
"Halo, Zi. Ini aku!"
Zia membuka mata, merasa tak asing dengan suaranya. Segera Zia melihat ponsel dan melihat nomor tak di kenal yang tertera.
"Ada apa?" jawab Zia ketus.
"Kamu marah sama aku?"
Mata Zia terbelalak. Tak abis pikir dengan pertanyaan yang keluar dari mulut pria di sebrang sana. 'Dasar pria tak peka.' batin Zia berteriak.
Sebenarnya sejak tadi siang, saat Arga dan Dimas berkumpul sama mereka di ruang tengah. Zia sama sekali tidak berbicara pada Dimas. Bahkan menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Dimas aja dia tak mau. Dia bersikap seolah disitu tidak ada Dimas.
"Nggak," jawab Zia malas
"Serius?"
"Hmm,"
"Besok Arga ngajakin lunch. Ikutan ya?"
Lagi, lagi dan lagi. Mengapa semua orang ngajakin Zia sih? Arga, Fisya dan sekarang? Dimas ikut andil. Segitu pentingnya ngajakin Zia? Atau hanya karna Dimas malas kalau cuma jadi kambing conge Arga dan Fisya?
"Zi?"
Zia menghela nafas. "Ga bisa. Besok aku bimbingan sampe sore."
"Sampe sore? Kamu bimbingan atau ngedate sih sampe seharian kebegitu?"
"Tau ah. Pokonya aku ga bisa," tegas Zia. Lalu Zia memutuskan sambungan sepihak. Terlalu malas untuk berbicara pada pria tak punya perasaan seperti Dimas.
Ting
Ponsel Zia bergetar. Menandakan ada beberapa chat masuk. Zia segera membuka aplikasinya. Tertera nomor tak di kenal menjadi urutan pertama.
081265*****9
Ga sopan main matikan gitu aja.
Pokonya besok aku jemput kamu di jam makan siang.
Tau kan itu siapa? Siapa lagi kalau bukan Dimas! Kenapa sih dia itu kekeh banget? Kenapa juga dia ga ngajak calon istrinya aja?
Ngomong-ngomong tentang calon istri. Zia belum cerita pada sahabatnya kalau sebenarnya Dimas itu sudah memiliki calon istri.
***
Di perpustakaan kampus. Disini Zia sedang berdua dengan dosen tampan nan rupawan. Zia fokus melihat pena bertinta merah milik pak Gio yang sedang menari-nari bebas di lembaran skripsinya. Dan Zia juga mencoba konsentrasi dengan apa yang di jelas kan oleh dosbingnya itu.
"Kamu tinggal merevisi yang saya coret itu. Perhatikan tanda baca, Fauzia. Lebih di rapikan lagi setiap kalimatnya. Penjelasan yang rinci namun ga perlu bertele-tele. Perlihatkan ketegasan di setiap laporan. Kalau seperti ini, kamu sendiri yang bakal susah sewaktu sidang. Besok kamu bisa kasih ke saya, di jam yang sama." jelas pak Gio yang menyodorkan skripsi milik Zia itu.
Zia melihat skripsinya yang masih mengenaskan itu. Tapi Zia bersyukur, setidaknya tak separah di awal. Bukannya susah mencari yang di coret dengan tinta merah, namun mencari bagian yang tidak di coret jauh lebih membutuhkan perjuangan. Bayangin, separah apakah skripsi Zia saat itu!
"Harus besok, Pak?"
"Ga harus. Minggu depan juga bisa." Zia tersenyum bahagia mendengar ucapan sang dosen. "Kalau kamu mau melanjutkan satu semester lagi kedepan, silahkan antar ke saya minggu depan." lanjut dosen tampan itu. Senyum Zia kian memudar di setiap detiknya.
__ADS_1
"Baik, Pak. Saya permisi." Zia berdiri setelah melihat anggukan tanda setuju dari dosen nya.
"Kapan akan kamu antar?"
Zia membalik tubuh kembali saat mendengar pertanyaan dari dosennya itu. "InsyaAllah besok, Pak!" tampak sang dosen menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah. Kamu boleh keluar."
***
Zia berjalan menuju kantin kampus. Sesekali ia mendapati segerumbulan mahasiswa yang tertawa lepas tanpa beban. Ya, Zia yakin mereka masih berada di tahap awal. Dan akan ada masanya mereka merasakan nikmatnya menjadi mahasiswa tingkat akhir seperti dirinya.
Zia mengetikkan sesuatu di ponselnya. Lalu melanjutkan jalannya menuju kantin. Sesekali Zia menyunggingkan senyuman manisnya kala adek tingkatnya menyapa.
Zia telah sampai di kantin. Memilih tempat duduk ternyaman versi Zia. Yaitu paling pojok sebelah tembok. Zia meletakkan laptop serta ponselnya di atas meja. Memanggil Mba Desi dan memesan makanan yang ingin si santapnya saat ini.
Ponsel Zia bergetar singkat menandakan ada pesan masuk. Zia membuka aplikasi chat itu. Dan menampilkan pesan dari Fisya. Yang isinya menanyakan keberadaan Zia saat ini. Jari Zia dengan lincah menari-nari di atas keyboard ponsel pintar nya untuk membalas pesan dari Fisya.
