
Pagi hari mereka sedang sarapan bersama di resort, sebelum melakukan kegiatan mereka, mereka berencana ingin melakukan kegiatan di pantai.
"Waahh kita mau main apa nih." Ucap Merlisa bersemangat.
" Bagai mana kalau kita main jet sky berpasangan, siapa yang sampai di dermaga ujung sana, itu pemenangnya." Ucap Andri.
"Boleh juga." Sahut Arga.
"Setuju." Sahut Merlisa dan Anggi bersamaan. Yang lain hanya manggut - manggut menyetujui.
"Tapi kita harus hompimpa ya, untuk menentukan pasangan masing - masing." Usul Rafi.
"Tidak, aku tidak setuju." Tolak Arga.
"Ayo lah bro, sekali - sekali jangan pengen nempel terus dengan adek gue loe bro." Ucap Andri.
"Ayolah sayang, ini kan hanya permainan saja." Bujuk Merlisa.
"Oke baiklah." Sahut Arga mengalah.
"Yang menang akan menghukum yang kalah." Ucap Andri.
"Oke siapa takut." Sahut mereka kompak.
Merekapun berhompimpa layaknya anak kecil yang sedang bermain.
Dan mereka sudah mendapatkan pasangan masing - masing.
Merlisa dan Salwa, Anggi dan Rafi, Arga dan Dimas, Andri dan Natan. Sedangkan Indri tidak mendapat pasangan, ia akan menjadi juri dalam pertandingan tersebut.
"Biar gue yang bawa." Ucap Arga pada Dimas.
"Terserah loe aja." Sahut Dimas cuek.
"Sayang siap - siap kalah dariku." Ucap Merlisa pada Arga.
"Kita lihat saja sayang, kali ini aku tidak akan mengalah." Sahut Arga.
Dan semuanya sudah berada dalam posisi mereka masing - masing. Dan tidak lupa memakai baju pelampung untuk keselamatan mereka.
"Bersiap - siap." Ucap Indri mulai memberi aba - aba.
"1, 2 ... 3." Ucap Indri.
Semua sudah melajukan jet sky mereka masing - masing. Untuk secepat mungkin dan menjadi pemenang.
Arga dan Dimas di posisi pertama, Andri dan Natan di posisi kedua, di susul Merlisa dan Salwa.
"Pak eehh kak aku takut, jangan kenceng - kenceng." Ucap Anggi yang takut terjatuh.
"Kamu pegangan pinggang aku, kita akan ngebut. Kita sudah tertinggal jauh." Sahut Rafi.
Anggi belum memegang pinggang Rafi, karena ia merasa canggung untuk melakukan hal tersebut, Namun Rafi langsung menarik tangan Anggi untuk memeluk pinggangnya.
Deg deg jantung Anggi berdebar kencang, saat memeluk Rafi.
"Haduh rasanya aku ingin pingsan, kalau harus lama - lama seperti ini." Gumam Anggi.
Merlisa sudah mendahului Andri dan Natan.
"Nona kita sudah di posisi ke dua, tinggal tuan Arga dan tuan Dimas di depan kita." Ucap Salwa.
"Iya aku juga tau, berpegangan lah, aku akan mengebut lebih kencang lagi." Sahut Merlisa.
"Iya Nona."
Merlisa melajukan lagi jet sky nya agar menyeimbangi Arga dan Dimas.
"Wweee." Merlisa menjulurkan lidahnya pada Arga, saat sudah berhasil mensejajarkan dengan Arga dan Dimas.
"Dasar kau nakal ya sayang, aku akan membuatmu kalah dan membuatmu tidak bisa turun dari tempat tidur sayang karena hukuman yang akan aku berikan padamu!" Ucap Arga agak meninggikan suaranya agar terdengar oleh Merlisa.
"Itu tidak akan terjadi!" Sahut Merlisa dan berusaha mendahului Arga, karena dermaga yang menjadi finis mereka sudah dekat.
