
" Kenapa dia bisa tau aku ada di sini." Gumam Merlisa.
" Sayang apakah kamu tidak mau memperkenalkan ku." Ucap Arga tersenyum manis.
" Wahh pacarnya neng Ica ganteng pisan." Ucap salah satu ibu - ibu.
"Iya iya ganteng banget, seperti oppa - oppa yang ada di televisi." Ucap ibu - ibu yang lain.
"pria tampan ini siapa nak Ica?" tanya ibu Fatimah.
" Dia itu, dia ...." Ucap Merlisa, ia bingung harus memperkenalkan Arga sebagai apa, karena mengingat pernikahannya yang di sembunyikan selama ini.
" Perkenalkan saya Arga Sebastian, suami dari Merlisa." Ucap Arga mencium punggung tangan ibu Fatimah.
Semua orang yang berada di situ bersorak sorai, mendapatkan berita yang mengejutkan sekaligus membahagiakan.
Merlisa hanya tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
" Kenapa kau mengaku sebagai suamiku, kau lihat perbuatanmu tuan. Gara - gara kau semua jadi riuh begini." Ucap Merlisa pada Arga sambil merapatkan giginya.
" Memang ada yang salah dengan ucapanku sayang. Aku kan mengatakan yang sebenarnya kan." Ucap Arga santai.
Para ibu - ibu dan anak - anak yang berada di situ mengerumuni Arga, mengagumi ketampanannya dan sosok yang begitu berkarisma.
" Waahh nak Ica kenapa tidak memberi tahu kami, kalau nak Ica sudah menikah, suaminya ganteng banget lagi." Ucap salah satu ibu - ibu.
" Iya nak, setau kita nak Ica tidak punya pacar ehh tau - taunya langsung punya suami aja." Ucap Ibu - ibu yang lain.
Dan masih banyak lagi ucapan dari mereka, Merlisa hanya tersenyum canggung menanggapinya.
Merlisa menarik tangan Arga membawanya agak menjauh dari ke rumunan orang.
" Kenapa kau tau aku ada di sini? tadi aku hanya meminta izin untuk pergi ke suatu tempat aja." Ucap Merlisa.
" Aku tau karena ikatan cinta kita sayang, jadi dimana kau berada aku tau, kita saling terikat satu sama lain." Ucap Arga mengelus pucuk kepala Merlisa.
Padahal sebelumnya ia sudah mendapatkan info dari orang suruhannya yang mengikuti Merlisa, bukan Arga tidak percaya pada Merlisa namun ia ingin menjaganya.
" Cih, alesan macam apa itu, aku tidak percaya." Ucap Merlisa.
" Memangnya kau tidak merindukanku, tadi sewaktu di kantor kita tidak bertemu, pulang dari kantorpun kamu tidak menungguku." Ucap Arga.
"Nak Arga, nak Ica ayo kita makan bersama. Terima kasih atas makanannya nak Arga ini terlalu banyak sekali." Ucap ibu Fatimah menghampiri Merlisa dan Arga.
" Tidak apa - apa bu, itu tidak seberapa. Iya bu kami nanti akan ke sana." Jawab Arga.
__ADS_1
" Apakah kamu membawa makanan untuk mereka?" tanya Merlisa.
"Eemmm."Ucap Arga singkat, sambil menarik tangan Merlisa ikut bergabung bersama yang lainnya.
" Selalu saja mengeluarkan jawaban andalannya." gerutu Merlisa.
Keduanya bergabung bersama - sama menikmati makanan yang di bawa Arga. Makanan yang begitu banyak, mungkin untuk makan 100 orangpun cukup.
Merlisa tersenyum ke arah Arga, memperhatikan Arga makan bersama pekerja di rumah kreatif. Yang ia tau Arga orang yang angkuh, tidak mungkin ia mau makan bersama orang - orang biasa saja, namun ansumsi Merlisa salah.
" Kenapa sayang, kenapa kau terus menatapku?" tanya Arga tersenyum pada Merlisa.
" Tidak." Ucap Merlisa singkat sambil menoleh ke arah lain.
" Aaaaaa buka mulutmu sayang." Ucap Arga menyuapi makan Merlisa, Merlisa menyambutnya.
" Waahh sungguh beruntung nak Ica ini, punya suami udah ganteng, begitu sayang pula." Ucap salah satu ibu - ibu, Merlisa hanya tersenyum.
" Kalian sudah berapa lama menikah?" tanya pak Karyo.
" Sudah satu bulan lebih pak." Sahut Merlisa.
" Kenapa tidak memberi tahu kami nak, berita bahagia tidak boleh di tutupi loh." Ucap ibu Fatimah.
