
"Apa maksud dari semua ini? dan siapa anda sebenarnya?" tanya Merlisa.
"Hahaha baiklah dari pada kau bingung, aku akan memperkenalkan siapa aku. Aku ini adalah pamanmu, adik dari ibu kandungmu." Ucap Krisna.
"Maksud anda?" tanya Merlisa masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Ya aku pamanmu, adik dari ibu kandungmu Maharani dan laki - laki di hadapanmu itu adalah ayah kandungmu, ayah yang sudah melantarkanmu, ayah yang tidak bertanggung jawab, ayah yang mencampakan kau dan ibumu Maharani." Ujar Krisna.
"Apa!" Ucap Merlisa dan Hendra bersamaan.
"Apa maksud dari semua ini Krisna? dan dimana Maharani sekarang?" tanya Hendra.
"Kenapa kamu baru sekarang menanyakan kakakku, hah!" teriak Krisna sambil mencengkram kerah baju Hendra.
"Aku sudah lama mencarinya, tapi tidak pernah bertemu dengan Maharani. Maharani seperti di telan bumi, tanpa jejak." Ucap Hendra.
"Hahaha Maharani sudah aku lenyapkan, karena 75% kekayaan wijaya berada di tangannya." Ucap Krisna.
"Kenapa paman lakukan itu! demi harta paman melenyapkan kakak kandung paman sendiri." dengus Merlisa.
"Itu karena ibumu memiliki segalanya, ia pewaris terbanyak dari harta Wijaya, sedangkan aku hanya memiliki 25% dari harta Wijaya, apa itu adil, hah!" ucap Krisna.
"Kau benar - benar jahat Krisna." Ucap Hendra.
"Aku hanya meringankan beban kakakku saja, karena cintanya padamu Hendra, ia rela menjadi istri sirihmu dan menderita karena kau mencampakannya." Ucap Krisna.
"Aku pikir setelah melenyapkan Maharani, seluruh harta Wijaya akan menjadi milikku tapi nyatanya aku salah, harta Wijaya malah jatuh di tangan Merlisa."Ucap Krisna.
"Sebelum aku menghabisi Merlisa, aku akan berbaik hati mempertemukan anak dan ayah. Oops kalian sudah saling kenal sejak lama ya, meski hubungan kalian tidak begitu baik." Ucap Krisna lagi.
"Aku akan mengungkapkan semuanya padamu,keponakanku." Ucap Krisna tersenyum sinis.
"Dulu Hendra dan Maharani menjalin hubungan asmara, dan mereka diam - diam menikah sirih hingga mamamu Maharani mengandungmu, namun sebelum papamu ini mengetahui Maharani sedang mengandung, ia sudah pergi meninggalkan Maharani, membuangnya, dan mencampakannya dengan alasan sudah tidak mencintainya lagi. Akhirnya Maharani pergi dari indonesia dan pergi keluar negri dengan kondisi mengandung dan membawa luka di hatinya. Setelah beberapa tahun Maharani kembali ke sini, dengan usiamu sekitar 3 - 4 tahunan waktu itu, aku sudah berniat untuk menghabisi Maharani untuk mendapatkan seluruh kekayaan Wijaya, namun bodohnya anak buahku hanya menculik Maharani tanpa membawamu Merlisa." Ucap Krisna.
Merlisa hanya terdiam sambil meneteskan air matanya, ia harus menerima kenyataan pahit masa lalunya. Sedangkan papa Hendra hanya menundukan kepalanya, menyesali perbuatannya dulu.
__ADS_1
"Aku sempat menemukan jejakmu, dan ingin menghabisimu, namun sialnya mama angkatmu itu menghalangi anak buahku untuk menghabisimu, Dan aku gagal untuk menghabisimu, dan aku harus menunda untuk menyingkirkanmu karena aku diagnosa mempunyai penyakit leukimia dan pergi keluar negri untuk melakukan serangkaian pengobatan. Dan setelah sekian lama aku bisa menemukanmu kembali, saat kau telah menikah dengan anak dari keluarga Sebastian, aku langsung mengenalimu saat melihat wajahmu yang sangat mirip dengan Maharani." Ucap Krisna.
"Jika paman ingin memiliki seluruh harta dari kakek Wijaya, silakan saja paman, tapi lepaskan saya." Ucap Merlisa.
"Hahahaha tidak semudah itu keponakanku. Selain aku ingin memiliki seluruh harta dari Wijaya, aku juga sudah sangat sakit hati dengan Maharani. Dari kecil aku selalu di bedakan dari mamamu itu, Maharani selalu menjadi nomer satu, sedangkan aku hanya seorang pecundang. Perlakuan orang tuapun selalu berbeda, aku di jauhkan, di kirim keluar negri untuk beralasan aku harus menjadi anak mandiri. Memang dari kecil aku memiliki ambisi menjadi pengusaha besar, segala cara aku lakukan, tapi apakah salah jika aku memiliki ambisi itu." Ucap Krisna.
