
Saat ini Amanda sedang sibuk membuat pesanan untuk kelima pelanggan nya itu, sedangkan Farhan mengajak Fatimah bercanda dan bersenda gurau.
Kelima perempuan bercadar itu juga sesekali melihat kedekatan kakak beradik itu, jarak tempat duduk Farhan dengan kelima perempuan itu memang tidak jauh, hanya berjarak dua sampai tiga kursi.
"Temen temen, aku mau curhat nih. Masa ayah aku nyuruh aku untuk segera menikah?", ucap salah satu perempuan bercadar kepada teman teman nya.
"Nggak apa apa dong, kamu udah punya calon belum?", tanya teman nya.
"Jangan kan calon, aku aja belum bahkan nggak kepikiran untuk menikah dulu. Lagian kan cari laki laki yang sesuai dengan tipe kita masing masing kan susah. Apalagi laki laki zaman sekarang, cuma berpakaian serba muslim ternyata isi hati nya nggak sesuai", ujar si curhat di sertai anggukan teman teman nya.
"Kalo laki laki berpeci yang sedang bercanda sama adiknya itu gimana?", tanya teman nya yang lain sambil menunjuk ke arah Farhan dan Fatimah yang sedang bercanda.
"Hmm, nggak tau juga sih. Tapi kayaknya laki laki itu sesuai deh sama pakaiannya. Berbaju muslim yang berlengan panjang dan berpeci hitam, dia juga kayaknya juga perhatian banget sama adiknya itu.", jawab teman yang lain.
Vina, Nurma, Anisa, Lina, dan Mareta. Mereka lah perempuan bercadar yang saat ini sedang mengobrol di cafe Amanda dan sedang menunggu pesanan mereka.
__ADS_1
Dan Vina adalah perempuan bercadar yang curhat kepada teman teman nya tentang dia yang di suruh cepat menikah atas perintah sang ayah.
*----------------*
Beberapa menit kemudian, Amanda pun keluar dari dapur sambil membawa pesanan kelima pelanggan nya. Dia segera mengantarnya ke meja kelima perempuan bercadar itu.
"Selamat menikmati", ucap ramah Amanda kepada kelima perempuan bercadar.
"Iya kakak", jawab kelima perempuan bercadar itu sambil tersenyum di balik cadar mereka.
"Alhamdulillah Farhan, hari ini cafe ku kedatangan pelanggan lagi", ucap senang Amanda. Farhan pun juga ikut senang melihat Amanda senang.
Tapi tiba tiba saja Amanda meneskan sedikit air mata nya
"Baru aja seneng, kok sekarang nangis sih?", ucap Farhan kepada Amanda.
__ADS_1
"Iya kak Manda, kakak jangan nangis dong, kan cafe nya kakak ada pelanggan lagi", lanjut Fatimah yang duduk di samping Amanda dan menenangkannya.
"Kakak nangis bahagia Fatimah, karena cafe kakak ada pelanggan lagi hari ini", jawab Amanda dan memeluk Fatimah.
"Udah lah, jangan nangis lagi. Aku Shalawatan aja deh ya, biar kamu seneng lagi", ucap Farhan.
"Iya Farhan, aku juga kangen sama lantunan Shalawat kamu", jawab Amanda mengelap bersih air mata nya.
Farhan pun mengatur nafas nya, dan mulai melantunkan Shalawat nya. Kali ini Farhan melantunkan Shalawat Qullul Kulubi dengan suara merdu.
Amanda dan Fatimah pun tersenyum bahagia bisa mendengar Farhan melantunkan Shalawat dengan suara merdu nya.
Tanpa mereka bertiga sadari, kelima perempuan bercadar yang sedang menikmati makanan nya masing masing, tiba tiba saja terdiam dan langsung melihat ke arah Farhan yang sedang melantunkan Shalawat.
"Masya Allah, bagus banget suara pemuda berpeci itu melantunkan Shalawat, hati ku jadi tenang setelah mendengar lantunan Shalawat nya.", ucap Vina dalam hati dan terpana dengan suara Farhan yang merdu saat melantunkan Shalawat.
__ADS_1
Kelima perempuan bercadar itu langsung berhenti menikmati hidangan mereka, dan menonton Farhan melantunkan Shalawat.