
Setelah meletakan Merlisa di ruangan istirahatnya, Arga melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
" Akhirnya sudah selesai juga." Gumam Arga sambil meregangkan ototnya yang pegal.
Arga masuk ke dalam ruangan yang terdapat Merlisa di sana.
" Hai bangun, aku sudah selesai." Ucap Arga menepuk - nepuk pipi Merlisa.
Merlisa menggeliat dan mengerjapkan matanya, mengumpulkan ke sadarannya.
"Ada di mana aku?" tanya Merlisa.
" Kamu ada di ruangan istirahatku, tadi kamu tertidur dengan posisi duduk, ya sudah aku pindahkan saja." Jawab Arga.
" Terima kasih." Ucap Merlisa.
" Untuk apa?"
" Karena udah memindahkanku ke tempat yang nyaman." Ucap Merlisa.
" Kau memang selalu merepotkan ku, tidur di sembarang tempat." Ucap Arga.
" Akukan tidak memintamu untuk menggendongku." Ucap Merlisa mengerucutkan bibirnya.
" Tapi dengan kau tidur di sembarang tempat, aku mau tidak mau harus memindahkan mu. Ya sudah ayo kita ke rumah mama." ketus Arga.
" Tunggu sebentar aku mau membasuh wajahku terlebih dahulu." Ucap Merlisa.
" Ya sudah aku tunggu di luar." Sahut Arga keluar dari ruang istirahatnya.
Di dalam perjalanan menuju rumah utama Sebastian. Merlisa dan Arga tidak ada yang membuka pembicaraan, Merlisa sibuk dengan benda pipih miliknya, sedangkan Arga fokus mengemudi, melihat lurus ke arah jalan.
Ccciiiiiittttttt... suara decitan ban mobil beradu dengan aspal karena Arga mengerem mendadak.
" Ada apa?" tanya Merlisa pada Arga.
"Ada yang menghalangi jalan kita." Ucap Arga.
Merlisa dan Arga segera turun saat melihat wanita yang menghalangi mobil mereka.
" Sayaaaang, kenapa kau satu mobil dengan wanita j***ng ini." Rengek Vanesa pada Arga.
" Heh kalau bicara hati - hati ya, gue bukan wanita j***ng!" dengus Merlisa.
" Terus kalau bukan j***ng apa namanya, wanita murahan yang udah rebut kekasih gue!" Ucap Vanesa menaikkan suaranya. Merlisa sudah mengepalkan tangannya, ingin rasanya ia merobek mulut si mak lampir yang berada di hadapannya.
__ADS_1
"Sudah sayang, akukan sudah bilang, kalau pernikahan kami hanya sandiwara. Ada apa kau menghadang jalan mobilku, itu sangat berbahaya." Ucap Arga.
Vanesa bergelayut manja di lengan Arga, bahwa mengisyaratkan kalau Arga hanya miliknya.
Merlisa membuang pandangannya ke arah lain, ia merasa muak dengan tontonan yang berada di hadapan.
" Selesaikan urusan kalian, aku tunggu di mobil." Ucap Merlisa yang di angguki Arga.
Merlisa melihat Vanesa bermanja - manja dengan Arga, bergelayut di lengan Arga.
"Cih, muak sekali aku melihatnya, mak lampir dan si pria bunglon bertemu. Dengan tidak tau malunya bermesraan di pinggir jalan seperti itu." Gerutu Merlisa di dalam mobil. "Tapi kenapa aku begitu kesal melihat mereka bersama ya, Masa aku cemburu si." Ucap Merlisa lagi.
Di luar mobil Arga masih bersama dengan Vanesa.
" Aku tadi ingin ke arpatemen mu, tapi di jalan aku melihat mobilmu, ya sudah aku mengejarmu sayang." Ucap Vanesa manja.
" Tapi jangan lakukan lagi sayang, itu sangat berbaya untuk kamu dan aku, bagaimana tadi aku melaju kencang dan tidak segera menghentikan mobilku bagaimana." Jelas Arga.
" Iya sayang maaf." Rengek Vanesa.
" Terus kamu mau apa ke arpatemenku, apa ada masalah sayang?" tanya Arga.
" Tadi aku ke mall, melihat tas keluaran terbaru sayang dan tas itu limited edition, murah kok sayang cuma 350 juta aja." Ucap Vanesa manja.
