
"Sayang kau harus banyak istirahat ya, jangan melakukan apapun di sana." Ucap Arga.
Saat ini Arga dan Merlisa berada di dalam mobil menuju kediaman Sebastian. Setelah memeriksa kandungan Merlisa di rumah sakit, Arga mengantarkan Merlisa untuk menemui mama Wina dan papa Fandi, untuk memberi taukan kabar ke hamilan Merlisa.
"Iya sayang, kau ini begitu bawel sekali, huh!" Sahut Merlisa.
"Iya aku bawel karena aku sayang denganmu dan anak kita sayang." Ucap Arga sambil mengelus pucuk kepala Merlisa.
"Iya Sayang terima kasih sudah memberikan kasih dan sayang yang begitu banyak untukku." Sahut Merlisa, menyandarkan kepalanya di bahu Arga.
"Kamu ingin makan sesuatu sayang?" tanya Arga karena Arga sudah sedikit tau tentang ibu hamil, akan meminta sesuatu yang ia inginkan.
"Tidak." Ucap Merlisa.
"Kalau menginginkan sesuatu katakan saja ya sayang, aku ingin menjadi suami siaga dan super dady." Ucap Arga.
"Iya dady kalau aku menginginkan sesuatu pasti aku akan mengatakannya." Sahut Merlisa menirukan suara anak kecil, seolah - olah yang berbicara bayi di dalam perutnya.
"Hahaha kau sangat menggemaskan sekali sayang." Ucap Arga menciumi wajah dan perut Merlisa, karena mobil sedang berhenti di lampu merah.
"Sayang sudah lampunya sudah kembali hijau." Ucap Merlisa.
"Ha iya, suka lupa kalau udah unyel - unyel kamu sayang." Sahut Arga mulai melajukan mobilnya kembali.
Di kediaman Sebastian, Merlisa dan Arga sudah sampai di halaman rumah besar tersebut.
"Sayang ayo, hati - hati turunnya." Ucap Arga membukakan pintu mobil untuk Merlisa.
"Iya sayang." Sahut Merlisa malas. Menurut Merlisa, Arga terlalu berlebihan memperlakukannya seperti bayi yang tidak bisa apa - apa. Tapi ia juga merasa senang Arga menjadi suami siaga.
"Pagi ma, pagi pa." Ucap Arga dan Merlisa bersamaan, saat menghampiri mama Wina dan papa Fandi di taman belakang yang sedang menikmati hangatnya matahari pagi.
"Eeehh sayang, mama rindu kamu nak." Ucap mama Wina yang sudah menghambur memeluk Merlisa.
"Aku juga rindu ma." Sahut Merlisa.
"Hheeemm sama aku gak kangen nih." Ucap Arga.
"Kangen dong sayang, tapi masih jauh lebih rindu dengan menantu mama yang satu ini." Ucap mama Wina, di iringi tawa dari Merlisa dan mama Wina, sedangkan papa Fandi hanya geleng - geleng kepala.
"Ma, pa ada kabar yang kami ingin sampaikan dengan mama dan papa." Ucap Arga.
"Kabar apa?" tanya mama Wina antusias.
"Mama dan papa lihat aja." Sahut Merlisa menyerahkan hasil pemeriksaan kehamilannya.
Papa Fandi dan mama Wina saling tatap lalu membuka amplop yang berisi selembar surat dan foto hasil USG.
__ADS_1
"Ini apa maksudnya kamu sedang hamil nak." Ucap mama Wina terkejut sekaligus bahagia.
"Iya ma, ada Arga junior di dalam sini." Sahut Arga sambil mengelus perut Merlisa.
"Sayang sebentar lagi mama akan menjadi oma." Ucap mama Wina begitu bahagia, dan sudah menitikan air mata sambil memeluk tubuh Merlisa.
"Iya ma." Sahut Merlisa.
"Selamat ya untuk kalian, di jaga baik - baik amanah yang di titipkan pada kalian." Ucap papa Fandi.
"Iya pa." Sahut Arga.
"Sayang aku berangkat ke kantor dulu, siang nanti ada meeting penting." Ucap Arga.
"Iya sayang, hati - hati dan jangan lupa makan." Ucap Merlisa pada Arga.
"Iya kau juga." Sahut Arga sambil mencium kening Merlisa.
"Pa, ma aku pergi dulu. Titip Merlisa dan Arga junior." Ucap Arga.
"Kau tenang saja, cucu dan menantu mama aman pokoknya." Sahut mama Wina. Arga tersenyum pada Merlisa sebelum pergi dan meninggalkan kediaman Sebastian.
