Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 16


__ADS_3

Fisya sedang memperhatikan Adit. Tadi tiba-tiba Rumi datang bersama Adit dan bergabung dengan mereka. Menurut perselisihan posisi Adit berada tepat di hadapan Zia. Yang membuat nya semakin leluasa memperhatikan Zia.


Zia mencoba menenangkan hatinya. Bagaimana pun juga Adit tetap lah orang yang pernah di sayangi sepenuh hati. Lagi-lagi Zia bersikap seolah tidak ada Adit di sini. Agar hatinya tak kembali sakit seperti beberapa hari yang lalu.


"Jadi.. Udah sampai mana persiapan pernikahan lo Rum?" tanya Daniel.


"Sekitar dua puluh lima persen Dan. Jujur ya, capek banget gue. Karna semuanya cuma kita berdua yang ngurusin." jawab Rumi. Terlihat capek namun tak mengurangi antusiasnya.


"Kenapa? Ga ada yang bisa lo percayain ya buat ngurusin itu semua?" telak Daniel.


"Ya bukan gitu Dan. Tapi gue pengennya tau semua prosesnya. Biar feel nya lebih berasa," ujar nya terkekeh.


"Oh ya Zi, lo kemaren datang kan ke acara lamaran gue? Yang sama Fisya itu juga, iya kan?" tanya Rumi.


Zia hanya tersenyum tipis lalu mengangguk.


"Lo kenapa pergi gitu aja sih? Gue nyamperin lo tau, tapi lo nya udah ga ada," kata Rumi, lagi.


"Gue tiba-tiba sakit perut kemarin. Pusing juga. Jadi ya udah gue pulang aja. Sampe gue juga lupa ngabarin Fisya. Iya kan, Sya?"


"Iya. Asal lo tau gue kalang kabut nyari dia kesana kemari. Gue hubungi ga di angkat-angkat. Eh sekalinya di angkat dia santai banget bilang gini, Sorry Sya gue ketiduran, gue udah di rumah nih. Kesel ga lo?" amuk Fisya.


Semua tertawa melihat ekspresi Fisya, termasuk Adit. Adit tertawa namun hatinya terluka. Ia kembali membayangkan bagaimana ia melihat gadis itu menangis karna nya malam itu.


Tawa mereka terhenti saat dering ponsel milik Zia berbunyi. Semua melihat Zia, sedangkan Zia langsung mengangkat nya.


Zia berbicara beberapa kata pada orang yang menelponnya. Lalu mengangguk dan mengakhiri percakapan nya.


"Guys, gue duluan ya."


"Mau kemana lo?" tanya Fisya.


"Pulang. Tapi gue mau nemuin bapak dosen ganteng dulu sih. Mau ngedate." ujar Zia cengengesan.


"Halaah belagu lo. Tapi lo pulang nya sama siapa? Lo kan ga bawa mobil kan ya?" tanya Reno.


Sejak tadi Reno hanya diam. Rasanya mood nya mendadak buruk saat hadir nya Adit. Ingin sekali rasanya ia memberi satu bogem mentah untuk pria tak sehat seperti Adit.


"Biar gue anterin aja deh ga papa," ucap Adit tiba-tiba dan berhasil menjadi perhatian dari semuanya.


"Ga usah, makasih. Gue di jemput kak Dimas kok." kata Zia, datar.

__ADS_1


"Ya udah ya, gue duluan." Zia berdiri dan mulai melangkah kan kaki menjauh dari mereka.


"Kebut terus skripsi nya Zi, abis itu minta nikahin doi." teriak Reno.


Zia menoleh dan terkekeh. Lalu mengacungkan jempolnya ke udara tanda setuju.


"Zia itu baik, cantik, ceria. Bodoh banget rasanya kalo cowok mengkhianati cewek kaya Zia." papar Fisya tiba-tiba.


Semua melihatnya. Merasa bingung dengan apa yang mereka dengar barusan.


"Kenapa? Gue bener kan? Cuma cowok ga waras yang tega menyia-nyiakan dia." kekehnya.


"Lo ngomongin siapa sih, Sya?" tanya Rumi heran.


"Adit. Pacarnya Zia. Aduh sorry, mantan maksudnya."


"Zia udah putus? Padahal baru juga tadi mau gue tanya kapan dia di lamar." jelas Rumi.


"Mereka putus beberapa waktu lalu. Ada pengkhianatan di dalam nya. Kalo lo mau aman, jangan tanya apa pun sama dia." ketus Daniel.


