
" Lepaskan aku, sana mandi." Ucap Merlisa, ia tidak mau menatap wajah Arga.
" Tidak mau, jawab dulu pertanyaanku." Sahut Arga.
" Yang mana?" tanya Merlisa.
" Bilang kalau kau cemburu padaku." Ucap Arga.
" Tidak, aku tidak cemburu denganmu, aku tidak ada hak apapun atas dirimu." Ketus Merlisa, memalingkan wajahnya.
" Katakan sekali lagi, tatap mataku sayang." Ucap Arga memegang dagu Merlisa, menatap dalam bola mata indah Merlisa.
" Aku tidak cemburu denganmu, dan aku tidak punya hak atas dirimu tuan Sebastian, sudah puas." Ucap Merlisa menatap mata Arga.
"Matamu tidak dapat berbohong sayang." Ucap Arga mengelus rambut Merlisa.
" Apa?" tanya Merlisa.
" Ucapan dan matamu berbeda istriku, aku tahu itu." Ucap Arga tersenyum menyeringai.
" Sok tau kamu." Ketus Merlisa.
" Ya sudah aku mau mandi." Ucap Arga.
Merlisa pergi ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian untuk Arga. Dan segera keluar dari kamar sebelum Arga menyelesaikan mandinya.
Di meja makan Merlisa tidak berbicara sama sekali, meski Arga terus menggodanya, hingga makan malam mereka selesai.
Merlisa mendudukan tubuhnya di kursi taman roof garden sambil memakan cemilan dan jus buah naga.
Merlisa memeriksa email masuk lewat handphonenya yang di kirim oleh Lia.
Mata Merlisa terbelalak saat tiba - tiba Arga memakan keripik yang berada di bibirnya.
" Kau ini jorok sekali si." Ketus Merlisa.
"Aku tidak peduli, bahkan kitakan sering melakukannya kan." Goda Arga mencolek dagu Merlisa.
Merlisa memutar bola matanya malas.
" Sudah ahh aku mau tidur, ngantuk." Ucap Merlisa ingin pergi. Dengan cepat Arga menahan tangan Merlisa agar tidak pergi.
" Mau kemana? dari tadi aku cape mencarimu di setiap sudut arpatemen, sekarang sudah ketemu malah mau pergi lagi." Protes Arga.
" Siapa suruh mencariku, aku tidak memintanya kan." Ucap Merlisa.
Arga menarik tangan Merlisa mendudukan Merlisa di atas pangkuannya.
" Sayang tolong jangan menghindariku." Lirih Arga, menatap Merlisa dalam.
__ADS_1
Kenapa saat ia berbicara seperti itu aku tidak melihat ke bohongan di matanya. Apa benar ia sudah menyayangiku. Batin Merlisa.
Cup satu kecupan di bibir Merlisa, seketika membuyarkan lamunan Merlisa.
" Kenapa istriku, kok melamun?" tanya Arga mengelus pipi Merlisa.
" Tidak ada."
"Kau harus tau sayang, aku sudah tidak punya hubungan lagi dengan wanita itu, percayalah." Ucap Arga.
" Kenapa?" tanya Merlisa lirih.
" Karena sekarang hanya ada aku dan kamu, tidak ada lagi orang lain di antara kita." Sahut Arga menangkupkan kedua tangannya di pipi Merlisa.
" Izinkan aku nencintaimu Istriku." Ucap Arga lagi tersenyum menatap mata indah Merlisa.
Aaaiihh kenapa kau harus tersenyum seperti itu si, lama - lama hati ini meleleh bang. Batin Merlisa.
" Kenapa kau selalu bengong seperti itu si." Ucap Arga sambil mencubit gemas hidung Merlisa.
"Aawww sakit tau." Ucap Merlisa mengerucutkan bibirnya.
Arga hanya tersenyum melihat hidung Merlisa memerah karena ulahnya. Cup satu kecupan di hidung Merlisa.
Arga memeluk erat pinggang Merlisa, menyelusuri leher Merlisa yang terekspos jelas. Seketika darah merlisa terasa berdesir di dalam tubuhnya, menerima sentuhan yang di berikan Arga.
"Su sudah ya suamiku." Ucap Merlisa lirih, berusaha mengumpulkan kesadarannya.
" Apakah malam ini kita sudah bisa membuat cucu untuk mama dan papa?" tanya Arga dengan suara parau. Merlisa menganggukan kepala pelan.
Dengan cepat Arga menggendong Merlisa menuju kamar mereka. Menjatuhkan tubuh Merlisa di atas tempat tidur.
Tanpa berlama - lama Arga sudah me*l**t bibir Merlisa, menyusuri di setiap inci wajah dan leher Merlisa, satu dua kancing piama Merlisa sudah terbuka hingga seterusnya, hingga menampakan sebuah gunung kembar milik Merlisa yang masih terbungkus.
Arga terus menyusuri setiap inci tubuh Merlisa, meninggalkan jejak kepemilikan yang ia buat. Memainkan dua buah gunung kembar yang begitu indah. Merlisa sudah terbuai oleh setiap sentuhan demi sentuhan Arga lakukan.
