
Acara barbeque mereka masih berlanjut meski waktu sudah semakin larut.
Cup satu kecupan kilas mendarat di pipi Merlisa.
"Apa yang kau lakukan, malu di sini banyak orang." Protes Merlisa pada Arga.
"Aku tidak peduli, aku sangat merindukan mu sayang, tidak bertemu beberapa hari saja seperti sudah berabad - abad lamanya." Sahut Arga memeluk Merlisa dari belakang, menyelusup di tengkuk leher Merlisa.
"Apakah kau merasakan hal yang aku rasakan sayang?" tanya Arga lagi.
"Tidak." Ucap Merlisa singkat.
"Kenapa?" tanya Arga menatap mata Merlisa sambil mengerutkan dahinya.
"Aku tidak rindu denganmu, tapi saat ini aku ingin menelanmu hidup - hidup tuan Sebastian! karena ulahmu aku hampir mati, huh!" dengus Merlisa.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku membuatmu menangis. Istri ke sayanganku ini kasian banget si matanya sampai bengkak gitu." Ucap Arga dan cup cup dua kecupan di kedua mata Merlisa.
"Sekali lagi kau mengerjaiku dengan hal seperti ini lagi, aku akan menelanmu hidup - hidup tuan Arga Sebastian." Kesal Merlisa sambil mendelikan matanya ke arah Arga.
"Hahaha sampai kapanpun kau tetap cewek bar - barku sayang, aku sampai takut." Sahut Arga dengan pura - pura ketakutan.
"Demi membuat kejutan untukmu, aku harus menahan rasa rinduku sayang." Ucap Arga lagi sudah memeluk erat tubuh Merlisa.
"Aku lebih parah lagi, hidupku terasa berhenti berputar, aku merasa hidupku sudah berhenti pada saat itu juga, aku tidak tau harus bagaimana jika tak ada kamu suamiku." Ucap Merlisa berkaca - kaca. " Aku sangat takut ke hilanganmu sayang." Ucap Merlisa lagi.
"Eeemm aku juga sama sayang, tapi sekarang aku sudah yakin dengan cintamu untukku sayang. Tidak ada sedikitpun keraguan di hatiku lagi." Ucap Arga.
"Memang kamu masih ragu dengan cintaku?" tanya Merlisa.
"Bukan aku ragu akan cintamu sayang tapi aku takut kau pergi dariku, karena aku pria dengan sejuta kekurangan di dalam diriku." Ucap Arga.
"No dear, you are the perfect husband, even very very perfect ( tidak sayang, kau suami yang sempurna, bahkan amat sangat sempurna)" ucap Merlisa.
"thank you baby, thank you for loving me in your way ( terima kasih sayang, terima kasih sudah mencintaiku dengan caramu)" Sahut Arga. Merlisa dan Arga masih asyik saling berpelukan di gazebo di pinggir kolam renang, melepaskan rindu di antara keduanya.
Di sisi lain Andri sedang mencuri-mencuri pandang pada gadis berkerudung yang tengah asyik berbincang dengan Anggi sambil barbequean.
"Eehhmm." Andri berdehem, Salwa dan Anggi menoleh sekilas.
"Hai boleh aku bantu?" tawar Andri.
"Tidak usah tuan saya bisa melakukannya." Tolak Salwa dengan wajah cuek dan pergi menuju meja untuk menghidangkan makanan yang sudah matang di panggang. Sedangkan Anggi mengulum bibirnya menahan tawa karena melihat kakak dari sahabatnya itu di acuhkan oleh Salwa.
Andri hanya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, karena salah tingkah.
Cewek yang misterius, aku semakin penasaran di buatnya. Batin Andri.
"Wooyy udah dong pelukannya, asyik bener kalian udah seperti perangko maunya nempel terus." Sindir Andri pada sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta.
"Iri aja loe bro, dasar jomblo akut loe." Sahut Arga.
__ADS_1
"Cih adik ipar yang seperti ini nih harus gue musiumin." dengus Andri.
"Wweee bilang aja loe irikan bro." Ucap Arga menjulurkan lidahnya dengan nada mengejek. Andri hanya mendelikan matanya.
