Kakak Iparku Mantan Kekasihku

Kakak Iparku Mantan Kekasihku
Bab 68


__ADS_3

Arga melajukan mobilnya sekencang mungkin saat mendapatkan kabar dari kepolisian, mobil keluarga Sebastian yang di bawa Merlisa ringsek pada bagian belakang body mobil.


"Pak bagai mana ke adaan orang yang mengemudikan mobil ini?" tanya Arga pada polisi saat sudah sampai di mana tempat mobil Merlisa berada.


"Saat menerima laporan dari warga setempat, kami sudah tidak menemukan pemilik dari mobil ini, kami hanya menemukan tas yang berisi ponsel, dompet dan tanda pengenal di dalam mobil tersebut." Ucap pihak kepolisian.


"Kira-kira kemana ke beradaan istri saya pak?" tanya Arga.


"Kalau itu kami masih menyelidikinya, jika ada hal - hal yang menurut bapak ada ke janggalan, segera laporkan kepada pihak berwajib." Ucap pihak kepolisian.


"Baik pak, secepatnya temukan istri saya." Ucap Arga.


Sayang kemana kamu, semoga kamu baik - baik saja. Aku sangat mengkhawatirkan mu. Batin Arga.


Arga menghubungi papa Fandi dan Andri, menceritakan kejadian menghilangnya Merlisa, ringseknya mobil yang Merlisa kemudikan sampai terbakarnya toko kue milik Merlisa.


Arga sudah tidak bisa menunggu kabar pihak kepolisian, Arga mengerahkan seluruh orang kepercayaannya untuk mencari Merlisa, di tambah orang kepercayaan dari papa Fandi dan Andri, Salwapun ikut mencari keberadaan Merlisa.


Malam semakin larut Arga terus mencari ke beradaan Merlisa berkeliling ibu kota, sambil menunggu kabar dari orang kepercayaannya memberi kabar.


"Sayang kamu di mana." Gumam Arga, menepikan mobilnya di pinggir jalan, kini waktu sudah pagi. Arga semalaman mencari keberadaan Merlisa tanpa beristirahat dan makan.


Arga memutuskan pulang ke kediaman Sebastian terlebih dahulu untuk membersihkan badan dan berganti pakaian.


"Sayang bagaimana apa ada kabar dari Merlisa," tanya mama Wina saat Arga masuk ke dalam rumah.


"Belum ma, belum ada kabar." Sahut Arga lesu.


"Ini semua salah mama, tidak seharusnya mama meninggalkan menantu mama hiks hiks." Ucap mama Wina dengan isak tangisnya.


"Tidak ma, ini bukan salah mama, mama jangan menyalahkan diri mama sendiri. Kita berharap Merlisa dan Arga junior baik - baik saja." Ucap Arga.


"Iya nak,mama selalu doakan menantu dan cucu mama. Merlisa gadis yang kuat, pasti dia akan baik - baik saja."


"Ya sudah nak, kamu makan ya atau mau mandi dan istirahat terlebih dahulu." Ucap mama Wina.


"Aku tidak berselera untuk makan ma, aku mau mandi dulu." Ucap Arga.


"Nanti mama bawakan ke kamar mu ya nak, bagaimana kamu bisa mencari istrimu, jika kamu tidak makan, tidak bertenaga dan jatuh sakit." Ucap mama Wina.


"Ya sudah ma, aku ke kamar dulu." Ucap Arga, pergi melangkahkan kakinya pergi menuju kamarnya.


Tidak beberapa lama Arga telah menyelesaikan ritual mandinya, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur melihat langit-langit kamar miliknya.


"Ga ini mama bawakan makanan untukmu, makan dulu ya nak." Ucap mama Wina membawa nampan berisi makanan.

__ADS_1


"Letakkan di atas nakas saja ma, aku tidak lapar." Sahut Arga.


"Makan sayang, kau harus mempunyai banyak tenaga untuk mencari Merlisa." Ucap mama Wina duduk di atas tempat tidur di samping Arga yang masih membaringkan tubuhnya.


"Aku takut ma, aku takut tidak bertemu lagi dengan istriku, bagaimana terjadi sesuatu dengannya." Ucap Arga lirih.


"Hei jangan berbicara seperti itu nak, kau harus percaya Merlisa wanita yang kuat, tidak akan terjadi apa - apa dengannya." Ucap mama Wina menyemangati anak pertamanya yang terlihat sangat kacau, padahal dirinya sendiri juga merasa sama khawatirnya tapi mama Wina harus berusaha lebih tegar, karena yang merasa paling terpuruk untuk saat ini adalah Arga.


"Mama suapi ya nak." Ucap mama Wina yang di angguki Arga malas.


Arga berusaha menelan paksa makanan yang masuk ke dalam kerongkongannya, ia tidak bernafsu untuk makan, Arga terus memikirkan Merlisa, apa dia baik - baik saja atau tidak, bahkan sudah makan atau belum.


