Kakak Iparku Mantan Kekasihku

Kakak Iparku Mantan Kekasihku
Bab 48


__ADS_3

Semua kariawan berbisik satu sama lainnya, mendengar pernyataan Arga yang sudah menikah.


Semua kariawan wanita patah hati masal mendengar berita pernikahan Arga Sebastian.


" Saya rasa sudah cukup penyampaian saya, maaf sudah mengganggu kerja kalian, silakan untuk bekerja kembali dan selamat siang." Ucap Arga.


" Dan satu lagi, saya mau kariawan yang tadi sudah menyakiti istri saya harap jangan meninggalkan tempat ini." Tegas Arga.


Sontak semua kariawan riuh, membicarakan Merlisa yang tadi sudah di hadang oleh kariawan wanita.


Semua kariawan pergi meninggalkan ruangan dengan sejuta penasaran di pikiran mereka masing - masing.


" Waahh pak CEO mau melakukan apa ya? pasti semua kariawan wanita yang sudah berani mengganggu istri pak Arga akan di pecat deh." Ucap kariawan A menebak.


" Bisa jadi, bahkan lebih parahnya bisa di jebloskan ke dalam penjara." Sahut kariawan B.


" Iiihh serem banget ya, untung aja kita gk ikut - ikutan ya." Ucap kariawan C.


Di dalam ruang meeting, hanya terdapat Merlisa, Arga, Angga dan beberapa kariawan wanita masih berdiri dengan menundukan kepalanya. keringat dingin sudah membasihi wajah mereka.


" Sayang mau apa kamu menahan mereka?" tanya Merlisa.


" Mau memberikan pelajaran untuk mereka sayang." Sahut Arga dengan tatapan tajam ke arah kariawan wanita.


" Jangan seperti itu sayang, aku tidak apa - apa. Setelah mereka tau siapa aku pasti mereka tidak berani untuk menggangguku." Ucap Merlisa.


" Aku tidak terima kamu di perlakukan seperti itu." Ucap Arga dengan memasang wajah kesalnya.


" Maafkan kami nona, ampuni kami pak Arga. Kami tidak tau kalau nona Merlisa adalah istri anda." Salah satu kariawan yang mewakili untuk berbicara.


" Kalian semua saya pecat dari sini, silakan rapihkan barang - barang kalian." Tegas Arga.


" Sayang...." Ucap Merlisa terpotong oleh Arga.


" Keputusan ku sudah bulat sayang, kalau aku tidak bertindak tegas pada mereka, nanti banyak ada kariawan lain yang akan semena - mena dengan bawahannya." Ucap Arga.


" Maafkan kami pak, maafkan kami nona, kami menyesal. Beri kami satu kesempatan pak." Ucap salah satu kariawan.


" Sayang berilah kesempatan satu kali saja pada mereka." Pinta Merlisa


Arga tidak menghiraukan permintaan Merlisa.


" Pergi kalian dari sini, masih beruntung kalian tidak aku laporkan kepada pihak berwajib." Tegas Arga.


Para kariawan wanita itu pun pergi ke ruangan mereka masing - masing untuk merapihkan barang - barang mereka.


"Sayang apa pipimu masih sakit?" tanya Arga pada Merlisa. Saat mereka hanya berdua di ruangan tersebut.


" Tidak, aku tidak apa - apa. Kenapa kamu pecat meraka, aku tidak suka dengan keputusanmu." Kesal Arga.


Arga menghela nafasnya secara kasar, " Sayang keputusan ku sudah tepat, itu sebagai salah satu tindakanku untuk melindungimu dari siapapun itu. Sudah aku tidak mau membahas masalah ini lagi." Ucap Arga.


" Ya sudah kalau seperti itu, aku mau kembali ke meja kerjaku saja." Ucap Merlisa.


" Ya sudah, kalau ada apa - apa bilang denganku, jangan cape - cape kerjanya." Ucap Arga mencium kening Merlisa.


Dan keduanya berpisah pergi ke ruangan mereka masing - masing.


*****


Di kantin Merlisa, Anggi, Natan sedang menikmati makan siang mereka. Perlakuan semua kariawan kepada Merlisa sangat berbeda, semua terlihat segan dengannya, bahkan ada para pejilat bermanis - manis dengan Merlisa.


" Ca elo hutang penjelasan dengan kita." Ucap Anggi yang sudah begitu penasaran hingga sudah naik ke ubun - ubun.


" Iya bener banget tu Gi, elo kok bisa jadi istri pak Arga?" tanya Natan menimpali.


Merlisa menarik nafasnya dan membuangnya pelan.


