mencari sesuatu di kulkas.


"Aku sedang mencari mangga muda yang aku ambil di rumah papa Hendra." Ucap Merlisa dengan mata yang terus mencari.


"Nah ini dia mangga mudanya." Ucap Merlisa lagi.


"Sayang kamu yakin malam - malam begini ingin makan mangga muda?" tanya Arga, baru melihat mangga mudanya saja sudah membuat Arga nyengir membayangkan betapa asamnya mangga muda itu.


"Sudah jangan banyak tanya tolong bantu aku mengupas buahnya sayang." Pinta Merlisa.


Dan Arga segera membantu sang istri untuk mengupas buah dan menyerut buahnya.


"Sudah selesai, apa kamu mau sayang." Ucap Merlisa.


"Tidak, kamu saja." jawab Arga cepat.


"Ya sudah."


Merlisa menyantap rujak serutnya dengan lahap, terlihat ia tidak sama sekali merasakan asam dari buah mangga muda.


Ada apa denganmu sayang, kenapa akhir - akhir ini kamu terlihat berbeda. Batin Arga masih memperhatikan Merlisa.

__ADS_1


"Kenapa kamu menatapku seperti itu sayang?" tanya Merlisa sambil mulut yang terus mengunyah makanan.


"Tidak apa - apa sayang, aku heran saja denganmu, kenapa akhir - akhir ini kamu suka sekali dengan rujak." Ucap Arga.


"Entahlah aku juga tidak tau." Ucap Merlisa santai.


****


Pagi hari Merlisa ke toko kue miliknya bersama Salwa.


"Hai dek." Ucap Andri saat melihat Merlisa sedang menyusun kue.


"Kak Andriii!" Ucap Merlisa antusias yang sudah berbaur memeluk Andri.


"Kak abis dari mana?" tanya Merlisa.


"Abis meeting di luar dek, ke betulan kakak lewat sini ywdah kakak mampir deh." Ucap Andri.


"Nona ini di letakan di mana?" tanya Salwa sambil membawa nampan berisi kue yang baru matang, keluar dari arah dapur.


"Hai Salwa, apa kabar." Sapa Andri sambil tersenyum semanis mungkin. Salwa hanya tersenyum tipis tidak menjawab perkataan Andri.


"Ternyata kamu makin ngegemesin aja ya, ada tepung di hidungmu." Goda Andri mencolek hidung Salwa yang terlihat putih terkena tepung.


Dengan cepat mengusap hidungnya yang menempel tepung.


"Uuhhhuuukk uuuhhuuukk." Merlisa pura - pura batuk, seketika Andri dan Salwa menoleh ke arah Merlisa.


"Kenapa elo dek?" tanya Andri.


Mereka bertiga duduk bersama di meja.


"Sebentar ya kak, aku ambil kue dan minumnya." Ucap Merlisa, sebenarnya ia ingin memberi ruang antara Andri dan Salwa, ia tau kakak kembarnya memiliki ketertarikan pada bodyguardnya itu.


Andri dan Salwa saling terdiam tidak ada pembicaraan di antara ke duanya, hingga akhirnya Andri membuka suaranya memecah keheningan.


"Eeemm kau berhutang denganku Salwa." Ucap Andri.


"Hutang? kapan aku berhutang dengan anda tuan." Sahut Salwa.


"Hutang atas pertanyaanku waktu kita bertemu di minimarket." Ucap Andri.


"Yang mana?"


"Jadi kekasihku." Ucap Andri cepat


Salwa terdiam dan menghembuskan nafasnya perlahan. " Tuan tolong jangan permainkan saya, saya menghormati anda sebagai kakak dari nona Merlisa, saya tidak pantas untuk anda." Sahut Salwa dengan wajah datar.


"Saya tidak main - main Salwa, Saya ingin mengenalmu lebih dari ini, dari awal saya bertemu denganmu, saya sudah merasa tertarik denganmu dan ingin mengenalmu lebih dekat lagi." Ucap Andri dengan mantap.


