
Akhirnya ketiga adiknya Farhan lah yang menemani dan mengajak mengobrol Vina dan Mareta, kedua perempuan bercadar itu pun langsung nyaman ketika sedang mengobrol dengan ketiga adik nya Farhan.
Sejenak, Vina memandang ke arah Fatimah yang sedang duduk manis di pangkuan Siti, dia pun tersenyum di balik cadar nya.
"Ma Sya Allah, mas Farhan adalah kakak laki laki impian bagi setiap adik perempuan. Dia bisa mendidik ketiga adik perempuannya ini supaya memakai hijab dan menutup aurat, bahkan Fatimah yang masih kecil ini juga sudah memakai hijab dan cantik dengan hijab nya itu", ucap Vina dalam hati sambil memandang wajah Fatimah.
Fatimah yang menyadari kalau dirinya sedang di perhatikan oleh Vina, langsung bingung dan panik apakah ada sesuatu di wajah nya.
"Kakak bercadar pink kenapa liatin Fatimah terus, apakah wajah nya Fatimah ada kotoran?", tanya Fatimah sembari membersihkan wajah nya.
"Nggak kok Fatimah, wajah nya Fatimah nggak ada kotoran sama sekali. Kakak liatin Fatimah karena Fatimah cantik pake hijab hijau itu dan juga baju gamis yang serasi itu", jawab Vina tersenyum.
"Terima kasih ya, kakak udah bilang Fatimah cantik. Kak Farhan juga bilang kalau Fatimah cantik waktu pakai hijab", ucap Fatimah senang.
"Kakak kamu benar, yang make in kamu hijab siapa Fatimah?", tanya Vina.
"Dulu kak Farhan yang sering make in hijab ke Fatimah, tapi sekarang kak Putri kalo nggak ya kak Siti", jawab Fatimah memeluk Siti.
Vina dan Mareta pun semakin kagum dengan Farhan, Farhan mampu mendidik ketiga adik perempuan nya memakai hijab dan menutup aurat dari mereka masih kecil. Bahkan Farhan sendiri juga sering memakai baju muslim berlengan panjang serta memakai peci hitam nya.
Saat para perempuan itu sedang mengobrol santai, tiba tiba saja Vina betuk darah. Dan darah itu pun mengenai cadar pink nya tersebut, dan terpaksa Mareta melepas cadar saudaranya itu dan menenangkan nya.
Karena panik melihat darah, Fatimah bergegas turun dari pangkuan Siti dan masuk menghampiri Farhan.
__ADS_1
"Ya Allah, kakak kenapa muntah darah gini?", tanya Putri panik, Siti juga panik tidak tau apa yang harus dilakukan.
"Nggak apa kok, ini penyakit dari kecil. Nggak tau pasti waktu nya, terkadang Vina suka batuk dan muntah darah", jawab Mareta menghela nafas.
Putri dan Siti hanya bisa berdo'a supaya Vina baik baik saja.
*-----------*
Tak lama kemudian, Farhan pun keluar dengan menggendong Fatimah yang sedang membenamkan wajah nya di pelukannya karena takut melihat darah.
"Kamu kenapa?", tanya Farhan dingin
"Nggak apa apa kok mas, ini penyakit dari kecil jadi udah biasa", jawab Vina yang canggung karena dia tidak memakai cadar.
"Putri, ambil sapu tangan kakak di dalam lemari kamar deket foto album", perintah Farhan kepada Putri.
Tak lama Putri pun keluar kembali dengan membawa sapu tangan milik kakak nya.
"Balut di pergelangan tangan ukhty ini, tapi jangan terlau kencang", perintah Farhan lagi. Tanpa di perintah kedua kali nya, Putri langsung melaksanakan perintah dari sang kakak.
Setelah itu, Farhan perlahan menyentuh pergelangan tangan Vina yang telah di balut oleh sapu tangan nya.
Farhan hanya membawa sebuah surat surat pendek dalam hati nya sambil memejamkan mata. Tak lama kemudian, Farhan membuka mata dan menghela nafas.
__ADS_1
"Putri, kamu pijit bagian belakang leher ukhty ini dengan perlahan, dan pijit juga kepala ukhty ini seperti terapi. Jangan berhenti memijit sebelum kakak keluar", perintah Farhan yang untuk kesekian kali nya kepada Putri
"Iya kak Farhan", jawab Putri langsung melaksanakan perintah Farhan.
Putri langsung memijit Vina di bagian yang telah di beritahu oleh kakak nya. Farhan pun juga segera masuk ke dalam dan masih menggendong Fatimah.
*-----------------*
Hampir lebih dari 10 menit Putri memijit Vina, dan akhirnya Farhan keluar dengan membawa secangkir jamu hangat.
"Udah cukup mijit nya", ucap Farhan kepada Putri, Putri pun sedikit menjauh dari Vina dan mendekat ke Farhan.
"Minum jamu ini", ucap Farhan kepada Vina dan memberikan jamu tersebut.
"Tapi,, " saat Vina ingin menolak,,
"Minum jamu ini, atau kamu dan saudara mu tidak boleh pergi dari sini", Farhan pun sedikit mengancam Vina supaya dia segera meminum jamu tersebut.
Setelah sedikit di ancam oleh Farhan, Vina perlahan menerima jamu tersebut dan segera meminum nya.
Walau jamu itu sedikit pahit, tapi Vina tetap berusaha meminum habis jamu yang di berikan oleh Farhan.
Dan benar saja, jamu tersebut sudah habis di minum oleh Vina. Dia segera memberikan gelas tersebut kepada Farhan.
__ADS_1
"Tunggu lima menit, In Sya Allah kamu sembuh", ucap Farhan kepada Vina dan kembali masuk ke dalam sambil menurunkan Fatimah.
Karena Fatimah masih merasa takut dengan darah, dia pun langsung ikut masuk kembali bersama Farhan.