
"Sayang hari ini kamu mau kemana?" tanya Arga pada Merlisa, karena Merlisa sudah tidak di ijinkan untuk bekerja, Arga ingin cepat memiliki buah hati dari pernikahannya dengan Merlisa jadi ia melarang Merlisa untuk melakukan aktivitas yang membuatnya lelah.
"Aku mau ke kampus sayang, mau menemui dosen pembimbing, mau membahas tentang skripsi yang mulai aku buat." Ucap Merlisa sambil memasangkan dasi pada leher Arga, dan Arga memeluk pinggang Merlisa dan menciumi seluruh wajah Merlisa.
"Ingat jangan cape - cape kamu, aku tidak mau kamu sampai kelelahan dan sters karena skripsi yang sedang kau buat." Pesan Arga.
"Iya iya aku tau sayang. Sayang bisa diam sebentar gak si, aku kesulitan memasang dasinya." Protes Merlisa.
"Aku belum puas menciummu sayang, nanti kalau aku di kantor rindu denganmu bagaimana, bisa - bisa aku tidak fokus untuk bekerja." Ucap Arga masih mencumbui Merlisa.
"Cih kau ini, nanti sore juga kita akan bertemu lagikan. Kalau perlu nanti siang aku akan kekantor menemuimu." Ucap Merlisa.
"Sepertinya aku tidak ada di kantor untuk siang ini sayang, karena aku ada pertemuan meeting dengan klien penting dari jerman, kalau tidak salah Angga memberitahu di restoran hotel XX." Ucap Arga.
"Ooo ya sudah kalau seperti itu, paling aku ke toko aja deh. Udah beberapa hari ini aku belum mengecek toko." Ucap Merlisa.
"Tapi ingat jangan cape - cape, dan jangan lupa makan ya sayang." Ucap Arga. "Aku ingin di perutmu ini cepat - cepat ada buah cinta kita sayang." Ucap Arga sambil mengelus - elus perut Merlisa.
"Jangan berbicara seperti itu sayang, yang ada membuatku takut." Sahut Merlisa.
"Takut?" tanya Arga.
"Iya aku takut aku tidak bisa cepat - cepat memberimu keturunan, bahkan aku takut tidak bisa ...." Ucap Merlisa terhenti, karena Arga sudah menempelkan jari telunjuknya di bibir Merlisa.
"Maafkan aku sayang membuatmu menjadi tertekan karena ucapanku, nanti kalau memang sudah rejekinya pasti di dalam perutmu ada Arga junior di sana, lagian usia pernikahan kita juga baru 2 bulan." Ucap Arga. " Kamu jangan pikirkan ucapan aku yang tadi ya, asal kamu selalu ada di sampingku terus, itu juga membuatku sangat bahagia." Ucap Arga lagi tersenyum sambil memegang bahu Merlisa.
Meski kamu berbicara seperti itu, aku juga sangat tau kamu sangat menginginkan anak di antara rumah tangga kita, begitu juga dengan mama Wina dan papa Fandi. Batin Merlisa Sambil tersenyum ke arah Arga.
"Sudah selesai, yuk kita sarapan." Ajak Merlisa saat sudah selesai merapihkan penampilan Arga.
Keduanya sarapan bersama di meja makan, dengan seperti biasa hanya satu piring bersama, saling menyuapi satu sama lainnya.
"Sayang aku berangkat dulu ya." Ucap Arga setelah sarapan paginya telah selesai.
"Iya, kamu hati - hati ya." Ucap Merlisa mencium punggung tangan Arga, dan Arga mencium kening Merlisa lama.
*****
Setelah kepergian Arga, Merlisa segera bersiap untuk berangkat menuju kampus.
"Nona hari ini kita mau kemana?" tanya Salwa saat keluar dari basmant arpatemrn Arga.
"Kita universitas XX ya." Sahut Merlisa.
"Baik nona." Ucap Salwa dengan wajah datarnya.
Setelah sampainya di kampus Merlisa menemui dosen pembimbing menanyakan tentang skripsi yang Merlisa buat. Salwa menunggu Merlisa di kantin kampus.
