
“Jadi bagaimana keadaan putri saya, Dok?”
Irene meremas kedua tangannya dibawah meja sembari menunggu dokter membacakan kondisi putrinya. Dokter di depannya ini menghela napas berat membuat Irene beralih melirik sang suami yang juga sama cemas dengannya.
“Apa kondisi putri saya parah, Dok?” ulang Irene, saat tidak mendapati dokter itu mengeluarkan suara.
Dokter paruh baya itu mengangkat kepalanya dan langsung menatap kedua orang tua yang terlihat sedang cemas. “Jadi putri bapak dan ibu mengalami Retinopati Diabetik. Atau juga bisa disebut dengan kerusakan pembuluh darah pada jaringan belakang mata atau retina. Kasus ini cukup langka, namun juga akhir-akhir ini sering di jumpai pada pasien yang mengalami benturan keras pada kepala seperti yang putri bapak dan ibu alami.”
Dokter itu menyodorkan kertas hasil tes Laboratorium milik Zia. “Benturan dikepala pasien cukup serius. Dan kita masih bisa bersyukur pasien hanya mengalami Retinopati Diabetik seperti yang saya bilang barusan.” lanjutnya.
Irene menggebrak meja dihadapannya dengan emosi yang mencuat. “Anak saya kehilangan penglihatannya, dokter bilang hanya? Anak saya tidak bisa melihat kami orang tuanya, tidak bisa melihat para sahabatnya, tidak bisa melihat dunia lagi, dengan mudahnya dokter bilang hanya?” Irene berteriak, matanya mengeluarkan air mata dengan sendirinya.
“Ma... Udah, tenang dulu.” Dana mencoba menenangkan istrinya yang memberontak. Inilah yang dia takutkan sejak pertama kali masuk kedalam ruangan ini. Irene yang memang sangat lembut untuk situasi apapun sering tidak bisa mengontrol dirinya.
“Pa, anak kita.. Anak kita buta. Buta, Pa,” ujar Irene disela-sela isak tangisnya.
Dana memeluk istrinya. Tangannya mengelus punggung istrinya guna menenangkan barang hanya sedikit. “Mama harus kuat, demi Zia. Saat ini Zia butuh dukungan. Kalau mama aja seperti ini, bagaimana bisa dia menerima kondisinya sendiri? Sebagai orang tuanya, kita harus bisa mengambil peran kita dengan sangat baik. Kita harus tenang, jangan temui Zia dengan keadaan seperti ini, Ma.”
“Tapi, Pa..”
“Sstt.. Mama tenang aja.”
“Apa mata anak saya bisa sembuh, Dok?”
“Kita akan tetap berusaha, sisanya kita berdoa saja pada Allah, semoga Dia memberi mukjizat-Nya.”
__ADS_1
***
Zia menghapus air mata yang mengalir ke pipinya dan meninggalkan rasa hangat disana. Kejadian saat ia meminta Dimas untuk menyalakan lampu, kegelapan yang bahkan tidak ada cahaya barang samar-samar, kejadian saat dokter mengatakan bahwa kornea matanya rusak saat itu terasa sangat menyakitkan untuknya.
Zia kembali menghapus air matanya. Jika memang benar dia sempat koma untuk beberapa hari, kenapa tidak mati saja sehingga dia tidak merasakan kehampaan yang begitu mendalam seperti sekarang. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Zia hingga terjaga semalaman.
Zia semakin meringkuk dalam selimutnya kala mendengar suara pintu terbuka. Dia tidak tau pasti sekarang pukul berapa, yang jelas sepertinya ini bukan jadwal suster untuk mengantarkan makanan. Karna baru hampir setengah jam yang lalu sarapannya datang.
Pintu kembali tertutup bersamaan dengan harum Apple yang kentara menyapa penciuman Zia. Dia sangat hapal siapa yang sedang berada di belakangnya kini. Zia yang memang terbaring miring membuat Fisya tidak tau apa yang sedang dilakukannya.
Fisya berjalan menuju jendela besar di hadapan Zia. Dibukanya gorden itu agar sang mentari ikut menyambut sahabatnya yang kini sedang terbaring. Fisya berbalik dan terkejut saat mendapati Zia yang membuka matanya. Fisya tersenyum lalu menghampiri Zia. “Good morning, what do you feel?”
Zia bergeming.
“Oh my.. Lo nggak tidur? Sumpah, Zi, mata lo udah kaya panda beneran. Nggak bohong gue.”