Dan tiba - tiba dari arah belakang Rafi dan Anggi mendahului Arga dan Dimas, Merlisa dan Salwa.
Dan akhirnya mereka telah sampai terlebih dahulu sampai di dermaga.
"Yyeee kita menang pak." Ucap Anggi ke girangan.
"Iya Gi, kita menang" Sahut Rafi, tanpa mereka sadari saling berpelukan karena ke girangan.
"Yahh nona kita kalah." Ucap Salwa kecewa.
"Iya nih, tuh orang berdua entah datang dari mana langsung ada di belakang aja." Gerutu Merlisa.
"Hahahaha aku menang kak." Ucap Rafi pada Arga.
__ADS_1
"Iya iya kamu menang." Sahut Arga.
"Dan hukuman untuk kalian nanti kita pikirkan ya Gi." Ucap Rafi pada Anggi. Anggi hanya manggut mengiyakan.
"yaudah Ayo kita kembali lagi." Ajak Andri.
Dan merekapun kembali ketempat semula, melanjutkan water sport lainnya. Mereka naik banana boat, sofa boat, snorkling dan banyak lagi yang mereka lakukan, Semua merasa bahagia, tidak perduli dengan kulit mereka yang menghitam akibat terik matahari yang semakin panas.
"Bro jaga adek gue dengan baik ya, hidupnya selama ini tidak mudah ia lalui." Ucap Andri pada Arga. Saat ini mereka duduk di atas pasir, sambil melihat Merlisa, Anggi, Salwa dan Indri bermain air.
"Iya bro elo tenang aja, sebisa gue, gue akan membahagiakan terus Merlisa. Tidak ada air mata lagi yang keluar, yang ada hanya senyum ke bahagiaan." Sahut Arga.
"Gue percayakan sama elo bro, tugas gue untuk menjaganya sudah selesai, gue udah tenang sekarang" Ucap Andri sambil menepuk bahu Arga.
Merlisa, Anggi, Indri dan Salwa masih asyik bermain air. Sedangkan Natan, Dimas, dan Rafi pergi membeli makanan untuk mereka.
Merlisa menghentikan aktivitasnya, merasakan kepalanya berdenyut, pandangannya mulai berkunang - kunang.
"Sayang sudah berhenti, matahari semakin panas!" teriak Arga pada Merlisa.
Merlisa hanya membalas senyuman dari Arga, dan Merlisa berjalan menuju tempat di mana Arga dan Andri duduk, namun baru beberapa langkah pandangannya sudah buram, kepalanya semakin berdenyut hebat.
Arga memperhatikan Merlisa dengan penuh ke anehan.
Brrruuuukkk Merlisa terjatuh di atas pasir.
"Sayaanngg!" teriak Arga berlari menghampiri tubuh Merlisa, sontak semuanya pun ikut kaget dan menghampiri Merlisa.
"Sayang bangun, kau kenapa sayang?" Ucap Arga panik.
"Elo bawa ke resort bro, gue mau minta pada pihak tesort untuk memanggil dokter." Ucap Andri.
"Iya bro." Sahut Arga segera mengendong tubuh Merlisa dengan wajah pucat. Salwa, Indri, dan Anggi mengikuti langkah kaki Arga dari belakang.
"Sayang bangun, kamu kenapa." Ucap Arga saat sudah meletakan tubuh Merlisa di atas tempat tidur.
"Tuan sebaiknya nona Merlisa di ganti pakaiannya terlebih dahulu, karena baju nona basah." Ucap Salwa menyarankan.
"Ya kau benar, kalian bisa ke kamar kalian untuk mengganti pakaian, biar aku yang mengganti pakian Merlisa." Ucap Arga.
Dan Anggi, Salwa, Indri keluar dari kamar Arga dan Merlisa untuk menganti pakaian.
