
"Berbahagialah nak, doa papa selalu bersamamu. Dan sekali lagi maafkan semua kesalahan papa." Ucap papa Hendra dengan suara semakin berat.
"Tidak papa, tidaaakk. Toollllooonngg! tooolllooonng!" teriak Merlisa.
Merlisa terus berteriak meminta tolong, berharap ada orang yang dapat menolongnya.
"Sayang!" Ucap Arga kaget, saat melihat Krisna dan papa Hendra bersimba darah.
Andri dan Salwapun ikut kaget, kenapa ada papa Hendra juga.
"Sayang tolong papa hiks hiks." Ucap Merlisa.
"Iya sayang, kamu tidak apa-apa kan." Ucap Arga sambil memeriksa tubuh Merlisa.
"Tidak, aku tidak apa - apa tapi papa hiks hiks." Ucap Merlisa.
Andri dan beberapa polisi segera membawa papa Hendra ke rumah sakit dengan menggunakan mobil polisi, dan anggota polisi yang lain masih berada di tempat ke jadian, untuk mengevakuasi jasad Krisna dan melakukan penyelidikkan.
Sedangkan Arga dan Merlisa pergi menggunakan mobil Arga, yang di kemudikan oleh Salwa.
Merlisa terus menangis husteris di pelukan Arga, Merlisa merasakan syok, spikis Merlisa kembali terguncang. Orang - orang yang ia sayangi harus berkorban untuk melindungi Merlisa.
"Apa papa baik - baik saja, papa banyak mengeluarkan darah, papa seperti ini karena aku, karena melindungiku, seharusnya aku yang berada di posisi papa saat ini hiks hiks." Ucap Merlisa masih histeris.
"Sayang sudah, papa akan baik - baik saja. Jangan menyalahkan dirimu sendiri." Ucap Arga mendekap erat Merlisa.
Hati Arga begitu sakit, saat melihat Merlisa begitu terguncang, di tambah lagi Arga juga mengkhawatirkan kondisi janin yang berada di dalam perut Merlisa.
Merlisa terus menangis dan akhirnya Merlisa pinsan tidak sadarkan diri.
"Sayang bertahanlah, kau wanita kuat." Ucap Arga.
Sayang hatiku sangat sakit melihatmu seperti ini, kau wanita yang kuat. Aku akan selalu menjagamu sampai kapanpun. Batin Arga, ikut menitikikan air matanya, menciumi pucuk kepala Merlisa.
Salwa yang sedari tadi fokus mengemudi, ikut merasakan kepiluan yang sedang di alami oleh Merlisa dan Arga.
Sesampainya di rumah sakit terdekat Merlisa segara masuk ke dalam ruang IGD untuk melakukan pemeriksaan. Sedangkan papa Hendra sudah berada di ruang operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di dalam tubuhnya.
Arga menunggu Merlisa yang sedang di periksa oleh dokter, tidak berapa lama papa Fandi dan mama Wina datang dan menghampiri Arga.
"Ga bagai mana ke adaan Merlisa?" tanya mana Wina.
"Belum tau ma, dokter masih memeriksa ke adaannya." Sahut Arga.
Tidak beberapa lama dokter telah selesai memeriksa Merlisa.
"Bagaimana dengan ke adaan istri saya dok?" tanya Arga pada dokter.
"Untuk saat ini, kondisi nona Merlisa tidak perlu di khawatirkan, luka - lukanya tidak begitu serius, dan kandungan nona Merlisapun tidak ada masalah. Nona Merlisa hanya mengalami dehidrasi karena tidak makan dan minum." Ujar dokter.
"Syukurlah kalau begitu." Ucap mama Wina.
__ADS_1
"Sebentar lagi nona Merlisa akan di pindahkan keruang rawat inap." ucap dokter.
"Baik dokter, terima kasih." Ucap Arga.
Merlisa kini sudah di pindahkan keruang rawat inap VVIP, kini Merlisa sudah berganti pakaian dengan menggunakan pakaian rumah sakit, karena pakaian Merlisa penuh dengan darah. Terdapat beberapa luka lebam yang terdapat di wajah Merlisa akibat tamparan dan pukulan yang ia dapat.
Mama Wina duduk di samping brankar Merlisa, ia merasa pilu dengan kondisi yang di alami menantunya itu.
Sedangkan Arga dan papa Fandi sedang duduk di sofa kamar rawat Merlisa. Arga menceritakan semua kejadian yang di alami Merlisa.
"Ma, pa, aku keluar sebentar, mau melihat kondisi papa Hendra." Ucap Arga
"Iya nak." Sahut mama Wina.
"Titip istriku ya ma." Ucap Arga lagi.
"Tentu Ga, Merlisa juga anak mama." Sahut mama Wina.
Arga pergi menuju ruang operasi, dimana papa Hendra sedang di lakukan tindakan operasi.