"Salwa aku ke toilet sebentar ya." Ucap Merlisa pada Salwa.
__ADS_1
Di dalam toilet Merlisa mendengar seseorang sedang berbicara di telphone.
"Ingat rencana ini tidak boleh gagal, aku akan ke sana dalam 30 menit. Pastikan dia tidak boleh pergi dulu dari restoran itu." Ucap wanita yang menelphone seseorang di sebrang sana.
"Sepertinya aku tidak asing dengan suara wanita ini, sebenarnya ada rencana apa yang ia perbuat." Gumam Merlisa yang tidak sengaja mendengar percakapan wanita itu.
"Dengan cara ini aku akan mendapatkanmu seutuhnya, jika kamu tidak mau meninggalkan wanita ja**ng itu, biar dia yang akan meninggalkanmu." Ucap wanita itu lagi.
Tiba - tiba perasaan Merlisa menjadi tidak enak, entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Merlisa memilih bersembunyi di dalam kamar mandi sebelum wanita tadi keluar.
***
Di restoran hotel XX Arga masih meeting dengan klien pentingnya, untuk membicarakan kerja sama antara keduanya.
"Vielen dank fur Ihre mitarbeit Ich hoffe, dass wir in zukunft solide partner werden ( terima kasih atas kerja samanya, semoga kedepannya kita menjadi partner yang solid)" ucap Arga dengan bahasa jerman sambil menjabat tangan kliennya.
"Tatsachlich danke ich Ihnen herr, Arga Sebastian. Es ist mir eine Ehre, mit ihrem unternehem zusammenarbeiten zu konnen ( justru saya yang berterima kasih pada anda tuan Arga Sebastian, suatu kehormatan untuk saya, bisa bekerja sama dengan perusahaan anda)" sahut klien Arga dari jerman.
Dan keduanya menyelesaikan meeting mereka. Arga baru ingin beranjak dari tempat duduknya tiba - tiba ia di tabrak oleh seorang wanita.
"Maaf saya tidak melihat."
"Vanesa." Ucap Arga saat melihat wanita yang menabraknya.
"Arga." Ucap Vanesa juga.
"Beruntung aku bertemu kamu di sini Ga, aku ingin bicara denganmu." Ucap Vanesa.
"Aku mohon Ga, aku hanya ingin berpamitan denganmu karena setelah ini aku akan pergi jauh darimu." Ucap Vanesa lirih.
Arga membuang nafasnya berat, " baiklah kita bicara di sana." Ucap Arga dengan wajah datarnya. " Dan kamu Ga, bisa kembali kekantor, saya ada urusan sebentar." Ucap Arga lagi pada seketarisnya Angga.
"Baik pak saya permisi." Sahut Angga.
"Terima kasih Ga, sudah mau memeluangkan waktu untukku." Sahut Vanesa saat keduanya sudah duduk saling berhadapan.
"Cepat apa yang mau ingin kamu katakan, waktuku tidak banyak." Ucap Arga to the poin.
"Kita pesan makanan dulu ya, biar lebih enak untuk mengobrolnya." Vanesa menawarkan.
"Tidak perlu, aku sudah makan." Tolak Arga.
"Kalau begitu minum aja ya." Ucap Vanesa.
"Terserah kamu." Sahut Arga menatap ke sembarang arah, karena ia enggan untuk melihat wanita yang berada di depannya.
Dan Vanesa memesan satu cangkir kopi latte untuk Arga dan orange juice untuknya beserta cake.
"Sekarang apa yang kamu ingin bicarakan denganku." Ucap Arga sambil meminum kopi latte miliknya.
__ADS_1
Ayo di minum sampai habis sayang. Batin Vanesa.
"Aku hanya ingin bilang kalau aku ingin pergi dari sini, aku ingin pindah keluar negri." Bohong Vanesa.
"Bagus kalau seperti itu." Sahut Arga.
Tidak membutuhkan waktu lama Arga sudah mulai terlihat gelisah di tempat duduknya, mukanya juga sudah memerah. Dan Vanesa semakin mengulur - ulur waktu bersama Arga, menikmati reaksi obat yang ia berikan pada kopi latte Arga, sambil meminum orange juice Vanesa tersenyum tipis.