Arga mengganti pakaian Merlisa, mengelap tubuh Merlisa dengan air hangat.
"Sayang bangun, ada apa dengan mu." Gumam Arga sambil menciumi punggung tangan Merlisa.
Merlisa mengerejapkan matanya, merasakan pusing di kepalanya masih berdenyut.
" Kepalaku pusing." Sahut Merlisa lemah.
"Kau yang sabar ya sayang, sebentar lagi Andri ke sini membawa dokter untuk memeriksamu." Ucap Arga, yang di angguki Merlisa.
Indri masuk ke dalam kamar Merlisa membawa teh hangat untuk Merlisa.
"Dek ini minum dulu tehnya." Ucap Indri.
"Terima kasih kakak ipar." Sahut Arga, Merlisa hanya tersenyum pada Indri.
"Ayo sayang di minum dulu tehnya, agar kamu merasa lebih enakan." Ucap Arga, sambil membantu Merlisa untuk duduk.
Tidak beberapa lama Andri datang bersama seorang dokter untuk memeriksa ke adaan Merlisa.
"Bro kenapa elo bawa dokter pria ke sini si." Bisik Arga pada Andri.
"Ya elah bro di saat begini masih aja posesif loe." Bisik Andri.
"Ya sudah dok silakan di priksa adik saya." Ucap Andri pada dokter Radit.
"Saya periksa dulu ya nona." Ucap dokter Radit.
Di saat dokter Radit ingin menyentuh Merlisa.
"Tunggu dokter, dokter mau apa pada istri saya?" tanya Arga.
"Saya mau memeriksa tensi darah nona, tuan." Sahut dokter Radit.
"Memangnya tidak bisa kalau jangan pegang - pegang istri saya." Ucap Arga.
"Bagaimana saya mau memeriksa nona ini, kalau saya tidak menyentuhnya tuan." Protes dokter Radit.
"Ya sudah silakan." Sahut Arga mengalah.
Dokter memeriksa tekanan darah Merlisa, lalu setelah itu ingin memeriksa di bagian perut, detak jantung Merlisa dengan menggunakan stetoskop.
"Tunggu dokter, sekarang dokter mau ngapain lagi?" tanya Arga, yang lagi - lagi menghentikan pergerakan dokter Radit.
Dokter radit merasa sudah jengkel dengan sikap Arga yang posesif itu, namun ia berusaha menahan semuanya, ia harus lebih banyak bersabar lagi. Sedangkan Merlisa hanya diam saja, merasakan pising di kepalanya.
__ADS_1
"Saya mau memeriksa nona tuan, biarkan saya menjalankan tugas saya dengan tenang tuan." Ucap Radit tersenyum.
"Biarkan dokter Radit menyelesaikan tugasnya bro, kalau elo masih rese, mending elo keluar deh biar gue yang temenin di sini." Ucap Andri merasa jengkel juga terhadap Arga.
"Oke silakan dokter di lanjutkan." Ucap Arga pasrah, meski ia tidak rela melihat Merlisa di sentuh oleh laki - laki lain.
Dokter Radit melanjutkan memeriksa kondisi Merlisa yang sempat terhenti.
"Nona saya mau bertanya pada anda, kapan anda terakhir datang bulan?" tanya dokter Radit.
Merlisa terdiam sesaat mengingat kapan terakhir dia datang bulan.
"Seingat saya satu bulan lalu, tapi saya memang sudah lama tidak datang bulan." Sahut Merlisa.
"Nona silakan pakai ini di kamar mandi, nanti akan tau hasilnya." Ucap dokter Radit memberikan tes kehamilan untuk Merlisa.
"Iya dok." Ucap Merlisa.
"Sayang mari aku bantu." Ucap Arga sambil memapah Merlisa menuju kamar mandi.
"Mau aku temani masuk ke dalam sayang?" tanya Arga.
"Tidak udah, aku bisa sendiri sayang." Sahut Merlisa.