Setelah selesai membalas pesan dari Fisya. Zia meng-aktifkan laptopnya. Bersandar pada punggung kursi untuk menunggu loading laptopnya. Dan sesekali mengetuk layar ponselnya.
"Woi, Zi" sebuah tepukan mendarat di bahu Zia. Lantas membuatnya menoleh untuk melihat sang pelaku.
Dia, Daniel yang sedang menenteng laptopnya segera duduk di depan Zia. Lalu memanggil sang pemilik kantin dengan suara yang sedikit berbeda.
"Lo sakit?" Daniel menggeleng. "Oh. Kirain." sambung Zia yang langsung berkutat pada laptopnya.
"Emang kenapa?"
"Suara lo beda." Seketika Daniel batuk. Daniel itu seperti artis iklan komik kalo sedang batuk. Ada beberapa jenis. Batuk lebay, batuk jaim dan batuk cool. Saat ini dia sedang batuk, cool.
"Ga ngampus kali ya. Gue juga ga tau. Ga keliatan juga dari pagi."
"Mas Daniel mau pesan apa?" tanya mba Desi yang siap mencatat.
"Gue mau yang enak, Mba." ucap Daniel seolah sedang berfikir. "Air mineral aja deh, Mba!" lanjutnya diiringi dengan cengiran minta di gaplok.
"Gaya lo minta yang enak. Ujung-ujungnya minta yang murah lo!" sarkas Zia.
Daniel dan mba Desi tertawa berbarengan. "Lucu lo! Mba, pesan mie goreng dong satu sama jeruk peras yaa. Lo mau?" tanya Daniel pada Zia yang langsung mendapatkan gelengan dari sang empunya.
"Yaudah mba satu aja ya," lanjut Daniel yang langsung di angguki Desi.
"Rumi mana, Zi?"
Zia menggeleng. "Ga tau gue. Coba lo tanya Reno deh. Pasti dia tau," jelas Zia sambil menampilkan cengiran khas miliknya.
"Reno ga ada,"
"Kemana?"
"Emang lo gatau?" tanya Daniel menautkan alisnya.
Zia menggeleng. "Nggak!"
Daniel memajukan badannya. Menautkan kedua tangannya dia atas meja. Seolah ingin memberi tau sesuatu. Gelagat Daniel membuat Zia otomatis mendekat juga. "Lo beneran ga tau?"
__ADS_1
Zia kembali menggeleng. "Sama kalo gitu." ujar Daniel santai.
"Maksudnya?"
"Gue juga gatau,"
"Syalan lo," Zia menggeplak jidat Daniel geram. Membuat sang empunya meringis kesakitan.
"Kalem, Zi. Banyak cewek disini. Gue ga mau ya, karna lo pesona gue ancur!" jelas Daniel tak terima. Bersandar kembali pada punggung kursi yang sedang ia duduki.
Zia memutar bola mata malas. Namun tak bisa di pungkiri, baik Daniel maupun Reno sama-sama menjadi idola para mahasiswi seantero kampus. Di mata mereka, Daniel dan Reno adalah pria cool. Sering kali para mahasiswi berbondong hanya untuk membahas hal yang sama sekali tak berfaedah. Terkesan lebay, namun itu adalah kenyataan.
'Kak, ig kakak apa sih namanya?'
'Kak, bisa minta no wa kakak ngga?'
'Duh kak pacar'able banget sih?'
'Titip salam sama calon ibu mertua yaa kak!'
Dan, masih banyak lagi.
Pada saat mahasiswi menggila, Reno dan Daniel hanya menanggapinya dengan senyuman yang, ah terlalu munafik kalau di bilang tidak manis itu.
"Gimana yaa, kalo mereka tau kalian itu sebenernya belok?" jidat Zia langsung mendapatkan jitakan dari Daniel.
"Sembarangan aja lo kalo ngomong. Gue normal Zi, normal! Kalo Reno tau deh, belum terbukti tu anak!" geram Daniel.
"Sakit ogeb. Sekali lagi lo nyiksa jidat gue, lo bakal masuk penjara, Dan. Bodo amat sama yang namanya persahabatan. Melindungi jidat sendiri itu lebih penting bagi gue. Kasian dia kalo di siksa terus sama lo." celoteh Zia.
"Lo mau ngelaporin gue ke polisi?" Zia mengangguk mantap. "Atas kasus?" lanjut Daniel yang kembali mendekatkan tubuhnya pada meja.
"KDP!"
Daniel menatap Zia bingung. "KDP apaan?"
"Kekerasan Dalam Persahabatan lah! Terus gue bakal bilang gini. Pak, dia jahat. Dia selalu menganiaya jidat cantik saya ini. Saya tidak terima, Pak. Saya mau dia di hukum seberat-beratnya."
Daniel mendengus. Lalu bersandar pada punggung kursi. Enggan menjawab celoteh sahabatnya yang bisa berkepanjangan itu. Dia lebih memilih berkutat pada ponselnya.
"Dan. Woii Daniel!" panggil Zia yang terus menggoyang-goyang tangan Daniel.
Daniel mengangkat kepala menatap Zia lekat. Lalu beralih menatap sekitar kantin. Dan kembali menatap Zia. "Lo siapa?"
Tbc!!
__ADS_1