Semua makan bersama dengan hidangan yang sudah tersedia di meja, sebelum mereka kembali pulang di kediaman masing - masing, Arga dan Merlisa memutuskan untuk menginap di kediaman Sebastian karena malam semakin larut.
*****
Burung sudah terdengar berkicauan, bertebrangan ke sana kemari, mataharipun sudah menampakan wujudnya untuk menyambut hari yang cerah pertanda memulai aktivitas masing - masing.
Tidak dengan kedua insan yang enggan membuka matanya, masih asyik bergumul di bawah selimut mereka dengan saling berpelukan, setelah menyatukan hasrat keduanya, melepaskan nikmatnya surga dunia di antara mereka.
"Sayang mau kemana?" tanya Arga menahan Merlisa karena Merlisa ingin turun dari tempat tidur.
"Aku mau mandi, ini sudah siang." Sahut Merlisa.
"Sebentar lagi ya, aku masih ingin seperti ini." Pinta Arga dengan suara serak bangun tidur, keduanya berbadan polos tidak menggunakan pakaian sehelaipun hanya selimut yang menutupi keduanya.
"Aku lapar sayang." Rengek Merlisa.
"Ywdah ayo kita mandi bersama sayang." Ajak Arga, tanpa menunggu jawaban Merlisa, Arga sudah menggendong tubuh Merlisa ke dalam kamar mandi. Ya tentunya Arga tidak sekedar mandi bersama, sedikit olah raga di kamar mandi hingga beberapa ronde.
"Sayang hari ini tidak masuk kantor?" tanya Merlisa pada Arga karena Arga minta di siapkan pakaian santai oleh Merlisa.
"Tidak, biar Rafi yang menangani perusahaan untuk hari ini, hari ini aku ingin bersamamu saja sayang." Ucap Arga mencium pipi Merlisa.
"Sudah suamiku, jangan memulai lagi aku sudah begitu sangat lapar." Ucap Merlisa menjauhkan wajah Arga dengan telapak tangannya. Karena Arga sudah mulai mencumbuinya lagi.
"Di meja makan saja." Jawab Merlisa cepat, karena jika sarapan di dalam kamar pasti arga akan memangsanya lagi.
Mereka berjalan menuruni tangga sambil bergandengan tangan.
Mama Wina tersenyum menatap anak dan menantunya yang semakin hari semakin harmonis.
"Pagi menjelang siang ma." Sapa Merlisa saat sudah berada dekat dengan mama Wina.
"Pagi juga sayang, sepertinya semalam ada yang bergadang nih." Goda mama Wina.
"Iya dong ma, mama kan pingin cepat-cepat punya cucu, Argakan lagi berusaha membuat adonannya." Sahut Arga.
"Kamu apaan si, gak tau malu bilang gitu dengan mama." Ucap Merlisa menyenggol lengan Arga.
"Hahaha gak apa-apa sayang, mama malah senang melihat kalian seperti ini." Ucap mama Wina.
"Yasudah ma,kami mau sarapan dulu laper." Ucap Arga sambil memegang perutnya.
"Ya sudah sana, mama mau ke taman belakang menemui papa." Ucap mama Wina.
Setelah selesai sarapan pagi menjelang siang, Merlisa dan Arga menyusul mama Wina dan papa Fandi di taman belakang yang tengah asyik menikmati mentari pagi sambil berbincang-bincang.
"Ma, pa ada yang harus Arga bicarakan dengan mama dan papa." Ucap Arga pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Mau bilang apa Ga, apa ada masalah di perusahaan?" tanya papa Fandi.
"Tidak pa, perusahaan baik-baik saja bahkan semakin maju pesat. Arga mau bilang dengan mama dan papa kalau Arga dan Merlisa ingin mengadakan resepsi pernikahan kami, aku ingin semua orang tau kalau istri dari Arga sebastian ini sangat cantik." Ucap Arga mencolek dagu Merlisa dan mendapatkan senggolan di lengan Arga, karena Merlisa begitu malu di depan kedua mertuanya itu.
"Lakukan lah Ga,papa dan mama mendukung kalian. Asalkan kalian bahagia lakukanlah." Sahut papa Fandi.