"Dri bagai mana kondisi papa?" tanya Arga psda Andri, Andri hanya menggeleng pertanda ia juga belum tau.
Di situ sudah ada Indri dan Dimas, Salwa dan Andri yang sedang menunggu papa Hendra di luar ruang operasi.
"Bagaimana ke adaan Ica?" tanya Indri.
"Ica baik - baik saja kakak ipar, dia hanya dehidrasi saja. Tapi yang aku khawatirkan adalah spikisnya." Ucap Arga.
"Memang apa yang terjadi dengan Ica?" tanya Andri.
"Ya karena Merlisa pernah mengalami hal yang sama saat tertembaknya mama Diana. Dan kejadian yang sama terjadi kembali pada papa Hendra." Ujar Andri.
"Ya mudah - mudahan apa yang kita takutkan tidak terjadi." Ucap Arga.
"Ya semoga." Ucap mereka serempak.
Tidak beberapa lama ruang operasi terbuka, dokter yang menangani papa Hendra keluar, Andri, Indri, Dimas, Arga dan Salwa menghampiri dokter tersebut.
"Bagai mana dok dengan ke adaan papa saya?" tanya Andri.
"pak Hendra masih dalam ke adaan kritis, tapi beruntung pelurunya meleset tidak mengenai jantung beliau, jika tidak mungkin nyawa pak Hendra tidak terselamatkan. Kita berdoa saja semoga pak Hendra dapat melewati masa kritisnya." Ucap dokter, sambil pergi menuju ruangannya.
"Terima kasih dokter." Ucap Arga.
Tidak beberapa lama papa Hendra sudah di pindahkan keruangan ICU.
"Dri gue ke ruangan Merlisa lagi ya." Ucap Arga.
"Iya Ga, tolong jagain adek gue." Ucap Andri.
"Itu pasti."
__ADS_1
Arga membuka pintu kamar Merlisa, terlihat mama Wina sedang tertidur di atas sofa dengan kepala di atas pangkuan papa Fandi.
"Ma, pa, mama dan papa istirahat di rumah saja, biar Merlisa Arga yang menjaganya." Ucap Arga membangunkan papa dan mamanya.
"Ya sudah nak papa dan mama pulang dulu,besok pagi mama kembali lagi." Ucap mama Wina.
"Iya ma. Papa dan mama hati-hati." Sahut Arga.
Setelah kepergian mama Wina dan papa Fandi, Arga duduk di samping brankar Merlisa, mengelus pucuk kepala Merlisa sambil menciumi sebelah punggung tangan Merlisa.
"Sayang cepat sembuh ya, aku merasa sakit melihatmu seperti ini." Ucap Arga.
Tidak beberapa lama Merlisa mengerejapkan matanya, ia melihat Arga yang tertidur di sampingnya dengan posisi duduk.
"Aaahhh kepaku pusing sekali." Gumam Merlisa.
"Sayang kau sudah sadar?" tanya Arga.
"Iya." Sahut Merlisa singkat sambil tersenyum yang di paksakan.
Argapun menekan tombol yang menempel di dinding sebelah atas kepala Merlisa untuk memanggil dokter.
Tidak beberapa lama dokterpun datang untuk memeriksa ke adaan Merlisa.
"Kondisi nona sudah stabil hanya pemulihan saja. Tidak perlu ada yang di khawatirkan. Saya permisi nona dan tuan." Ucap dokter.
"Syukur kalau seperti itu, terima kasih dokter." Sahut Arga.
"Sayang apa kamu ingin sesuatu?" tanya Arga.
"Tidak, bagaimana dengan ke adaan papa?" tanya Merlisa.
"Kau jangan menghkawatirkan papa ya, papa baik - baik saja, peluru yang menyarang di tubuh papa sudah berhasil di keluarkan." Ucap Arga.
"Syukur kalau seperti itu, aku ingin melihat papa." Ucap Merlisa.
"Jangan dulu sayang, kau baru saja siuman. Besok saja ya, lagi pula papa belum sadar setelah operasi tadi." Ucap Arga.
"Baiklah kalau seperti itu."
"Ya sudah kau istirahat ya sayang, aku di sini
menjagamu." Ucap Arga sambil mengelus pucuk kepala Merlisa.
"Naiklah ke atas tempat tidur sayang, aku ingin tidur di dalam pelukanmu." Ucap Merlisa.
"Nanti kau akan susah bergerak jika aku di atas tempat tidur juga." Ucap Arga.
"Tidak akan, tempat tidur ini luas, dan cukup untuk kita berdua." Sahut Merlisa.
"Baiklah." Ucap Arga.
__ADS_1
Arga naik ke tempat tidur, membawa Merlisa tidur di atas lenganya sebagai bantalan, dan memeluk Merlisa. Merlisapun membalas pelukkan Arga, dan keduanya terlelap dalam mimpi yang indah, dengan saling berpelukan.
Bersambung....