Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 29


__ADS_3

Zia menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhnya saat mendengar alarm ponselnya berbunyi. Biasanya dia langsung bangun saat mendengar alarmnya itu, dan bahkan tak jarang ia bangun sebelum alarmnya berbunyi. Tapi pagi ini beda, Zia masih lemas semenjak muntah di Dufan kemarin.


Tangan kanannya terulur keluar dari dalam selimut dan meraih ponselnya yang tergeletak tidak jauh darinya. Kepalanya menyembul keluar untuk melihat jam dari ponselnya itu. Pukul enam lebih dua puluh menit. Pantas saja ponselnya tidak berhenti berteriak, sudah jam segini ternyata. Seakan teringat sesuatu, mata Zia terbelalak. Oh ya ampun, Zia hampir saja kesiangan.


Zia menyibak selimutnya dengan malas. Dengan terpaksa ia mengubah posisinya menjadi duduk dan langsung merenggangkan otot khas orang bangun tidur. Zia menutup mulutnya saat menguap sembari berjalan menuju kamar mandi.


Setelah melakukan ritual paginya, Zia memilih baju yang akan di kenakan untuk ke kantor hari ini. Tapi gerakan tangannya yang sedang memilih baju itu terhenti saat mendengar dering ponselnya diatas ranjang.


Zia berjalan menuju ponselnya itu. Di ambilnya lalu melihat nama yang tertera di layar. Di usapnya layar lalu di dekatkan ke telinganya. Kakinya kembali melangkah menuju lemari pakaiannya.


“Halo”


“Gimana keadaan kamu?” tanya pria itu to the point.


“Better.”


“Masih pusing?”


Zia mengangguk seolah pria itu dapat melihatnya. “Banget”


Terdengar helaan napas dari sana. “Kalau nggak bisa masuk, nggak papa libur aja. Nggak usah di paksain.”


“Ini bosnya langsung nih yang nyuruh izin?” tanya Zia memastikan.


“Iya, Zia.” sahut Dimas. Pasalnya pria itu lebih mengkhawatirkan kondisi Zia jika di paksakan masuk. Tidak apa jika dia beristirahat dirumah, toh tugasnya bisa di handle oleh Audi untuk sementara.


Zia menarik sudut bibirnya ke atas. Kini ia tengah menemukan baju yang akan dia gunakan untuk ke kantor. “Nggak papa kok, aku bakal tetep masuk. Lagian ini juga udah siap-siap.”


“Ya sudah. Cepat datang kalau begitu, jangan telat!” ucap Dimas lagi.


“Iya ini kan saya lagi siap-siap, bapak. InsyaAllah nggak bakal telat. Baru juga jam berapa.”

__ADS_1


Pria dengan segala sikapnya yang berubah-ubah. Satu detik berperan protagonis, dan satu jam berperan antagonis. Jika kalian berpikir; masa sih ada pria seperti itu? jawabannya adalah, ada. Dan Dimas lah orangnya.


Setelah mengenakan pakaiannya dengan lengkap, Zia berjalan menuju meja rias untuk menyapukan make up tipis di wajahnya. Zia ini tipe wanita yang cuek akan hal seperti ini sebenarnya, tapi dia juga tidak mau terlihat begitu pucat saat keluar dari rumah karna keadaannya yang kurang baik hari ini.


Merasa sudah cukup, Zia menyambar tas lalu keluar kamar. Namun saat kakinya hendak menuruni anak tangga, matanya menangkap sosok pria yang entah mengapa sudah sangat Zia kenali walau hanya terlihat dari belakang. Alisnya terpaut, bukannya baru saja dia menelfon Zia, kenapa sudah sampai disini sekarang.


“Hai..” sapanya saat melihat Zia sudah mendekat ke arahnya.


“Ngapain disini?”


“Jemput kamu. Arga lagi nggak bisa nganterin kamu, jadi aku yang jemput kesini.” jawabnya. Setelahnya Dimas menyeruput teh hangat yang entah sejak kapan tersaji di hadapannya. Melihat itu, Zia yakin Dimas sudah lama berada di rumahnya.


Zia melirik Arga yang sudah sama rapinya dengan Dimas. Namun bedanya Dimas yang terlihat santai sedangkan Arga terlihat serius dengan ponselnya. Zia menarik satu kursi di sebelah Arga yang berarti berhadapan dengan Dimas. Zia mengambil satu helai roti lalu di olesi selai di atasnya.


“Udah lama disini?” tanya Zia saat merasakan Dimas yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangan darinya.


Dimas mengangguk.


“Jadi waktu nelfon aku, kamu udah disini?” tanya Zia lagi.


