
"Ada apa ini ramai - ramai?" tanya seseorang yang baru tiba di lobi.
Sontak semuanya menoleh ke sumber suara, sosok seorang pria kekar berdiri di pintu masuk dengan wajah yang cool dan berkarisma.
" Kenapa dia ada di sini, aku belum puas mempermalukan wanita ja*l*ang ini." Gumam Vanesa.
"Sedang apa kau datang ke sini?" tanya Arga pada Vanesa, dengan memasang wajah datar.
" Tentu aku ingin bertemu denganmu sayang."
" Cukup Vanesa! aku tidak mau kau memanggil aku dengan sebutan itu lagi, sekarang kau pergi dari sini." Ucap Arga lagi.
" Tapi sayang...." Ucap Vanesa menggantung.
" Jangan biarkan wanita ini berkeliaran di kantor ini lagi, atau kalian akan aku pecat!" teriak Arga pada security.
" Baik pak." Jawab kepala security.
"Kau akan menyesal telah membuangku Arga!" teriak Vanesa.
Arga tidak membalas ucapan Vanesa, tanpa berlama - lama Arga menggendong tubuh Merlisa menuju ruang kerjanya. Merlisa hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan Arga, ia tidak mau menambah kekesalan Arga saat ini. Merlisa membenamkan wajahnya ke dada bidang Arga, mungkin sudah waktunya jati dirinya di perusahaan ini akan terbongkar.
Semua kariawan yang berada di lobi sontak kaget dengan yang di lakukan oleh CEOnya itu, termasuk Anggi yang melongo tidak percaya. Semua berbisik satu sama lainnya membenarkan kabar bahwa Merlisa merebut Arga dari kekasihnya.
" Sayang kamu terluka, apa wanita itu yang melukaimu?" tanya Arga khawatir, saat mereka sudah berada di ruang kerjanya.
"Aku tidak apa - apa suamiku, aku tidak tau siapa yang mau menabrakku tadi." Sahut Merlisa.
" Apa! kamu mau di tabrak, kapan kejadiannya?" tanya Arga semakin khawatir.
Merlisa menceritakan semua ke jadian yang ia alami tadi pagi dengan Arga.
" Maafkan aku sayang, aku tidak becus untuk melindungimu." Ucap Arga memeluk Merlisa.
" Ini bukan salahmu suamiku, kita kan tidak tau kejadian apa yang akan menimpa kita." Jawab Merlisa masih di dalam pelukan Arga.
" Ya sudah ayo kita ke rumah sakit istriku, aku takut kau kenapa - kenapa." Ucap Arga khawatir.
" Tidak usah, aku tidak apa - apa, tadi sudah di periksa oleh dokter jaga di ruang ke sehatan suamiku." Ucap Merlisa.
" Maafkan aku sayang." Ucap Arga, ia terus mencium kedua punggung tangan Merlisa, merasa telah gagal untuk menjaga Merlisa.
__ADS_1
"Suamiku."
"Heemm, apa ada yang sakit istriku?" tanya Arga.
" Tidak, bukan itu suamiku aku hanya khawatir." Ucap Merlisa.
" Khawatir?" ucap Arga menaikan sebelah alisnya.
"Iya, tadi kamu langsung main gendong aku saja. pasti semua kariawanmu berfikiran yang tidak - tidak denganku." Ucap Merlisa.
" Biarkan saja sayang, aku tidak peduli dengan orang lain. Tadi aku hanya memikirkanmu saja, aku kaget melihatmu luka - luka seperti ini." Ucap Arga menatap wajah Merlisa.
" Kau ini selalu saja seenaknya, terus bagaimana denganku, pasti mereka membenarkan ucapan Vanesa kalau aku merebutmu dari mak lampir itu, huh!" kesal Merlisa.
Arga menghela nafasnya secara kasar.
" Itu tidak akan terjadi sayang, aku akan mengumumkan tentang setatus kita. Aku tidak mau istriku ini akan di anggap jelek lagi, kalau perlu aku akan memecat siapa saja yang sudah berani menghinamu sayang. Aku pastikan tidak akan ada yang mau menerimanya bekerja di perusahaan manapun." Tegas Arga.
" Tidak usah sampai begitunya suamiku,mereka hanya tidak tau saja." Ucap Merlisa meyakinkan Arga.