"Bener kamu kuat sayang?" tanya Arga lagi masih khawatir dengan ke adaan Merlisa.
"Iya sayang." Ucap Merlisa tersenyum.
Setelah beberapa saat Merlisa keluar dari kamar mandi, dan Arga setia menunggu Merlisa di depan pintu kamar mandi.
"Sudah sayang?" tanya Arga.
"Iya sudah."
"Ini dokter hasilnya." Ucap Merlisa sambil menyerahkan hasil tes kehamilan pada dokter Radit. Dan kembali berbaring di atas tempat tidur, di bantu oleh Arga.
"Sudah saya duga." Gumam dokter Radit saat melihat hasil tes kehamilan Merlisa.
"Apa hasilnya dok?" tanya Arga penasaran.
"Selamat ya tuan dan nona Merlisa, sebentar lagi anda akan menjadi orang tua." Ucap dokter Radit.
"Maksud dokter sebentar lagi saya akan menjadi ayah?" tanya Arga antusias.
"Iya tuan, nona Merlisa sedang hamil, dan perkiraan saya usia kandungannya baru menginjak 3 atau 4 minggu. Agar lebih memastikan lagi, silakan periksa ke rumah sakit untuk melakukan USG." Ucap dokter Radit menjelaskan.
"Sayang kau hamil." Ucap Arga memeluk tubuh Merlisa.
"Iya aku hamil hiks hiks." Sahut Merlisa.
"Hei kenapa kamu menangis, apa kamu tidak senang mengandung anak dariku?" tanya Arga.
"Jangan asal bicara tuan Sebastian! aku menangis karena aku bahagia. Ini tangis bahagia tau." dengus Merlisa.
"Hehehe kirain kamu tidak senang." Ucap Arga sambil memeluk Merlisa menciumi pucuk kepalanya.
"Waahh bentar lagi aku jadi paman dong." Ucap Andri.
"Iya kak, jadi paman Andri yang tampan."Sahut Merlisa.
"Paman Andri yang tampan tapi masih jomblo hahaha." Ucap Rafi menimpali.
"Sialan loe, lama - lama mulut ini bocah harus gue sekolahin." Sewot Andri, Rafi hanya tertawa menimpalinya.
"Tuan saya permisi dulu, ini saya berikan vitamin untuk nona Merlisa." Ucap dokter Radit, sebelum pergi.
"Terima kasih dok." Ucap Arga dan Merlisa.
"Mari dok saya Antar sampai depan." Ucap Andri.
Rafi, Dimas, Natan, Anggi dan Indri memberikan selamat untuk Arga dan Merlisa, semuanya ikut merasakan ke bahagiaan yang Arga dan Merlisa rasakan.
"Nona saya buatkan sup ayam untuk anda." Ucap Salwa yang membawa nampan di tangannya.
"Terima kasih Salwa, letakan di sana saja nanti saya makan." Sahut Merlisa.
"Sayang aku suapi ya, kau harus makan. Ingat sekarang kan ada baby di dalam perutmu yang membutuhkan asupan gizi untukmu." Ucap Arga.
"Nanti saja, aku belum pingin makan." Ucap Merlisa menolak.
"Iya dek kau harus makan, supaya bertenaga." Ucap Andri menimpali.
"Aaaaa buka mulutmu sayang." Arga menyuapi sup ayam ke dalam mulut Merlisa. Dengan berat hati Merlisa membuka mulutnya.
"Anak pintar." Ucap Arga sambil mengelus pipi Merlisa.
"Ya sudah dek, kita keluar dulu ya, kamu harus banyak istirahat." Ucap Indri pada Merlisa, Merlisa hanya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan bosan - bosan selalu berikan vote, like dan komennya ya 😊😊 dukungan kalian sangatlah berarti untuk author, agar dapat terus melanjutkan cerita ini sampai selesai, terimakasih 🙏🤗😘