" Maaf sebelumnya pada kalian, gue udah sembunyiin ini dari kalian. Keluarga Sebastian meminta gue menikah dengan anaknya, papa Fandi Sebastian sendiri yang meminang langsung dan bertemu dengan papa Hendra, dan gue akhirnya menikah dengan pak Arga." Jelas Merlisa.


" Tapi kok keluarga Sebastian bisa kenal dengan eli Ca, secarakan mereka keluarga terpandang. Orang berpengaruh no 3 di Asia ini." Ucap Anggi.


" Iya Ca kok bisa si?" tanya Natan juga begitu antusias.


" Waktu itu gue sempat nolongin istri dari papa Fandi, yaitu mama Wina, dan gue juga awalnya tidak tau kalau mama Wina adalah istri dari papa Fandi Sebastian." Jelas Merlisa lagi.

__ADS_1


" Waaahh emang kalau jodoh pasti di pertemukan dengan cara apapun Ca, gue juga mau dong satu seperti pak Arga." Ucap Anggi senyum - senyum.


" Kalau ngayal jangan ke tinggian, nanti jatuh baru tau rasa loe." Ucap Natan mentoyor kepala Anggi.


" Iiihhh Natan apaan si loe." Ucap Anggi kesal.


Merlisa hanya geleng - geleng kepala melihat tingkah kedua temannya itu.


"Ca berarti elo nyonya muda dari keluarga Sebastian dong." Ucap Natan.


" Ya kira - kira seperti itu." Sahut Merlisa.


" Apa elo tetap masih mau berteman dengan kita - kita Ca, secarakan kita hanya remah - remah rengginang untuk elo Ca." Ucap Anggi.


" Apaan si Gi, gue masih tetap Merlisa sahabat kalian, tidak ada yang berubah dari gue. Ini salah satu alasan gue menyembunyikan status gue di perusahaan ini, karena gue gak mau kalian sungkan sama gue, kalian akan jadi sahabat gue selamanya." Ucap Merlisa dengan tatapan sendu.


" Hheeemm Ica, gue jadi terharu mendengarnya." Ucap Anggi sudah berbaur memeluk Merlisa.


" Makasih selama ini kalian selalu ada buat gue." Ucap Merlisa masih berpelukan dengan Anggi.


" Gue juga mau dong di peluk." Ucap Natan memeluk Merlisa dan Anggi.


" Apaan si elo Nat, main ikut peluk - peluk aja." Ucap Anggi.


" Ayo lah Gi kita kan best friend." Sahut Anggi.


" Tapi jangan modus juga."


" Siapa juga yang modus, si Ica aja gk mempermasalahkan, iya kan Ca." Ucap Natan mencari pembelaan pada Merlisa.


" Ada apa nih, pake segala acara pelukan gitu, udah seperti teletabies kalian." Ucap Rafi tiba - tiba.


" Ini loh pak Rafi si Anggi pengen punya suami seperti pak Arga." Sahut Natan pada Rafi.


" Ngomong apaan si elo Nat." Ucap Anggi sambil menginjak kaki Natan dengan sengaja.


" Aawww emang benerkan tadi elo ngomong gitu." Ucap Natan.


" Jangan ngomong juga dengan pak Rafi kali Nat, dasar ember bocor loe." Kesal Anggi.


" Jangan dengerin ucapan Natan pak, dia itu kalau ngomong gak di saring dulu." Ucap Anggi, ia merasa kesal dan malu pada Rafi.


Merlisa hanya tertawa melihat adegan drama yang di lakukan sahabatnya itu.


" Beneran juga gak apa - apa Gi ." Sahut Rafi tersenyum.


Anggi hanya tersenyum canggung menahan rasa malunya.


" Ciee ada yang malu - malu tapi ngarep banget sebenernya kan, udah lah Gi pepet terus tuh pak Rafi, nanti ke buru di embat cewe lain." Goda Natan lagi pada Anggi.


" Nataaann nyebelin banget si elo!" sungut Anggi.


Merlisa dan Rafi hanya tertawa melihat perdebatan Anggi dan Natan.


*****


Hari hari Merlisa dilewati seperti biasa, karena hari ini hari weekand Merlisa meminta izin pada Arga untuk pergi ke toko kue miliknya, karena toko kue milik Merlisa tetap buka meski hari weekand, sistem libur bergantian di setiap harinya para pekerja yang berada di toko kue Merlisa.


Merlisa sedang di sibukkan dengan setumpuk kertas yang berada di meja kerjanya, memeriksa laporan pemasukan dan pengeluaran. Toko kue miliknya harus di anak tirikan karena ia magang di perusahaan.


Tok tok tok suara pintu di ketuk dari luar ruang kerja Merlisa.


" Masuk!" teriak Merlisa dari dalam yang masih sibuk dengan kertas - kertas di hadapannya.