"Kalau begitu kita adakan resepsi pernikahaan kita, agar semua orang tau kalau kamu adalah istriku, istri dari Arga Sebastian." Ucap Arga lagi.
" Itu tidak perlu suamiku." Tolak Merlisa.
" Tidak usah berlebihan seperti itu suamiku. Perlakuanmu sekarang sudah berbeda denganku saja, sudah membuatku sangat bahagia." Sahut Merlisa tersenyum tulus.
"Kenapa cara berpikirmu sangat sederhana sekali sayang. Banyak wanita sana banyak sekali dengan sejuta ke inginan, banyak maunya tapi kenapa kamu tidak sayang." Ucap Arga.
" Hahaha kau bisa saja, aku juga sama dengan wanita pada umumnya, tapi satu yang membedakan ku, aku ingin membeli sesuatu dengan hasil keringatku sendiri." Sahut Merlisa.
" Baiklah, tapi untuk yang satu ini kau harus menuruti ke inginanku." Ujar Arga.
" Apa itu?" tanya Merlisa.
"Mulai besok kamu akan di temani bodyguard istriku, aku tidak mau hal seperti ini akan terulang kembali." Ucap Arga lagi.
" Apa! bodyguard. Ayolah suamiku jangan seperti ini, aku bisa menjaga diriku sendiri, tidak usah pakai bodyguard ya, aku tidak nyaman kemana - mana harus di ikuti." Ucap Merlisa memasang wajah seimut mungkin.
" Cih, jangan memasang wajah seperti itu, tidak akan berpengaruh untukku. Aku tidak suka ada penolakan sayang." Ucap Arga.
" Aahhh kau ini." Kesal Merlisa memalingkan wajahnya sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
" Dengar sayang, aku lakukan semua ini demi kebaikan mu. Aku akan mencari bodyguard wanita untukmu, agar kau merasa nyaman. kalau perlu ia akan mengawasimu dari jarak 5 meter." Tawar Arga, sambil menangkupkan tangannya di kedua pipi Merlisa.
"Hheeemmm." Sahut Merlisa malas.
" Anak pintar." Goda Arga sambil mengacak - ngacak rambut Merlisa.
" Ayo kamu istirahat di kamar istriku, nanti setelah ini aku harus ada meeting lagi." Ujar Arga.
" Tidak mau." Sahut Merlisa ketus.
" Ada apa lagi, jangan bilang kamu mau masih membahas masalah bodyguard lagi sayang" Ucap Arga menaikkan sebelah alisnya.
" Bukan itu, aku lapar suamiku. Tadi aku belum sempat makan siang, gara - gara mak lampir itu." Kesal Merlisa.
" Hahaha maafkan aku sayang, aku sampai lupa menanyakanmu sudah makan atau belum, karena aku begitu menghawatirkanmu sayang." Ucap Arga sambil mencubit hidung Merlisa.
Merlisa hanya terkekeh mendengar ucapan Arga. " Ya sudah aku pesan makanan dulu ya." Ucap Arga lagi.
" Memangnya kamu sudah makan suamiku?" tanya Merlisa.
Arga tidak buru - buru menjawab perkataan Merlisa, malah ia membawa Merlisa duduk di atas pangkuannya.
" Belum." Jawab Arga singkat.
" Kau begitu sibuk tuan Sebastian, tapi kau juga harus menjaga pola makan mu, nanti kalau sakit bagaimana, huh!" kesal Merlisa.
"Kan ada kamu yang akan merawatku." Jawab Arga sambil asyik menguyel - uyel dada Merlisa. Merlisa memutar bola matanya malas.
" Apa ini sakit sayang?" tanya Arga mengelus pelipis Merlisa yang berbalut perban.
" Tidak terlalu sakit, hanya luka kecil aja kok." Sahut Merlisa.
" Aku sampai lupa, mana mungkin luka sekecil itu membuatmu sakit, Istriku ini kan Saras 008." Goda Arga mencolek dagu Merlisa.
" Hahaha kau bisa saja, Kalau aku Saras 008 lalu kamu apa?" tanya Merlisa.
" Kalau aku hanya butiran debu, aku tidak sekuat dirimu sayang." Ucap Arga.
" Aahh kau ini, kau terlalu berlebihan memujiku tuan Sebastian." Sahut Merlisa menggelengkan kepalanya.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa berikan vote, like, dan komennya 🙏👍😘