
Setelah menyelesaikan mandinya, Merlisa dan Arga memutuskan untuk kembali ke arpatrmen, yang srbelumnya sudah berpamitan pada papa Hendra dan Andri.
"Sayang sudah jangan makan mangga muda terus, nanti perutnya sakit." Ucap Arga.
Arga menyengir merasaka betapa asemnya mangga muda itu, Arga terheran melihat Merlisa begitu lahapnya memakan mangga muda tersebut tidak menunjukan sama sekali ekspresi asam.
"Sedikit lagi ya sayang, ini enak sekali." Ucap Merlisa dengan mulut yang penuh dengan mangga muda.
"Stop honey, nanti perutnya bisa sakit, kamu juga belum makan." Tegas Arga.
"Ya ya aku tidak makan mangga muda lagi." Sahut Merlisa mengerucutkan bibinya.
"Anak pintar." Ucap Arga mengelus pucuk kepala Merlisa.
"Ayo kita makan malam sayang, bi Tati sudah menyiapkan makanan untuk kita." Ajak Arga pada Merlisa.
"Aku temani saja ya, aku sudah kenyang sayang." Ucap Merlisa memegang perutnya.
"Tidak, kau juga harus makan. Dari tadi kamu hanya makan mangga muda saja." Ucap Arga.
"Ya ya tuan pemaksa." Kesal Merlisa, dan Arga tidak memperdulikan ucapan Merlisa, Arga terus menggandeng Merlisa menuju meja makan.
"Aaaaaa buka mulutmu sayang." Ucap Arga yang ingin menyuapi Merlisa, dan Merlisa dengan berat hati membuka mulutnya, sebenarnya Merlisa sudah begitu kenyang memakan mangga muda.
"Sayang Salwa kemana, kok aku tidak melihatnya?" tanya Merlisa.
"Tadi dia bilang mau ke supermarket kalau tidak salah, mau ada yang ingin di beli." Ucap Arga, Merlisa hanya manggut-manggut saja.
"Sayang sudah ya, aku sudah tidak kuat lagi, perutku rasanya mau meledak karena kekenyangan." Rengek Merlisa.
"Ya sudah, setidaknya kamu sudah makan meski sedikit." Sahut Arga.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka, Merlisa dan Arga sedang bersantai di roof garden sambil menikmati semilir angin malam yang berhembus, lampu berwarna - warni yang bertaburan di ibu kota, menambah ke indahan malam.
Mereka mendudukan tubuhnya di kursi ayunan besar yang berbentuk setengah lingkaran.
Merlisa menyandarkan tubuhnya di dada bidang Arga, dan Arga memeluk Merlisa dari belakang sambil memainkan rambut Merlisa yang ia gulung - gulung di jarinya.
"Sayang apakah perjanjian kita masih berlaku?" tanya Merlisa.
__ADS_1
"Perjanjian apa?" tanya balik Arga.
"Perjanjian setelah usia pernikahan kita satu tahun kita akan berp...." Ucap Merlisa yang sudah di potong oleh Arga.
"Apa kamu menginginkan hal itu?" tanya Arga yang sudah menatap wajah Merlisa.
"Tidak." Ucap Merlisa pelan.
"Aku juga tidak menginginkannya sayang, aku tidak mau kehilanganmu. Anggap saja tidak ada perjanjian di antara kita sebelumnya sayang." Ucap Arga sambil menangkupkan kedua tangannya pada pipi Merlisa.
"Aku juga sama, aku juga sangat mencintaimu suamiku." Ucap Merlisa.
Cup satu kecupan di kening Merlisa, cup cup dua kecupan di mata Merlisa, cup cup dua kecupan di pipi Merlisa, cup satu kecupan di hidung Merlisa, dan cup satu kecupan lama di bibir Merlisa, berawal hanya menempel lama-lama berubah menjadi ******* pada bibir Merlisa, dan Merlisa membalas ciu**an yang di berikan Arga. Cukup lama mereka berciu**an dengan di bawah indahnya rembulan sebagai saksi bisu dua insan yang saling mencinta.
"Sayang tadi aku dan Andri berencana ingin melakukan liburan bersama, setelah kita melakukan resepsi pernikahan, hitung - hitung kita melakukan bulan madu kita yang kedua." Ucap Arga, setelah mereka menyudahi aktivitasnya.
