Kamu, Atau Dia

Kamu, Atau Dia
Episode 38


__ADS_3

“Nyenyak tidurnya?”


Zia kembali memeluk Irene erat. Membenamkan wajahnya diperut ibunya itu lalu mengangguk. Tidurnya nyenyak, tubuhnya pun terasa lebih baik dari sebelumnya. Seorang ibu adalah obat yang paling ampuh bagi seorang anak.


Irene tersenyum sembari mengelus punggung anaknya. Biarkan seperti ini sebentar saja. Dia tenang begitu pun dengan anaknya yang terlihat jauh lebih rileks. Menjatuhkan kepalanya di atas kepala Zia, Irene turut memejamkan mata.


“Kata Fisya kamu nggak tidur semalaman, betul?”


Lama tak merespon akhirnya Zia mengangguk.  Membuat Irene menekan matanya yang masih terpejam.


“Kenapa?”


“Nggak ngantuk, Ma.”


Irene memukul bahu Zia pelan. “Bohong banget. Kamu itu anak mama. Bahkan sebelum kamu berbentuk pun mama sudah kenal banget sama kamu. Perlu mama ingatkan, kamu itu type manusia *****, nempel langsung molor. Yang tadinya nggak ngantuk pun bakal langsung ketiduran kalo udah ketemu kasur sama bantal. Kecuali...” ucapannya terjeda bersamaan dengan matanya yang terbuka.


“Sedang gelisah.” lanjutnya.


Zia menghela napas namun tidak berniat melepas pelukannya. “Kali ini mama salah.”


“Mama nggak mungkin salah, Nak.”


“Kenapa nggak mungkin? Mama kan bukan peramal.”


Irene berdecak sebal. Dia kalah telak. “Okay.. Jadi?”


“Apa, Ma?”


“Masih nggak mau cerita sama mama?”


“Nggak ada yang mau diceritain kok.” jawab Zia.

__ADS_1


“Lantai itu dingin terus keras lho, Zi.”


“Ya terus?”


“Kalau mama dorong kamu, kira-kira kamu bakal sakit nggak ya?”


“Nggak, Ma. Kalau jatuhnya ngambang.”


Irene memukul bahu Zia membuat sang empunya meringis lalu terkekeh. “Seandainya ada tuh yang namanya jatuh ngambang, mungkin nggak akan ada yang takut jatuh.”


“Jatuh cinta?” celetuk Zia asal. Zia menggerakkan kepalanya di atas perut Irene membuat mama-nya itu menggelinjak geli.


“Beneran mama dorong deh kamu, Zi.” teriak Irene kesal. Pasalnya ranjang rumah sakit ini tidak cukup besar untuk menampung mereka berdua. Mereka yang memaksa untuk berbaring berdua bisa saja langsung mendarat manis dilantai jika Zia tidak menghentikan gerakannya.


Irene mencubit perut Zia yang sontak membuatnya berhenti menciumi perut Irene. Zia meringis sembari mengusap perutnya. Irene yang setia dengan posisi menyamping itu dapat melihat Zia yang sudah berpindah posisi menjadi terlentang dengan jelas. Bibirnya melengkungkan senyum, anaknya sudah kembali. Walaupun dia yakin, masih belum total.


“Ma, Zia lapar. Tapi cuma mau makan masakan mama. Terus juga makannya mau dirumah.”


Zia terpaku sesaat lalu menarik tubuhnya untuk duduk. Pandangannya lurus ke depan seolah sedang memikirkan sesuatu. Dia ingin sekali menghilangkan rasa insecure ini, tapi Zia tak kuasa. Rasa takut lebih mendominan. Dia takut mengecewakan semuanya. Dia takut akan kegelapan yang bahkan dia yakin akan menemani sisa hidupnya.


“Maaf ya, Ma.”


“Maaf kenapa?”


Irene yang menyadari perubahan anaknya itu turut duduk. Memandangi wajah pucat anaknya dengan rasa-- arggh.. ini sulit. Ibu mana yang bisa melihat anaknya dalam keadaan seperti ini.


Zia menoleh kesumber suara mamanya. “Bukannya buat mama bangga, Zia malah buat mama malu. Orang tua mana sih yang mau punya anak buta?” ujarnya lirih. Zia tersenyum namun senyuman yang menghantarkan pada kesedihan.