"Jika kita berjodoh kita akan bersama, tapi mungkin untuk saat ini saya tidak ingin memiliki kekasih. pioritas saya adalah melindungi nona Merlisa." Ucap Salwa tegas.


"Saya akan mengunggu kesiapanmu Salwa, saya akan membuktikan keseriusanku." Ucap Andri.

__ADS_1


"Maka buktikanlah tuan." Ucap Salwa, " saya permisi dulu mau melanjutkan pekerjaan saya." Ucap Salwa lagi sambil melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Lah salwa mana kak, kok kakak sendiri si?" tanya Merlisa sambil membawa nampan berisi minuman dan kue.


"Ke dapur, mau lanjutin pekerjaannya." Sahut Andri terlihat lesu.


"Kak ayo semangat jangan nyerah gitu dong." Ucap Merlisa meyemangati.


"Apaan si elo dek, jangan sok tau." Ketus Andri.


"Yaudah senyum dong, nih makan kue ke sukaan kakak." Ucap Merlisa menyuapi sepotong chesee cake ke dalam mulut Andri.


"Ya udah dek, kakak pergi ke kantor dulu ya." Ucap Andri setelah menghabiskan chesee cakenya.


"Iya kakak hati - hati ya." Sahut Merlisa, sebelum pergi dari toko Andri mencium pucuk kepala Merlisa.


Setelah dari toko kue, Merlisa bersama Salwa menuju toko buku, Merlisa ingin membeli beberapa buku untuk bahan skripsinya.


"Nona sepertinya ada yang sedang mengikuti kita." Ucap Salwa yang terus memperhatikan kaca spion.


"Siapa?"


"Entahlah nona, yang saya liat mobil hitam itu terus mengikuti kita keluar dari toko kue." Sahut Salwa.


"Sebenarnya apa yang meraka inginkan ya." Ucap Merlisa lagi.


"Tidak tau nona, kita harus waspada." Sahut Salwa.


Saat melewati jalan yang cukup sepi, mobil Merlisa di hadang oleh 2 mobil hitam yang sedari tadi mengikutinya.


"Nona tetap di dalam biar saya yang mencoba menghadapinya." Ucap Salwa saat melihat 8 orang pria bertubuh tinggi besar menghampiri mobil Merlisa.


"Salwa jangan nekat kamu! lihat mereka ada 8 orang dan senuanya laki - laki berbadan besar. Paling tidak mari kita hadapi bersama - sama." Ucap Merlisa.


"Tidak nona, nona tetap di sini, saya akan menghadapi mereka, nona segera meminta bantuan dan saya akan mengulur - ulur waktu mereka." Ucap Salwa.


"Baiklah, kamu hati - hati Salwa." Sahut Merlisa yang di angguki oleh Salwa dan keluar dari mobil.


Di dalam mobil Merlisa berusaha menghubungi Arga untuk meminta bantuan namun tidak di angkat oleh Arga.


"Dduuuhh kamu lagi ngpain si yang, aku lagi membutuhkanmu." Gumam Merlisa, Merlisa terus memperhatikan Salwa dari dalam mobil, Salwa tidak terlihat gentar meski di hadang oleh 8 orang pria sekaligus.


"Aku tidak bisa hanya melihat Salwa berkelahi, setidaknya aku harus membantunya." Ucap Merlisa melihat Salwa terlihat mulai kelelahan.


"Nona kenapa anda di sini." Ucap Salwa, saat Merlisa ikut membantunya.


"Sudah jangan banyak tanya, ayo kita hajar pria banci ini." Ucap Merlisa tersenyum menyeringai.


Salwa dan Merlisa saling baku hantam dengan 8 pria yang entah dari mana asalnya, 5 orang pria sudah tumbang, namun salah satu dari pria tersebut mengeluarkan pistol dan menarik pelatuk pistolnya mengarahkan pada Merlisa.


Ddooooorrrrr suara nyaring dari pistol dan satu peluru sudah keluar dari sarangnya.


"Tiiiiddaakkk."

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2