Kakak Iparku Mantan Kekasihku

Kakak Iparku Mantan Kekasihku
Bab 59


__ADS_3

Arga terus berlari di koridor rumah sakit, saat ia di kabarkan oleh Merlisa lewat pesan chat jika ia sedang berada di rumah sakit, dan di hadang oleh segerombolan pria.


"Sayang apakah ada yang sakit?" tanya Arga saat melihat Merlisa berada di lorong rumah sakit sedang menelphone seseorang.


Arga terus memeriksa seluruh tubuh Merlisa sampai memutar - mutarnya, takut Merlisa terluka.


"Sayang aku tidak apa-apa, tapi Salwa... Hiks hiks." Ucap Merlisa terhenti, dan memeluk tubuh Arga, Merlisa cukup terguncang saat melihat darah di bahu Salwa yang membasahi bajunya akibat berusaha melindungi Merlisa, bayangan kejadian pada saat pristiwa mama Diana tertembak saat melindunginya terlintas kembali.


"Salwa akan baik -baik saja kan, dia tertembak karena berusaha melindungi ku, aku takut Salwa akan terjadi sesuatu padanya hiks hiks." Ucap Merlisa masih di dalam dekapan Arga.


"Sudah sayang, Salwa akan baik - baik saja. Aku akan melakukan pengobatan yang terbaik untuk Salwa. kamu jangan khawatir." Sahut Arga mencoba menenangkan Merlisa, ia mendekap erat tubuh Merlisa dan mengelus pucuk kepala Merlisa.


"Ya sudah kita duduk dulu di situ, sambil menunggu dokter selesai menangani Salwa yang sedang melakukan operasi untuk pengangkatan peluru yang menyarang di bahu sebelah kiri Salwa.


Merlisa duduk di atas kursi bersama Arga. Merlisa masih memeluk tubuh Arga, dan Arga dengan setia menenangkan Merlisa yang masih terguncang dengan kejadian yang baru ia alami.


"Dek bagaimana keadaan Salwa?" tanya Andri pada Merlisa dengan nafas yang tersengal akibat terus berlari. Merlisa menghubungi Andri untuk memberi taukan tentang kejadian yang menimpa Merlisa dan Salwa.


"Salwa sedang di operasi untuk mengeluarkan peluru di bahunya kak." Jelas Merlisa.


"Memang bagaimana kejadiannya? terus kamu tidak apa - apa dek?" tanya Andri beruntun.


"Aku tidak apa - apa kak, saat di jalan kami di hadang dengan 8 orang pria, saat kami sudah dapat melumpuhkan 5 orang pria, namun salah satu di antara meraka mengeluarkan pistol dan mengarahkan padaku, dengan cepat Salwa mendorong tubuhku dan melindungiku, akhirnya Salwa yang terkena tembakan itu dan beruntungnya hanya bahunya yang terkena, bukan pada organ tubuh yang fatal." Jelas Merlisa.


"Aku akan menyelidikinya sayang, siapa orang yang berusaha untuk melukaimu." Sahut Arga.


"Iya bro, kalian harus berhati - hati. Sepertinya ada yang mengincar keselamatan kamu dek." Ucap Andri menimpali.


"Sebentar sayang." Ucap Arga beranjak dari duduknya untuk menghubungi seseorang.


Saat Andri dan Merlisa masih menunggu di depan pintu operasi, tidak lama seorang dokter keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana keadaan pasien dokter?" tanya Merlisa dan Andri bersamaan.


"Pelurunya berhasil dikeluarkan didalam tubuh pasien, namun pasien butuh donor darah, karena pasien cukup banyak mengeluarkan banyak darah, dan golongan darah pasien AB negatif, di rumah sakit ini tidak ada persediaan darah tersebut." Ucap dokter.


"Ambil darah saya dokter." Ucap Andri.


"Baiklah mari kita cek terlebih dahulu." Ajak dokter.


Tidak beberapa lama, Arga datang menghampiri Merlisa.

__ADS_1


"Sayang mana Andri?" tanya Arga, dan merangkul bahu Merlisa.


"Sedang mendonorkan darah untuk Salwa, kata dokter Salwa mengeluarkan banyak darah dan kak Andri sedang mendonorkannya." Sahut Merlisa.


Andri terus menatap wajah Salwa yang masih memejamkan matanya karena pengaruh obat bius. Setelah Andri mendonorkan darah pada Salwa, Salwa langsung di pindahkan ke ruang rawat inap.


"Sayang kita pulang dulu, kamu harus istirahat juga, lagi pula kamu harus berganti pakaian, pakaian kamu juga terkena banyak darah." Ajak Arga pada Merlisa yang terlihat masih terguncang.