"Emang kenapa?"


Sebelum Daniel menjawab Adit menghela napas lalu mengatakan, "Sayang, aku permisi ke toilet dulu ya." pamitnya pada Rumi


"Ngga usah."


Adit pergi begitu aja. Seperti sudah paham dimana letak toiletnya.


***


Zia menutup pintu ruang dosen dari luar. Hari ini revisi nya semakin sedikit. Katanya setelah revisi ini dia bisa langsung melanjutkan bab selanjutnya. Zia senang, rasanya sedikit lagi semuanya selesai.


"Zi." panggil seseorang dari belakang.


"Iya," Zia menoleh dengan senyuman. Namun saat melihat siapa yang memanggilnya, senyuman itu memudar. Sangat enggan untuk menunjukkan senyum pada orang ini.


"Bahkan udah ga ada lagi senyuman kamu buat aku, Zi."


"Apa sih." Zia berbalik dan berniat meninggalkan pria ini. Namun pergelangan tangannya di cekal kuat dari belakang. "Lepasin!" bentak Zia.


"Kamu beda. Kamu bukan Zia yang aku kenal dulu. Sekarang kamu kasar, ketus. Kamu kaya wanita tanpa perasaan, Zi." jelas Adit. Matanya berkaca-kaca. Karena apa juga tidak di pahami oleh Zia sendiri.

__ADS_1


"Perasaan?" Zia tertawa sumbang. "Lucu banget tau ga kalo dengar kata perasaan dari mulut lo Dit. Berasa aneh, hambar. Lo tau kenapa? Duh maaf gue lupa kalo lo ga bakal tau alasannya, jadi ngapain gue tanya ya? Ok gue kasih tau." Zia menjeda kalimatnya. Mengubah air mukanya.


"Karna lo ga pernah pakai yang namanya perasaan di hidup lo!" lanjut Zia tegas.


"Zi, kok kamu kasar sih?"


"Lo tanya? Jadi gue harus jawab dong ya? Ok gue jawab lagi. Karna orang kaya lo ga pantes buat di lembutin. Karna orang kaya lo cuma akan menginjak-nginjak kelembutan orang. Lo bingung? Intinya lo ga bisa menghargai orang. Udah itu aja." jelas Zia.


Saat Adit ingin berbicara, seseorang memanggilnya.


"Sayang..."


Adit dan Zia menoleh. Di sana ada Rumi yang sedang memasang air muka yang tak bisa di jelaskan.


"Zi, kok lo bentak-bentak tunangan gue? Gue tau nama tunangan gue juga ada Adit nya di bagian depan. Tapi asal lo tau dia bukan cowok lo yang brengsek itu. Jadi lo ga perlu bentak-bentak dia. Gue ga suka ya lo bersikap kaya tadi sama tunangan gue." bentak Rumi.


"Rum, udah.." lerai Adit lembut.


"Kamu apaan sih? Biarin aja aku kasih tau sama Zia. Aku ga suka kamu di bentak kaya tadi."


"Harusnya lo cari tau kebenaran dulu sebelum berasumsi, Rum!" Sela Fisya. Fisya sedang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Sya, lo ga tau aja Zia bentak-bentak tunangan gue tadi."


Fisya berjalan mendekat dan berhenti tepat di samping Zia atau di depan Rumi."Apa lo tau kejadian sebelumnya? Bagaimana jika tunangan lo itu yang nyari masalah ke Zia? Harusnya lo paham bagaimana watak Zia, Rum. Lo udah lama juga kan barengan sama Zia."


"Udah lah. Gue pusing. Rum, bener kata Fisya lo cari tau dulu sebelum marah-marah ga jelas kaya gini." keluh Zia. Ia memejamkan mata dan berkali-kali menghela napas.


"Itu juga berlaku buat lo kan?" tanya Adit. "Harusnya lo cari tau dulu sebelum lo mutusin hubungan sama pacar lo." lanjut nya lagi.


Zia tersenyum miring. "Masalah itu, lo ga pernah tau rasanya jadi gue. Udah diam dan tutup mulut lo!"


Plaakk!!


Rumi menampar Zia kesal.


"Rum! Lo udah gila?" teriak Fisya.


"Ga sopan banget ya lo! Tunangan gue bilangin yang bener malah lo giniin!" teriak Rumi tepat di depan Zia.


"Lebih ga sopan mana sama lo yang tiba-tiba dateng dan ngerusak hubungan gue?" teriak Zia frustasi.

__ADS_1


Tbc❤️


__ADS_2