"Mau liburan kemana memangnya?" tanya Merlisa.
"Kami belum menentukan kemana si.Menurut mu kemana yang enak sayang, di luar negri atau di dalam negri saja?" tanya Arga.
"Bagaimana kita kepulau seribu saja, di sana tempatnya indah kok." Ucap Merlisa.
"Yakin ke sana, gak mau keluar negri saja." Ucap Arga.
"Betul juga si, emang paling pintar istriku yang satu ini." Ucap Arga sambil mencubit hidung Merlisa.
"Sayang sakiiiittt!" Rengek Merlisa karena hidungnya memerah akibat ulah Merlisa.
"Hahaha hidungmu seperti tomat." Ucap Arga sambil mengecup hidung Merlisa.
*****
Di mini market Salwa masih fokus memilih barang - barang yang ia beli untuk keperluannya.
Brrruuukkk Salwa menabrak seseorang karena ia terus fokus pada rak yang berada di depan.
"Maaf saya tidak sengaja." Ucap Salwa sambil memasukan barang belanjaan yang berjatuhan ke dalam keranjang.
"Salwa." Ucap Andri, tidak yakin dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1
"Tuan ini kakaknya nona Merlisa kan?" tanya Salwa.
"Iya, jangan panggil saya dengan sebutan tuan, karena saya bukan atasanmu Salwa." Ucap Andri.
"Tapi anda adalah kakak dari nona Merlisa, dan saya meminta maaf tadi sudah menabrak anda." Ucap Salwa dengan sopan.
Kenapa gadis ini kaku sekali, bagaimana ya caranya aku bisa lebih dekat dengannya." Batin Andri.
"Saya permisi dulu tuan." Ucap Salwa, sontak membuyarkan lamunan Andri.
"Salwa tunggu! aku belum selesai bicara denganmu." Ucap Andri.
"Maaf tuan saya harus segera pulang, hari sudah semakin malam." Ucap Salwa bergegas pergi, namun sudah di tahan oleh Andri dengan memegang lengan Salwa. Salwa menatap tangan Andri yang menggenggam lengannya.
"Maaf, aku tidak sengaja." Ucap Andri menyengir kuda.
"Memang ada apa lagi tuan?" Ucap Salwa yang mulai jengkel dengan sikap Andri.
Sabar Salwa, kalau bukan kakak dari nona Merlisa, sudah aku patahkan tangannya karena sudah lancang memegang lenganku seenaknya. Batin Salwa.
"Apakah aku tidak bisa berteman denganmu Salwa, kenapa kamu selalu menghindariku." Ucap Andri.
"Teman? maaf tuan bukan saya bermaksud menghindari tuan, tapi saya tidak merasa pantas menjadi teman dari kakak nona Merlisa. Saya di sini hanya sebagai bodyguard nona Merlisa, bukan untuk mencari teman." Ucap Salwa.
" Kamu dan aku sama saja Salwa, tidak ada yang berbeda. Mari kita berteman, bukankah banyak teman itu menyenangkan." Ucap Andri dengan tersenyum manis.
"Tapi tidak denganku tuan, aku tidak suka banyak teman, aku lebih baik mempunyai satu sahabat namun bisa berbagi suka maupun duka." Ucap Salwa datar.
"Kalau begitu jadikan aku sahabatmu Salwa."Sahut Andri.
Salwa sudah mengepalkan tangannya, ia merasa geram karena Andri selalu mengulur - ulur waktunya.
"Maaf saya sudah memiliki Sahabat, Saya permisi." Ucap Salwa.
"Kalau seperti itu, aku mau jadi kekasihmu saja, pasti kamu belum punyakan." Sahut Andri. Salwa hanya tersenyum tipis sambil berlalu pergi meninggalkan Andri yang mematung menatapnya.
Salwa aku yakin suatu saat nanti aku akan bisa berada di hatimu, wanita esku. Batin Andri tersenyum sambil menatap punggung Salwa yang semakin menjauh dari pandangannya.
Aku tidak boleh berurusan lagi dengan namanya lelaki kaya, sama jasa akan membuka lukaku lagi. Aku hanya wanita miskin, sampai kapanpun tidak akan pantas bersanding dengan pria yang jauh dari segalanya. Batin Salwa, yang melamun sambil mengemudikan motornya.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejaknya 😘💪🙏