" Ya sudah nanti aku transfer sayang." Sahut Arga.
Tidak apa - apa Arga sudah menikah, asalkan uangnya masih mengalir ke dalam rekeningku. Batin Vanesa.
"Woooy mau sampai kapan kalian peluk - pelukan di situ, mama Wina sudah menunggu!" teriak Merlisa mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.
" Ganggu aja loe." Sahut Vanesa meninggikan suaranya.
" Ya sudah sayang aku pergi dulu ya, kamu hati - hati." Ucap Arga sambil mengelus pipi Vanesa.
" Iya sayang." Sahut Vanesa, dan keduanya masing - masing masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Merlisa dan Arga saling diam, Merlisa terus memalingkan wajahnya ke arah luar jendela. Sedangkan Arga fokus mengemudi.
Sesampainya di rumah utama Sebastian, Merlisa sudah di sambut hangat oleh mama Wina.
" Akhirnya anak gadis mama sudah sampai juga, bagai mana kabarmu nak?" tanya Wina memeluk Merlisa.
" Baik ma, mama sendiri bagaimana kabarnya?" tanya balik Merlisa.
" Seperti yang kamu lihat sayang, mama sangat baik." Jawab Wina.
__ADS_1
" Eehhmm jadi aku udah di lupain nih ma?" Ucap Arga yang langsung mendapat tatapan dari dua wanita yang saling berpelukan.
" Tidak dong sayang, masa sama istri sendiri cemburu si Ga." Sahut Wina.
" Abis mama lebih perhatian sama menantunya, di bandingkan dengan anaknya sendiri." Ucap Arga pura - pura merajuk.
" Dia kan anak gadis mama juga, ahh biasanya kamu juga cuek aja sama mama Ga, sekarang kamu malah cemburu gitu." Ucap Wina.
" Ya udah yuk ma, kita langsung makan, aku sudah sangat lapar sekali." Sambung Merlisa sambil membawa Wina menuju ruang makan.
Merlisa menoleh ke belakang sambil menjulurkan lidahnya pada Arga, Arga hanya membalas dengan mendelikan matanya.
Di meja makan mama Wina, papa Fandi, Arga, dan Merlisa menyantap makanan mereka sambil mengobrol bersama.
"Bagai mana bulan madu kalian?" tanya Fandi pada Arga dan Merlisa.
" Bagaimana apanya pa?" tanya balik Arga.
" Apa sudah ada cucu kami di dalam perut istri mu Ga?" sambung mama Wina.
" Uuuhhuuukk uuhhuukkk." Merlisa tersedak saat mendengar perkataan mama Wina.
Dengan segera Arga memberikan air pada Merlisa.
" Hati - hati dong sayang ." Ucap Wina.
" mama sama papa jangan ngomongin cucu terus, nanti istriku jadi tertekan. Ini jugakan lagi usaha membuatnya, iya kan sayang." Sahut Arga, dan Merlisa hanya tersenyum kecut.
Cihh membuat apaan, maafkan aku ma, aku hanya mengikuti permainan anakmu saja. Batin Merlisa.
" Lebih gencar lagi membuatnya, supaya cepat jadi nak." Ucap Wina lagi.
" Aahh mama apaan si, udah dong jangan bicara gituan lagi." Ucap Merlisa, ia tidak menyangka mama Wina bisa - bisanya berbicara hal seperti itu dengan begitu santainya.
Usai menyantap makan malam mereka, Merlisa dan Arga pamit untuk ke kamar mereka, ingin membersihkan tubuh dan berganti pakaian.
Di dalam kamar Merlisa baru menyelesaikan ritual mandinya, dan memakai kemeja milik Arga, karena baju yang di persiapkan untuknya hanya satu untuk di gunakan esok hari.
" Aku pinjam kemejamu lagi ya." Ucap Merlisa saat keluar dari ruang ganti.
" Eemm pakai aja, lagian kau juga sudah memakainya kan." Sahut Arga yang masih sibuk dengan benda pipih miliknya.
" Hehehe iya juga si."
" Ya sudah aku mau mandi." Ucap Arga melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Merlisa keluar menuju balkon kamar Arga, ia mendudukan tubuhnya di lantai begitu saja, sambil memejamkan mata, membiarkan angin malam yang dingin menerpa wajah dan tubuhnya.
Bersambung....