Kenapa denganku, rasanya tubuhku panas sekali. Dan aahh adekku kenapa jadi menegang. Sial jangan - jangan ini ulah Vanesa. Batin Arga.
Arga sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, keringatnya sudah membasahi kemeja yang ia kenakan. dengan berjalan gontai Arga berjalan dengan di bantu oleh salah satu pelayan pria menuju kamar yang sudah di siapkan Vanesa. Kondisi Arga sudah tidak bisa ia kendalikan, dengan setengah kesadarannya.
"Hai sayang mari kita bersenang - senang." Ucap Vanesa saat sudah berada di kamar hotel, Vanesa duduk di atas tubuh Arga, dan mulai membuka jas milik Arga.
"Jadi ini ulahmu Vanesa!" Bentak Arga dengan setengah kesadarannya.
"Hahaha iya sayang, aku ingin wanita ja**ng itu meninggalkanmu, karena kamu tidak mau meninggalkannya." Ucap Vanesa mulai membuka satu persatu kancing kemeja Arga.
"Dia wanita baik - baik, kau wanita ja**ng Vanesa!" Teriak Arga.
"Mari sayang kita bersenang - senang tapi tunggu aku ingin memasang ini dulu, kita berbagi kesenangan kita pada istrimu." Ucap Vanesa sambil memasang camera handycam mengarah ke tempat tidur.
Vanesa kini hanya mengenakan pakaian dalam, Arga juga suda bertelanjang dada, Vanesa sudah menindih Arga ysng sudah tidak berdaya akibat pengaruh obat perangsang, namum saat ingin membuka celana panjang Arga, perut Vanesa tiba - tiba mulas ingin segera ke kamar mandi dan pergi meninggalkan Arga.
"Kenapa kamu bisa ada di sini, ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Ucap Arga saat melihat seseorang masuk ke dalam kamar hotel.
"Sudah jangan banyak tanya, ayo kita pergi dari sini." Ucap wanita itu.
Akhirnya Arga keluar dari kamar itu di bantu oleh wanita yang memapahnya dan masuk ke dalam kamar hotel yang berbeda.
"Aku sudah tidak tahan lagi, tolong bantu aku." Ucap Arga lirih,
"Iya sayang." Sahut Merlisa.
Arga sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi. Menurut Arga hasratnya akan tersalurkan dengan wanita yang tepat yaitu istrinya sendiri. Merlisa yang sudah menggagalkan rencana jahat Vanesa, berusaha mengimbangi permainan Arga karena pengaruh obat perangsang itu.
Entah sudah berapa kali Merlisa dan Arga melakukan olahraganya, tidak hanya melakukan di tempat tidur saja, di setiap sudut kamar hotel sudah menjadi tempat olahraga Arga dan Merlisa. Sudah bisa di bayangkan betapa berantakannya kamar hotel yang di tempati Merlisa dan Arga.
Sedangkan di kamar lain, Vanesa sudah sangat kesal melihat Arga yang sudah tidak ada di atas tempat tidur, sialnya perutnya juga begitu mulas, sehingga ia terus - terusan bolak balik ke kamar mandi.
"Siiiaal rencanaku gagal, tidak mungkin Arga bisa keluar dari kamar ini dengan kondisinya seperti ini." Kesal Vanesa.
"Pasti ada orang yang membantunya." dengus Vanesa. " Dduuuhhh perutku sakit lagi, aku harus kekamar mandi lagi." Ucap Vanesa lagi.
Sedangkan Arga dan Merlisa masih sibuk dengan olahraganya, olahraga yang semakin panas semakin memberi kenikmatan untuk keduanya.
"Terima kasih sayang, terima kasih sudah menolongku. Kau memang istri superku." Ucap Arga memeluk Merlisa, keduanya saling berpelukan di dalam selimut tanpa memakai pakaian sehelaipun.
"Sama - sama sayang, untung aku datang belum terlambat." Sahut Merlisa.
__ADS_1
Bersambung .....
Selamat hari kemerdekaan yang ke 75. Dan jangan lupa tinggalkan jejaknya 🤗🙏💪