" Maaf bu, bukan bermaksud untuk menutupinya tapi memang pernikahan kami yang mendadak. Ica hanya belum sempat memberi tahu saja." Ucap Merlisa.
"Uuhuukk uhhuukk." Merlisa tersedak saat ibu Fatimah membicarakan tentang anak. " Aahh ibu kenapa berbicara seperti itu." Ucap Merlisa lagi.
" Sayang hati - hati, sepertinya kamu sudah tidak sabar ya istriku." Goda Arga mengedipkan sebelah matanya. Merlisa mendelikkan matanya ke arah Arga.
Ibu Fatimah dan pak Karyo hanya menggelengkan kepala melihat sepasang suami istri itu.
Setelah makan Merlisa dan Arga bercengkrama dengan pekerja di rumah kreatif. Arga sangat antusias dengan obrolannya dengan pak Karyo mengenai rumah kreatif yang di dirikan oleh Merlisa. Arga semakin kagum dengan sosok Merlisa, selain mandiri, jiwa kepeduliannya terhadap orang lain sangat tinggi. Ia banyak belajar dari sosok wanita yang ia nikahi, selama ini ia hanya sibuk dengan dunianya saja tanpa pernah peduli dengan orang - orang sekelilingnya.
Jam sudah menujukan jam 08:00 malam, Merlisa dan Arga baru pulang ke arpatemen, sebelumnya berpamitan dengan orang - orang yang berada di pemukiman kumuh itu.
" Istriku." Ucap Arga masih fokus mengemudi.
" Heeemm." Sahut Merlisa masih sibuk dengan dengan benda pipih miliknya.
" Sejak kapan kamu kenal dengan orang - orang di pemukiman kumuh itu?" tanya Arga sesekali melirik Merlisa.
" Sejak kapan ya, aku juga lupa pastinya kapan. Tapi yang aku ingat waktu itu aku melihat anak - anak dan ibu - ibu sedang di paksa untuk mengemis dan mengamen. Dengan proses yang sengit aku bisa mengalahkan kepala preman, dan membebaskan orang - orang yang ada di pemukiman kumuh itu." Cerita Merlisa panjang lebar.
" Waahh ternyata aku baru tau, kalau aku sudah menikahi superhiro." Ucap Arga mengelus pucuk kepala Merlisa.
__ADS_1
" Superhero apa?" tanya Merlisa.
" Saras 008." Ucap Arga.
" Hahahaha, kau bisa saja."
" Terima kasih sayang." Ucap Arga mencium punggung tangan Merlisa.
" Untuk?" tanya Merlisa menaikkan sebelah alisnya.
" Terima kasih sudah memberikan banyak pelajaran untuk aku sayang." Ucap Arga masih menggenggam sebelah tangan Merlisa.
" Aku bukan guru, sejak kapan aku mengajarimu." Ucap Merlisa asal.
Arga menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Ada apa kok berhenti?" tanya Merlisa.
" Tadi katanya kamu bukan guru, jadi sekarang biar aku yang mengajarimu sayang." Ucap Arga mendekatkan wajahnya pada Merlisa.
" Mau apa kamu?" tanya Merlisa gugup.
" Mau mengajarimu lah." Ucap Arga tersenyum menyeringai.
" Aahhh sudah ayo jalan lagi, ini sudah malam." Ucap Merlisa menghalangi wajah Arga.
" Tidak mau, cium aku dulu." Goda Arga sambil menunjuk pada bibirnya.
"Aahhh kau ini selalu saja seenaknya." Gerutu Merlisa.
Cup satu kecupan kilas yang di berikan Merlisa di bibir Arga.
" Sudah."
" Itu namanya di kecup bukan cium." Protes Arga.
"Aahhh itu sama saja." Elak Merlisa.
" Beda lah, kalau kecup seperti ini." Cup satu kecupan kilas di bibir Merlisa. " Kalau cium seperti ini." Arga mencium bibir merlisa, me*l**at habis bibir merah Merlisa, mencoba menerobos masuk ke dalam mulut Merlisa menggunakan lidahnya. Ciuman keduanya terlepas setelah nafas mereka tersengal - sengal karena kurangnya oksigen akibat ciuman mereka.
"Ahhh kau ini." Ucap Merlisa memukul lengan Arga.
" Kenapa istriku, kamu ingin lagi. Nanti kita lanjutkan lagi di arpatemen ya." Goda Arga mengedipkan sebelah matanya sambil mencolek dagu Merlisa, Merlisa hanya mendelikkan matanya.
Aahh kenapa aku terlihat bodoh saat bersamanya si. Tolong jangan tunjukkan senyum seperti itu. Batin Merlisa.
__ADS_1
Bersambung ....
Jangan lupa tinggalkan jejaknya 🙏👍😘