Fisya yang sudah duduk di hadapan Zia kini melirik nampan yang berisakan sarapan untuknya. Jelas saja masih utuh, karna sudah bisa Fisya pastikan Zia tidak akan menyentuh sarapannya jika tidak dipaksa. “Lo belum sarapan? Gue suapin?” bujuknya.
Lagi-lagi Zia bergeming. Pandangannya lurus tapi siapa pun tau dia tidak sedang memandang apapun.
“Lo kenapa? Ada yang sakit? Bilang sama gue, nanti gue panggilin dokter.”
Fisya tersenyum sembari menggenggam tangan Zia lembut. “Zia, lo nggak bisa ngeliat bukan berarti hidup lo berhenti saat itu juga. Lo masih punya keluarga, sahabat, dan semua orang yang sayang sama lo. Gue nggak mau bahas mereka, biarkan gue berguna kali ini. Gue janji, gue bakal jadi mata buat lo. Gue janji lo akan tetap menikmati indahnya dunia meski bukan pake mata lo. Lo masih punya gue, sahabat lo sejak kecil.”
“Jadi bilang sama gue kenapa lo nggak tidur? Lo harus banyak istirahat, lo belum pu...”
__ADS_1
“Untuk apa?” potong Zia. Matanya mulai bergerak ke kanan-kiri seperti mencari orang yang sedang berbicara dengannya. “Untuk apa gue tidur kalau itu semua percuma. Baik tidur maupun nggak, gue sama-sama nggak bisa menikmati semuanya, Sya. Lo bisa berujar segampang itu karna bukan lo yang ada diposisi gue. Coba aja lo ada diposisi gue, mungkin Lo juga bakal ngelakuin hal yang sama.”
“Nggak, nggak bakal. Gue tetap ngelakuin hal yang gue anggap benar. Dan tindakan macam lo gini nggak mencerminkan kebeneran sama sekali, Zi. Lo tau itu,” jeda sesaat. “Lo harusnya paham, lo cuma kehilangan penglihatan bukan kehidupan.”
“Lo yang nggak paham, Sya.”
“Apa yang gue nggak paham sedangkan lo paham, Zi? Bilang ke gue!” Fisya berdiri membuka tutup air mineral dan meneguknya hingga tersisa setengah. “Disaat lo nyaris meregang nyawa, disaat lo ada tapi bergantung pada alat medis, disaat lo dinyatakan koma hingga berhari-hari, disaat lo ada tapi merasa tidak sempurna, apa lo paham apa yang gue rasain saat itu? Jadi bilang ke gue, apa yang gue nggak paham sedangkan lo paham?”
Air mata Zia kembali luruh tanpa permisi. “Gue cuma nggak mau nyusahin.”
Fisya tersenyum maklum. Dia tau Zia tidak sekeras yang terlihat sebenarnya. “Nggak nyusahin. Sekarang lo makan ya, abis itu minum obat. Biar gue suapin.”
“Nggak perlu, gue makan sendiri aja.”
Zia mencoba mendorong tubuhnya untuk duduk. Kakinya dibiarkan untuk tergantung di pinggiran ranjang rumah sakit itu. Tangannya mencoba menggapai sendok yang berada di nampan. Zia mencoba untuk menyendokkan makanan namun nihil. Nasi yang tadi berada dipiring kini sudah berserakan diatas nampannya itu.
Zia kembali mencoba dan lagi-lagi gagal. Zia mendengus lalu melempar sendok ke sembarang arah. “Lo liat, ini defenisi orang yang nggak akan nyusahin? Bahkan makan sendiri pun gue nggak bisa.” teriaknya frustasi.
Fisya yang sedari tadi memang memperhatikannya dari ujung ruangan kini menghapus air matanya lalu berjalan mendekat. “Cuma belum terbiasa, nanti kita akan terus coba. Sekarang biar gue bantu, ya.”
Fisya dengan telaten menyuapi sesuap demi sesuap nasi pada Zia. Sesekali tampak Fisya melempar candaan yang hanya ditanggapi datar oleh Zia. Meski begitu, Zia tidak sekaku saat Fisya baru datang. Kini dia sudah menjawab setiap Fisya berbicara padanya walaupun tidak terlalu ceria, setidaknya langkah pertama Fisya berhasil membuatnya lebih tenang.
“Apa gue ganggu?”
Tbc♥️
__ADS_1
In syaa Allah hari ini bakal double update🤗 gatau kenapa lagi ngalir banget idenya, padahal lagi kesel sama bos huhu”)
btw, stay safe every one♥️**