“Siapa bilang? Kamu itu tetap Zia yang dulu. Zia anak mama sama papa, Zia adiknya kak Arga, Zia temennya Fisya dan yang lainnya. Tetap jadi Zia yang selalu memberikan mama sama yang lainnya kebahagiaan. Kamu tau, Nak? Kondisi kamu yang sekarang nggak akan merubah apapun, mama jamin itu.” Irene meraih tangan Zia lalu mengelus menggunakan ibu jarinya. Suaminya benar, Zia sangat butuh dukungan saat ini. Sudah tidak ada waktu untuknya bersedih meratapi kondisi anaknya, dia harus tetap menjadi super hero untuk Zia.


“Zia malah berpikir, kenapa nggak mati aja sih sekalian? Kenapa harus kaya gini? Zia takut, Ma. Ini tuh gelap banget.”

__ADS_1


Irene menggeram kesal saat mendengar ucapan sang anak. Menepis tangan Zia kasar lalu memilih untuk turun dari ranjang. Dadanya sakit saat mendengar putrinya sendiri bahkan menginginkan kematian daripada hidup dalam kegelapan. Dia tau, ini bukan masalah yang ringan. Tapi setidaknya, Zia bisa optimis akan sembuh. Simple-nya, dia pasti akan dapat donor mata.


“Mama nggak percaya dengan apa yang ada diotak kamu, Zi. Kamu hanya perlu optimis, sedikit aja coba hargai kami yang menginginkan kamu tetap ada,” ujar Irene setengah teriak. “Mama mati-matian untuk mengasingkan ego mama buat kamu, ini bukan masalah malu atau apa. Ini tentang bagaimana perasaan mama saat mengetahui anak yang mama lahirkan secara sehat, sempurna, kini harus merasakan kegelapan ditengah-tengah hidupnya. Jika kamu berpikir, cuma kamu yang sedih, cuma kamu yang terpukul, kamu salah. Disini, kami semua sedih.”


Zia memejamkan matanya. Rasa hangat kini merambati wajahnya. Dia tidak ingin melihat mamanya marah, dan bukan ini yang dia harapkan sejak awal.


“Papa membatalkan semua kerjaannya yang ada diluar kota supaya tetap bisa mengontrol kamu, Arga dan Dimas sama-sama nggak masuk kerja berhari-hari karna nggak mau melewatkan momen saat kamu sadar, Fisya nggak pernah pergi kebutik bahkan nge-desain baju pun dia disini, Anton dan Audi abis kena bantai sama semua klien karna Dimas membatalkan semua janji dan mereka tetep kesini. Saat kamu sadar, dengan nggak tau dirinya kamu bilang lebih baik mati?”


Mata Irene memerah menahan sakit hati serta emosinya yang kini bisa saja meledak. “Mama nggak nyangka punya anak yang minus perasaan kaya kamu. Kami mikirin kamu, sedangkan kamu? Jangankan mikirkan kami, mikirkan diri sendiri aja nggak.”


Zia bergeming.


Irene mengalihkan pandangannya dari Zia. Anak itu benar-benar pandai mempermainkan perasaannya. Tak kuat melihat anaknya menangis, Irene memilih berjalan menuju sofa untuk mengambil tasnya yang tadi ditaruh disana. Sembari menyampirkan tali tas pada bahu sebelah kirinya, Irene kembali melirik Zia. Anak itu masih saja menangis.


“Mama pikir mama udah berhasil jadi seorang ibu. Mama pikir mama udah melakoni peran sebagai ibu dengan sangat baik. Tapi ternyata nggak, mama salah. Bahkan mama nggak kenal baik sama kamu, mama nggak tau gimana cara berpikir kamu, mama asing banget ya ternyata.” Irene menghapus air matanya lalu melanjutkan, “Kamu butuh waktu sendiri kan? Silahkan aja.”


“Ma... Bukan gitu maksud Zia,” ujarnya lembut. Dia tau dia salah, tapi bukan begini caranya.


“Satu lagi, jangan pernah temui mama kalau kamu masih berpikiran lebih baik mati daripada menjalaninya bersama kami.” bersamaan dengan itu suara pintu tertutup terdengar keras.


Zia menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Ia kembali menangis. Membuat ibunya kecewa jelas bukan keinginannya. Zia memeluk kedua lutut dan membenamkan wajah diantara keduanya. Bukan hanya hatinya yang sakit, namun batin ibunya pun pasti sama. Walaupun Irene tidak terdengar menangis, tapi Zia yakin ibunya itu pasti sedih.


“Ma, maafin Zia. Setelah ini, Zia janji akan tetap semangat.” lirihnya.


 


TBC✨


Happy 10k reader's, Kalian luar biasa♥️


Follow my instagram; @_aayyuu08

__ADS_1


__ADS_2