“Kenapa?”


“Tanyain sama Arga tuh. Dia nggak mau bukain pintu karna masih terlalu pagi katanya.”


“Kan ada mbok yang bisa bukain pintu. Nekan bel nggak tadi?” Dimas menggeleng membuat Zia menautkan alisnya. “Kenapa?” sambungnya.


“Ya karna masih terlalu pagi.”


Arga mendengus mendengar percakapan antara adik dan sahabatnya itu. “Ya lagian, nafsu banget mau dateng kerumah. Gue baru mau masuk kamar mandi, eh dia nelfon minta bukain pintu. Kan gue mager bukainnya.” jelas Arga panjang lebar.


Zia berdiri saat sudah selesai mengoles selai pada rotinya. Mengambil tas yang tadi ia taruh di pinggir meja. Melihat itu Dimas angkat bicara. “Mau kemana?”

__ADS_1


“Kerjalah.” jawabnya sembari menggigit pinggiran roti yang ia pegang.


Mendengar jawaban dari Zia otomatis membuat Dimas juga berdiri lalu menyambar kunci mobil yang dia taruh di sisi gelasnya tadi.


***


Zia langsung menyalakan komputernya saat sudah selesai membereskan mejanya. Sekitar lima menit lalu Zia memasuki kantor bersama dengan Dimas. Sejak dalam perjalanan menuju kantor hingga memasuki lift yang sama pun, mereka tidak terlibat perbincangan yang berarti. Hanya Dimas yang tidak mengenal bosan mengingatkan Zia jika tidak tahan bisa langsung minta izin. Itu berlebihan menurut Zia, dia hanya pusing bukan yang sakit gimana-gimana.


“Hai, cantik. Sebelum makan siang ya.” seru Anton sembari menyerahkan berkas pada Zia. Senyuman Anton yang sangat dibenci Zia jika berada di saat seperti ini.


“Hati-hati lo matinya cepet, Mas. Semua di dunia ini memiliki balasan, termasuk kebiasaan lo yang hobi banget ngasih berkas serta merta dengan deadline ke gue.” racau Zia tidak jelas.


“Ini gue yang **** apa lo yang nggak pinter sih. Kok gue nggak ngerti ya lo ngomong apa?”


“Zi, ini ada kiriman dari pak bos.” Audi menyerahkan map pada Zia. Kerjaan lagi. Zia pasti salah orang deh tadi. Rasanya nggak mungkin Dimas yang begitu tidak berperasaan mengkhawatirkan dirinya sedemikian rupa.


“Lo kenapa, Mas? Kusut amat muka.” ujar Audi sembari membenarkan duduknya.


“Zia bikin gue bingung. Udah ah gue balik. Banyak kerjaan. Nikmatin semua kerjaan yang di kasih selagi lo bisa nikmatin. Jangan ngeluh, nggak baik. Audi, love you.” ucap Anton cengengesan.


“Too, Mas. Eh lo ngapain sih balik, enakan juga disini.”


“Tau tuh. Disini tu kita bisa cerita-cerita tau.” ujar Zia asal.


“Kerjaan gue banyak banget asli. Dimas kalau ngasih kerjaan mana pernah mikir gue juga manusia biasa yang bisa capek. Di pukul rata, dia pikir gue robot. Asal lo tau, dia hobi banget cancel semua jadwalnya. Cuma satu kalimat, re-schedule semuanya, saya ada urusan. Udah gitu doang, kelar semuanya.” Anton menjeda kalimatnya dan meminum air putih yang tersedia di meja Zia.


“Lo tau lah, gue ini cowok. Paling nggak bisa basa-basi kayak sekretaris kebanyakan. Gue pernah tuh, kena semprot sama sekretaris client-nya cuma karna gue batalin janji waktu cuma kurang lima belas menit lagi meeting dimulai. Pas gue bilang ke Dimas, eh dia juga nyemprot gue. Sumpah ya, gue nggak sayang sama Dimas kalau dia di kantor.” lanjutnya. Kini Anton telah duduk di hadapan Audi dan Zia menggunakan kursi yang di ambilnya di sembarang tempat. Punggungnya bersandar lalu tangannya di lipat di depan dada.


“Jangan ngeluh, nggak baik.” semprot Zia dan Audi berbarengan. Anton mendengus lalu meninggalkan tempatnya begitu aja.


Zia dan Audi saling berpandangan beberapa detik lalu tertawa bersama sebelum sebuah suara menghentikan tawa mereka.

__ADS_1


“Audi, nanti makan siang bersama saya, ya.”


TBC ♥️


__ADS_2