****
Merlisa membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah cukup lama berbincang - bincang bersama mama Wina dan papa Fandi.
"Bagai mana dengan ke adaan toko ya, aku sudah lama tidak mengunjungi toko." Gumam Merlisa.
"Ya hallo Li." Ucap Merlisa.
"...... ......"
"Apa! aku akan ke sana." Ucap Merlisa segera menutup sambungan telphone.
Merlisa berlari keluar kamar dengan ke adaan tergesa - gesa, dan terlihat ke tegangan di wajah Merlisa.
"Bi mama mana?" tanya Merlisa saat berpapasan dengan salah satu pelayan.
"Nyonya tadi bilang mau ke supermarket sebentar dan tuan besar sedang berada di ruang kerja." Sahut pelayan.
"Bilang sama mama aku mau ke toko sebentar." Ucap Merlisa.
"Tapi nona...." Ucap pelayan terhenti, karena Merlisa sudah berlari pergi keluar dari kediaman Sebastian.
Merlisa menggunakan mobil yang berada di bagasi, mengemudikan sendiri mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi, karena Salwa tidak ikut dengannya saat pemeriksaan di rumah sakit.
Bruuuukkk mobil Merlisa di tabrak dengan sengaja oleh mobil hitamr, Merlisa berusaha menghindar dengan melajukan mobilnya dengan ke cepatan tinggi.
__ADS_1
Brrruuuukkk mobil Merlisa di tabrak untuk ke dua kalinya.Dan hasilnya mobil Merlisa ringsek di bagian belakang.
"Sial! sepertinya mobil ini sengaja melakukannya." Gumam Merlisa.
"Saat berada di persimpangan Merlisa sudah di hadang oleh 2 mobil hitam.
Mau tidak mau Merlisa menghentikan mobilnya.
Sekitar 10 orang pria kekar keluar dari mobil dengan menggunakan pakaian serba hitam. Dan menghampiri Merlisa, Merlisa tidak terlihat gentar, ia mencari sesuatu yang dapat di gunakan untuk sebagai senjatanya.
"Cepat keluar! atau akan kami pecahkan mobil ini!" teriak salah satu pria yang sudah mengetuk - ngetuk kaca mobil Merlisa.
"Mau apa kalian!" ujar Merlisa.
"Ikut dengan kami." Ucap salah satu pria.
"Kalau saya tidak mau ikut bagaimana." Sahut Merlisa.
"Kami akan tetap membawa anda dengan cara memaksa." Ucap pria itu lagi.
"Coba aja kalau bisa." Sahut Merlisa.
Baku hantam sudah tidak terelakan lagi, Merlisa mau tidak mau harus melawan segerombolan pria tersebut dengan kemampuan yang ia punya, saat Merlisa sedang baku hantam, namun secara tiba - tiba Merlisa di hantam di bagian belakang dan Merlisapun hilang ke sadaran, dan di bawa masuk ke dalam mobil hitam tersebut.
*****
Arga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, setelah mendapatkan kabar dari mama Wina kalau Merlisa pergi dengan tergesa - gesa menuju toko kue miliknya.
"Sayang kenapa kau tidak menghubungiku, paling tidak kau minta mama untuk menemanimu." Gumam Arga sambil melajukan mobilnya.
Arga segera keluar dari mobil saat melihat toko kue Merlisa sudah hangus terbakar, asap hitampun masih terlihat, banyak orang yang melihat, ada pemadam ke bakaran yang masih berada di lokasi dan garis polisi sudah di pasang di area sekitar toko Merlisa.
Arga terus mencari sosok Merlisa, namun tidak menemukannya.
"pak kenapa toko ini bisa terbakar? apa ada korban jiwa?" tanya Arga pada seorang polisi.
"Maaf apakah bapak ini pemilik toko ini?" tanya polisi.
"Bukan pak, tapi yang jelasnya saya suami dari pemilik toko ini." Sahut Arga.
"Tuan bukannya suami mbak Ica? mbak Icanya mana tuan, dari tadi saya hubungi tidak di angkat tuan." Ucap Lia.
"Bukannya istri saya sudah ke sini dari beberapa jam lalu?" tanya Arga.
"Belum tuan, mbak Ica belum datang ke mari, saya dan pihak ke polisian dari tadi sudah menunggu mbak Ica." Ucap Lia.
Kemana perginya kamu sayang, aku sangat menghawatirkan kamu. Perasaanku tidak enak seperti ini. Batin Arga.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa berikan jejaknya, agar author selalu bersemangat 🙏😊💪