"Jelas salah paman, memang wajar setiap orang mempunyai keinginan masing-masing, tapi cara paman yang salah, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang paman inginkan, sampai tega membunuh saudara paman sendiri." Ucap Merlisa.
Plaaakk! Krisna menampar Merlisa hingga sudut bibir Merlisa mengeluarkan darah.
"Cukup Krisna! jangan sakiti putriku." Teriak papa Hendra menghampiri Merlisa namun sudah di tahan oleh anak buah Krisna.
"Hahahaha kau begitu menggelikan Hendra, tidak tau malu! dulu kau begitu membenci Merlisa, tapi sekarang kau menyebut dia putriku." Ucap Krisna dengan tawa jahatnya.
"Aku akan berbaik hati pada kalian, silakan melepaskan rindu dan mengucapkan salam permisahan. Karena apa? karena esok kalian tidak akan melihat cahaya matahari lagi untuk selamanya." Ucap Krisna keluar dari kamar di sekapnya Merlisa dan papa Hendra, di ikuti dengan anak buahnya.
Hendra melepaskan ikatan pada kaki dan tangan Merlisa saat Krisna dan anak buahnya pergi.
"Papa." Ucap Merlisa memeluk tubuh papa Hendra.
"Maafkan papa nak, maafkan papa atas semua perlakuan papa padamu." Ucap papa Hendra, sambil menciumi pucuk kepala Merlisa.
"Terima kasih sayang." Ucap papa Hendra dengan linangan air mata. "selama ini papa mencari keberadaan mama mu, tapi tidak pernah bertemu dengannya, papa ingin meminta maaf dengannya dan papa sungguh tidak mengetahui jika Maharani mempunyai gadis cantik sepertimu." Ucap papa Hendra lagi.
"Iya pa, mari kita buka lembaran baru bersama cucu papa." Ucap Merlisa mengusap perutnya yang masih rata.
"Kau hamil nak, papa sebentar lagi menjadi opa." Ucap papa Hendra, Merlisa mengangguk mengiyakan.
Saat Merlisa dan papa Hendra saling berpelukan, dari arah luar terdengar suara kebisingan.
"Pa sepertinya ada sesuatu dari luar?" tanya Merlisa.
"Iya nak sepertinya ada sedang berkelahi." Sahut papa Hendra.
"Semoga itu Arga pa." Ucap Merlisa.
__ADS_1
"Semoga nak." Sahut papa Hendra.
Brruuuukkk suara pintu di banting, terlihat Krisna sedang memegang senja api di tangannya.
"Sialan rencanaku berantakan, kau secepatnya akan aku habisi keponakanku." Ucap Krisna sudah menarik pelatuk pistolnya.
Ddoooorrrrr suara tembakan keluar dari sarangnya.
"Papa!" teriak Merlisa, dengan cepat papa Hendra memeluk Merlisa untuk menghalangi tembakan dari Krisna.
Seketika darah segar mengalir membasahi baju papa Hendra.
Ddooorrr suara tembakan kembali terdengar, Krisna menembakan kembali untuk ke dua kalinya.
"Tidak! papa bertahan." Ucap Merlisa dengan tangisnya, papa Hendra hanya tersenyum dengan wajah yang mulai memucat.
Merlisa melemparkan sepatu miliknya menuju tangan Krisna, dan Krisna menjatuhkan senjata apinya.
Dengan cepat Merlisa meraih pistol Krisna.
"Merlisa ingat aku adalah satu - satunya pamanmu, jangan bunuh aku." Ucap Krisna, namun Merlisa tidak menghiraukannya.
Doooorrr satu tembakan Merlisa layangkan ke tubuh Krisna, "itu untuk mama Maharani."
Doooorrrrr Merlisa kembali menembakan pada tubuh Krisna, "ini untuk mama Diana." Ucap Merlisa.
Doorrrrr doooorrr, " itu untuk papa Hendra." Ucap Merlisa sambil terduduk lemas dan menjatuhkan pistol di tangannya, kini Krisna sudah bersimbah darah dan sudah tidak bernyawa lagi.
"Papa bertahanlah hiks hiks." Ucap Merlisa memangku kepala papa Hendra.
"Papa sekarang sudah lega nak, paling tidak papa bisa melindungimu untuk yang terakhir kalinya." Ucap papa Hendra terbata.
"Tidak papa, papa jangan berbicara seperti itu. Papa akan baik - baik saja, bertahanlah hiks hiks." Ucap Merlisa.
"Berbahagialah nak, doa papa selalu bersamamu. Dan sekali lagi maafkan semua kesalahan papa." Ucap papa Hendra dengan suara semakin berat.
__ADS_1
"Tidak papa, tidaaakk. Toollllooonngg! tooolllooonng!" teriak Merlisa.
Bersambung.....