" Maaf mbak saya mau memberi tahu kalau ada yang mencari mbak Ica." Ucap Lia.


" Siapa?" tanya Merlisa pada Lia.


" Gak tau mbak, tapi yang cari mbak Ica pria mbak, prianya tampan banget lagi." Ucap Lia lagi.


Merlisa hanya mengerutkan keningnya.


" Ya sudah saya akan ke sana." Sahut Merlisa.


Merlisa berjalan menghampiri pria yang tengah berdiri di depan jendela menghadap jalan raya.

__ADS_1


" Maaf mau ada perlu apa ya mencari saya?" tanya Merlisa karena posisi pria itu membelakanginya.


" Kenapa kamu meninggalkan ku, huh!" kesal Arga.


" Tadi kamu masih tertidur, aku tidak tega untuk membangunkanmu, lagi pulakan ini hari weekand." Sahut Merlisa. "Suami kenapa kamu bisa ada di sini? semalam aku kan sudah bilang denganmu." Ucap Merlisa lagi.


" Tidak penting kenapa aku bisa ada di sini, sekarang aku mau sarapan bersama denganmu." Ucap Arga, lalu mencium pipi Merlisa. Merlisa hanya membulatkan matanya, karena di situ ada Lia kariawannya yang sedang memasukan kue ke dalam etalase.


" Suami apa yang kau lakukan, malu tau." Ucap Merlisa.


" Kenapa harus malu, aku tidak perduli. Memang kamu tidak mau memperkenalkan ku pada kariawanmu sayang." Ucap Arga.


" Iya nanti aku perkenalkan dengan kariawanku, yuk sekarang kita ke ruanganku." Ucap Merlisa.


" Apakah ini ruang kerjamu sayang?" ucap Arga memperhatikan sekeliling ruangan Merlisa.


" Iya ini ruang kerjaku, memang sederhana tidak seperti ruang kerjamu yang sangat luas itu." Ucap Merlisa.


" Ini juga bagus, tidak buruk juga. Cukup nyaman." Ucap Arga memberi penilaian.


" Suami kenapa kamu tau toko kueku, aku kan belum pernah ajak kamu ke sini?" tanya Merlisa.


" kalau itu si gak sulit untuk seorang Arga Sebastian sayang." Ucap Arga mencubit hidung Merlisa.


" Ya ya aku percaya siapa kamu di negara ini." Ucap Merlisa memutar bola matanya malas.


" Ya sudah aku ke depan dulu, mau ambilkan sarapan untukmu." Ucap Merlisa lagi.


" Heeemmm."


Merlisa keluar dari ruang kerjanya menuju etalase kue.


"Mbak Ica tadi siapa, pacarnya ya? sepertinya sayang banget dengan mbak Ica." Ucap Lia dengan antusiasnya.


" Sok tau kamu Li, dari mana kamu tau kalau dia sayang sama aku." Ucap Merlisa dengan sibuk memasukan kue di atas piring.


" Tau lah mbak, dari cara menatap mbak Ica aja udah kelihatan banget kok." Sahut Lia.


" Iya mba tadi siapa tampan banget, pacar mbak Ica ya." Ucap pegawai Merlisa yang lain.


"Sudah aahh sana kalian kerja lagi." Ucap Merlisa tersenyum.


Merlisa membawa 2 cangkir coklat panas dan capucino dan sepiring aneka kue di atasnya.


" Wahh sepertinya enak." Ucap Arga saat Merlisa meletakan nampan di atas meja.


" Silakan di nikmati sayang." Ucap Merlisa.


Dan keduanya menikmati minuman dan kuenya. Menikmati sarapan menjelang siang.


" Sayaaaanngg!" Ucap Merlisa manja saat Arga membersihkan bibirnya yang belepotan dengan coklat menggunakan bibirnya.


" Hheeemmm manis." Ucap Arga.


" Aahhh kau ini." Ucap Merlisa memukul lengan Arga.


" Sayang kita jalan yuk." Ajak Arga.


" Kemana?"


" Kemana aja, asal sama kamu." Ucap Arga.


" Tunggu sebentar ya, aku selesaikan pekerjaanku dulu." Ucap Merlisa.


" Mau aku bantu sayang." Tawar Arga.


" Tidak perlu, sedikit lagi kok." Tolak Merlisa.


" Ya sudah kalau seperti itu." Ucap Arga.


Diam - diam Arga memotret Merlisa yang tengah fokus dengan pekerjaannya lewat handphonenya, menurut Arga Merlisa semakin menggemaskan saat terlihat serius seperti itu.


Bersambung....


Jangan lupa berikan vote, like, dan komennya ya 😘💪👍

__ADS_1


__ADS_2