*****


"Tuan setelah saya selidiki, ketika kejadian di mana nona Merlisa hilang, ada 2 mobil hitam yang saya curigai ysng terlihat cctv di lampu merah." Ujar Salwa, menunjukan video cctv di kayar laptop pada Arga dan Andri.


"Kira - kira siapa yang kau curigai?" tanya Arga.


"Apa...." Ucap Arga lagi melirik Salwa.


"Ya geng tengkorak tuan." Sahut Salwa.


"Tapi kenapa geng tengkorak menculik Merlisa." Ucap Andri.


"Entahlah ini yang patut kita cari tau." Ucap Arga, Salwa hanya menaikkan kedua bahunya.


"Ya hallo, apa ada kabar?" Ucap Arga setelah mengangkat panggilan telphonenya.


"..... ........"


"Terus awasi, kerahkan semua orang - orang mu untuk memantau. Saya akan menuju ke sana." Ucap Arga dan telphone pun terputus.


"Bagaimana?" tanya Andri.


"Kita keluar kota sekarang juga, persiapkan semuanya." Ucap Arga pada Andri dan Salwa.


Andri dan Salwa mengangguk bersama.


Sayang tunggu aku, aku akan menjemputmu, bertahanlah. Batin Arga.


*****


Di rumah tua yang terlihat sudah tidak berpenghuni nampak terlihat debu di mana - mana, bangunan yang terlihat rapuh, dan perabot yang sudah usang, rumah tua tersebut berada di tengah - tengah hutan, dan jarang ada orang yang datang ke dalam hutan tersebut.


Merlisa mengerejapkan matanya, merasakan bagian belakang kepala masih terasa berdenyut akibat pukulan benda tumpul yang Merlisa dapatkan. Kini Merlisa duduk di atas kursi dengan tangan dan kaki yang terikat.

__ADS_1


Merlisa melihat sekeliling yang begitu asing untuknya.


"Sssstttt aaw sakit sekali kepalaku, dan ini siapa yang sudah membawaku ke sini." Gumam Merlisa, sambil mengerejapkan matanya, mengumpulkan ke sadarannya.


"Aku harus keluar dari sini, tapi bagaimana. Sial ikatannya kencang sekali." Ucap Merlisa.


Saat Merlisa berusaha membuka ikatan tangannya, ada seseorang masuk ke dalam untuk menghampiri Merlisa.


"Lepaskan aku! aku tidak kenal dengan kalian, kenapa kalian menyekapku disini!" teriak Merlisa.


"Hahaha memang benar kami tidak mengenal anda nona manis, tapi bos kami sangat mengenal anda." Ucap salah satu pria berbadan tinggi besar dengan gelak tawanya.


"Siapa bos kalian itu?" tanya Merlisa.


"Nanti nona manis akan tau sendiri, bos kami sedang dalam perjalanan menuju ke sini." Sahut pria tadi dan menutup kembali pintu kamar yang di tempati Merlisa.


"Sayang tolong aku, aku berharap kau dapat menemukanku di sini." Gumam Merlisa penuh harap Arga dapat menemukannya di mana ia di sekap.


*****


Pintu kamar terbuka samar - samar Merlisa melihat seseorang berdiri di depan pintu sambil menatapnya, karena penerangan yang kurang pencahayaan Merlisa tidak jelas melihat siapa sosok orang tersebut.


"Siapa kamu sebenarnya! lepaskan aku pengecut!" teriak Merlisa.


"Ck ck ck mulutmu berani sekali ya." Ucap pria tersebut, sambil mencengkram kuat dagu Merlisa.


"Saya tidak takut dengan anda, siapa kamu sebenarnya, saya tidak pernah merasa punya urusan dengan anda." Sahut Merlisa.


"Hahahaha kau tidak mengenalku tapi aku sangat mengenalmu Merlisa putri." Ucap pria tersebut.


Bbrruuuukkk salah satu anak buah pria tadi mendorong seseorang pria hingga terjatuh tersungkur hingga terjatuh di depan Merlisa. Merlisa terbelalak matanya saat melihat siapa pria yang terjatuh di hadapannya.


"Papa." Ucap Merlisa.


"Kamu." Gumam papa Hendra.


"Apa maksud dengan semua ini Krisna!" teriak papa Hendra.


"Hahaha aku sedang berbaik hati Hendra denganmu, aku pertemukan kamu dengan anakmu!" bentak Krisna.


"Dia bukan anakku!" ucap papa Hendra dengan penuh penekanan.


Bbuuukk Krisna memukul wajah papa Hendra.


"Pakai matamu Hendra, lihat wajahnya! ia begitu mirip dengan Maharani!" teriak Krisna pada Hendra.

__ADS_1


Merlisa masih terdiam, mencerna perkataan Krisna, Merlisa belum mengerti siapa yang mereka bicarakan.


Bersambung....


__ADS_2