"Iya dek sana pulang, biar Salwa kakak yang menjaga." Ucap Andri menimpali.


"Tapi..." Sahut Merlisa masih menatap Salwa.


"Salwa baik - baik saja di sini, banyak dokter dan suster akan menjaganya." Ucap Arga.


"Iya dek, ada kakak juga di sini." Sahut Andri.


"Ayo Sayang." Ucap Arga lagi, dengan berat hati Merlisa melangkahkan kakinya keluar dari kamar Salwa.


"Sayang apakah kamu menginginkan sesuatu?" tanya Arga pada Merlisa, karena selama di perjalanan Merlisa terus terdiam.


"Tidak sayang." Sahut Merlisa tersenyum tipis.


"Jangan berbicara seperti itu. Sudahlah jangan menyalahkan dirimu sendiri." Sahut Merlisa.


"Aku akan menyelidiki siapa dalang dari semua ini, dan aku akan menambah beberapa bodyguard untuk menjagamu." Sahut Arga, dan Merlisa hanya tersenyum, entah kenapa ia begitu lelah untuk hari ini.


Di rumah sakit Andri tertidur di atas sofa, karena badannya terasa begitu lemas akibat sudah mendonorkan darah untuk Salwa.


"Dimana aku? aaaa sakit." Gumam Salwa saat merasakan sakit di pundaknya karena berusaha untuk bangun.


"Tuan Andri kenapa ada di sini." Gumam Salwa lagi.


"Nona sudah sadar, saya panggilkan dokter sebentar." Ucap suster yang masuk ke dalam ruangan Salwa.


"Ke adaan nona sudah stabil, tinggal pemulihannya saja." Ucap dokter saat sudah memeriksa ke adaan Salwa.


"Anda beruntung nona, suami anda selalu menemani anda dan dia juga yang sudah mendonorkan darah untuk nona." Ucap dokter lagi, saat melihat Andri masih terlelap di atas sofa. Salwa hanya tersenyum menanggapi ucapan dokter.


Apakah benar yang di katakan oleh dokter. Batin Salwa sambil memandang Andri.


"Saya permisi dulu nona." Ucap dokter.

__ADS_1


"Terima kasih dokter." Sahut Salwa.


"Salwa kau sudah bangun." Ucap Andri yang terbangun dari tidurnya. Dengan cepat Salwa segera membuang pandangannya ke sembarang arah.


"Sudah tuan."


"Syukurlah, aku tadi sangat menghawatirkanmu. Biar aku panggil dokter dulu untuk memeriksamu." Ucap Andri.


"Tidak perlu, baru saja dokter kesini untuk memeriksa." Sahut Salwa.


"Ooo begitu, maaf tadi aku ketiduran di sofa." Ucap Andri.


"Tidak apa tuan, aku baik - baik saja. Tuan juga bisa pulang, aku tidak apa - apa." Ucap Salwa.


"Jadi setelah kamu sudah sadar, sekarang kamu malah mengusirku." Ucap Andri pura - pura kesal.


"Bu - bukan begitu tuan, tapi saya tidak mau merepotkan anda." Sahut Salwa.


"Aku tidak merasa repot Salwa. Aku kesal denganmu." Ketus Andri.


"Kesal?"


"Iya aku kesal denganmu, kamu ingin aku membuktikan keseriusanku padamu kan, belum sempat aku membuktikannya tapi kenapa kamu membuatku begitu khawatir dengan seperti ini. Sebagai bodyguard kau juga harus memperhatikan keselamatan kamu juga, huh!" Ucap Andri pura - pura kesal.


"Maafkan aku tuan." Sahut Salwa, entah kenapa hatinya merasa senang di perhatikan oleh Andri.


"Aku tidak butuh maaf darimu, cepatlah sembuh aku tidak mau melihatmu seperti ini." Sahut Andri.


"Kamu harus makan ya, tadi aku membeli makanan untukmu." Ucap Andri, sambil membuka bubur ayam yang ia beli.


"Terima kasih tuan, tapi saya tidak lapar." Tolak Salwa merasa tidak enak hati sudah merepotkan.


"Salwa."


"Baiklah aku makan sendiri tuan."


"Bagaimana kau bisa makan sendiri, bangun saja kamu belum bisa, lagipula kamu jangan banyak bergerak dulu." Ucap Andri, dan Salwa mau tidak mau makan di suapi oleh Andri, memang ia merasa tidak bisa terlalu banyak bergerak karena sakit akibat luka di bahunya.


Bersambung.....


Jangan lupa author selalu menunggu vote, like dan komennya 🙏😘💪

__ADS_1


__ADS_2