Sedangkan mama Wina tak henti-hentinya tersenyum dan mulai berkaca-kaca sambil menatap anak dan menantunya bergantian.
Bahagialah kalian selalu, ternyata mama tidak salah memilih istri untukmu nak, semenjak kau mengenal Merlisa kau sudah banyak berubah. Batin mama Wina.
"Ma ada apa? kenapa mama menangis, apa ada yang sakit atau mama tidak setuju dengan rencana kami?" tanya Merlisa beruntun. Sontak membuyarkan lamunan dari mama Wina.
"Tidak nak, mama sangat setuju dengan rencana kalian. Ini air mata bahagia, mama sangat bersyukur mempunyai menantu sepertimu, semenjak menikah denganmu Arga banyak berubah." Ujar mama Wina.
"Mama sungguh berlebihan, aku tidak melakukan apapun." Sahut Merlisa.
"Tidak nak, kau seperti malaikat yang telah masuk dalam kehidupan kami, terutama dalam kehidupan Arga. Dulu Arga mempunyai sifat arogan, angkuh, dan tidak perduli dengan orang lain, karena Arga semenjak remaja harus di tuntut menjadi seorang pimpinan perusahaan, karena waktu itu papa Fandi mengalami kecelakan dan mengalami koma hampir satu tahun lamanya, dan mama membawa papa keluar negri untuk mendapatkan pengobatan terbaik di sana, semenjak saat itu Arga remaja harus belajar dan mengurus perusahaan yang sedang goyah karena tidak adanya kepemimpinan, waktunya hanya untuk belajar dan bekerja sehingga membuat Arga remaja menjadi pribadi yang tidak perduli dengan sekitar, dingin dan angkuh." Ucap mama Wina bercerita tentang masa lalu Arga.
Ternyata hidupmu tidak semudah itu ya suamiku. Batin Merlisa sambil menatap Arga yang sedang berbincang dengan papa Fandi.
"Tapi semenjak mengenalmu Arga sudah berubah, ia lebih banyak tersenyum, wajahnya terlihat selalu gembira. Terima kasih sayang." Ucap mama Wina lagi dengan menatap wajah Merlisa sendu.
" Ma jangan berterima kasih denganku, aku tidak melakukan apapun. Aku juga tidak sebaik yang mama pikirkan loh hehehe." Ucap Merlisa berusaha memecahkan suasana yang mengharukan.
"Ini yang mama suka darimu nak, kau selalu menjadi dirimu apa adanya, Merlisa gadis yang tangguh, yang selalu tersenyum dalam menghadapi semua masalah." Puji mama Wina.
"Waahh mama sudah sangat berlebihan sekali." Ucap Merlisa. Dan keduanya tertawa bersama.
*****
Mama Wina mengajak Merlisa menuju kamarnya, sedangkan Arga masih asyik berbincang dengan papa Fandi mengenai perusahaan dan persiapan resepsi pernikahan Arga yang sudah 80% sudah hampir selesai.
"Apa ini ma?" tanya Merlisa saat mama Wina menyerahkan kotak berudru berukuran sedang ke tangan Merlisa.
"Bukalah." Pinta mama Wina, dan Merlisa membuka kotak tersebut. " Itu perhiasan yang diberikan oleh nenek Arga pada mama Sayang, dan perhiasan itu akan mama berikan untukmu." Ucap mama Wina.
"Tidak ma, aku tidak pantas menerimanya." Tolak Merlisa.
"Terimalah sayang, kau sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga Sebastian, kalau kamu menolaknya mama akan merasa sedih dan kamu tidak menghargai mama. Pakailah periasan ini di saat pesta resepsimu nanti." Ucap mama wina.
"Tapi ma...."
"Tidak ada kata tapi-tapian, jaga dan simpan perhiasan ini untukmu." Ucap mama Wina.
"Baiklah ma." Ucap Merlisa lemah sambil menatap satu set berlian yang begitu indah dan berkilau.
Sekarang aku baru tau sifat suamiku yang suka memaksa, ternyata sifatnya sama persis dengan mama Wina rupanya hehehe. Batin Merlisa.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejaknya 😁🙏😊💪
__ADS_1