" Aku takut." Lirih Merlisa saat Arga sudah siap ingin membobol gawang Merlisa.
" Tidak usah takut, aku akan melakukannya perlahan." Ucap Arga menciumi wajah Merlisa.
Merlisa meremas seprei kuat, air matanya mengalir di pelupuk matanya, Merasakan sakit di area sensitifnya. Setelah beberapa kali Arga mencoba membobolnya, karena begitu sempit. Dan Adeknya Arga yang begitu perkasa.
Arga memeluk erat tubuh Merlisa, saat sudah menyelesaikan pembobolan gawang Merlisa. Menyelesaikan olahraga malamnya.
" Terima kasih istriku telah menjaga kehormatanmu hanya untuk suamimu, dan terima kasih sudah mau menjadi milikku seutuhnya sayang." Ucap Arga memeluk erat tubuh Merlisa, mengusap air mata yang masih tersisa di ujung mata Merlisa.
Merlisa hanya tersenyum kecil, kalau bukan malam ini cepat atau lambat Arga pasti akan meminta haknya, untuk saat ini Merlisa hanya berusaha menjadi istri yang baik untuk Arga, setelah satu tahun ia berpisah atau tidak, hanya takdir yang akan menentukan rumah tangganya.
Arga dan Merlisa tertidur pulas saling berpelukan di dalam selimut, setelah mengulang beberapa kali melakukan olahraga malam, Merlisa sampai terkulai lemas mengimbangi permainan Arga yang tidak ada lelahnya.
__ADS_1
" Sayang bangun sudah pagi, apakah kamu begitu lelah ya?" Ucap Arga mengelus pipi Merlisa, ia masih betah berlama - lama di atas tempat tidur.
" Hhheeemmm." Gumam Merlisa masih memejamkan matanya.
" Ya sudah jika kamu lelah, hari ini tidak usah masuk kerja sayang, nanti si bibi yang akan buatkan sarapan." Ucap Arga memainkan rambut Merlisa.
"Aku akan masuk kerja suamiku." Sahut Merlisa membuka matanya lebar.
" Kenapa kamu harus repot - repot kerja si sayang, suamimu ini kan pemiliknya." Ucap Arga menciumi wajah Merlisa.
" Kamu kan tau aku tidak bisa berdiam diri saja, apalagi harus menikmati uang bukan dari hasil kerja kerasku." Ucap Merlisa.
" Heii kenapa kamu berbicara seperti itu, uangku berarti uangmu juga sayang, mulai saat ini kau harus mengandalkan ku. Aku tidak akan melarangmu bekerja, tapi kalau kau merasa cape dan lelah, maka aku dengan sangat senang kau berhenti bekerja" Ucap Arga.
" Terima kasih suamiku, tapi aku sudah terbiasa berdiri dengan kedua kakiku sendiri." Ucap Merlisa.
"Mulai sekarang biasakan lah istriku, jadikan aku sandaranmu." Ucap Arga.
Merlisa tersenyum kecil, Apakah mulai sekarang aku harus bersandar pada orang lain, tapi aku takut kecewa. Batin Merlisa.
" Aku boleh tanya denganmu?" tanya Merlisa.
"Katakan lah."
" Eemmm apakah kamu pernah berhubungan badan bersama mak lampir ehh maksudku dengan Vanesa?" tanya Merlisa.
" Tidak." Jawab Arga singkat.
"Terus?" tanya Merlisa merasa tidak puas dengan jawaban Arga.
" Ya gak ada terusannya sayang." Sahut Arga mencubit hidung Merlisa.
" Aahh kau ini menyebalkan sekali, selalu saja membuatku kesal dengan jawabanmu itu." dengus Merlisa.
" Hahaha memangnya aku harus menjawab apa sayang, memang aku tidak pernah melakukannya dengan vanesa atau wanita manapun, kamu yang pertama istriku. Karena aku tau norma dan menjaga nama baik keluargaku sayang." Ucap Arga, sambil mengunyel - unyel pipi Merlisa.
"Benarkah itu?" tanya Merlisa dengan wajah yang memerah, entah kenapa ia merasa senang.
" Hheeemmm." Ucap Arga masih asyik dengan aktivitasnya.
" Sudah suamiku, aku mau mandi nanti telat untuk berangkat bekerja." Ucap Merlisa, karena sudah melihat gelagat Arga yang ingin membobolnya lagi.
Merlisa tertatih berjalan menuju kamar mandi, merasakan perih di area sensitifnya dengan melilitkan selimut untuk menutupi tubuhnya. Arga Hanya tersenyum bahagia sambil melihat bercak merah yang berada di seprainya.
"Sayang apakah masih sakit?" tanya Arga menyusul langkah Merlisa.
" Sedikit." Ucap Merlisa.
Arga menggendong tubuh Merlisa menuju kamar mandi. Dan Melakukan olahraga paginya di dalam kamar mandi. Merlisa hanya pasrah dengan serangan Arga yang tidak pernah ada puasnya itu.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa berikan vote, like dan komennya 💪🙏😘